NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Transmigrasi / Action / Fantasi / Romansa Fantasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.

Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Namun, sebelum Han Tian sempat melangkah turun, sebuah tekanan lain yang jauh lebih tajam dan mendominasi tiba-tiba muncul, memotong aura Han Tian seperti pedang membelah kain.

"Kepala Keluarga Han," suara Tetua Zhang terdengar tenang, namun mengandung nada peringatan yang dingin. "Apa yang sedang Anda coba lakukan?"

Tetua Zhang masih duduk santai sambil mengipasi dirinya dengan kipas lipat, tetapi matanya menatap Han Tian dengan tajam.

"Tetua Zhang," Han Tian menggertakkan gigi, berusaha menahan emosinya. "Ini adalah urusan internal keluarga. Anak ini telah menghina saya dan mengkhianati klan. Menurut hukum keluarga, dia harus dihukum mati!"

"Itu mungkin benar lima menit yang lalu," jawab Tetua Zhang datar. "Tapi Han Feng baru saja menerima tawaranku. Dia sekarang adalah calon Murid Inti Sekte Pedang Langit. Membunuhnya berarti menampar wajah Sekte Pedang Langit. Apakah Keluarga Han Kota Awan Terapung sudah siap untuk menyatakan perang terhadap sekte kami?"

Mendengar kata "Perang", wajah Han Tian memucat seketika. Kemarahannya langsung surut, digantikan oleh ketakutan rasional.

Sekte Pedang Langit adalah penguasa mutlak wilayah ini. Mereka bisa memusnahkan Keluarga Han dalam satu malam hanya dengan mengirimkan seorang Diaken, apalagi menyatakan perang. Melawan mereka adalah tindakan bunuh diri.

Han Tian menarik napas dalam-dalam, menelan kembali harga dirinya yang telah hancur. Dia menatap punggung Han Feng dengan tatapan penuh kebencian yang dalam.

"Baiklah," kata Han Tian kaku. "Karena Tetua Zhang yang memintanya, saya akan melepaskan anjing liar ini. Tapi ingat kata-kata saya... Langit di luar sana kejam. Tanpa perlindungan keluarga, dia akan mati cepat atau lambat."

Han Feng, yang sejak tadi diam mendengarkan, akhirnya menoleh sedikit.

"Kau salah, Han Tian," kata Han Feng tenang. "Justru karena keluarga inilah aku hampir mati berkali-kali. Tanpa 'perlindungan' beracunmu, aku akhirnya bisa bernapas lega."

Tanpa menunggu balasan, Han Feng berjalan pergi meninggalkan arena, meninggalkan Han Tian yang hampir muntah darah karena marah.

Satu jam kemudian.

Han Feng berdiri di depan gubuk kayu reyot tempat dia tinggal selama belasan tahun. Tempat ini adalah saksi bisu penderitaan pemilik tubuh asli—tempat dia kedinginan saat musim dingin, tempat dia kelaparan, dan tempat dia menangis meratapi nasibnya yang dihina orang.

Han Feng tidak memiliki banyak barang untuk dibawa. Pakaiannya hanyalah beberapa helai kain kasar. Hartanya yang berharga hanyalah sisa uang koin emas, Inti Binatang, dan tentu saja Pedang Meteor Hitam di punggungnya.

Han Feng masuk ke dalam, mengambil sebuah jepit rambut kayu sederhana yang tergeletak di atas meja berdebu. Itu adalah satu-satunya peninggalan ibunya.

"Istirahatlah dengan tenang," bisik Han Feng, menggenggam jepit rambut itu erat-erat. "Putramu yang lemah sudah tidak ada. Aku akan membawa ingatan dan dendammu ke puncak dunia."

Han Feng keluar dari gubuk. Dia mengambil sebuah obor yang menyala dari dinding luar, lalu melemparkannya ke atap jerami gubuk itu.

Api dengan cepat menyambar kayu kering dan jerami tua. Dalam hitungan menit, gubuk kecil itu telah dilalap api oranye yang berkobar, mengirimkan asap hitam membumbung ke langit sore.

Han Feng berdiri diam menatap api itu selama beberapa saat, menyaksikan masa lalunya terbakar menjadi abu. Tidak ada kesedihan di matanya, hanya ada rasa lega. Rantai terakhir yang mengikatnya dengan Kota Awan Terapung telah putus.

"Sudah selesai?"

Suara Tetua Zhang terdengar dari belakang.

Han Feng berbalik. Tetua Zhang berdiri di sana, mengamati Han Feng dengan tatapan penuh minat. Di belakang Tetua Zhang, berdiri seekor binatang buas raksasa yang membuat halaman sempit itu terasa penuh.

Itu adalah Elang Roh Angin (Wind Spirit Eagle).

Elang itu memiliki tinggi tiga meter, bulunya berwarna perak mengkilap seperti logam, dan matanya tajam berwarna keemasan. Ini adalah tunggangan terbang khusus milik sekte, mampu menempuh ribuan mil dalam sehari.

"Sudah selesai, Tetua," jawab Han Feng sopan.

"Bagus. Kau memiliki ketegasan yang jarang dimiliki anak seusiamu," puji Tetua Zhang. "Banyak orang ragu meninggalkan kenyamanan rumah, bahkan jika rumah itu neraka bagi mereka. Tapi kau membakarnya tanpa ragu. Itu adalah mentalitas seorang kultivator sejati. Jalan menuju keabadian adalah jalan yang sepi."

Tetua Zhang melompat naik ke punggung elang raksasa itu dengan ringan.

"Naiklah. Perjalanan ke Sekte Pedang Langit akan memakan waktu dua hari penuh. Kita tidak punya waktu untuk disia-siakan."

Han Feng mengangguk. Dia menghentakkan kakinya sedikit, melompat setinggi tiga meter dan mendarat mulus di punggung lebar elang itu, tepat di belakang Tetua Zhang. Elang itu sedikit bergoyang menerima beban tubuh Han Feng dan Pedang Meteor Hitam yang berat, memekik pelan sebagai tanda protes, namun segera tenang kembali setelah Tetua Zhang menepuk lehernya.

"Pegang erat-erat," perintah Tetua Zhang.

Elang Roh Angin itu mengepakkan sayapnya yang lebar. Angin kencang berhembus, menerbangkan debu dan abu sisa kebakaran gubuk.

WUSH!

Dalam sekejap mata, mereka melesat ke angkasa.

Han Feng merasakan tekanan gravitasi saat elang itu menanjak naik dengan kecepatan tinggi. Kota Awan Terapung di bawah sana mengecil dengan cepat. Rumah-rumah menjadi seukuran kotak korek api, dan manusia menjadi titik-titik semut.

Han Feng melihat Kediaman Keluarga Han dari ketinggian. Kompleks yang dulu terasa begitu besar dan menakutkan, kini terlihat kecil dan tidak berarti di tengah hamparan dunia yang luas.

"Dunia ini luas, Han Feng," suara Tetua Zhang terdengar jelas meski angin menderu, berkat teknik pengiriman suara. "Kota Awan Terapung hanyalah setitik debu di wilayah pinggiran Kekaisaran Awan Azure. Dan Kekaisaran ini hanyalah satu dari ratusan negara di Benua Roh Azure."

Han Feng menatap cakrawala yang membentang tanpa batas. Gunung-gunung, sungai-sungai raksasa yang membelah daratan, dan hutan belantara yang tak berujung. Rasa kerdil menyergap hatinya, namun di saat yang sama, ambisinya semakin membara.

"Tetua, boleh saya bertanya sesuatu?" Han Feng bersuara.

"Tanya saja."

"Anda memberikan status Murid Inti secara langsung kepada saya. Itu adalah kehormatan besar, tapi saya yakin tidak ada makan siang gratis di dunia ini. Apa yang Anda harapkan dari saya?" Han Feng bertanya lugas.

Tetua Zhang tertawa renyah. "Haha, kau cerdas. Aku suka itu. Benar, status Murid Inti biasanya hanya diberikan kepada mereka yang mencapai Ranah Pengumpulan Qi. Memberikannya padamu yang masih di tahap Pembentukan Tubuh akan menimbulkan banyak protes dan kecemburuan di sekte."

Wajah Tetua Zhang berubah sedikit serius.

"Alasannya ada dua. Pertama, bakat fisikmu. Tubuhmu sangat unik. Aku belum pernah melihat seseorang di tahap Pembentukan Tubuh yang bisa menghancurkan Senjata Roh dengan tangan kosong. Sekte membutuhkan petarung tangguh sepertimu untuk Turnamen Lima Sekte yang akan diadakan dua tahun lagi."

"Kedua..." Tetua Zhang menoleh sedikit ke belakang, menatap Han Feng. "Musuhmu bukan hanya Han Lie. Kau tahu kakak Han Lie, Han Ling, ada di sekte?"

"Saya pernah mendengarnya," jawab Han Feng.

"Han Ling bukan murid biasa. Dia adalah Murid Sejati (True Disciple)," ungkap Tetua Zhang.

Mata Han Feng sedikit menyipit. Di sekte, hierarkinya adalah: Murid Luar -> Murid Dalam -> Murid Inti -> Murid Sejati. Murid Sejati adalah calon penerus tetua atau bahkan ketua sekte. Status mereka jauh di atas Murid Inti.

"Han Ling saat ini sedang menjalani pelatihan tertutup untuk menerobos ke Ranah Inti Emas (Golden Core)," lanjut Tetua Zhang. "Jika dia berhasil, posisinya akan semakin tak tergoyahkan. Han Lie adalah adik kesayangannya. Saat Han Ling keluar dan tahu apa yang kau lakukan pada adiknya... dia pasti akan mencarimu."

"Jadi Anda menjadikan saya Murid Inti agar saya punya sedikit perlindungan hukum?" tebak Han Feng.

"Tepat. Sebagai Murid Inti, Han Ling tidak bisa membunuhmu secara terbuka tanpa alasan yang sah. Tapi di dunia bayangan, atau dalam duel resmi... sekte tidak akan ikut campur. Aku memberimu status dan sumber daya, tapi kau harus bertahan hidup sendiri."

Han Feng menyeringai. Tantangan lagi. Musuh yang lebih kuat lagi.

"Inti Emas, ya?" gumam Han Feng. "Jauh sekali di atasku sekarang. Tapi dua tahun... banyak hal bisa terjadi dalam dua tahun."

1
Roy Kkk
bagus/CoolGuy//CoolGuy/
King Salman
bagus
King Salman
go
ikyar
Terima kasih atas dukungannya
Sarndi Kurma
bagua tor ceritanya
Turki Salman
lanjutkan ceritanya tor
jamanku
lanjutkan tor
Raikuu 1
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!