Viera menikah dengan Damian selama bertahun-tahun dalam pernikahan yang terlihat sempurna. Hingga suatu hari, ia tahu suaminya berselingkuh.
Lebih kejam lagi, kehamilan yang ia perjuangkan lewat bayi tabung bukan berasal dari suaminya. Sp*rma itu milik Lucca, suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Damian.
Dalam kehancuran, Viera tidak memilih menangis... ia memilih berdiri tanpa goyah.
Ketika cinta baru datang tanpa paksaan, dan pembalasan berjalan tanpa teriakan... siapa yang benar-benar menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 20.
Keheningan itu terasa berat, seolah udara di sekitar rumah kecil Viera menolak bergerak. Hanya terdengar isak tertahan Arka yang masih memeluk leher ibunya, napasnya belum sepenuhnya tenang.
Lucca berdiri beberapa langkah dari mereka, tangannya mengepal di sisi tubuh. Amarahnya belum reda, tapi ia memaksa diri untuk menahannya—bukan sekarang, bukan di depan anak itu.
“Kau terluka?” tanyanya akhirnya, suaranya diturunkan, nyaris berbeda dari nada dingin yang barusan ia gunakan.
Viera menggeleng pelan. Pipinya masih perih, bekas tamparan itu memerah jelas. Namun rasa sakit fisik kalah jauh dibandingkan sesuatu yang mengoyak dadanya—kenyataan bahwa setelah bertahun-tahun, Lucca muncul kembali dalam hidupnya dengan cara seperti ini.
“Aku bisa urus semuanya,” lanjut Lucca. “Kau dan anakmu tidak perlu menghadapi ini sendirian.”
Kalimat itu membuat Viera menegang, ia mengangkat wajahnya dan menatap Lucca untuk pertama kalinya sejak pria itu datang. Wajah yang dulu begitu ia kenal tapi lebih dewasa sekarang, garis rahang lebih tegas, sorot mata lebih dingin.
Tapi ada satu hal yang tidak berubah... cara Lucca menatap Viera, seolah dunia di sekeliling menghilang dan hanya ada wanita itu di matanya.
“Tidak,” kata Viera singkat.
Lucca terdiam. “Tidak… apa?”
“Aku tidak butuh diurus olehmu,” jawab Viera, suaranya pelan tapi tegas. Ia merapikan posisi Arka di pelukannya. “Terima kasih sudah menghentikan mereka. Tapi setelah ini, jangan muncul lagi di hadapanku.”
Lucca menelan ludah. “Viera—”
“Jangan,” potongnya cepat. “Jangan panggil namaku seperti itu.”
Arka mendongak, menatap Lucca dengan mata polos. “Mama… siapa Om ini?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi menghantam Lucca tepat di dada. Ia menunduk perlahan agar sejajar dengan mata anak itu. “Om… teman lama Mama,” jawabnya hati-hati.
Viera mengalihkan pandangan, ia tidak sanggup melihat interaksi itu lebih lama. Ada bagian dalam dirinya yang bergetar—naluri yang berteriak bahwa anak ini seharusnya mengenal pria di depannya. Tapi ada sesuatu yang menahan dan langsung berdiri sebagai tameng.
“Ayo masuk, Arka,” kata Viera, berusaha terdengar normal.
Lucca berdiri tegak lagi. “Setidaknya izinkan aku memastikan mereka tidak kembali. Aku bisa pasang pengamanan—”
“Aku sudah cukup aman selama tujuh tahun ini,” jawab Viera dingin. “Tanpa kamu.”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan amarah, justru dengan ketenangan yang menyakitkan. Seolah Viera tidak lagi berharap apa pun dari pria itu.
Lucca mundur selangkah. Ia tahu, memaksa sekarang hanya akan membuat Viera semakin menjauh.
“Baik,” katanya akhirnya. “Aku tidak akan memaksa.”
Viera berhenti di ambang pintu, tanpa menoleh. “Tolong… jangan cari aku lagi.”
Pintu tertutup perlahan, meninggalkan Lucca sendirian di bawah langit yang mulai menggelap.
Malam itu, Viera duduk di sisi tempat tidur Arka hingga anak itu tertidur. Napas kecil yang teratur, tangan mungil yang masih menggenggam ujung bajunya.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh. Ia menutup mulutnya dengan tangan, menangis tanpa suara. Bukan karena hinaan wanita tadi—ia sudah terlalu sering dihancurkan oleh kata-kata orang. Tapi karena satu hal yang tidak pernah ia persiapkan. Melihat Lucca lagi, berdiri melindunginya… setelah semua yang terjadi.
“Kenapa kami bertemu lagi?” bisiknya.
Ia bangkit berjalan ke kamar mandi, menatap bayangannya di cermin. Perempuan di sana terlihat lebih kuat, lebih tenang—tapi matanya menyimpan lelah yang dalam.
Viera tahu, kemunculan Lucca bukan kebetulan. Dan itu membuatnya takut.
Sementara itu, Lucca berdiri di dalam mobilnya cukup lama sebelum akhirnya menyalakan mesin. Tangannya gemetar saat memegang setir.
Tujuh tahun.
Tujuh tahun ia membayangkan ulang pertemuan ini—ribuan versi dalam kepalanya. Tapi tak satu pun menyiapkannya untuk melihat Viera ditampar orang lain di depan anak mereka.
Amarahnya mendidih lagi.
Ia mengeluarkan ponsel, menekan satu nomor. “Aku mau laporan lengkap tentang seorang Dokter bernama Adrian, termasuk latar belakang keluarga dan tunangannya.”
“Baik, Tuan.”
Lucca menutup telepon, menatap rumah kecil itu sekali lagi sebelum pergi. Ia berjanji, tidak akan membiarkan Viera disakiti lagi.
Hari-hari setelah kejadian itu berjalan dengan ketegangan yang sunyi. Bahkan anehnya, Adrian tidak pernah muncul lagi. Tidak ada pesan, tidak ada telepon. Seolah pria itu menghilang dari dunia Viera begitu saja. Viera sendiri memilih tidak memikirkannya.
Ia kembali pada rutinitasnya. Mengantar Arka ke sekolah, bekerja, memasak, tertawa kecil saat Arka bercerita tentang hal-hal sepele. Tapi ada satu hal yang berubah, perasaan diawasi.
Bukan dengan cara yang mengancam, lebih seperti perlindungan dari kejauhan.
Suatu sore, ia menyadari satpam tambahan di ujung kompleks. Minggu berikutnya, ada kamera keamanan baru yang terpasang di tiang lampu. Tidak mencolok, tapi cukup bagi Viera yang jeli untuk menyadarinya.
Ia tahu siapa di balik itu, dan justru itulah yang membuat dadanya sesak.
Di sisi lain Lucca duduk di ruang kerjanya, laporan terbuka di meja. Foto-foto, dokumen, kronologi. Semua tentang Viera selama tujuh tahun terakhir, kehidupannya yang sederhana, perjuangannya, dan Arka.
Anak itu.
Lucca menutup mata.
Ia tidak berhak mendekat, tidak setelah semua kebohongan, kesalahan, dan pilihan egoisnya di masa lalu. Tapi setiap naluri dalam dirinya menjerit saat melihat anak itu. Arka adalah putra kandungnya, dia ingin sekali memeluk anaknya.
“Bos,” suara asistennya masuk pelan. “Ada kabar dari ibu Anda.”
Lucca membuka mata, sorotnya mengeras. “Aku tidak ingin bicara dengannya.”
“Beliau—”
“Katakan aku sedang tidak ada,” potongnya. “Dan jangan biarkan dia mendekati Viera.”
Asistennya terdiam sesaat. “Baik.”
Lucca berdiri, berjalan ke jendela besar. Lampu kota berkelip di bawah sana.
“Aku hanya ingin memastikan… kau dan anak kita aman,” bisiknya, seolah Viera bisa mendengar.
Untuk sekarang, itu saja.
Dan jika suatu hari Viera memutuskan untuk membuka pintu, bukan karena tekanan—Lucca akan berdiri di sana, bukan sebagai penyelamat. Tapi sebagai pria yang akhirnya diberikan kesempatan mencintai Viera kembali... dengan cara yang benar.