NovelToon NovelToon
LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor jahat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.

Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.

Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.

Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.

Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bantuan Bu Ratih

Dua hari setelah uang hilang.

Lestari masih terpuruk. Badannya gerak—masak, nyuci, beresin rumah—tapi jiwanya... jiwanya kayak mati.

Mata nya kosong. Nggak ada cahaya. Gerak nya kayak robot—otomatis, tanpa pikiran.

Antoni sadar Ibu nya berubah. Anak lima tahun itu lebih diem dari biasanya—nggak main bola lagi, nggak teriak-teriak lagi. Cuma duduk di pojokan kamar, ngeliat Ibu nya dengan mata khawatir.

"Ibu kenapa?" tanya Antoni kemarin sore.

"Ibu nggak kenapa-kenapa kok, Nak." Jawaban otomatis. Jawaban bohong.

---

Kamis sore. Jam empat.

Lestari lagi jemur baju di belakang. Tangan nya megang jemuran—tapi pikiran nya entah kemana. Dia cuma natap kosong ke langit yang mulai mendung.

"Lestari?"

Suara Bu Ratih dari balik pagar bambu.

Lestari noleh—gerak nya lambat, kayak orang setengah sadar.

"Iya, Bu?"

"Sini sebentar. Ibu mau ngomong."

Lestari jalan ke pagar. Bu Ratih udah berdiri di sana—muka nya prihatin parah.

"Kamu... kamu nggak tidur ya semalam? Mata kamu item banget."

Lestari ngusap mata nya pelan. "Tidur kok, Bu. Cuma... cuma nggak nyenyak."

"Bohong. Ibu liat dari jendela rumah. Lampu kamar kamu nyala sampe subuh. Kamu nggak tidur sama sekali kan?"

Lestari diem. Nggak bisa bohong lagi.

"Nak..." Bu Ratih ngeluarin napas panjang. "Kamu ke rumah Ibu sekarang. Kita ngobrol. Ada yang mau Ibu kasih."

"Tapi Bu, aku belum selesai jemur—"

"Sekarang. Antoni juga bawa. Biar dia main sama cucu Ibu."

Lestari ngangguk lemah. Dia masuk kamar, gendong Antoni—Antoni lagi tidur siang—terus lewat pagar bambu ke rumah Bu Ratih.

Rumah Bu Ratih bersih. Sederhana tapi rapi. Ada sofa empuk di ruang tamu, meja kayu yang catnya masih bagus, tikar pandan bersih di lantai.

"Duduk, Neng. Antoni tidur in aja di sofa."

Lestari membaringkan Antoni di sofa—pelan banget biar nggak bangun. Antoni tidur nyenyak—napas nya teratur.

Bu Ratih duduk di sebelah Lestari. Tangan nya pegang tangan Lestari—tangan yang kurus, yang penuh luka kecil bekas kerja.

"Nak... Ibu liat kamu makin terpuruk. Ibu nggak tega."

Lestari nunduk. "Aku... aku baik-baik aja kok, Bu..."

"Jangan bohong ke Ibu. Ibu udah ngeliat kamu dari Antoni lahir. Ibu tau kalau kamu lagi nggak baik-baik aja."

Lestari napas nya mulai sesengukan. Dia tahan—tahan sekuat tenaga—tapi nggak bisa.

Air mata nya jatuh. Netes ke pangkuan.

"Bu... aku... aku capek, Bu... aku udah nggak kuat lagi... tiga bulan aku ngumpulin uang... nggak makan siang berhari-hari... jalan kaki kemana-mana... semuanya buat Antoni... buat masa depan kami... tapi... tapi sekarang hilang semua..."

"Ibu tau, Nak. Ibu tau."

"Aku... aku harus mulai dari nol lagi... tapi aku... aku nggak tau aku masih punya tenaga atau nggak... aku udah... aku udah mentok, Bu..."

Bu Ratih peluk Lestari—peluk erat. Lestari nangis di pelukan Bu Ratih—nangis keras, sesengukan, bahu nya getar.

"Nangis aja dulu, Nak. Keluarin semua. Jangan ditahan."

Lestari nangis lama. Nangis sampe baju Bu Ratih basah kena air mata.

Setelah agak tenang—Bu Ratih melepas pelukan. Dia berdiri, jalan ke kamarnya sebentar, terus balik dengan amplop cokelat.

Duduk lagi di sebelah Lestari.

"Ini." Bu Ratih ngasih amplop ke Lestari.

Lestari nerima dengan tangan gemetar. Buka amplop—dalem nya ada uang. Uang lima ratus ribu.

"Bu... ini..."

"Buat kamu. Buat kabur."

"Tapi Bu... Ibu udah banyak bantu... aku nggak bisa—"

"Terima. Ini bukan pinjaman. Ini hadiah. Hadiah buat masa depan kamu sama Antoni."

Lestari ngeliat uang itu—uang yang... uang yang jadi harapan baru.

"Ibu... kenapa... kenapa Ibu baik banget sama aku?" Suara Lestari bergetar. "Aku... aku bukan siapa-siapa Ibu... aku cuma... cuma tetangga biasa... tapi Ibu... Ibu udah ngelakuin banyak banget buat aku..."

Bu Ratih senyum tipis—senyum yang lembut. "Karena Ibu nggak tega liat kamu menderita terus, Neng. Kamu masih muda. Dua puluh tiga tahun. Masa depan kamu masih panjang. Jangan sia-siakan hidup di sini. Jangan biarkan Antoni tumbuh di lingkungan kayak gini."

Lestari nangis lagi—tapi nangis nya beda. Nangis haru. Nangis terharu.

"Makasih, Bu... makasih banyak... aku... aku nggak tau harus balas gimana... aku—"

"Nggak usah dibalas. Kamu hidup bahagia aja udah cukup buat Ibu." Bu Ratih mengelus kepala Lestari kayak mengelus anak sendiri. "Dan Ibu punya satu lagi buat kamu."

Bu Ratih keluarin kertas dari kantong daster nya—kertas putih bertulisan tangan.

"Ini nomor telepon saudara Ibu di Jakarta. Namanya Bu Siti. Dia sepupu Ibu. Baik orangnya. Ibu udah telpon dia kemarin—cerita sedikit tentang kamu. Dia setuju kamu tinggal sementara di rumahnya. Gratis. Nggak usah bayar. Sampe kamu dapet kerjaan."

Lestari matanya melebar. "Serius, Bu? Ibu... Ibu udah ngatur semuanya?"

"Iya. Ibu nggak mau kamu kabur terus bingung mau ke mana. Jadi Ibu siapin dari sekarang. Alamat nya juga udah Ibu tulis di kertas itu. Bu Siti tinggal di daerah Cengkareng. Rumahnya nggak gede, tapi bersih. Dia janda, anak nya udah nikah semua, jadi rumahnya sepi. Dia seneng kalau ada temen."

Lestari baca kertas itu—alamat Bu Siti, nomor telepon Bu Siti, nama lengkap Bu Siti—semua ditulis rapi dengan tulisan tangan Bu Ratih.

"Bu... Ibu... Ibu kayak malaikat buat aku..." Lestari nangis lagi—nangis sambil peluk Bu Ratih. "Aku nggak akan pernah lupa kebaikan Ibu seumur hidup aku... aku bersumpah..."

"Udah udah. Sekarang kamu harus kuat dan berani." Bu Ratih mengelus punggung Lestari. "Jangan sampe ketahuan. Kamu harus pura-pura biasa aja di depan Dyon sama Wulandari. Jangan sampe mereka curiga."

"Aku... aku bakal hati-hati, Bu. Aku janji."

"Dan inget—" Bu Ratih pegang kedua bahu Lestari, natap mata Lestari serius—"ini semua demi anak kamu. Demi Antoni. Dia nggak boleh tumbuh kayak gini. Dia nggak boleh jadi korban kekerasan terus-terusan. Dia butuh masa depan yang lebih baik. Kamu ngerti kan?"

Lestari ngangguk—ngangguk cepet, air mata masih ngalir. "Aku ngerti, Bu. Aku... aku janji bakal bawa Antoni keluar dari sini. Aku janji."

"Bagus. Sekarang—" Bu Ratih ngasih kertas lagi—kertas kecil—"ini jadwal bus ke Jakarta dari terminal Leuwi Panjang. Ada bus jam lima pagi. Ongkos nya seratus ribu buat dua orang. Sampe Jakarta jam sebelas siang. Kamu naik bus itu. Begitu sampe, langsung naik angkot atau ojek ke rumah Bu Siti. Ngerti?"

Lestari baca kertas itu—jadwal bus, harga, nomor bus. Semua lengkap.

"Bu udah... Bu udah siapin semuanya..." Lestari nggak percaya. Nggak percaya ada orang sebaik ini di dunia.

"Ibu cuma nggak mau kamu bingung waktu kabur. Jadi Ibu siapin dari sekarang."

Antoni di sofa mulai gerak—mata nya kebuka pelan. Dia duduk, menggosok-gosok mata.

"Ibu... kita di mana?" tanya Antoni bingung.

"Kita di rumah Bu Ratih, Nak. Kamu tidur bentar tadi."

Antoni turun dari sofa—jalan ke Lestari, peluk kaki Lestari. "Aku laper, Bu..."

Bu Ratih senyum. "Eh, Antoni. Nenek punya roti. Mau?"

Antoni ngangguk.

Bu Ratih ke dapur, ambil roti tawar sama susu kotak, kasih ke Antoni. Antoni makan dengan lahap—duduk di lantai, kaki disilang.

Lestari ngeliat Antoni—anak nya yang polos, yang nggak tau apa-apa tentang rencana pelarian ini.

"Nak..." Lestari jongkok di samping Antoni. "Tiga hari lagi... kita bakal jalan-jalan. Jalan-jalan jauh. Kamu mau kan?"

Antoni ngangguk semangat—mulut nya penuh roti. "Mau! Ke mana, Bu?"

"Rahasia dulu. Nanti Ibu kasih tau. Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa ya. Ini rahasia kita berdua."

"Oke, Bu! Aku nggak bakal bilang siapa-siapa!" Antoni senyum lebar—senyum yang... yang bikin dada Lestari sesak.

Anak ini nggak tau. Nggak tau kalau tiga hari lagi hidup mereka bakal berubah total.

---

Lestari pulang sekitar jam lima sore. Bawa Antoni lewat pagar bambu lagi—masuk lewat pintu belakang.

Di tangan nya ada amplop dari Bu Ratih yang disembunyiin di balik baju. Sama kertas-kertas yang dilipet kecil, dimasukin ke saku daster.

Masuk kamar gudang—Lestari sembunyiin amplop di tempat baru. Kali ini nggak di kardus. Tapi di balik tikar—ada celah kecil antara tikar sama lantai semen—dimasukin ke situ, ditutup pake tikar lagi.

Kertas-kertas dilipat lebih kecil lagi, dimasukin ke dalam bra—tempat paling aman.

Lestari duduk di tikar. Antoni lagi main mobil-mobilan kardus di samping nya.

Dia ngeliat kalender di dinding—kalender lusuh, udah robek di beberapa bagian.

Hari ini Kamis. Tiga hari lagi Minggu.

Minggu—Dyon sama Wulandari bakal pergi ke hajatan saudara Wulandari di kampung sebelah. Pergi dari pagi sampe malem.

Kesempatan emas.

Lestari udah denger mereka ngomong kemarin. "Minggu kita ke hajatan Tante Yuyun. Lo jaga rumah ya," kata Dyon ke Lestari.

Jaga rumah.

Tapi Lestari nggak bakal jaga rumah. Lestari bakal kabur.

"Tiga hari lagi..." bisik Lestari pelan sambil mengelus kepala Antoni. "Tiga hari lagi kami akan bebas, Antoni."

Antoni menengadah—ngeliat Ibu nya dengan mata polos. "Bebas apaan, Bu?"

"Bebas dari... dari semua yang jahat. Kita bakal hidup baru. Hidup yang lebih baik."

"Oke, Bu!" Antoni senyum—senyum yang nggak ngerti tapi... percaya.

Percaya sama Ibu nya.

Dan Lestari... Lestari tau dia nggak boleh ngecewain kepercayaan itu.

Dia harus berhasil.

Harus.

Karena kalau gagal—

Nggak ada kesempatan kedua.

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap, teruntuk Lestari wanita kuat dan tentunya Author hebat di balik setiap lembarannya 👍🙏
Mentari_Senja: mkasih udh slalu stay di ceritaku, Kak☺
total 1 replies
checangel_
Dan tentunya penuh kejutan 🤭
checangel_
/Good/
Dri Andri
yon urang gelud lah... ajg parah lord dyon... anak balita aja di tampar... anak setan... bapaknya apa ? aaaaaakakakkakaakakak
checangel_
Karena Dyon adalah suamimu, firasatmu sebagai istri selalu tepat dan akurat Lestarai 😇
Mentari_Senja: ikatan batin seorang istri😌
total 1 replies
checangel_
Wah, Antoni hebat bisa juggling bola/Applaud/, Aunty bangga padamu /Smile/
Mentari_Senja: mkasih Aunty🤭
total 1 replies
checangel_
Kok berasa komedi ya, saat Ibu Wulandari muncul, komedinya ngeri² gimana gitu/Facepalm/🤭, Astaghfirullah maafkan Reader ini ya Ibu Wulandari 🤧
checangel_: Entahlah/Silent/
total 4 replies
checangel_
Anak lelaki memang harus dekat dengan Ibunya, baru deh yang kedua Ayahnya 😇
checangel_
Mau aku kasih tahu rahasia nggak, anak sekecil itu jika sudah mendapat tekanan keras (berupa tamparan, teriakan, bahkan Ibunya tersakiti) dari Ayahnya, saat dewasa anak itu akan benci dengan apa yang pernah dialaminya sedari kecil, TAPI .... kebencian itu bukanlah solusinya, karena pada akhirnya kebenaran yang berpihak 👍
checangel_: /Good/
total 2 replies
checangel_
Kenapa ditampar anak sekecil itu?/Sob/ Dyon kamu itu ya /Drowsy/
checangel_: /Facepalm/
total 4 replies
checangel_
Lestari, kamu Ibu hebat🤧
checangel_
Andriano hadir disaat yang tepat, bukan begitu Lestari, Dyon hempaskan. Astaghfirullah/Facepalm/
Mentari_Senja: main hempaskan aja, Dyon jga manusia, hanya saja dia salah jalur🤣🤣
total 1 replies
checangel_
Dyon kamu itu ya!!!/Grimace/, banyak² istighfar yuk sebelum terlambat 🤧
checangel_
Tenang, ada Allah yang selalu bersamamu😇
Mentari_Senja: dan ada author yg slalu ada di cerita ini🤭
total 1 replies
checangel_
Tapi kita juga tak tahu, apakah mereka yang tersenyum di luar sana beneran tersenyum atau hanyalah pura², karena dibalik senyum tak semua orang tersenyum 🤭/Facepalm/
Mentari_Senja: karena manusia terlalu pandai berpura2
total 1 replies
checangel_
Lestari, you are strong woman🤧
checangel_
Apalagi ni? Ibu Wulandari berulah lagi🤧
Mentari_Senja: emang suka bikin ulah kak😩
total 1 replies
checangel_
Ibu Wulandari terjuket /Facepalm/
Mentari_Senja: untung aja bukan terjungkit😩
total 1 replies
Dri Andri
anjay ududna Sampurna mill.. beliin aja petasan biar mulut nya hancur😁
Dri Andri: sampurna kretek murah
total 3 replies
Dri Andri
agak laen nih dyon

lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!