Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian di atas air
"Seno, sekarang!" teriak Biru.
Seno, yang sudah bersiap di balik kemudi mobil, tidak memacu mobilnya ke arah jalan keluar yang diblokade, melainkan memutar setir dengan ekstrem ke arah bibir dermaga. Klakson panjang dibunyikan sebagai tanda pengalih perhatian.
"Mas Biru, Mbak Aruna, masuk!"
Dalam kekacauan itu, Pak Darwin melakukan sesuatu yang tak terduga. Ia menggunakan tubuhnya untuk menghalangi salah satu anak buah Madam Syaza yang mencoba menarik pintu mobil. "Pergi, Biru! Jaga warisan ibumu yang sebenarnya!" seru pria tua itu sebelum tersungkur akibat dorongan keras.
Aku menarik Biru masuk ke kursi belakang saat mobil Seno melesat, bukan menuju daratan, melainkan melompati tumpukan palet kayu menuju area pemuatan kapal feri yang sedang bersandar. Ban mobil berdecit hebat, menyisakan bau karet terbakar.
"Mereka mengejar, Mas!" Seno melihat kaca spion. Dua mobil hitam Madam Syaza meluncur di belakang kami dengan kecepatan tinggi.
"Na, pegangan!" Biru menarikku ke pelukannya. Kondisinya yang belum pulih membuatnya tampak sangat kesakitan akibat guncangan mobil, tapi tangannya tetap melindungiku.
Seno melakukan manuver gila. Bukannya terjebak di ujung dermaga, ia mengarahkan mobil masuk ke dalam ramp kapal feri 'Samudra Jaya' yang kebetulan sedang mulai bergerak meninggalkan dermaga. Mobil kami melompat masuk ke atas dek parkir tepat saat ramp kapal mulai terangkat.
Mobil pengejar di belakang kami tidak seberuntung itu. Mereka terpaksa mengerem mendadak tepat di bibir dermaga yang gelap. Dari kejauhan, aku bisa melihat sosok Madam Syaza keluar dari mobilnya, berdiri kaku di bawah lampu jalan, menatap kapal yang membawa kami pergi.
Di dalam dek kapal yang bising dengan suara mesin, kami semua terengah-engah. Seno mematikan mesin mobil. Keheningan yang aneh menyelimuti kami, hanya ada suara ombak yang menghantam lambung kapal.
"Kita aman... untuk sementara," bisik Biru, napasnya tersengal.
Aku segera mengeluarkan ponselku. "Biru, lihat ini." Aku menunjukkan foto-foto dokumen yang sempat kuambil tadi. "Madam Syaza adalah dalang di balik perusahaan cangkang itu. Dia yang mendanai penggusuran. Dia menggunakan kita untuk membersihkan jalannya."
Biru menatap layar ponsel dengan mata yang nanar. "Jadi... semua dukungan yang dia berikan, semua mesin cetak itu... hanyalah cara agar kita menulis narasi yang dia inginkan?"
"Ya. Dan pameran besok pagi adalah langkah terakhirnya untuk menyingkirkanmu dan menggantikannya dengan narasi palsu," kataku tegas. "Kita tidak punya banyak waktu. Kapal ini menuju Merak. Kita punya waktu beberapa jam sebelum matahari terbit untuk mengubah pameran itu."
"Mengubah pameran? Caranya?" tanya Seno bingung. "Semua cetakan fisik ada di galeri Madam Syaza."
Biru mendongak, sebuah kilat perlawanan muncul di matanya. "Kita punya versi digitalnya, Seno. Dan kita punya koneksi internet satelit di kapal ini. Kita tidak butuh galeri mewah Madam Syaza."
"Aruna," Biru memegang tanganku. "Kita akan melakukan pameran gerilya. Kita akan membajak pameran kita sendiri."
Aku mengerti maksudnya. "Kita akan mengubah tautan QR Code di buku yang sudah tersebar. Alih-alih merujuk pada video penyiksaanmu, kita akan menambahkannya dengan bukti keterlibatan Madam Syaza."
"Dan untuk pameran fisik besok," Biru tersenyum tipis, "kita akan meminta para nelayan dan aktivis di pelabuhan untuk menyalakan proyektor di tembok-tembok gudang. Kita akan memindahkan pameran itu dari galeri kaca menuju jalanan."
Malam itu, di dalam dek kapal feri yang bergoyang, aku dan Biru bekerja dalam diam yang intens. Jemariku menari di atas laptop, mengubah narasi penutup buku kami secara digital, sementara Biru menyusun urutan foto yang akan membongkar kedok Sang Naga Laut.
Kami sedang mempertaruhkan segalanya. Jika kami gagal, kami tidak hanya akan kehilangan karier, tapi mungkin juga nyawa. Namun saat fajar mulai menyingsing di cakrawala Selat Sunda, aku tahu satu hal: Cahaya fajar yang asli tidak bisa disuap, dan kebenaran yang jujur tidak butuh panggung yang megah.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...