NovelToon NovelToon
Mahkota Untuk Aurora

Mahkota Untuk Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: apel manis

Di malam gerhana darah yang terkutuk, Kerajaan Aethelgard kehilangan jantungnya. Putri Aurora Lyris Valerius, sang pewaris tunggal yang baru berusia satu tahun, diculik dalam kabut sihir hitam, meninggalkan tujuh kakak angkatnya dalam penyesalan abadi. Delapan belas tahun berlalu, sang Putri tidak tumbuh di atas ranjang sutra,melainkan di bawah cambukan dingin Kerajaan Noxvallys. Dikenal hanya sebagai "Ara", ia hidup sebagai pelayan rendahan yang disiksa oleh Putri Morena Valeska yang semena-mena.


Warning!!Cerita asli dan murni dari pikiran penulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apel manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Setelah berhasil menaklukkan dinginnya Puncak Langit, perjalanan Aurora, Alistair, dan Gideon berlanjut menuju wilayah yang paling dihindari oleh para pengembara:Hutan Terlarang. Semakin mereka bergerak ke arah selatan, suhu udara yang semula beku perlahan berubah menjadi lembap dan panas yang menyesakkan. Pepohonan yang mereka temui di sepanjang jalan tidak lagi tertutup salju, melainkan dililit oleh lumut tebal yang tampak seperti rambut raksasa.

"Kenapa setiap tempat suci di kerajaan kita harus berada di lokasi yang mengerikan?" keluh Gideon sambil menyeka keringat di dahinya. Ia duduk di atas kudanya yang tampak gelisah karena suasana sekitar mulai berubah sunyi—terlalu sunyi. Tidak ada suara burung atau jangkrik, hanya suara napas kuda mereka yang terdengar berat.

"Karena permata itu butuh perlindungan alami," jawab Alistair dengan mata yang waspada menatap ke depan. "Hutan Terlarang memiliki pelindung berupa kabut yang bisa membuat orang tersesat dalam pikirannya sendiri. Tetaplah fokus, jangan biarkan pikiranmu melamunkan hal-hal yang tidak perlu."

Aurora menggenggam Tongkat Cahaya Bintang di tangannya. Dua permata yang sudah terpasang—Safir Biru dan Berlian Putih—bersinar bergantian seolah-olah sedang berkomunikasi dengan sesuatu yang ada jauh di dalam hutan sana. "Aku bisa merasakannya," bisik Aurora. "Permata Zamrud... dia seolah sedang merintih kesakitan karena kegelapan yang mulai masuk ke hutan ini."

Begitu mereka melewati perbatasan hutan, dahan-dahan pohon raksasa di atas mereka seolah merapat, menelan cahaya matahari sepenuhnya. Hanya ada keremangan hijau yang mencekam. Akar-akar pohon yang menonjol di permukaan tanah tampak seperti tangan-tangan raksasa yang siap menangkap kaki kuda mereka.

"Ehm, Kak Alistair... apa kau sadar kalau pohon di sebelah kanan kita tadi punya wajah yang mirip dengan guru sejarah kita yang galak?" tanya Gideon dengan nada yang dipaksakan ceria untuk menutupi ketakutannya saat mereka semakin dalam memasuki hutan.

Alistair berhenti mendadak. Ia menatap pohon yang dimaksud Gideon. Memang benar, guratan kayu pada batang pohon itu membentuk wajah manusia yang sedang merintih. Tak jauh dari sana, ada pohon lain yang bentuknya seperti tangan manusia yang sedang menggapai langit.

"Ini bukan sekadar hutan," bisik Alistair. "Ini adalah hutan jiwa. Malakor pasti telah mengutuk tempat ini dengan sihir hitamnya agar setiap orang yang masuk terjebak dalam penyesalan mereka sendiri."

Tiba-tiba, kabut tebal berwarna hijau neon mulai merayap dari lantai hutan. Kabut itu berbau manis yang memabukkan.

"Tutup hidung kalian!" perintah Alistair.

Namun terlambat bagi Gideon. Ia menghirup sedikit kabut itu dan matanya langsung berubah kosong. "Ibu? Ayah? Kalian di sana?" Gideon turun dari kudanya dan mulai berjalan menjauh dari jalur, menuju ke arah semak berduri yang sangat lebat.

"Gideon, kembali!" Melihat itu Alistair segera turun dan mencoba menarik tangan adiknya, namun ia sendiri mulai terhuyung. Kabut itu mulai menunjukkan bayangan Morena di depan mata Alistair—Morena yang sedang menertawakan kegagalannya menjaga Aurora selama delapan belas tahun.

"Ini semua salahmu, Alistair..." suara bayangan Morena menggema di kepala Alistair. "Kau ksatria hebat, tapi kau membiarkan adikmu menjadi budak."

Alistair jatuh berlutut, kepalanya berdenyut hebat. Ia terjebak dalam pusaran rasa bersalah yang selama ini ia tekan di dalam hatinya.

Hanya Aurora yang tampaknya kebal terhadap kabut itu. Mungkin karena ia sudah pernah melewati penderitaan yang sesungguhnya di Noxvallys, sehingga ilusi kabut ini tidak lebih buruk dari kenyataan yang pernah ia alami.

"Kak Alistair! Kak Gideon! Sadarlah!" Aurora segera turun dari kuda putihnya kemudian berteriak dan menghampiri kakanya namun kedua kakaknya tidak mendengarnya. Mereka sibuk bergulat dengan bayangan mereka sendiri.

Di tengah kepanikan itu, suara dengusan berat terdengar dari atas pohon. Seekor laba-laba raksasa dengan delapan mata merah yang bersinar turun perlahan menggunakan benang sutranya. Ukurannya sebesar kereta kuda, dan kaki-kakinya yang berbulu tampak sangat tajam.

"Mangsa yang lezat..." suara makhluk itu seperti gesekan batu tajam. "Dua pangeran yang penuh dengan rasa bersalah, dan satu putri yang membawa cahaya... aku akan memakan cahayamu lebih dulu, Gadis Kecil."

Laba-laba itu melompat ke arah Aurora.

Aurora dengan cepat mengangkat tongkatnya. "Berlian Putih, berikan aku kilat!"

Sebuah percikan listrik besar meledak dari tongkat Aurora, mengenai wajah laba-laba itu dan membuatnya mundur kesakitan. Namun, kabut hijau di sekeliling mereka justru semakin tebal, membuat penglihatan Aurora terbatas.

"Aku tidak bisa bertarung sendirian jika mereka tidak sadar!" pikir Aurora panik.

Ia berlari ke arah Alistair, memeluk kakaknya yang sedang gemetar itu dengan erat. "Kak Alistair, dengarkan aku! Apa yang terjadi di masa lalu bukan salahmu! Kau tidak gagal! Kau menemukanku kembali! Kita di sini sekarang, bersama-sama!"

Cahaya putih murni terpancar dari tubuh Aurora, menembus kabut hijau yang menyelimuti Alistair. Alistair tersentak, napasnya memburu, dan bayangan Morena di depannya hancur menjadi abu.

"Aurora?" mata Alistair kembali fokus.

"Bantu aku membangunkan Kak Gideon!"

Mereka berdua menghampiri Gideon yang sedang berbicara sendiri dengan sebatang pohon tua. Alistair menepuk wajah Gideon dengan keras sementara Aurora memegang tangan kakaknya itu.

"Gideon! Sadarlah! Ada laba-laba raksasa yang ingin memakanmu!" teriak Alistair.

Mendengar kata "laba-laba", kesadaran Gideon langsung kembali seketika. Matanya melotot, ia melihat ke atas dan menemukan laba-laba raksasa itu sedang bersiap untuk melompat kembali.

"AAAKKKH! KAKI BANYAK! KAKI BANYAK YANG BESAR!" teriak Gideon histeris.

Ketakutannya pada serangga raksasa justru menjadi penggerak tenaganya. Dengan kecepatan luar biasa, ia menarik busurnya dan melepaskan lima anak panah api berturut-turut ke arah perut laba-laba itu.

"PERGI KAU DARI SINI, MAKHLUK JELEK!"

Laba-laba itu menjerit kesakitan saat api membakar jaring-jaringnya. Namun, ia bukan satu-satunya penghuni hutan. Dari kegelapan, muncul puluhan laba-laba kecil—yang tetap saja ukurannya sebesar anjing—mengepung mereka.

"Kita harus mencapai pusat hutan!" teriak Alistair sambil menebas musuh yang mendekat. "Permata Zamrud adalah satu-satunya yang bisa menetralkan racun hutan ini!"

Mereka berlari menembus pepohonan yang rumit, diikuti oleh gerombolan laba-laba. Aurora menggunakan kekuatan angin untuk mendorong musuh-musuh itu menjauh, sementara Alistair dan Gideon membentuk barisan pelindung di sisinya.

Akhirnya, mereka sampai di sebuah tanah lapang yang anehnya bersih dari kabut. Di tengahnya tumbuh sebuah pohon beringin raksasa yang seluruh daunnya berwarna perak. Di dalam celah batang pohon itu, bersinar sebuah permata hijau yang sangat indah: Permata Zamrud Bumi.

Namun, permata itu tidak dijaga oleh monster, melainkan oleh seorang wanita tua yang tubuhnya tampak menyatu dengan akar pohon. Ia adalah Penjaga Hutan.

"Berhenti," ucap wanita tua itu, suaranya tenang. "Hutan ini adalah tempat bagi mereka yang bersembunyi dari kenyataan. Untuk mengambil Permata Zamrud, kau harus memberikan sesuatu yang paling berharga bagimu."

Alistair menawarkan pedangnya, dan Gideon menawarkan busurnya, namun ditolak. Aurora maju dan menatap wanita tua itu. "Apa yang kau inginkan?"

"Aku ingin suaramu," ucap sang Penjaga. "Jika kau mengambil permata ini, kau akan kehilangan kemampuan untuk berbicara selamanya. Apakah kau bersedia, demi menyelamatkan rakyatmu?"

Aurora menatap kedua kakaknya, lalu menatap permata hijau yang sangat dibutuhkan. "Jika suaraku adalah harga untuk kedamaian, maka ambillah," ucap Aurora mantap.

Aurora mengulurkan tangannya. Saat jarinya menyentuh batu hijau itu, sebuah sensasi hangat menjalar ke tenggorokannya. Namun, ia tidak kehilangan suaranya. Wanita tua itu justru tersenyum dan berubah menjadi cahaya hijau yang lembut.

"Ujian terakhir adalah Keikhlasan," ucap suara roh hutan tersebut. "Karena kau bersedia memberikan suaramu demi orang lain, maka hutan ini tidak akan mengambil apa pun. Sebaliknya, ia akan memberikan kekuatannya padamu."

Permata Zamrud Bumi kini tertanam di bagian bawah tongkat Aurora. Seketika, seluruh laba-laba raksasa mundur ke kegelapan. Kabut hijau beracun menghilang, digantikan oleh aroma hutan yang segar.

Tongkat Aurora kini lengkap. Tiga permata—Safir Biru, Berlian Putih, dan Zamrud Hijau—bersinar dalam harmoni yang sempurna. Tongkat itu kini memancarkan cahaya pelangi yang sangat indah.

"Aurora! Kau masih bisa bicara?" tanya Gideon panik.

"Aku... aku masih bisa, Kak," jawab Aurora lega.

Gideon langsung memeluk Aurora dengan sangat erat. "Terima kasih! Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan kalau kau jadi diam seperti Alistair!"

Alistair mendekat dan meletakkan tangannya di kepala Aurora. "Kau telah membuktikan diri. Tiga permata sudah bersatu. Sekarang, saatnya kita pulang."

Namun, saat mereka berbalik, langit di kejauhan mendadak berubah menjadi merah darah. Suara terompet perang terdengar bergema sampai ke dalam hutan.

"Serangan utama telah dimulai," ucap Alistair dengan wajah serius. "Malakor sedang menyerang istana."

Tanpa membuang waktu, mereka bertiga memacu kuda mereka keluar dari hutan. Perjalanan pencarian kini berubah menjadi misi penyelamatan untuk rumah mereka.

1
leci_mannis
alurnya benerbenerr dibuat campur aduk ada rasa kasihan, kesel, bahagia, dan romantis.
apalagi ngebayangin 7 pangeran yang hebat, dan penasaran banget sama akhirnya gimana dan nasib putri jahat nya gimana.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!