"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.
Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.
Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam
Seila mendongak sejenak dan memberikan senyum tipis. "Iya, Nek... aku hati-hati kok," sahutnya pelan sembari melanjutkan kegiatannya mengupas dan memotong beberapa butir kentang menjadi bagian-bagian kecil.
Sang Nenek tersenyum, Ia sedikit mencondongkan tubuh ke arah Seila, merendahkan suaranya.
"Oh ya, Nenek perhatikan kamu membawa teman yang cukup tampan kali ini. Apakah dia hanya... 'teman' sekolahmu?" tanya sang Nenek dengan nada bergurau, memberikan penekanan pada kata 'teman'.
Seketika, gerakan pisau di tangan Seila terhenti. Ia terpaku di atas talenan, lidahnya mendadak kelu. Keheningan singkat menyergap dapur itu.
Di ruang tamu, Andersen yang masih memperhatikan dari jauh, melihat punggung Seila yang membeku. Ia tidak bisa mendengar apa yang mereka bisikkan.
Seila mengangguk pelan, jemarinya kini sibuk memindahkan potongan kentang ke dalam wadah. "Eumm... sebenarnya, Ayah memintaku untuk tinggal di sini, Nek. Setidaknya sampai aku lulus sekolah nanti," ucapnya dengan nada sedikit ragu, mencoba membaca reaksi sang nenek.
"Hanya kamu?" sanggah neneknya sambil mengaduk sup dengan gerakan ritmis. Matanya melirik ke arah ruang tamu tempat Andersen berada. "Apakah pria itu juga bernasib sama denganmu?..
Seila kembali terdiam. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa nasib Andersen jauh lebih rumit daripada sekadar pindah sekolah.
Melihat kebuntuan di wajah cucunya, sang nenek menghela napas panjang... "Tidak apa-apa, Seila. Lagipula, Nenek sangat ingin ditemani oleh cucu perempuan Nenek sendiri," ucapnya lembut.
Nenek Seila menghentikan kegiatannya sejenak, tatapannya menerawang ke arah kursi kosong di ujung meja makan. "Semenjak kakekmu meninggal lima tahun yang lalu, rumah besar ini terasa terlalu luas untuk Nenek huni sendirian. Meski waktu sudah berlalu lama, rasa sepi itu tetap merayap di setiap sudut ruangan ini..."
Nenek Seila kemudian mengangkat panci berat berisi kaldu kental itu dengan tangan yang sedikit gemetar, memindahkannya ke tungku lain untuk memberi ruang bagi Seila.
Seila dengan sigap mengambil alih, mulai memasukkan sayuran segar yang telah ia bersihkan ke dalam wajan panas. Bunyi desis sayuran yang bertemu minyak menjadi musik latar di antara mereka.
"Tapi sekarang kamu sudah di sini," lanjut sang nenek, suaranya kembali ceria seolah ingin mengusir awan mendung tadi. "Nenek akan sangat terbantu. Apalagi dengan kehadiran... pacarmu itu."
Seila hampir saja menjatuhkan sudip yang ia pegang. "Nek, dia bukan—"
"Siapa tahu, kan?" potong sang nenek dengan kerlingan mata jenaka. "Mungkin Nenek akan segera mendengar suara tangisan bayi dan memiliki cicit sebentar lagi. Rumah ini butuh kehidupan baru, Seila."
Seila hanya bisa menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang kini merah padam di balik uap masakan. Sementara itu, di ruang tamu, Andersen yang mendengar sayup-sayup tawa sang nenek hanya bisa terduduk kaku.
Nenek Seila meletakkan panci keramik berisi sup kaldu yang mengepul di tengah meja makan kayu ek, aroma rempah yang gurih seketika memenuhi ruangan. Tanpa berkata apa-apa, ia melirik ke arah Andersen dengan senyum ramah sebelum kembali ke dapur untuk mengambil peralatan makan.
Tak berselang lama, Seila menyusul dengan membawa piring besar berisi tumisan sayur segar yang baru saja ia selesaikan.
Uap panas masih menari-nari di atas masakan itu. Dengan gerakan yang telaten, Seila mengambil semangkuk kentang rebus yang sudah empuk dan matang sempurna, kemudian membagikannya satu per satu ke piring Andersen dan neneknya.
"Terima kasih, Seila," gumam Andersen pelan.
Sang Nenek memperhatikan cara Seila menyajikan makanan—begitu cekatan, teliti, dan penuh perhatian, terutama saat ia memastikan posisi piring Andersen memudahkan pemuda itu untuk makan dengan satu tangan.
"Wah, kamu semakin lihai, Shel," puji sang Nenek sambil mencicipi sedikit kentang rebusnya. Ia kemudian menyandarkan punggung, menatap kedua remaja itu dengan binar mata yang jahil. "Melihat caramu mengurus dapur dan perhatianmu pada tamu kita ini... sepertinya kamu sudah benar-benar siap untuk membangun rumah tangga sendiri."
Ting!
Suara sendok yang tak sengaja beradu dengan piring terdengar nyaring. Seketika, keheningan yang canggung menyelimuti meja makan. Seila yang tadinya sedang menuangkan air, mendadak mematung.
Pipinya merona merah padam, bahkan lebih merah dari tomat yang baru saja ia potong. Di sisi lain, Andersen yang baru saja hendak menyuap, mendadak kehilangan fokus. Ia merasa suhu di ruangan itu naik beberapa derajat secara tiba-tiba.
Keduanya, tanpa komando, serentak memalingkan wajah ke arah yang berlawanan. Seila sibuk menatap rak buku di pojok ruangan, sementara Andersen mendadak sangat tertarik mempelajari serat-serat kayu pada meja makan di depannya.
Sang Nenek hanya terkekeh pelan, menikmati pemandangan dua anak muda yang sedang dimabuk kecanggungan itu. Di luar, angin musim dingin Belanda mulai berhembus kencang, namun di dalam ruang makan kecil itu, suasana terasa sangat hangat...
mungkin sedikit terlalu hangat bagi dua orang yang sedang mencoba menyembunyikan detak jantung mereka.
"Makan saja dahulu, Nak... jangan sungkan," ucap sang Nenek lembut, membuyarkan kecanggungan yang tadi sempat menggantung.
"Andersen, Nek," sahut Andersen sopan, memperkenalkan dirinya.
Andersen menunduk, menatap piring di hadapannya. Di sana tersaji kentang rebus yang ditaburi sedikit herba, potongan ayam panggang, dan semangkuk sup jagung kental yang aromanya sangat khas Eropa.
Bagi Andersen yang terbiasa dengan rempah tropis yang tajam dan kuat, hidangan ini terasa sangat minimalis. Saat ia mencoba sesuap kecil, lidahnya mengecap rasa yang asing—lembut, creamy, namun sedikit tawar.
Ia sempat terdiam sejenak, mencoba mencerna rasa baru dari negeri yang kini menjadi tempat persembunyiannya.
Namun, kendala terbesar bukan pada rasanya. Dengan tangan kiri yang kaku tak bertenaga, Andersen kesulitan memotong ayam dan menyeimbangkan sendok supnya. Gemetar kecil di tangan kanannya yang kelelahan membuat beberapa tetes sup hampir tumpah.
Melihat Andersen yang berjuang dalam diam, hati Seila seolah tersentuh. Tanpa memedulikan rasa malunya lagi, ia menggeser kursinya hingga merapat ke sisi Andersen. Bunyi derit kursi kayu di atas lantai beton terasa begitu nyata di tengah kesunyian ruang makan.
"Biar aku bantu," bisik Seila nyaris tak terdengar, namun nadanya penuh dengan kelembutan.
Dengan jemari yang tenang, Seila mengambil alih alat makan Andersen. Ia memotong ayam itu menjadi bagian-bagian kecil yang mudah dikunyah, lalu menyendokkan sup jagung hangat tersebut ke arah mulut Andersen.
Andersen tertegun sejenak, menatap mata Seila yang begitu fokus pada makanannya, sebelum akhirnya ia menerima suapan itu dengan perasaan yang sulit digambarkan.
Pemandangan itu menciptakan harmoni yang begitu romantis di bawah cahaya lampu gantung yang temaram. Sang Nenek yang memperhatikan dari balik gelas minumnya hanya bisa tersenyum lebar.
Hingga denting sendok terakhir terdengar dan makan malam usai, sang Nenek terus mempertahankan senyum itu, seolah ia baru saja menyaksikan sebuah janji bisu yang terucap di antara dua anak didepannya ini.
Makan malam yang penuh emosi itu berakhir dengan denting piring yang dikumpulkan. Seila segera beranjak, jemarinya yang cekatan mulai membilas piring kotor di bawah kucuran air wastafel, sementara sang Nenek memberikan tepukan ringan di bahu Andersen sebelum berpamitan.
Wanita tua itu berjalan perlahan menuju kamarnya yang terletak tak jauh dari ruang tamu, meninggalkan keheningan yang nyaman menyelimuti rumah.