Lana (17 tahun) hanyalah siswi SMA yang memikirkan ujian dan masa depan. Namun, dunianya runtuh saat ia dijadikan "jaminan" atas hutang nyawa ayahnya kepada keluarga konglomerat Al-Fahri. Ia dipaksa menikah dengan putra mahkota keluarga itu: Kolonel Adrian Al-Fahri.
Adrian adalah pria berusia 29 tahun yang dingin, disiplin militer, dan memiliki kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Baginya, pernikahan ini hanyalah tugas negara untuk melindungi aset. Bagi Lana, ini adalah penjara berlapis emas.
Di sekolah, ia adalah siswi biasa yang sering dirundung. Di rumah, ia adalah nyonya besar di mansion mewah yang dikawal pasukan elit. Namun, apa jadinya saat sang Kolonel mulai terobsesi pada "istri kecilnya"? Dan apa jadinya jika musuh-musuh Adrian mulai mengincar Lana sebagai titik lemah sang mesin perang?
"Tugas saya adalah menjaga kedaulatan negara, tapi tugas utama saya adalah memastikan tidak ada satu pun peluru yang menyentuh kulitmu, Lana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Hadiah Misterius di Loker Sekolah
Ia segera bersiap menuju sekolah dengan perasaan was-was akan adanya hadiah misterius di loker sekolah miliknya. Lana melangkah menyusuri koridor gedung sekolah yang masih nampak lengang karena bel tanda masuk belum berbunyi.
Setiap derap langkah sepatunya di atas lantai semen terdengar nyaring dan beradu dengan detak jantung yang semakin tidak beraturan. Sesampainya di depan barisan loker besi yang berwarna abu-abu, Lana berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang terasa sangat sesak.
Tangannya yang masih terbalut kain kasa bersih bergetar saat ia mulai memasukkan kunci ke dalam lubang kecil yang sudah sedikit berkarat. Ketika pintu loker terbuka, sebuah aroma mawar yang sangat segar segera menyeruak keluar dan memenuhi indra penciumannya.
"Apa lagi yang sedang direncanakan oleh Tuan Kolonel di tempat umum seperti ini?" gumam Lana dengan nada yang penuh dengan kekhawatiran.
Di dalam loker tersebut terdapat sebuah kotak perhiasan kecil yang terbuat dari kayu cendana dengan ukiran yang sangat halus dan bernilai seni tinggi. Di samping kotak tersebut terselip selembar surat dengan tulisan tangan yang sangat tegas dan berwibawa khas seorang pemimpin pasukan.
Lana mengambil surat itu dengan perlahan sementara matanya terus waspada memperhatikan situasi di sekelilingnya agar tidak ada orang yang melihat. "Jangan pernah lepaskan benda ini, karena ia akan menjadi mata dan telingaku saat aku tidak berada di sisimu," bunyi pesan singkat dalam surat tersebut.
Lana membuka kotak kayu itu dan menemukan sebuah bros mungil berbentuk burung garuda yang terbuat dari emas murni. Ia menyadari bahwa benda tersebut bukan sekadar perhiasan biasa melainkan sebuah alat pelacak canggih yang disamarkan dengan sangat sempurna.
Rasa kesal bercampur haru mulai menyelimuti batin Lana karena ia merasa sangat dilindungi namun juga sangat diawasi secara berlebihan. "Apakah kamu mendapatkan kiriman dari pengagum rahasia lagi, Lana?" tanya Maya yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kelas.
Lana terlonjak kaget dan segera menutup pintu lokernya dengan suara dentuman besi yang cukup keras hingga menggema ke seluruh koridor. Ia menyembunyikan kotak kayu tersebut di balik punggungnya sambil mencoba memasang wajah yang seolah tidak terjadi apa-apa.
Keringat dingin mulai membasahi dahinya saat melihat Maya berjalan mendekat dengan tatapan yang sangat penuh dengan selidik. "Ini hanya barang lama yang baru saya temukan kembali di dalam tumpukan buku pelajaran," jawab Lana dengan nada bicara yang sedikit terbata-bata.
Maya tidak lantas percaya begitu saja dan justru mencoba mengintip ke arah sela-sela pintu loker yang belum tertutup dengan rapat sempurna. Ketegangan di antara mereka semakin memuncak saat beberapa siswi lainnya mulai berdatangan dan ikut memperhatikan kegelisahan yang ditunjukkan oleh Lana.
Lana merasa seolah rahasia besarnya akan segera terbongkar jika ia tidak segera meninggalkan tempat tersebut sekarang juga. "Sepertinya kamu sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat besar dari kami semua," ucap Maya dengan nada bicara yang mulai terdengar sangat sinis.
Bel sekolah berbunyi dengan sangat nyaring namun perasaan Lana justru semakin tidak tenang karena ia merasa sedang diawasi oleh ribuan mata. Ia segera berlari menuju ruang kelas tanpa mempedulikan panggilan Maya yang terus menuntut penjelasan mengenai benda misterius di dalam lokernya tadi.
Di dalam kepalanya kini hanya ada satu pertanyaan besar yang terus berputar mengenai identitas asli pria yang kini menjadi suaminya tersebut. Siapa suami Lana sebenarnya yang sanggup memberikan pengawasan militer bahkan hingga ke dalam lingkungan sekolah yang paling pribadi sekalipun?