Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Dan Keraguan
Hari ini, Hayati datang ke posyandu untuk melakukan senam bagi lansia. Tak hanya itu, dia dan lansia lainnya juga mendapatkan arahan tentang larangan-larangan yang patut dihindari semasa tua.
Contohnya, seperti jangan mengangkat beban terlalu berat.
Jika Hayati fokus mendengar arahan dari tim puskesmas, Nadia malah berbeda. Fokusnya ialah menatap kandang lembu milik Bagas.
Biasanya lelaki itu selalu ada di sana, setidaknya ketika ia bertugas di posyandu. Tapi tidak dengan hari ini. Bagas tak menunjukkan sedikit pun batang hidungnya.
Hayati yang menyadari itu ikut melirik ke arah kandang lembu. Benar. Anaknya tak ada di sana.
Dan entah kenapa, hal itu membuat Hayati bersyukur. Setidaknya, Bagas satu langkah lebih menjauh dari masa lalu—dan satu langkah lebih dekat dengan Safira.
Sedangkan di rumah, setelah memandikan sang ayah dan menyiapkan segala keperluan bak anak-anak, Bagas menggendong sang ayah untuk kembali duduk di gazebo.
"Gak bosan, Yah, di sini terus?"tanya Bagas, seraya merapikan sarung ayahnya.
"Gak lah ... Ayah lebih bosan kalau di dalam sana, gak bisa melihat orang lalu lalang," balas Yusuf, tersenyum.
"Hari ini kamu gak ke sawah?" sambung Yusuf.
"Gak, yah. Hari ini aku suruh Fadil untuk menyemprotkan padi," balas Bagas.
"Bagus. Sesekali kamu ajaklah, Safira keluar. Dia tentu bosan setiap hari di rumah. Kalau itu ibumu muda, habis ayah dicaci-makinya," kekeh Yusuf, teringat bagaimana kelakuan Hayati semasa muda dulu.
"Memang ayah pernah dicaci sama ibu?" tanya Bagas, mengernyit.
Karena setahunya, ibunya ialah perempuan terlembut yang pernah ditemui.
"Bahkan kamu yang anaknya aja gak tahu," kekeh Yusuf bangga. "Itu semua, karena ibumu selalu menyembunyikannya dari kalian. Dia gak mau harga diri ayah jatuh di mata kalian. Maka dari itu, walaupun lagi marahan, ketika ada kalian, dia selalu menyembunyikannya," terang Yusuf dengan mata berbinar.
Bagas manggut-manggut. Dan sekarang, Safira juga begitu. Walaupun sebelumnya mereka diam-diam di kamar, tapi di depan orang tuanya, sang istri masih melakukan kewajibannya.
"Apakah kamu sudah melupakan Nadia?"
Bagas terkejut, bahkan tubuhnya menegang. Tak menyangka pertanyaan itu muncul dari bibir ayahnya.
"A-aku ... sedang mencobanya, Yah," balas Bagas seraya menunduk.
"Kamu salah. Sebaiknya kamu mencintai Safira lebih dulu. Karena dengan begitu, posisi Nadia pasti akan bergeser dengan sendirinya," nasihat Yusuf. Dia mulai menatap jauh ke depan, memilah-milah mana kata yang akan disampaikan pada anaknya.
"Jika dulu kamu menganggap Safira sebagai pelarian, seharusnya kamu tidak mencampurinya. Ini ayah lihat, rambutmu basah hampir setiap hari. Apa itu pantas untuk Safira? Bahkan, kamu menidurinya tanpa rasa cinta."
Kembali Bagas menegang. Bahkan wajahnya memerah karena malu. Ucapan ayahnya bak sebuah tombak, yang menancap di relung hatinya.
Benar, dia terlalu jahat untuk Safira. Setidaknya, itulah yang di pikirkannya.
"Aku sedang mencobanya, Yah," balas Bagas lirih.
"Sekarang bukan lagi tahap percobaan, Nak! Kalian sudah menikah selama delapan bulan. Sudah seharusnya cinta itu tumbuh dan semakin subur," peringat Yusuf dengan tatapan lembut.
"Bagaimana jika nanti, ketika kamu masih dalam tahap mencoba, tapi cinta di hati Safira mulai berkurang?"
"Ayah," pekik Bagas kaget. Bahkan, membayangnya saja, dia gak rela, jika ucapan ayahnya akan terbukti suatu hari nanti.
"Kamu pikirkan itu, Nak. Karena seorang wanita bisa dengan mudah menunjukkan rasa cinta. Dan perempuan juga sosok paling peka," Yusuf menepuk-nepuk bahu anak bungsunya.
✨✨✨
Nasihat dari sang ayah membuat Bagas berpikir.
Dia salah satu suami kejam. Mungkin saja Tuhan sedang menghukumnya. Buktinya, sampai sekarang Allah belum mempercayainya untuk menjadi calon ayah.
Tekadnya semakin kuat. Dia akan membuka mata dan hatinya selebar mungkin, menyambut Safira guna menggantikan posisi Nadia di hatinya.
Bagas masuk ke dalam. Dia mencari-cari keberadaan Safira. Mendengar dentingan-dentingan dari arah dapur, langkah Bagas semakin dipercepat.
Di sana terlihat Safira sedang mencuci piring di wastafel. Rambutnya digulung asal, memperlihatkan lehernya yang jenjang, yang jarang di perhatikan.
Tanpa ragu, Bagas memeluk Safira dari belakang, mendaratkan kecupan di lehernya.
"Bang, ih ..." pekik Safira terkejut, hampir menjatuhkan wadah kecil yang sedang dicucinya.
Namun mukanya memerah. Ini pertama kalinya dia merasakan sentuhan Bagas, selain di dalam kamar.
"Nanti ibu pulang, malu," rengek Safira.
"Malu kenapa? Bahkan mereka berdua, sering melakukannya," Bagas semakin mengeratkan pelukannya.
Ada keraguan di sana. Namun sebisa mungkin Bagas menepisnya.
"Ada apa sih? Kok tumben," tanya Safira, santai. Bahkan dia melanjutkan pekerjaannya.
"Abang ingin merayumu ..." bisik Bagas dengan napas berat. "Izinkan abang untuk memanjakanmu."
"Kita jalan-jalan hari ini. Dan malam ini ke km-12 ... bermalam di sana, di bawah tenda."
Safira membalikkan tubuhnya. Dahinya mengernyit. "Bagaimana dengan ayah dan ibu?" tanyanya ragu.
"Aku minta sepupuku untuk menjaganya. Semua sudah abang atur," balas Bagas, mengangkat tubuh Safira, berputar, dan mendudukinya di meja makan.
"Ih, bang, gak sopan, ih," Safira langsung lompat sembari tertawa.
Tawa yang terdengar sumbang karena belum sepenuhnya yakin dengan perubahan Bagas yang dinilai tiba-tiba.
Dan hari ini, pekerjaan rumah lebih cepat selesai dari biasanya. Itu semua karena Bagas turun tangan untuk membantu Safira.
"Bu, kami udah masak. Bisa sampai malam. Dan hari ini aku sama Safira mau ke km-12, nginap di sana," ujar Bagas, meminta izin pada Hayati yang sedang minum susu bersama suaminya.
"Pergilah. Ibu doakan semoga hubungan kalian semakin harmonis dan romantis," harap Hayati, mengangguk.
Dan diam-diam, Bagas mengaminkannya di dalam hati.
"Aku akan minta Nazir untuk nginap di sini."
Nazir ialah sepupu dari Bagas. Rumahnya tepat di samping rumah Bagas.
Dan yang pasti, dia belum menikah.
"Gak usah, jangan repotkan orang lain," larang Hayati. "Ibu bisa mengurus ayah, kok."
"Aku membayarnya, Bu. Dan dia menerimanya dengan senang hati," terang Bagas. "Aku gak bisa tenang, jika hanya meninggalkan kalian berdua,"
"Baiklah, kalau memang dia mau," balas Hayati pasrah.
Di kamar, Safira mulai memasukkan pakaian ke tas. Karena menginap, tentu saja dia harus membawa baju ganti.
Ini merupakan perjalanan terjauh selama ia menikah. Setahu Safira, di km-12 cuacanya teramat dingin. Maka dari itu, Safira menyiapkan selimut juga jaket untuk menghangatkan tubuhnya.
"Kenapa bawa selimut? Nanti abang yang akan menjadi penghangatmu di sana," bisik Bagas. Nada suaranya terdengar gemetar.
Safira menghentikan aktivitasnya. Dia menatap Bagas sejenak.
"Abang kenapa sih? Setahuku dulu abang gak begini. Kok sekarang berubah?" akhirnya Safira bertanya untuk menuntaskan rasa penasarannya.
Sedangkan Bagas, dia hanya bisa menelan ludah.
Bagaimana? Kalian puas, atau masih ada yang kurang?
Jangan lupa komen ... ❤️
kebiasaan ih