Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 21
SEORANG NATHANIEL VALE
“Dia kehilangan banyak darah. Tubuhnya penuh memar lama dan baru,” ucap Lou yang menjelaskan usai dokter pergi. “Kalau terlambat sedikit saja… mungkin sudah tidak tertolong. Itu yang dikatakan dokter.”
Vale berdiri di dekat jendela, membelakangi ranjang.
Tangan kanannya berada di saku celana. Bahunya tegak. Wajahnya tak menunjukkan apa pun selain ketenangan beku.
“Dia akan hidup?” tanyanya singkat.
“Jika tidak ada komplikasi. Tapi trauma mentalnya…” Lou ragu sejenak akan ucapan dokter. “Lebih berbahaya dari lukanya, Tuan.”
Vale tidak menoleh.
“Pergilah.”
Pria itu mengangguk kecil dan keluar tanpa banyak suara.
Pintu tertutup. Sunyi kembali menguasai ruangan. Vale tetap berdiri di sana.
Tidak duduk. Tidak mendekat. Tidak menyentuh.
Jam di dinding berdetak pelan.
Satu detik.
Dua detik.
Waktu merambat seperti luka terbuka.
Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela—mata dingin, wajah keras, rahang tegang seperti pahatan batu.
Kamar tamu di lantai dua mansion itu sunyi seperti makam.
Lampu temaram menyala redup, menyorot tubuh Elizabeth yang terbaring di atas ranjang besar berseprai abu-abu. Gaunnya sudah diganti oleh salah satu pelayan wanita menjadi kemeja tidur panjang berwarna putih pucat. Lengan dan punggungnya dibalut perban. Luka di pelipisnya dibersihkan, namun bayangan lebam masih jelas membekas di kulitnya yang pucat. Napasnya tipis, tidak teratur.
Vale berjalan mendekatinya, mengamati wajah Elizabeth yang masih tak sadarkan diri.
Terlihat jelas luka di wajah cantiknya.
Namun pengamatan Vale begitu detail, hingga dapat melihat dengan jelas kelopak mata Eliza yang mulai bergerak dan menandakan bahwa wanita itu mulai sadar.
Tak tunggu lama, Vale langsung melangkah pergi dari kamar tersebut, sampai suara pintu tertutup sontak semakin menyadarkan Eliza yang terbangun saat itu juga.
“Ssshhh....” lenguhan kecil tatkala ia merasakan tubuhnya remuk dan kepalanya pusing efek dari obat bius.
Eliza memperhatikan ruangan yang bersih, namun gorden masih tertutup sehingga cahaya matahari hanya bisa masuk lewat celah yang terlihat.
“Dia akan mencari ku.” Gumam Eliza menunduk dan sadar akan keberadaannya saat ini. Jauh dari Holloway.
Tok! Tok!
“Nona, sarapan Anda.” kata seorang pelayan yang melenggang masuk membawakan senampan minuman dan makanan.
Eliza memperhatikannya dalam diam saat pelayan tadi meletakkan nampan yang dia bawa ke atas meja dekat kursi. Usai melakukannya, ia kembali menatap Eliza.
“Jika Anda sudah selesai makan, Tuan Vale ingin Anda datang menemuinya, di ruangannya, lantai satu. Permisi!”
Bahkan Elizabeth tak sempat mengatakan terima kasih. Ingatannya terlalu kacau, kesedihannya benar-benar menyakiti hatinya, apalagi kabar duka dari keluarga nya yang masih mengiris dirinya secara perlahan.
-‘Vale... Pria itu. Aku tidak tahu cara menghadapinya. Apa dia sama seperti Luis?’ batin Eliza yang ragu namun dia sudah terlanjur terjebak di dekatnya.
Ia melepaskan infus di tangannya, berjalan perlahan menuju meja dan duduk di kursi sembari menatap ke hidangan sederhana namun sehat untuk orang sakit.
Sungguh, Eliza tidak bisa berbohong bahwa dirinya kelaparan. Tanpa pikir panjang, ia meraih sendok dan memakannya lahap meski rasanya hambar, namun perutnya berkata lain.
...***...
“HAAAA....”
Bruakk!!
Ruangan yang benar-benar berantakan saat Luis tak kunjung berhenti marah. Ia menghancurkan hampir semua barang-barang di ruangannya.
Rambutnya berantakan, matanya merah berair saat ia gagal menemukan Elizabeth yang hanya wanita biasa.
“PELAYAN!!!” panggil Luis yang langsung dihampiri oleh seorang pelayan yang nampak ketakutan. Namun amarah Luis sudah mendaging.
“Anda butuh sesuatu Tuan?”
Tanpa pikir panjang, Luis langsung mencekik pelayan itu dengan geram. “Datanglah lebih cepat, aku tidak ingin menunggu walupun sedetik saja, sialan.” Kata Luis tak mempedulikan pelayan malang itu yang merasa kehabisan oksigen.
Lehernya begitu erat dicekik oleh Luis, sampai Luis mendorong kasar tubuh kecil itu sampai membentur ke jendela dan pingsan atau tewas, entahlah? Luis benar-benar gila!
“Tuan Luis. Kami sudah— ”
Darrr!!! Belum selesai berbicara, sebuah tembakan melayang tepat di dahi anak buahnya yang berdiri di samping Grag.
Tentu saja Grag langsung terdiam mendapati bosnya yang benar-benar marah. Hingga Luis berjalan mendekatinya dan menyentuh pundak asistennya tersebut.
“Jangan katakan berita yang hanya membuatku marah, Grag! Aku tidak ingin membunuhmu... Kau tahu itu.” Tegas Luis meremas pundak kekar Grag dan menepuk pipi pria itu cukup jelas hingga menyuruhnya pergi dari hadapannya dan mencari Elizabeth lagi.
Sementara di luar ruangan, Esperance dan Soraya berdiri dengan cemas, terutama Esperance yang merupakan ibunya.
“Luis benar-benar lepas kendali Ibu. Kita harus hentikan— “
“Jika kau ingin mati cepat, maka lakukanlah sendiri Soraya.” Tegas Esperance menatapnya tajam lalu kembali menatap ke arah ruangan putranya. “Aku tidak mau mati. Jika saja kau tidak membantu wanita itu pergi, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Bersyukurlah aku telah menyelamatkan nyawamu dari adikmu.”
Cili yang juga ada di dekat merekapun hanya mendengarkan dengan kaget, cemas dan mata terbuka lebar.
Soraya tak bisa berkata-kata lagi selain menggelengkan kepalanya dan pergi dengan wajah kesal sekaligus pasrah.
“Kau akan sembuh setelah membunuh Vale, Luis. Ya... Itu akan terjadi dan harus terjadi.” Gumam Esperance menatap lekat dan yakin akan ucapannya yang hampir seperti bisikan.
.
.
.
Cukup lama menunggu, akhirnya Elizabeth datang menemui sosok Vale. Seorang pelayan mengantarnya sampai di depan pintu dan keheningan di Mansion tersebut sungguh jauh berbeda dari mansion Holloway.
Tok! Tok!
“Tuan Vale, dia sudah di sini.” Kata pelayan itu dari depan pintu.
Sampai suara besar, tenang dan tegas pun menjawabnya dan menyuruh untuk masuk. Tentu, Elizabeth masuk namun pelayan tadi tidak.
Wanita cantik dengan poles makeup itu menatap lekat sosok pria tampan, alis berkerut, mata tajam, rahang tegas dan tubuh kekar yang kini berdiri menatapnya tepat sejajar dengan pintu.
Vale memasukan kedua tangannya di saku celananya. “Kemarilah. Tidak mungkin kita berbincang dengan jarak yang jauh.” Katanya dengan santai namun cukup membuat Eliza tersentak.
Wanita itu berjalan perlahan sedikit tertatih dan lebih maju.
Jarak mereka hanya tinggal 2 langkah saja, Eliza menatap dengan berani, meski kegugupannya sangat terlihat jelas.
Sementara Vale— pria itu memperhatikannya dengan seksama, meraih segelas beer di meja belakangnya. “Who are you? (Siapa kau)?” tanya nya lagi dan sama.
meneguk habis minumannya selagi menunggu wanita itu menjawab.
“Elizabeth... Elizabeth Taylor.” Jawab Eliza berdegup kencang.
Pria itu menatapnya lebih dalam dan tajam, ketenangannya seperti binatang buas yang tengah mengawasi mangsanya.
“Aku tidak suka mengulang pertanyaan ku lagi.” Kata Vale seolah memberi peringatan keras dengan suara tenangnya itu. Dan Eliza menelan ludahnya saat itu juga.
“I say, who... are... you?”
Sekali lagi Eliza menelan ludah saat kontak matanya bertemu mata silver milik Vale.
“Elizabeth.... Holloway.”
Pria itu terdiam beberapa detik, mengangguk pelan hampir tak terlihat. “Good.” Balasnya seraya berbalik membelakangi Eliza. Bukan tanpa alasan, melainkan dia menuangkan segelas air putih di gelas kristalnya yang kosong tadi.
Saat Vale berbalik menatapnya lagi, saat itulah air disiram ke wajah Eliza yang tentunya tersentak kaget hingga ia refleks memejamkan mata.
Sungguh, apakah itu penghinaan?
Tindakan Vale benar-benar membuat Eliza seperti terhina dan malu sendiri. Untuk pertama kalinya dia disiram air tepat di wajahnya, kalau Luis... Pria pertama yang memukuli nya.
its too little to late Dude..
di rela menjadi samsak asal tubuhnya tdk dijamah 👏👏👏 attagirl