NovelToon NovelToon
Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Romantis / Cinta Terlarang / Romansa / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terimakasih

Kamar kos Ferdy, pukul 06.18.

Ferdy membuka mata tanpa diserang oleh alarm. Itu yang pertama. Biasanya, ia terbangun dengan perasaan berat, kepala pening karena kurang tidur, dan kecemasan akan job-job yang belum jelas. Tapi pagi ini, dunia terasa... berbeda.

Cahaya pagi yang keemasan tidak menyelinap, melainkan menari-nari lembut di atas debu yang beterbangan di kamarnya. Ia meregangkan badan, dan setiap sendi terasa ringan, lentur.

Ada rasa nyaman yang mendalam, seperti setelah berendam di air hangat, atau seperti pulang ke rumah setelah perjalanan panjang. Sebuah rasa damai yang begitu asing, sehingga untuk beberapa saat ia hanya berbaring, mencoba mengidentifikasi perasaan ini.

Ia tidak ingat mimpi indahnya—hanya kesan samar tentang taman bunga dan sebuah senyuman. Namun, residu perasaan itu melekat kuat: rasa aman yang sempurna.

Duduk di tepi tempat tidur, ia memandang kamarnya yang berantakan. Tumpukan cetakan foto, kabel-kabel, baju kotor. Tapi pagi ini, kekacauan itu tidak membuatnya frustrasi. Ia malah tersenyum kecil.

Lalu, tanpa sadar, keluar dari mulutnya sebuah kalimat pelan, ditujukan ke udara kosong yang masih dihiasi wangi melati yang samar. "Terima kasih, siapapun kamu."

Kalimat itu tulus. Apakah itu Tuhan, alam semesta, atau sekadar perasaan nyaman yang aneh, ia tidak peduli. Ia hanya ingin mengucap syukur untuk ketenangan yang langka ini.

Di sudut kamar, tepat di samping lemari, Dasima membeku.

Lima abad. Lima abad menunggu, merindukan, berharap. Lima abad mendengar bisikan angin, gumaman benda pusaka, dan teriakan sejarah yang bisu. Tapi tidak satu pun dari itu yang sebanding dengan empat kata sederhana yang baru saja diucapkan oleh jiwa yang ia cintai itu.

"Terima kasih, siapapun kamu."

Air mata energi—cairan keemasan murni—mengalir deras di pipinya yang transparan dan segera menguap, meninggalkan jejak cahaya mini sesaat sebelum lenyap. Tangannya yang halus menutup mulut, menahan gelegak emosi yang tiba-tiba membanjiri seluruh wujudnya.

Dia... berterima kasih. Meski tidak tahu, meski tidak ingat, intisari jiwanya masih sama: penuh syukur, penuh kepekaan.

"Dengar itu, Raden?" bisik Dasima, suaranya hanya getaran energi yang tidak akan pernah tertangkap telinga manusia. "Kau tetap sama. Kau masih bisa merasakan kehadiran, meski mata duniamu tertutup." Sebuah tawa kecil, campur tangis, keluar dari dirinya. "Aku di sini. Selalu di sini. Dan terima kasih itu... itu lebih dari cukup untuk lima abad penantian."

Ferdy tentu saja tidak mendengar. Dia bangkit, bersiul pelan lagu indie yang tidak jelas, dan mulai bersiap mandi. Dasima, dengan energi yang tiba-tiba lebih bersemangat dari biasanya, mengikutinya ke kamar mandi kecil di luar. Ia melayang di atas pintu, tidak melihat—etika tetap ada meski ia adalah jin—tapi mendengarkan.

"Duh, airnya dingin banget!" gerutu Ferdy dari dalam.

"Ya iyalah, kan pemanasnya rusak tiga bulan lalu dan lo nggak pernah benerin," timpal Dasima seolah-olah Ferdy bisa mendengar, sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi 'masih aja ceroboh'.

"Pagi-pagi enaknya sarapan apa ya? Indomie lagi? Ah, bokek sih."

"Kan kemarin dapat bayaran dari job foto katalog sepatu. Beli telur ceplok aja, biar ada proteinnya. Jangan mie terus!" Dasima membujuk, padahal Ferdy hanya berbicara pada dirinya sendiri.

Ini lucu, pikir Dasima. Seperti mengobrol dengan dinding. Tapi anehnya, ia merasa lebih hidup hari ini daripada hari-hari sebelumnya sejak kematiannya. Ada tujuan. Ada interaksi, meski sepihak. Ada seseorang yang energinya ia rasakan, yang rutinitasnya ia amati, yang hidupnya ia... pedulikan. Bukan sekadar objek pengamatan, tetapi bagian dari dunianya yang baru.

Setelah mandi dan memakai kaos kampus abu-abu yang sudah tipis serta celana jeans sobek di lutut (membuat Dasima lagi-lagi mengelus dada), Ferdy menenteng tas ransel berisi laptop dan charger. Tas kameranya ditinggal—hari ini adalah hari kuliah, meski sebagai mahasiswa tingkat akhir yang jarang masuk, ia masih punya kewajiban menemui dosen pembimbing skripsi.

"Yah, harus hadapi dosen killer," keluhnya sambil mengunci pintu.

"Dosen pembimbingmu itu baik, Ferdy. Cuma tegas. Dia peduli nilaimu bagus," kata Dasima, mengikuti Ferdy yang berjalan ke parkiran motor. Semalam, saat Ferdy tidur, Dasima 'membaca' beberapa dokumen dan chat di laptopnya, jadi agak paham konteksnya.

Ferdy menyalakan motor tua warna merahnya. Mesinnya meraung-raung butuh perawatan.

"Motor ini sudah setia menemani lo melalui hujan dan macet, rawat dong," Dasima berkata, duduk dengan anggun di jok belakang, seolah-olah ia benar-benar ada di sana. Tangannya yang tak kasatmata memegang pinggang Ferdy dengan ringan, hanya untuk merasakan koneksi itu.

Perjalanan ke Kampus UI, Depok, pagi itu lancar secara tidak biasa. Macet di Lenteng Agung sudah mulai, tapi Ferdy bisa menyelinap di antara celah-celah mobil dengan lancar.

Dasima duduk di belakang, menikmati pemandangan kota yang sama sekali asing baginya. Gedung-gedung tinggi, kendaraan berseliweran, orang-orang dengan pakaian aneh terburu-buru. Dunia yang keras, sibuk, dan bising. Tapi di tengah semua itu, ada Ferdy. Dan itu sudah menjadi dunia yang menarik baginya.

"Lihat itu, Raden. Mereka menyebutnya 'transJakarta'. Kereta dalam jalan raya. Hebat, ya? Zamanmu dulu, kereta kuda saja sudah mewah," gumam Dasima, berbicara sepanjang jalan.

"Dan pohon-pohon itu masih ada juga, meski sedikit. Jakarta masih panas, ya. Seperti dulu."

Ferdy tentu saja hanya fokus pada jalan, sesekali mengutuk mobil yang menyerobot. Tapi entah kenapa, pagi ini ia merasa tidak sendirian. Perasaan ditemani itu semakin kuat, membuatnya sesekali menoleh ke belakang melalui kaca spion. Kosong. Tapi perasaan itu tidak hilang.

---

Kampus UI, Depok. Parkiran Fakultas Ilmu Budaya, pukul 08.47.

Udara kampus terasa lebih segar dengan rindangnya pepohonan. Ferdy memarkir motornya di area parkir motor yang sudah hampir penuh. Ia turun, melepas helm, dan mengatur tas ranselnya.

"Baiklah, pertempuran dimulai. Moga-moga dosennya lagi mood baik," gumamnya sambil berjalan menyusuri deretan motor.

Dasima melayang di sampingnya, matanya memandang sekeliling dengan takjub.

"Tempat belajar yang luas sekali. Banyak pemuda-pemudi. Di zamanku, hanya anak bangsawan yang bisa belajar di padepokan. Lihat, mereka semua bebas belajar. Indah sekali."

Ferdy berjalan menuju gedung fakultas. Parkiran saat itu ramai dengan mahasiswa yang baru datang, obrolan, tawa, dan deru motor yang datang-pergi.

Tiba-tiba, dari arah kiri, sebuah motor trail besar (mungkin milik mahasiswa yang hobi off-road) melaju agak kencang dari belakang deretan mobil. Pengendaranya, seorang cowok berjaket kulit, sedang menoleh ke arah temannya di sebelah kanan dan tidak memperhatikan jalan di depannya.

Ferdy, yang sedang melangkah sambil melihat ponselnya untuk memastikan ruangan dosen, tidak menyadari ancaman itu.

"Ferdy! Awas!" teriak Dasima, nalurinya sebagai pelindung—yang dulu gagal menyelamatkan Raden—meledak.

Waktu seolah melambat.

Bagi Ferdy, segala sesuatu terjadi terlalu cepat. Ia mendengar derum motor yang tiba-tiba dekat, menoleh, dan melihat lampu depan motor trail yang besar itu sudah hanya berjarak tiga meter darinya dan melaju cepat. Kakinya membeku. Otaknya kosong.

Tapi bagi Dasima, waktu terbentang luas. Dunia manusia melambat menjadi rangkaian frame-frame statis. Debu di udara berhenti. Wajah terkejut Ferdy membeku. Cahaya di lampu motor seperti bola cahaya padat.

Dalam sepersekian detik itu, Dasima bergerak dengan kecepatan yang hanya dimiliki makhluk non-fisik. Energinya yang biasanya lembut dan tenang, tiba-tiba mengkristal menjadi kekuatan padat dan dingin.

Dia tidak boleh menyentuh atau menggerakkan benda fisik secara langsung (saat ini)—hukum alam menghalangi itu dengan keras. Tapi dia bisa mempengaruhi udara, suhu, dan... persepsi.

Dengan segenap kehendak dan emosi yang memuncak—ketakutan kehilangan Raden untuk kedua kalinya—Dasima memusatkan energinya di antara Ferdy dan motor itu.

Dia menciptakan "dinding" udara yang sangat padat dan dingin secara tiba-tiba, seperti kabut beku yang tak kasatmata.

Bagi pengendara motor trail, sensasinya seperti tiba-tiba menerobos kabut tebal di gunung. Visinya sedikit berkabut, tapi yang lebih mengerikan adalah tubuhnya terasa seperti dicekam dingin yang menusuk tulang, dan ada hambatan tak terlihat yang memperlambat laju motornya seakan-akan melewati genangan air yang dalam. Dia reflek menarik rem dan membelokkan setang motornya.

Kreek!

Ban motor trail itu terseret di aspal, menyisakan bekas hitam. Ujung stangnya nyaris menyenggol bahu Ferdy sebelum akhirnya motor itu miring dan terjatuh dengan keras, dengan pengendaranya terlempar ke aspal dengan tidak anggun.

Ferdy terduduk pantatnya di aspal, napas terengah-engah, jantung berdegup kencang ingin keluar dari dada. Matanya membelalak melihat motor trail yang sekarang terbaring di sampingnya dan pengendaranya yang mengaduh kesakitan.

"Hey, lu gila? Jalan nggak lihat!" teriak pengendara motor trail itu sambil bangun, lebih kesal karena malu dan jatuh daripada peduli pada Ferdy.

"Lu yang ngebut di parkiran, orang lagi jalan!" balas Ferdy, bangkit dengan emosi campur rasa syukur masih hidup.

Keributan kecil pun terjadi. Beberapa mahasiswa berkerumun. Satpam kampus datang. Tapi Ferdy tidak terlalu memperdulikan omelan satpam atau pengendara motor yang sok jagoan itu.

Pikirannya hanya pada satu hal: Aku hampir mati tadi. Tapi... rasanya ada yang... melindungi?

Dia ingat sensasi aneh sesaat sebelum motor itu hampir menabraknya: udara di depannya tiba-tiba menjadi sangat dingin dan berat, seperti berjalan ke dalam walk-in freezer. Dan ada bisikan... atau lebih tepatnya, teriakan dalam kepalanya yang bukan suaranya sendiri. Suara perempuan. Pilu dan panik.

Di sampingnya, Dasima berdiri bagaikan seorang bodyguard yang mejaga tuan nya. Usahanya tadi lumayan membutuhkan banyak energi. Tapi matanya, penuh kelegaan menatap Ferdy.

"Jangan... jangan lagi," bisik Dasima, suaranya lirih. "Aku tidak bisa kehilanganmu lagi. Tidak untuk kedua kalinya."

Ferdy tidak mendengar kata-katanya, tetapi sekali lagi, ia merasakan kehadiran itu. Dan kali ini, dibalik rasa syukur yang mendalam, muncul sebuah keyakinan aneh yang mulai mengakar.

Ada yang mengawasi aku. Melindungi aku.

Setelah urusan dengan satpam selesai dan pengendara motor trail pergi dengan menggerutu (motornya hanya lecet), Ferdy berjalan ke gedung fakultas dengan langkah agak goyah. Dasima, perlahan membentuk kembali energinya dan mengikuti dari belakang, seperti bayangan yang setia.

"Pertemuan dengan dosen pembimbing jadi kurang fokus nih," gumam Ferdy sambil menaiki tangga.

"Tapi... terima kasih. Sekali lagi, terima kasih, siapapun kamu di luar sana," ucapnya dalam hati, matanya menerawang ke jendela koridor yang menghadap ke pepohonan kampus.

Di belakangnya, Dasima tersenyum bangga. Dia mendengar hati itu, bukan telinga. Dan itu sudah lebih dari cukup.

"Sudah kukatakan, Raden. Aku di sini. Selamanya."

Dan untuk pertama kalinya dalam lima abad, Dasima merasa dirinya bukan lagi penunggu yang pasif. Dia adalah penjaga. Dan hari ini, dia telah melakukan tugasnya. Dunia fisik dan dunia jin mungkin terpisah oleh hukum alam yang tak terlihat, tetapi cinta dan perlindungan, rupanya, bisa menemukan celahnya. Celah sempit yang, pagi ini di parkiran UI, telah menyelamatkan sebuah nyawa untuk kedua kalinya dalam rentang waktu yang sangat panjang.

1
Halwah 4g
Ooohhh Dasimaa..ada yg fisik juga modelan Kirana..beughhh..menang bnyak Ferdy yak harusnya 🤭..setiaaaa GK tuh ma Dasima y 😄
Bp. Juenk: wahaha masak setia Ama ghaib
total 1 replies
Marine
mantap sangat mendalami karya sebagai author yaa
Youarefractal
Wih bagus bgt, baru pertama loh aku baca sampai selesai 1 bab, aku suka setiap detail soal potografi-nya, seolah penulis memang potografer beneran
Bp. Juenk: thanks Kk support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!