Alea Maheswari tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan berakhir menjadi pion dalam permainan bisnis ayahnya. Ia dipaksa bertunangan dengan Dafin Danuar, seorang CEO dingin yang merupakan putra dari rekan bisnis keluarganya.
Bagi Dafin, kehadiran Alea adalah gangguan besar. Hatinya sudah terkunci untuk kekasih pilihan hatinya sendiri. Di mata Dafin, Alea hanyalah penghalang kebahagiaannya, sementara bagi Alea, pertunangan ini adalah beban yang harus ia pikul demi kehormatan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan di luar
Maya sedang sangat kesal, wajahnya ditekuk sambil terus menatap layar ponselnya yang gelap. Sejak acara di hotel dimulai hingga lewat tengah malam, tidak ada satu pun notifikasi dari pria yang ia tunggu.
Maya akhirnya melempar bantal kursinya ke lantai dengan geram. "Sialan! Pasti dia sedang asyik bersama Alea di pesta itu," gumamnya penuh kecemburuan.
Tepat saat itu, pintu apartemen terbuka. Dafin masuk dengan wajah kusut dan dasi yang sudah ditarik lepas. Belum sempat Dafin menutup pintu, Maya sudah berdiri di hadapannya dengan tangan bersedekap.
"Kemana saja kamu? Aku dari tadi menunggu pesan darimu!" seru Maya dengan nada tinggi. "Kamu bilang hanya sebentar, tapi nyatanya kamu malah menghilang berjam-jam tanpa kabar. Apa seseru itu merayu Alea di depan umum?"
Dafin menghela napas panjang, ia tampak kelelahan dan masih terbayang ancaman dingin dari Kenan di pesta tadi. Ia mendekat dan mencoba meraih pinggang Maya, namun wanita itu menghindar.
"Maafkan aku, Sayang..." ucap Dafin dengan suara memelas, mencoba melunakkan hati Maya. "Tadi situasinya benar-benar sulit. Ayah Alea terus mengawasiku, dan ada pengawal sialan itu yang selalu menghalangiku. Aku sama sekali tidak punya kesempatan untuk memegang ponsel."
Dafin menarik Maya ke dalam pelukannya secara paksa, membenamkan wajahnya di leher Maya. "Percayalah, aku hanya memikirkanmu sepanjang acara membosankan itu. Alea bahkan menolakku mentah-mentah tadi. Dia benar-benar sombong."
Maya sedikit luluh mendengar Alea menolak Dafin, namun hatinya tetap merasa tidak tenang. "Kamu janji kan akan segera mengakhiri semua sandiwara ini? Aku muak melihat kalian berdua di berita."
Dafin membelai rambut Maya dengan lembut, mencoba meyakinkan wanita itu meskipun pikirannya sendiri sedang kacau.
"Aku janji, Sayang. Semua ini hanya masalah waktu," ucap Dafin sambil menatap mata Maya dengan dalam. "Aku melakukan ini semua demi masa depan kita juga. Kalau aku berhasil mendapatkan posisi di Danuar Group seutuhnya, kita tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi seperti ini."
Maya mendengus, namun ia menyandarkan kepalanya di dada Dafin. "Kamu selalu bilang begitu, tapi sampai sekarang kamu masih harus berperan jadi calon suami teladan untuk Alea."
Dafin tersenyum sinis, membayangkan harta yang bisa ia raih. "Alea itu hanya batu loncatan. Begitu penandatanganan kerja sama besar itu selesai dan posisiku aman, aku akan mencari cara untuk menyingkirkannya pelan-pelan. Aku janji, hanya kamu satu-satunya wanita yang aku inginkan."
Ia mencium kening Maya dengan posesif. "Sekarang, tolong jangan marah lagi. Aku sudah cukup pusing menghadapi semua ini"
......................
Alea menggeser satu mangkuk bakso yang masih mengepul ke hadapan Kenan. Wajahnya terlihat sangat sumringah, matanya berbinar menatap bulatan-bulatan bakso dan sambal yang menggoda selera.
"Makanlah Kenan, kali ini aku yang mentraktirmu!" seru Alea penuh semangat sambil memberikan sepasang sendok dan garpu pada pengawalnya itu.
Kenan menatap mangkuk di depannya, lalu menatap Alea yang sudah mulai sibuk meracik saos dan sambal ke dalam mangkuknya sendiri. "Nona, tugas saya adalah menjaga Anda, bukan untuk makan bersama seperti ini," ucap Kenan pelan.
Alea menghentikan tangannya yang sedang memegang botol kecap, lalu mendongak menatap Kenan dengan tatapan protes. "Ini perintah, Kenan! Anggap saja ini ucapan terima kasih karena kamu sudah meminjamkan jasmu tadi. Lagipula, mana ada pengawal yang bisa menjaga majikannya kalau perutnya keroncongan?"
Kenan tertegun sejenak, lalu akhirnya menyerah. Ia meletakkan ponselnya di meja dan mulai mengambil sendok. "Baiklah, terima kasih, Nona."
Alea tersenyum puas melihat Kenan mulai makan. "Nah, begitu dong! Oh ya, pedas tidak? Kalau kurang, tambah saja sambalnya. Tapi jangan terlalu banyak, nanti kamu sakit perut dan tidak bisa mengantarku besok."
Mereka makan dalam diam namun suasananya terasa jauh lebih santai. Di bawah lampu jalanan yang remang-remang, Alea sesekali mencuri pandang ke arah Kenan. Ia merasa aneh, pria di depannya ini hanyalah seorang pengawal, tapi karismanya saat memakai kaos hitam polos seperti sekarang benar-benar berbeda.
"Kenapa melihat saya terus, Nona? Apa ada bakso yang menempel di wajah saya?" tanya Kenan tiba-tiba tanpa menoleh, namun sudut bibirnya sedikit terangkat.
Alea langsung salah tingkah dan buru-buru menyuapkan bakso besar ke mulutnya. "Uhh... t-tidak ada! Aku cuma kaget saja ternyata kamu makannya lahap juga," kilahnya dengan pipi yang menggembung.
Alea mengunyah baksonya pelan, namun matanya tak bisa berhenti mencuri pandang ke arah Kenan yang duduk di sampingnya. Dengan kaos hitam yang pas di tubuh, otot lengan Kenan yang terlihat saat ia memegang sendok tampak begitu nyata dan kokoh. Aroma sabun maskulin yang segar setelah mandi tadi masih tercium samar.
Dalam hati, Alea mulai merasa kacau. 'Duh, kenapa aku baru sadar kalau Kenan jauh lebih menggoda daripada Dafin sialan itu?' batin Alea sambil menggigit bibir bawahnya.
Ia menggelengkan kepalanya pelan, mencoba mengusir bayangan otot perut Kenan yang ia lihat di kamar tadi. 'Apa sih yang aku pikirkan! Dia itu pengawalmu, Alea! Fokus ke baksonya, fokus!'
Kenan yang menyadari gerak-gerik Alea yang gelisah langsung menoleh. "Nona? Baksonya terlalu pedas? Wajah Anda terlihat sangat merah."
Alea tersentak, hampir tersedak kuah baksonya. "Uh, i-iya! Ini... sambalnya kuat banget! Hehe," jawabnya asal sambil mengipasi wajahnya dengan tangan, padahal hatinya yang sedang "kepanasan" karena pikirannya sendiri.
Kenan tanpa kata meraih botol air mineral, membukanya, dan menyodorkannya pada Alea. "Minumlah. Lain kali jangan memaksakan diri kalau tidak kuat pedas."
Sentuhan jari Kenan saat memberikan botol itu membuat Alea merasa ada aliran listrik kecil yang menyengatnya. Ia segera meminum air itu dengan terburu-buru, mencoba menenangkan debar jantungnya.