Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Mas! Apa kamu masih baik-baik saja?" tanya Arunika cemas. Suaranya sedikit bergetar, memecah keheningan kamar yang hanya diisi suara rintik hujan dari luar.
Namun, Abimana seolah tak mendengar. Kesadarannya mungkin sudah di ambang batas akibat demam, tapi matanya justru terkunci pada wajah di hadapannya. Dalam jarak sedekat ini, ia seolah baru benar-benar "melihat" wanita yang ia nikahi. Mata hazel yang biasanya tersembunyi di balik kacamata dan selalu tertunduk sopan di kampus, kini terpancar jelas—jernih dan penuh kekhawatiran yang tulus. Wajah mungil yang selama ini ia anggap biasa saja, kini tampak begitu indah di bawah temaram lampu kamar.
Cantik, batin Abimana. Sebuah pengakuan jujur yang terlambat menghantam hatinya.
Dengan tangan gemetar, Abimana mencoba mengulurkan jari, berniat menyentuh pipi Arunika demi memastikan bahwa ini bukanlah halusinasi. Namun, dengan sigap Arunika menangkap tangan itu dan meletakkannya kembali ke atas ranjang.
"Jangan banyak bergerak, Mas. Suhu tubuhmu sangat tinggi." tegur Arunika. Meski ia berusaha menjaga nada bicaranya tetap datar, semburat merah di pipinya tak bisa disembunyikan. Ia merasa terusik oleh tatapan intens Abimana yang seolah sedang memujanya.
"Nika..." suara Abimana terdengar parau dan lirih. "Ternyata aku benar-benar buta selama ini."
Gerakan tangan Arunika yang tengah menyiapkan kompres seketika membeku. Ia tahu persis apa arti kalimat itu, namun hatinya belum siap untuk melunak begitu saja. Luka kemarin masih terlalu basah untuk disembuhkan hanya dengan satu kalimat manis.
"Simpan bicaramu, Mas. Papa dan Mama sudah di jalan." sahut Arunika cepat, berusaha mengalihkan debaran jantungnya sendiri. Ia menempelkan handuk dingin ke dahi Abimana. "Sekarang, ganti pakaianmu. Mau aku bantu, atau kamu ingin Papa melihatmu gemetaran seperti ini saat beliau masuk nanti?"
Abimana tertawa kecil, suara tawa yang terdengar getir karena tenggorokannya yang kering. "Tolong bantu aku, Istriku. Pak Dosen ini sepertinya sudah kehilangan seluruh kekuatannya di hadapanmu."
Arunika menggigit bibir bawahnya. Sebutan "Istriku" yang keluar dari mulut Abimana terasa jauh lebih menggetarkan daripada ancaman apa pun. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia mulai membantu melepaskan satu per satu kancing kemeja suaminya yang basah. Ia berusaha keras menjaga fokus, meski ia tahu detak jantungnya sendiri sudah tidak keruan.
Tepat saat kemeja itu terlepas dari bahu Abimana, suara bel apartemen berbunyi nyaring.
Ding-dong!
"Itu mereka!" bisik Arunika panik. Wajahnya menegang, ia segera menyodorkan kaos bersih ke arah suaminya. "Mas, cepat pakai ini! Kita tidak punya banyak waktu."
Arunika menarik napas panjang, memaksakan sebuah senyum manis muncul di wajahnya. Ia membuka pintu dan langsung disambut pelukan hangat dari Liana dan Bima Permana.
"Arunika sayang! Apa kabar? Duh, menantu Mama makin cantik saja." puji Mama Liana sambil masuk membawa beberapa bingkisan makanan.
Papa Bima Permana menyusul di belakang dengan wajah berwibawa namun ramah. "Mana suamimu, Nika?"
"Mas Abi sedang di kamar, Pa. Sepertinya kelelahan karena kehujanan tadi." jawab Arunika dengan nada suara yang sangat lembut, seolah-olah ia adalah istri yang sangat mengkhawatirkan suaminya.
Tak lama, Abimana keluar. Ia mengenakan kemeja bersih, meski wajah pucatnya tidak bisa disembunyikan sepenuhnya oleh sapuan air dingin. Ia duduk di samping Arunika, dan secara otomatis, Arunika menyentuh punggung tangan Abimana—sebuah akting yang sempurna di depan orang tua mereka.
"Kamu pucat sekali, Abi. Nika, tolong diperhatikan ya makan suamimu." celetuk Mama Liana di sela makan malam.
"Pasti, Ma. Mas Abi memang keras kepala kalau soal kerjaan, tapi Nika selalu pastikan dia minum vitamin." sahut Arunika sambil mengambilkan lauk ke piring Abimana.
Abimana menatap piringnya dengan perasaan getir. Setiap perhatian kecil yang diberikan Arunika saat ini terasa seperti duri. Ia tahu ini semua palsu. Ia tahu tangan yang tadi menyentuhnya dengan lembut adalah tangan yang sama yang ingin melepaskannya semalam.
Di tengah obrolan, Papa Bima berdehem. "Oh ya, tadi Papa dengar ada sedikit keributan di kampus soal mahasiswa bimbinganmu yang bernama Claudia. Papa harap kamu bisa menyelesaikan urusan profesionalmu dengan baik, Abi. Jangan sampai nama keluarga kita tercoreng."
Suasana mendadak hening. Abimana melirik Arunika, sementara Arunika hanya terus mengunyah makanannya dengan tenang, seolah tidak mendengar nama wanita yang hampir menghancurkan mereka.
"Sudah Abi selesaikan, Pa. Tidak akan ada masalah lagi." jawab Abimana tegas, matanya tetap tertuju pada Arunika, seolah memberikan janji yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
Meja makan yang tadinya penuh dengan aroma masakan hangat mendadak terasa dingin setelah nama Claudia disebut. Abimana bisa merasakan ketegangan yang merambat di bawah meja, namun Arunika tetaplah Arunika—ia adalah ratu dalam menyembunyikan badai di balik wajah tenangnya.
"Bagus kalau begitu." sahut Papa Bima, memecah keheningan sembari meletakkan sendoknya. "Sebagai dosen, reputasi adalah segalanya. Dan sebagai suami, fokusmu sekarang adalah Arunika. Papa tidak mau mendengar selentingan miring lagi."
Abimana mengangguk kaku. Di bawah meja, ia mencoba meraih tangan Arunika, mencari pegangan di tengah rasa pening yang kembali menyerang kepalanya. Namun, dengan gerakan halus yang tampak seperti sedang membenarkan letak serbet, Arunika menarik tangannya menjauh. Penolakan itu halus, tak terlihat oleh orang tua mereka, namun terasa seperti tamparan bagi Abimana.
"Sudah malam, Pa, Ma. Sebaiknya Mas Abi istirahat karena demamnya sepertinya belum benar-benar turun." ucap Arunika dengan nada manis yang dibuat-buat, sembari berdiri untuk merapikan piring.
Setelah sesi pamitan yang penuh pelukan dari Mama Liana dan wejangan singkat dari Papa Bima, pintu apartemen akhirnya tertutup rapat. Keheningan kembali merajai ruangan, namun kali ini terasa lebih menyesakkan.
Begitu orang tuanya menghilang di balik lift, sisa-sisa senyum di wajah Arunika luntur seketika. Ia berbalik, menatap Abimana yang masih terduduk lemas di kursi makan dengan wajah yang kian memucat.
"Sandiwara selesai." ucap Arunika dingin. "Sekarang silakan kembali ke kamarmu, Mas. Aku sudah menyiapkan obat di atas nakas."
Abimana tidak bergerak. Ia menatap punggung Arunika yang sibuk di wastafel. "Nika... sampai kapan kita harus bersandiwara seperti ini?"
Arunika menghentikan kegiatannya, namun tetap membelakangi Abimana. "Sampai kamu sadar bahwa luka yang kamu buat tidak bisa sembuh hanya karena aku memberikanmu lauk di depan orang tuamu. Tidurlah, Mas. Aku tidak ingin mengurus mayat di apartemen ini besok pagi."
Abimana memejamkan mata, memegangi kepalanya yang terasa berputar. Rasa sakit fisiknya kini bersaing dengan rasa sakit di hatinya. Saat ia bangkit berdiri dengan langkah gontai, ia melihat secarik kertas yang tadi ia tulis masih tergeletak di atas meja, sedikit basah oleh tetesan air—mungkin sisa air payung, atau mungkin... air mata yang Arunika sembunyikan.
Semangaaaaaat.... 💪💪💪