Ryuga Soobin Dewangga adalah CEO dingin yang terjebak dalam trauma masa lalu dan konspirasi bisnis yang mengancam nyawanya. Hidupnya yang kaku berubah total saat ia bertemu Kiara Adiningrat, asisten pribadi tangguh yang lebih ahli memegang senjata dan memperbaiki jam antik dari pada menyeduh kopi.
Di tengah ancaman pembunuhan dan pengkhianatan orang terdekat, keduanya terpaksa menjalin kesepakatan tengah malam yang berbahaya. Antara tuntutan profesional, hobi yang saling bersinggungan, dan ego yang setinggi langit, mereka harus menghadapi musuh yang mengintai di balik bayang-bayang.
Mampukah cinta tumbuh di antara peluru dan rahasia, ataukah kesepakatan ini justru menjadi awal kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Bayangan di Parkiran Basement
Setelah malam yang melelahkan di pantai, Ryuga menolak untuk tetap berbaring. Meski bahunya dibalut perban dan demam tipis masih menyerang, ia bersikeras bahwa menunggu di apartemen sama saja dengan menyerahkan leher pada Bramasta.
"Rapat pemegang saham itu tinggal beberapa jam lagi," ucap Ryuga sambil berusaha mengenakan kemeja hitam bersih milik Dino yang terasa kekecilan di tubuh tegapnya. "Kita tidak bisa masuk lewat pintu depan. Samsul dan Sheila pasti sudah menjaga lobi Dewangga Tower seperti benteng."
"Kita masuk lewat basement 4," sahut Kiara. Ia sedang memeriksa isi tas taktisnya, memastikan pisau lipat dan alat deskripsi portable nya siap. "Itu area teknis. Jalur pembuangan limbah dan instalasi kabel. Tidak ada kamera di sana karena frekuensi listriknya terlalu tinggi."
Dewangga Tower, Basement 4 – 09.00 WIB
Suasana di basement paling bawah ini terasa lembab dan dingin. Suara dengung mesin generator raksasa menciptakan getaran konstan di lantai beton. Ryuga dan Kiara bergerak dalam bayang-bayang pilar beton besar, sementara Dino memantau dari dalam van butut yang diparkir di luar area gedung.
"Hati-hati, Pak Bos," suara Dino berderak di earpiece mereka. "Aku melihat pergerakan di lantai 5. Samsul baru saja naik lift pribadi. Dia membawa tas koper hitam. Sepertinya itu bukan berisi dokumen saham."
Ryuga memberi kode pada Kiara untuk berhenti. Mereka bersembunyi di balik tumpukan ban bekas.
"Ryuga, lihat itu," bisik Kiara, menunjuk ke arah sudut parkiran yang remang.
Di sana, sebuah mobil mewah berwarna perak terparkir. Sheila keluar dari mobil tersebut, namun ia tidak sendiri. Ia sedang berbicara dengan seorang pria yang mengenakan seragam teknisi gedung, tapi pria itu memegang senjata laras pendek di balik jaketnya.
"Lakukan sekarang," perintah Sheila dingin. "Begitu rapat dimulai, pastikan lift macet di lantai 49. Aku ingin keponakanku tersayang terjebak di tengah jalan sebelum dia sempat mengatakan satu kata pun di depan dewan direksi."
Di dalam van, Dino sedang berkeringat dingin sambil makan keripik singkong untuk meredakan sarafnya.
"Waduh, Nona Ular itu benar-benar licik!" gumam Dino pada layarnya. "Kiara! Pak Bos! Mereka mau menyabotase lift! Kalau kalian naik sekarang, kalian bakal jadi 'CEO goreng' di dalam kotak besi itu!"
Dino [WA] : "Ki! Jangan naik lift! Pakai tangga darurat saja. Anggap saja ini olahraga pagi setelah makan bubur semalam. Dan tolong, Pak Ryuga jangan pingsan di tangga, aku tidak kuat menggendongnya lewat sinyal wifi!"
Aksi di Parkiran
Saat Sheila dan teknisi itu mulai melangkah menuju pintu akses, Kiara bergerak. "Saya ambil teknisinya. Anda pastikan Sheila tidak menekan tombol darurat di ponselnya."
"Kiara, bahumu masih lecet dari kemarin," Ryuga menahan lengannya.
"Dan bahu Anda baru saja dibakar, Pak Ryuga," balas Kiara dengan senyum menantang. "Kita impas. Sekarang, gerak!"
Kiara melesat seperti bayangan di antara barisan mobil. Dengan gerakan yang sangat efisien, ia menyergap teknisi itu dari belakang. Ia tidak menggunakan tenaga murni, melainkan memanfaatkan titik saraf di leher lawan. Dalam hitungan detik, pria itu terkulai lemas tanpa sempat mengeluarkan suara.
Sementara itu, Ryuga muncul tepat di depan Sheila. Sheila tersentak, hampir menjatuhkan ponselnya.
"Soobin?! Bagaimana bisa kau—"
"Kau pikir api kecil itu bisa menghabiskan ku , Sheila?" Ryuga melangkah maju, auranya begitu mengintimidasi hingga Sheila mundur sampai menabrak mobilnya sendiri. Ryuga merebut ponsel dari tangan Sheila dengan gerakan kasar. "Permainanmu berakhir di sini. Paman Bramasta tidak akan datang ke rapat itu, karena aku sudah mengirimkan data awal yang berhasil dipulihkan Dino ke pihak otoritas."
Sheila tertawa sinis, meski matanya memancarkan ketakutan. "Kau pikir kau menang? Samsul sudah ada di atas. Dia punya perintah untuk menghancurkan gedung ini jika kau muncul!"
Ryuga tidak mempedulikan ancaman Sheila. Ia menoleh ke arah Kiara yang baru saja selesai mengikat teknisi itu dengan kabel ties. Di tengah remang lampu basement, napas mereka berdua terengah.
Ryuga menghampiri Kiara, menariknya ke dalam dekapan singkat namun sangat erat di balik pilar. Ia mencium kening Kiara, sebuah gerakan yang sangat impulsif dan penuh emosi.
"Terima kasih telah menjadi perisai di belakangku, Kiara," bisik Ryuga. "Sekarang, mari kita naik dan mengambil kembali apa yang menjadi hak kita."
Kiara tertegun sejenak, merasakan detak jantung Ryuga yang kini seirama dengan detaknya. Ia mengangguk tegas. "Lewat tangga darurat, Pak. Kita punya 50 lantai untuk didaki."
"Demi keadilan," ucap Ryuga.
"Dan demi nama baik ayah saya," tambah Kiara.
Mereka mulai berlari menuju pintu tangga darurat, meninggalkan Sheila yang berteriak frustasi di parkiran yang sunyi. Bayangan di basement itu mungkin gelap, namun bagi Ryuga dan Kiara, cahaya kebenaran kini berada tepat di atas kepala mereka.
Pintu besi tangga darurat tertutup dengan dentuman berat, mengunci suara teriakan Sheila di luar. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip di lorong tangga menciptakan suasana yang makin mencekam. Di depan mereka, anak tangga beton seolah membentang tanpa ujung menuju puncak Dewangga Tower.
"Lantai 50," gumam Ryuga, menatap angka di dinding. "Siap untuk latihan fisik paling ekstrem dalam hidupmu, Kiara?"
Kiara mengencangkan ikatan rambutnya, lalu menatap Ryuga yang wajahnya mulai pucat karena menahan sakit di bahunya. "Saya yang harusnya bertanya begitu, Pak. Jika Anda pingsan di lantai 20, saya tidak akan meninggalkan Anda, tapi saya akan menyeret Anda sampai ke atas."
Ryuga tersenyum tipis senyum yang kini terasa lebih hangat. "Tantangan diterima."
Lantai 25 – 09.30 WIB
Langkah kaki mereka bergema di lorong tangga yang sempit. Napas Ryuga mulai berat, keringat dingin membasahi kemeja pinjaman dari Dino yang kini melekat di tubuhnya. Luka bakarnya mulai terasa berdenyut seirama dengan detak jantungnya.
"Berhenti sejenak," perintah Kiara. Ia menarik Ryuga ke bordes lantai 25.
"Kita tidak punya... waktu," protes Ryuga sambil memegang dadanya.
Kiara tidak peduli. Ia membuka tas taktisnya, mengambil botol air mineral dan selembar coklat hitam. "Makan ini. Glukosa akan membantu otak Anda tetap fokus. Dan minum ini."
Ryuga menerima coklat itu. Saat jari mereka bersentuhan, Kiara tidak segera menarik tangannya. Ia mengusap peluh di kening Ryuga dengan jemarinya. Perasaan di antara mereka kini bukan lagi soal godaan, tapi soal sandaran.
"Kau tahu," bisik Ryuga di sela nafasnya yang memburu, "di antara semua asisten yang pernah ku catut namanya, hanya kau yang berani mengatur cara bernapas ku."
"Itu karena saya asisten pertama yang berniat melihat Anda tetap hidup sampai masa pensiun," balas Kiara lirih.
Di luar gedung, Dino sedang duduk di atas motor bebeknya, pura-pura asyik menyeruput kopi sachet sambil memantau tablet yang disembunyikan di balik koran.
"Aduh, mereka berhenti di lantai 25!" Dino mengomel pelan. "Ayo cepat! Samsul baru saja keluar dari lift lantai 50. Dia membawa koper itu masuk ke ruang rapat. Dan dari gestur tubuhnya... dia terlihat seperti orang yang siap menekan tombol 'kiamat' kapan saja."
Dino menyalakan mikrofonnya. "Kiara! Pak Bos! Jangan pacaran di tangga! Waktu kalian tinggal sepuluh menit sebelum rapat dimulai. Kalau kalian telat, Bramasta akan menandatangani pengalihan aset secara permanen!"
Lantai 45 – Pertemuan Berdarah
Hanya lima lantai lagi menuju puncak, namun kejutan menunggu mereka. Pintu tangga darurat di lantai 45 terbuka tiba-tiba. Dua orang pria bersenjata anak buah Samsul muncul dengan pistol terkokang.
"Tuan Muda, Anda seharusnya tetap di pantai," ucap salah satu dari mereka.
Sebelum Ryuga sempat bereaksi, Kiara sudah bergerak. Dalam ruang yang sempit, ia menggunakan tembok sebagai tumpuan untuk melakukan tendangan vertikal yang menghantam dagu pria pertama.
Ryuga, meski terluka, memanfaatkan momentum itu. Ia menabrak pria kedua dengan bahunya yang sehat, menjatuhkan senjata lawan, dan memberikan pukulan hook yang bersih ke arah pelipis.
Bugh!
Kedua pria itu tumbang di anak tangga. Kiara mengambil salah satu pistol lawan, mengosongkan pelurunya, lalu melempar senjatanya ke bawah. "Kita tidak butuh ini. Kita butuh kebenaran."
Menuju Lantai 50
Mereka sampai di depan pintu terakhir. Ryuga merapikan kemejanya, meskipun noda darah tipis mulai merembes di bahunya. Ia menatap Kiara, mencari kekuatan di mata wanita itu.
"Siap untuk restorasi terakhir?" tanya Ryuga.
Kiara menggenggam tangan Ryuga, memberikan remasan lembut namun penuh keyakinan. "Jamnya sudah berdetak, Pak Ryuga. Sekarang waktunya menunjukkan pada mereka bahwa waktu bagi para pengkhianat sudah habis."
Ryuga mendorong pintu besar itu. Cahaya terang dari ruang direksi menyambar mereka. Di ujung meja panjang, Bramasta sedang memegang pena di atas dokumen, sementara Samsul berdiri di belakangnya dengan tangan di dalam jas.
Seluruh dewan direksi menoleh serentak. Kesunyian yang memekakkan telinga menyelimuti ruangan.
"Rapat ini," suara Ryuga menggelegar, tenang namun mematikan, "belum bisa dimulai tanpa kehadiran pemilik sah Dewangga Tower."
ini juga teman kocak si Dino gangguin aja, 🤣🤣
tp seru dan tegang.. penasaran kode apa itu ya?