NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Bertani / Ruang Ajaib / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Balas Dendam
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.

Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.

Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menambah Taruhan

Matahari pagi di bukit kapur Kulon Progo belum terlalu menyengat, namun hawa panas sudah mulai merayap naik dari celah-celah bebatuan.

Sekar Wening sedang berlutut di samping salah satu lubang biopori buatannya. Tangannya yang mungil dan berlumuran tanah sedang memeriksa kelembapan kompos daun jati yang ia masukkan kemarin.

"Suhu dekomposisi optimal," gumam batin Profesor Sekar.

Ia tersenyum tipis. Bakteri pengurai bekerja lebih cepat dari prediksi berkat uap air spiritual yang merembes dari pipa bambu di sebelahnya.

Namun, ketenangan pagi itu terusik.

Suara langkah sepatu bot yang berat meremukkan kerikil terdengar mendekat. Ritme langkah itu tegas, terburu-buru, dan penuh tuntutan.

Sekar tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aroma parfum maskulin, campuran sandalwood dan citrus mahal, terbawa angin, menabrak aroma tanah basah dan daun kering.

Aryasatya kembali.

Pangeran muda itu datang lebih pagi dari jadwal inspeksi biasanya. Kali ini, tidak ada kamera DSLR yang menggantung di lehernya.

Gantinya, di tangan kanannya tergenggam sebuah alat berbentuk kotak kecil dengan probe logam panjang.

Soil pH Meter digital.

"Pagi, Sekar," sapa Arya. Suaranya datar, tanpa basa-basi. Wajah tampannya terlihat sedikit kurang tidur, ada lingkaran hitam samar di bawah matanya.

"Sugeng enjang, Mas Arya," jawab Sekar tenang. Ia berdiri, membersihkan tanah dari lutut celana kainnya. "Mas Arya rajin sekali, pagi-pagi sudah sampai sini."

Arya tidak menanggapi pujian itu. Ia melangkah melewati Sekar, langsung menuju titik tengah lahan yang baru saja ditanami bibit cabai dan kacang panjang sebagai tanaman sela.

Tanpa permisi, Arya menancapkan probe logam alat itu ke dalam tanah, tepat di dekat akar tanaman.

Dia menunggu beberapa detik. Angka digital di layar alat itu berkedip-kedip sebelum berhenti.

Arya mendengus kasar.

"Tepat seperti dugaan saya," ujar Arya dingin. Ia mencabut alat itu dan memutarnya agar Sekar bisa melihat angkanya.

"pH 8,5. Alkalinitas tinggi," baca Arya. Matanya menatap tajam ke arah Sekar, seolah baru saja menangkap basah seorang penipu.

"Sekar, kamu tahu apa artinya ini? Ini tanah basa ekstrem. Zat besi, mangan, dan fosfor akan terikat di tanah kapur ini dan tidak bisa diserap akar."

Arya melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Aura intimidasi intelektualnya menguar kuat.

"Secara fisiologis tanaman, bibit-bibitmu ini akan mengalami klorosis, daun menguning karena kurang klorofil, dalam waktu kurang dari seminggu. Lalu mereka akan mati kerdil."

Arya menggelengkan kepala, tampak kecewa.

"Logika sains tidak bisa dibohongi dengan pipa bambu yang cantik, Sekar. Kenapa kamu nekat menanam di media tanam yang secara kimiawi 'mati' begini?"

Sekar diam sejenak. Ia memandang wajah Arya yang serius.

Di dalam hati, jiwa Profesor Sekar justru bersorak kagum. Pria ini benar-benar melakukan risetnya. Dia bukan investor "sapi perah" yang bodoh. Analisis kimianya akurat, untuk tanah normal.

Tapi Sekar bukan petani normal.

"Mas Arya benar," suara Sekar terdengar lembut, kontras dengan ketegangan Arya. "Kalau kita bicara soal kimia tanah anorganik, lahan ini memang neraka buat tanaman."

Sekar berjongkok kembali, mengambil segenggam tanah dari lubang biopori, bukan dari permukaan tanah kapur yang keras.

"Tapi Mas Arya lupa satu variabel biologi," lanjut Sekar.

Ia menyodorkan tanah hitam yang diambilnya dari lubang biopori itu ke hadapan Arya.

"Coba Mas cek pH tanah di dalam lubang ini."

Arya mengerutkan kening. Ragu-ragu, ia menancapkan kembali alatnya ke gumpalan tanah hitam di tangan Sekar.

Angka di layar berkedip cepat. Turun drastis.

6,8. Netral sempurna.

Mata Arya membelalak. Ia menatap alatnya, lalu menatap Sekar, lalu kembali ke alatnya.

"Bagaimana mungkin..." gumam Arya. "Ini tanah yang sama..."

"Mikroba, Mas," potong Sekar. Nada suaranya berubah. Bukan lagi nada gadis desa yang submisif, tapi nada percaya diri seorang akademisi yang sedang mempertahankan disertasi.

"Saya tidak mengubah tanah kapur ini secara kimiawi, itu butuh ton-an belerang dan biaya mahal. Saya melakukan rekayasa biologi mikro."

Sekar berdiri tegak, menatap lurus ke dalam mata Arya.

"Di dalam lubang-lubang ini, saya membiakkan koloni bakteri pengurai dan jamur Trichoderma. Aktivitas respirasi mereka menghasilkan asam organik yang secara alami menetralisir pH basa dari kapur di sekitarnya."

Kata-kata itu meluncur lancar dari bibir Sekar. Trichoderma. Respirasi. Asam organik.

Arya terperangah. Mulutnya sedikit terbuka.

Ia tidak menyangka akan mendengar istilah mikrobiologi tanah meluncur dari mulut gadis lulusan SMA di desa terpencil ini.

"Kamu... memanipulasi Rhizosphere (zona akar)?" tanya Arya, tanpa sadar menggunakan istilah teknis, mengetes kedalaman air.

"Tepat," sambar Sekar cepat. "Saya menciptakan micro-climate di zona akar. Jadi meskipun tanah di luar sana basa dan keras, akar tanaman saya hidup dalam kepompong pH netral yang kaya nutrisi."

Sekar tersenyum kecil, senyum yang penuh dengan kecerdasan yang berbahaya.

"Jadi, tanaman saya tidak akan klorosis, Mas. Mereka akan tumbuh, karena mereka 'makan' dari lubang biopori ini, bukan dari batu kapur itu."

Angin bukit berhembus kencang, menerbangkan rambut Sekar yang menutupi sebagian wajahnya.

Arya terpaku.

Alat pengukur pH di tangannya turun perlahan ke sisi tubuhnya.

Dia tidak lagi melihat gadis desa miskin yang butuh dikasihani. Dia tidak lagi melihat mitra bisnis yang mencurigakan.

Detik itu, Arya melihat sesuatu yang jauh lebih menarik.

Dia melihat kilauan intelek. Dia melihat logika yang setara, atau bahkan mungkin melampaui, logikanya sendiri.

"Siapa kamu sebenarnya, Sekar?" bisik Arya, nyaris tak terdengar. Pertanyaan itu keluar begitu saja dari alam bawah sadarnya.

Jantung Arya berdetak aneh. Bukan degupan adrenalin karena marah, tapi degupan ritmis yang hangat.

Selama ini, Arya dikelilingi wanita-wanita cantik dari kalangan sosialita Yogyakarta. Wanita-wanita yang anggun seperti GKR Dhaning, atau yang manja seperti sepupu-sepupunya. Mereka bicara soal fashion, soal gosip keraton, atau soal liburan ke Eropa.

Belum pernah ada wanita yang menatap matanya dengan berani dan mendebatnya soal Trichoderma dan pH tanah di tengah sawah yang panas.

Itu seksi.

Sangat cerdas, dan sangat seksi.

Sekar yang menyadari tatapan intens Arya, mendadak merasa salah tingkah. Jiwa Profesor-nya tadi mengambil alih terlalu jauh. Dia harus mengerem.

"Ehm... maksud saya..." Sekar tergagap sedikit, kembali menjadi gadis desa. "Saya baca di buku perpustakaan keliling, Mas. Katanya sampah daun itu bagus buat tanah."

Arya terkekeh pelan. Tawa yang renyah dan tulus. Dia tidak percaya alasan "buku perpustakaan" itu sepenuhnya, tapi dia memilih untuk tidak mendesak.

Rahasia gadis ini membuatnya semakin penasaran.

Arya memasukkan alat pH meternya ke saku celana. Sikap tubuhnya berubah. Bahunya lebih rileks, tatapannya lebih hangat.

"Teori yang brilian, Sekar," puji Arya tulus. "Saya belum pernah kepikiran menerapkan teknik biopori se-intensif ini untuk manipulasi pH skala mikro. Itu... out of the box."

"Jadi Mas Arya tidak jadi membatalkan kontrak?" tanya Sekar hati-hati, bulu matanya yang lentik mengerjap menunggu jawaban.

Arya menggeleng. Senyum tipis terukir di wajahnya yang tampan.

"Tidak. Justru saya mau menambah taruhan."

Arya melangkah mendekat, hingga jarak mereka hanya tersisa satu langkah. Sekar bisa mencium aroma sandalwood itu lebih jelas sekarang.

"Kalau panen ini berhasil sesuai teorimu..." Arya menatap manik mata cokelat Sekar dalam-dalam. "Saya tidak cuma akan foto bareng kamu buat promosi."

"Lalu?"

"Saya akan ajak kamu makan malam. Diskusi. Saya punya banyak pertanyaan soal pertanian... dan soal kamu," ucap Arya dengan suara bariton yang rendah.

Wajah Sekar memanas. Darah mendesir naik ke pipinya. Itu bukan ajakan bisnis murni. Insting wanitanya tahu itu.

Dan yang lebih menakutkan, insting Profesor di dalam dirinya tidak menolak. Dia menikmati debat tadi. Dia menikmati diuji secara intelektual oleh pria ini.

"Kita lihat nanti, Mas," jawab Sekar, berusaha menahan senyumnya agar tidak terlalu lebar. "Tanaman saya belum panen."

"Saya akan menunggu," balas Arya mantap.

Dia mengambil ponselnya, memotret Sekar sekali lagi. Kali ini bukan untuk bukti lahan, tapi candid saat Sekar sedang tersipu dengan latar belakang bukit kapur yang putih menyilaukan.

Di layar kamera itu, gadis dengan pakaian lusuh itu terlihat bersinar, seolah dia adalah satu-satunya bunga yang mekar di tanah gersang.

"Lanjutkan kerjamu, Bu Insinyur," goda Arya sambil berbalik menuju mobilnya.

1
Luvqaseh😘😘
mak nye pun..bodo amat...
Musdalifa Ifa
bagus Sekar pertahankan sikap tegas mu dan beri pengertian pada ibu mu walaupun itu menyakitkan nya tapi itu lebih baik daripada hidup dalam dunia halu
Leni Ani
lanjut thor,bagus sekar.kalau bapak durjanem mu iku banyak tingkah mintak tolong aja sm mas arya😅😅👍👍
Leni Ani
ndas mu prasitiyo,mana mau sekar sm kamu yg mentelantar kan nya sm ibu nua di gubuk reyo,malah nanti karir mu yg amblas😅😅😅😅👍
gina altira
jgn kasih celah Sekar,, babat habis klo bisa
Leni Ani
mantap sekar jangan mau jd alat uji coba orang lain.lebih baik kamu tambah beli tabah supaya orang tahu kerja keras mu💪💪👍👍
nur
aq kok ksel banget rsane ro ibumu sekar
Leni Ani
😅😅😅😅💪👍
sahabat pena
dia adalah pangeran.
Lala Kusumah
good job Sekar 👍👍👍💪💪💪😍😍😍
lin sya
good sekar bpk durhaka itu anak yang dibuang dan dianggep sial mau dijdiin sapi perah gk tau malu, klo mengusik viralin aj dimajalah koran biar jabatan terancam jd gembel, greget bacanya 🤭
Markuyappang
suka dengan karakter sekar tapi nggak suka dengan karakter ibunya. ibunya terlalu bodoh dan gampang banget ditipu, alasannya selalu ingin jadi keluarga yg utuh tapi nggak pernah ngelihay gimana anaknya berjuang. udah selalu diingetin tapi selalu diulangin trs menerus gak pernah berubah. kirain yg habis nyuri barang anaknya bakalan berubah eh ternyata masih sama aja masih sama sama bodoh, terlalu nurut keluarga laknat itu, terlalu takut, dan terlalu berharap. kenapa gak bisa lihat susahnya anaknya berjuang dan menderitanya anaknyaaa gegara keinginan dia coba. lama lama anak mu sendiri yg pergi gegara sikap bodohmu itu bu rahayuu
Darti abdullah
luar biasa
Leni Ani
cerita nya bagus tapi kebanyaan analisis ngak bagus jg thor,jadi analidis yg banyak cerita pemeran nya sedikit,itu jadi nya cerita pemeran dlm cerita ini kayak kasat mata🙏🏻
INeeTha: Terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Alif
alurnya lambat readher harus sabar membacanya
Musdalifa Ifa
wow Sekar selamat ya🤝, dan untuk author juga wow ceritanya bagus 👍
nur
lanjut kan sekar
Lala Kusumah
Alhamdulillah akhirnya .... bahagianya aku 😍😍😍
gina altira
Jd tarung ga yaaaa
gina altira
Kereennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!