Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.
Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.
Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.
Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.
Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayi yang Diabaikan
Tiga bulan.
Tiga bulan Antoni hidup di dunia yang nggak mau menerima kehadiran nya.
Berat badan nya naik—tapi nggak banyak. Sekarang empat kilo. Masih di bawah standar bayi tiga bulan yang harusnya lima sampai enam kilo.
Kulitnya masih keriput. Pipi nya nggak tembem kayak bayi-bayi lain. Matanya besar—terlalu besar buat wajah nya yang kecil—kayak mata anak kelaparan di iklan-iklan bantuan kemanusiaan.
Tapi dia hidup.
Masih napas. Masih nangis. Masih... bertahan.
Lestari juga bertahan. Entah gimana caranya.
Badannya makin kurus. Tulang rusuknya kelihatan jelas kalau dia buka baju. Pergelangan tangan nya kayak ranting pohon—tulang nya menonjol, kulit nya nempel ke tulang.
Rambutnya rontok makin parah. Sekarang udah ada bagian botak sebesar telapak tangan di bagian belakang kepala—tempat yang biasa dia sandarkan ke tembok waktu tidur.
Mata nya... mata nya udah nggak ada cahaya lagi. Kosong total. Kayak boneka. Kayak mayat hidup.
Tapi tangan nya tetap kerja. Tetap nyuci. Tetap masak. Tetap beresin rumah.
Dan tetap gendong Antoni.
Tiap hari. Tiap saat. Nggak ada waktu istirahat.
---
Pagi itu—Kamis pagi, awal bulan ketiga usia Antoni—Lestari bangun jam setengah empat kayak biasa.
Tapi beda nya—Antoni nangis dari tengah malam. Nangis terus. Nggak berhenti-berhenti.
Lestari udah kasih susu—habis. Udah ganti popok—bersih. Udah gendong-gendong—tetep nangis.
Nangis terus. Nangis keras. Nggak kayak biasa nya yang lemah—sekarang keras, nyaring, kayak lagi kesakitan.
"Ssshh... ssshh Nak, jangan nangis... Ibu udah kasih susu... kamu kenapa sih? Kenapa nangis terus?" Lestari gendong Antoni sambil jalan mondar-mandir di kamar gudang. Punggung nya sakit—udah gendong dari jam dua belas malem sampe sekarang jam setengah empat. Empat setengah jam gendong terus.
Tapi Antoni tetep nangis.
UWAAA... UWAAA... UWAAA...
Dari kamar sebelah—kamar Dyon—
"BERISIK! URUS ANAK LO! GUE MAU TIDUR!"
Suara Dyon menggerung keras. Suara nya bahkan membikin Antoni kaget—nangis nya berhenti sebentar—terus lanjut lagi, makin keras.
Lestari panik. Dia keluar dari kamar, jalan ke ruang tamu—biar suara Antoni nggak terlalu kedengeran ke kamar Dyon.
Tapi kakinya nyangkut. Nyangkut di tikar yang sobek. Dia hampir jatuh—untung nggak jadi—tapi Antoni keguncang keras.
Antoni nangis makin keras. UWAAAAAAA!
BRAK!
Pintu kamar Dyon dibanting. Dyon keluar—rambut nya acak-acakan, cuma pake celana pendek, dada nya telanjang, mata nya merah—entah karena ngantuk atau karena marah.
"GUE BILANG BERISIK!" Dyon jalan cepet ke Lestari. "LO BUDEK APA?!"
"Ma—maaf... Antoni lagi nangis terus... aku nggak tau kenapa dia—"
"GUE NGGAK PEDULI! Bikin diem anak lo! Atau gue buang anak itu ke luar!"
"JANGAN!" Lestari refleks mundur, peluk Antoni erat. "Kumohon jangan... dia... dia cuma bayi... dia nggak ngerti—"
"Ya makanya lo urus yang bener! Lo emang nya ibu apaan sih?! Anak sendiri aja nggak bisa bikin diem!"
Lestari nggak bisa jawab. Karena... karena dia juga nggak tau. Dia nggak tau kenapa Antoni nangis terus. Dia udah coba semua cara yang dia tau—kasih susu, ganti popok, gendong, nyanyi pelan—tapi Antoni tetep nangis.
Dyon ngeliatin Antoni—ngeliatin dengan tatapan... jijik. "Anak ini emang rewel. Berisik. Nyebelin. Harusnya lo aborsi aja dari dulu."
Kata-kata itu nusuk. Nusuk dalem banget.
"Aku... aku nggak mungkin aborsi... dia... dia nyawa—"
"NYAWA YANG NYUSAHIN! Gara-gara anak ini, gue nggak bisa tidur nyenyak! Gara-gara anak ini, hidup gue makin susah! Harusnya anak ini nggak usah lahir!"
Lestari matanya berkaca-kaca. Peluk Antoni makin erat. "Jangan bilang kayak gitu... dia anak kamu juga... dia—"
"BUKAN ANAK GUE! GUE UDAH BILANG DARI DULU! Itu anak cowok selingkuhan lo!"
"Aku nggak selingkuh! Aku nggak pernah—"
"DIAM!" Dyon membentak. Antoni nangis makin keras—kayak ikut takut.
Dyon balik ke kamar. Tutup pintu—BRAK—keras banget sampe bingkai foto di dinding jatuh, kaca nya retak.
Lestari berdiri sendirian di ruang tamu. Antoni masih nangis di pelukan nya.
Dia duduk di lantai. Gendong Antoni. Mengelus punggung Antoni pelan.
"Maafin Ibu, Nak... maafin Ibu yang nggak bisa bikin kamu berhenti nangis... Ibu... Ibu bukan ibu yang baik ya... Ibu nggak ngerti kamu kenapa... Ibu... Ibu payah..."
Air mata nya jatuh. Netes ke kepala Antoni.
Antoni pelan-pelan berhenti nangis. Mungkin capek. Mungkin kehabisan tenaga. Mata nya merem. Napasnya masih tersengal-sengal—kayak abis lari jauh.
Lestari terus gendong. Nggak berani gerak. Takut Antoni nangis lagi.
---
Pagi itu, Lestari nggak shalat subuh. Pertama kalinya dalam hidupnya—setelah nikah—dia nggak shalat subuh.
Bukan karena males. Tapi karena... karena kalau dia lepasin Antoni, Antoni nangis lagi. Kalau Antoni nangis lagi, Dyon marah lagi.
Jadi dia cuma duduk. Duduk sambil gendong Antoni. Nggak gerak. Sampe jam lima pagi.
Antoni tidur. Tidur yang nggak nyenyak—kadang meringis, kadang napas nya ngos-ngosan.
Wulandari keluar dari kamar—udah rapi, pake daster bersih, rambut dikonde.
Ngeliat Lestari yang duduk di lantai ruang tamu. "Lo ngapain duduk di situ dari tadi?"
"A—aku... Antoni lagi tidur... aku takut dia bangun kalau aku gerak..."
"Ya tidur in di kamar lah! Masa di lantai terus?!"
"Tapi... tadi Mas Dyon marah karena Antoni nangis... aku takut kalau—"
"Ya udah, biarin Dyon marah! Lo juga punya hak buat masuk kamar! Atau lo mau tidur di luar terus kayak gelandangan?!"
Lestari diem. Nggak tau harus jawab apa.
Wulandari ngedumel-ngedumel sendiri ke dapur. Nyalain kompor. Bikin kopi buat diri sendiri. Nggak nawarin ke Lestari.
Lestari pelan-pelan berdiri. Jalan ke kamar gudang. Baringkan Antoni di tikar—pelan banget, kayak naruh barang pecah belah.
Antoni tetep tidur. Syukur.
Lestari ke dapur. Mulai masak. Masak nasi. Masak sayur. Goreng telur.
Tangannya gemetar. Badannya lemes—udah nggak tidur semalaman, nggak makan dari kemarin sore.
Tapi dia tetep masak. Karena kalau nggak masak, nanti dimarahin.
---
Siang itu, sekitar jam dua belas, Antoni bangun. Langsung nangis lagi.
UWAAAA!
Lestari langsung ke kamar. Gendong Antoni. "Ssshh... kamu laper ya? Ibu bikinin susu ya..."
Dia ke dapur. Buka kulkas—ambil susu formula. Takar tiga sendok. Tuang air hangat. Kocok.
Kasih ke Antoni.
Antoni minum. Tapi cuma sedikit. Setengah botol. Terus nolak—bibir nya nutup, kepala nya miring.
"Kok nggak mau minum? Kamu laper kan? Ayo minum lagi..."
Antoni menggeleng-geleng—geraknya lemah tapi jelas—nolak.
Lestari bingung. Biasanya Antoni minum habis. Sekarang cuma setengah. Kenapa?
Dia coba lagi. Masukin dot ke mulut Antoni. Antoni nolak—nangis lagi.
"Ya Allah... kamu kenapa sih, Nak? Ibu nggak ngerti..."
Dari belakang—
"Lestari."
Suara Bu Ratih.
Lestari noleh. Bu Ratih berdiri di pintu dapur belakang—pintu yang biasa dipake Bu Ratih masuk lewat pagar bambu.
"Bu Ratih..." Lestari hampir nangis liat Bu Ratih. "Antoni... Antoni aneh, Bu... dia nangis terus dari tadi malem... terus sekarang nggak mau minum susu... aku... aku nggak tau harus gimana..."
Bu Ratih masuk. Deket ke Lestari. Ngeliat Antoni.
Antoni mukanya merah. Matanya agak sayu. Napas nya cepet.
Bu Ratih nempelkan tangan ke dahi Antoni.
"Neng... Antoni panas. Dia demam."
Demam.
Kata itu bikin jantung Lestari berhenti sebentar.
"De—demam? Serius, Bu?"
"Iya. Panas nya lumayan tinggi. Kamu harus kasih obat penurun panas. Kamu punya?"
Lestari menggeleng cepet. "Nggak ada, Bu... aku... aku nggak punya obat apapun..."
Bu Ratih ngeluarin napas. "Tunggu sebentar. Ibu ambil obat di rumah."
Bu Ratih keluar. Lima menit kemudian balik—bawa botol obat sirup penurun panas anak.
"Ini. Kasih tiga mili liter. Pake pipet ini." Bu Ratih ngasih botol sama pipet plastik kecil.
Lestari nerima dengan tangan gemetar. "Makasih, Bu... makasih..."
"Terus kamu kompres Antoni pake air hangat. Jangan air dingin. Hangat. Lap dahi nya, ketiak, lipatan paha. Sampai panas nya turun."
"Baik, Bu... aku... aku lakuin sekarang..."
Bu Ratih bantu Lestari. Mereka kasih obat ke Antoni—susah, Antoni nolak terus, akhirnya Bu Ratih yang pegang Antoni, Lestari yang masukin pipet ke mulut Antoni, obat nya di semprot pelan-pelan.
Antoni nangis—tapi obat nya masuk.
Terus Bu Ratih ajarin Lestari cara kompres. Ambil kain bersih, celupi ke air hangat, peras, tempel ke dahi Antoni.
Lestari lakuin dengan tangan gemetar. Nempelkan kain ke dahi Antoni yang panas.
Antoni diem sebentar. Mungkin adem.
"Kamu harus terus pantau suhu nya. Kalau nggak turun-turun, kamu harus bawa ke puskesmas. Ngerti?"
"Ngerti, Bu..."
Bu Ratih mengelus bahu Lestari. "Kamu kuat ya, Nak. Antoni butuh kamu."
Lestari ngangguk. Meskipun dia sendiri nggak yakin dia kuat.
---
Sore itu, panas Antoni nggak turun. Malah makin tinggi.
Lestari udah kasih obat dua kali—jam dua belas, jam lima sore. Udah kompres berkali-kali. Tapi panas nya tetep tinggi.
Antoni nangis terus. Nangis lemah—kayak nggak ada tenaga. Badan nya lemes. Mata nya setengah merem.
Lestari panik. Panik banget.
Dia keluar dari kamar. Cari Dyon.
Dyon lagi duduk di sofa. Lagi ngitung uang—uang gaji nya hari ini. Dua ratus ribu. Dia pisah-pisahin—seratus ribu buat setor ke Wulandari, lima puluh ribu buat rokok sama jajan, lima puluh ribu buat judi.
"Mas..." Lestari berdiri di samping sofa. Suara nya pelan, gemetar. "Antoni... Antoni demam tinggi... aku... aku harus bawa dia ke puskesmas... aku... aku butuh uang buat ongkos—"
"Berapa?" tanya Dyon datar, nggak noleh.
"Se—seratus ribu mungkin... buat ongkos, buat beli obat kalau ada resep—"
"SERATUS RIBU?!" Dyon noleh, mata nya melotot. "LO PIKIR GUE PUNYA UANG SEBANYAK ITU BUAT ANAK LO?!"
"Tapi Mas... Antoni sakit... dia butuh dokter... kumohon—"
Dyon berdiri. Ambil dompet. Buka. Keluarin uang lima puluh ribu—uang yang tadinya buat judi. Lempar ke Lestari—uang nya jatuh ke lantai.
"ITU AJA! GUE NGGAK PUNYA LEBIH! LO ATUR SENDIRI!"
"Tapi Mas... ini nggak cukup—"
"UDAH GUE BILANG GUE NGGAK PUNYA LEBIH! Lo mau, ambil! Lo nggak mau, kembalikan. Terserah lo!"
Lestari jongkok. Ambil uang itu. Tangan nya gemetar.
Lima puluh ribu.
Cukup nggak ya buat ke puskesmas?
Ongkos angkot pulang-pergi... lima belas ribu mungkin. Biaya periksa... dua puluh ribu. Obat... bisa sampai tiga puluh ribu kalau ada resep.
Nggak cukup.
Tapi... ini yang ada.
"Ma—makasih, Mas..." Lestari bisik.
Dyon udah duduk lagi. Lanjut ngitung uang nya. Kayak Lestari nggak ada.
Lestari balik ke kamar. Gendong Antoni—dibedong pake kain. Antoni panas banget. Badan nya kayak kompor.
Lestari keluar rumah. Jalan ke jalan raya. Langit udah mulai gelap—jam setengah enam sore. Mendung. Kayak mau ujan.
Dia tunggu angkot. Sepuluh menit—nggak ada. Lima belas menit—masih nggak ada.
Lestari mulai panik. Antoni makin lemes. Mata nya udah nutup total.
"Kumohon... kumohon ada angkot... kumohon..."
Dua puluh menit—akhirnya ada angkot lewat. Angkot tua yang cat nya udah mengelupas.
Lestari naik. Duduk di belakang. Peluk Antoni erat.
"Ke puskesmas Ciroyom, Bang."
"Oke."
Angkot jalan. Pelan. Jalanan macet—jam pulang kantor.
Lestari ngeliat Antoni. Antoni nggak nangis lagi. Cuma diem. Napas nya cepet tapi lemah.
"Bertahan ya, Nak... kita hampir sampe... bertahan..."
Lima belas menit kemudian—angkot sampai puskesmas.
Lestari turun. Bayar tujuh ribu lima ratus. Sisa nya empat puluh dua ribu lima ratus.
Dia lari masuk puskesmas. Napas nya ngos-ngosan—badannya lemah, tapi dia tetep lari.
"TOLONG! TOLONG ANAK SAYA DEMAM TINGGI!"
Perawat langsung datang. Bawa Lestari ke ruang periksa.
Dokter yang jaga hari ini—dokter laki-laki, usia lima puluhan, berkumis tipis.
"Bayi nya umur berapa?"
"Tiga bulan, Dok..."
"Demam dari kapan?"
"Dari... dari tadi malem, Dok... aku udah kasih obat penurun panas tapi nggak turun-turun..."
Dokter periksa Antoni. Cek suhu—termometer digital ditaruh di ketiak Antoni.
Beep.
"Tiga puluh sembilan koma dua derajat. Tinggi." Dokter periksa telinga Antoni pake alat kecil. Periksa tenggorokan. Periksa mata.
"Dok... anak saya... anak saya kenapa?" Lestari gemetar.
"Infeksi. Mungkin infeksi telinga atau tenggorokan. Demam nya tinggi. Kalau nggak turun dalam dua jam, bisa kejang."
Kejang.
Kata itu bikin Lestari hampir pingsan.
"Ke—kejang, Dok? Bahaya nggak?"
"Bahaya. Bisa bikin kerusakan otak kalau nggak ditangani cepet. Ibu harus rawat anak Ibu baik-baik. Anak ini kekurangan gizi juga. Berat badan nya kurang. Ibu... Ibu kasih makan apa aja ke anak ini?"
"Susu... susu formula, Dok... sama ASI kalau ada—"
"ASI Ibu lancar?"
Lestari menggeleng pelan. "Nggak terlalu lancar, Dok... aku... aku jarang makan yang bergizi jadi..."
Dokter ngeluarin napas—napas yang kedengeran kecewa. "Ibu harus lebih perhatian. Anak ini lemah. Sistem imun nya rendah. Makanya gampang sakit. Ibu harus kasih nutrisi yang cukup. Kalau nggak, anak ini bisa... bisa kenapa-kenapa."
Lestari nangis. Nangis diam-diam. Air mata ngalir begitu aja.
"Maafin aku, Dok... aku... aku udah usaha sebisanya... tapi... tapi aku nggak punya banyak uang... aku nggak bisa—"
"Udah. Ibu nggak usah nangis. Sekarang fokus obatin anak Ibu." Dokter nulis resep. "Ini resep. Antibiotik, obat penurun panas, sama vitamin. Beli di apotek. Total nya sekitar seratus ribu."
Seratus ribu.
Lestari cuma punya empat puluh dua ribu lima ratus.
"Dok... aku... aku cuma punya empat puluh ribu... bisa... bisa nggak obat nya dikurangin—"
"Nggak bisa. Ini obat yang paling murah. Kalau mau yang lebih murah lagi, kualitas nya nggak bagus. Anak Ibu butuh antibiotik yang manjur. Kalau nggak, infeksi nya bisa makin parah."
Lestari merem. Gimana? Gimana dia bisa beli?
"Ibu... Ibu punya keluarga? Suami? Yang bisa bantu?"
Lestari diem. Suami? Suami yang lempar uang lima puluh ribu terus bilang "itu aja"?
"Nggak ada, Dok... aku... aku sendirian..."
Dokter natap Lestari lama. Natap dengan tatapan... prihatin. Sedih.
"Tunggu sebentar." Dokter keluar dari ruang periksa.
Lima menit kemudian balik. Bawa amplop cokelat.
"Ini. Enam puluh ribu. Dari uang pribadi saya. Buat tambahin beli obat."
Lestari melongo. "Dok... ini... ini nggak usah... aku nggak bisa—"
"Ambil. Anak Ibu butuh obat. Ini bukan kasihan. Ini kemanusiaan. Ambil."
Lestari nerima amplop itu dengan tangan gemetar. Mata nya berkaca-kaca. "Makasih, Dok... makasih banyak... aku... aku nggak tau harus balas gimana..."
"Nggak usah dibalas. Jaga anak Ibu baik-baik. Itu udah cukup."
Lestari keluar. Ke apotek. Beli obat—total nya sembilan puluh lima ribu. Dia bayar pake uang dokter plus uang nya sendiri. Sisa nya tujuh ribu lima ratus.
Cukup buat ongkos pulang.
Dia keluar puskesmas. Gendong Antoni yang masih lemes. Obat nya di kantong plastik.
Langit udah gelap total. Jam tujuh malem.
Terus—
KRESEK.
Suara rintik hujan.
Lestari mengadah. Hujan mulai turun. Rintik-rintik kecil.
"Ya Allah... jangan sekarang... kumohon..."
Tapi hujan nggak peduli doa. Hujan makin deres. Makin keras.
Lestari lari ke halte—halte bus yang atap nya bocor. Dia berdiri di bawah bagian yang nggak bocor.
Nunggu angkot.
Sepuluh menit—nggak ada.
Lima belas menit—masih nggak ada.
Hujan makin deres. Angin kenceng. Dingin.
Antoni di pelukan nya mulai menggigil. Badan nya basah—kain bedong nya basah kena hujan yang menyiprat dari samping.
"Bertahan, Nak... kumohon bertahan... kita... kita hampir sampe rumah..."
Tapi Antoni nggak nangis. Cuma diem. Napas nya makin lemah.
Lestari panik. Dia keluar dari halte. Jalan di tengah hujan. Basah kuyup. Tapi dia nggak peduli.
Dia jalan terus. Jalan cepet. Hampir lari.
Satu kilometer. Dua kilometer.
Kakinya pegel. Napas nya ngos-ngosan. Badannya basah total. Tapi dia terus jalan.
Sampe akhirnya—
Sampe di rumah.
Lestari langsung masuk. Basah kuyup. Air hujan netes dari rambutnya, dari baju nya, dari kain bedong Antoni.
Wulandari duduk di sofa. Ngeliat Lestari. "Dari mana aja lo? Basah kuyup gitu."
"Aku... aku dari puskesmas... Antoni sakit—"
"Ya udah sono ganti baju. Jangan bikin lantai becek!"
Lestari nggak jawab. Langsung ke kamar. Buka bedong Antoni—bedong nya basah total.
Antoni kulitnya dingin. Bibirnya biru. Napas nya lemah banget.
"Nak... Nak kumohon bangun... kumohon..." Lestari mengepuk-ngepuk pipi Antoni pelan.
Antoni buka mata sedikit. Terus nutup lagi.
Lestari cepet-cepet buka plastik obat. Baca aturan pakai—antibiotik tiga kali sehari, penurun panas setiap empat jam, vitamin sekali sehari.
Dia ambil antibiotik. Takar pake sendok takar. Tiga mili liter.
Masukin ke mulut Antoni—susah, Antoni nggak buka mulut. Lestari buka mulut nya pelan, tuang obat, pijit pipi Antoni biar ditelan.
Antoni batuk-batuk. Tapi obat nya masuk.
Terus obat penurun panas. Sama caranya.
Selesai.
Lestari peluk Antoni. Peluk erat. "Kamu harus sembuh, Nak... kumohon sembuh... Ibu nggak bisa hidup tanpa kamu... kamu satu-satunya yang Ibu punya... kumohon..."
Antoni tidur. Napas nya masih lemah tapi... ada.
Masih napas.
Masih hidup.
---
Malam itu, Lestari nggak tidur. Dia duduk di samping Antoni. Terus pantau. Terus cek suhu Antoni tiap setengah jam.
Jam sepuluh malem—suhu Antoni tiga puluh sembilan derajat. Masih tinggi.
Jam dua belas malem—tiga puluh delapan koma lima. Turun dikit.
Jam dua pagi—tiga puluh tujuh koma delapan. Turun lagi.
Jam empat pagi—tiga puluh tujuh koma dua. Hampir normal.
Lestari nangis. Nangis lega. "Syukur... syukur ya Allah... panas nya turun... syukur..."
Dia cium kepala Antoni. Antoni tidur nyenyak sekarang—napas nya lebih teratur.
Lestari berbaring di samping Antoni. Badan nya capek banget. Mata nya berat.
Tapi sebelum tidur—
Ada satu pikiran yang nggak bisa ilang dari kepala.
"Dokter bilang... Antoni lemah... Antoni gampang sakit... kalau aku terus di sini... kalau Antoni terus hidup kayak gini... dia... dia bisa mati..."
Pikiran itu bikin dada nya sesak.
"Aku... aku harus ambil keputusan. Tapi keputusan apa?"
Pertanyaan yang nggak ada jawaban.
Pertanyaan yang cuma bikin dia makin bingung. Makin takut.
Tapi satu yang jelas—
Dia nggak bisa terus kayak gini.
Sesuatu harus berubah.
Entah apa. Entah gimana.
Tapi harus berubah.
Atau Antoni... atau Antoni nggak bakal bertahan lama.
Dan pikiran itu—
Pikiran itu yang paling menakutkan.