"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.
Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.
Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.20 -Antara Obsesi dan Ketulusan
Langkah kaki Hadi menggema di sepanjang koridor rumah mewah kediaman Danendra yang tampak sunyi namun penuh wibawa. Pria itu berjalan dengan sikap tenang, melewati deretan lukisan antik dan guci mahal sebelum akhirnya tiba di depan sebuah pintu kayu jati berukir yang merupakan ruangan kerja pribadi Kakek Harsa.
Setelah mengetuk pelan dan mendapatkan izin, Hadi melangkah masuk. Di sana, di balik meja kerja besar yang diterangi lampu temaram, Kakek Harsa duduk dengan tenang, menatap keluar jendela besar yang menampilkan siluet taman di bawah cahaya rembulan.
"Tuan, saya membawa kabar terbaru. Dia... akan segera kembali," lapor Hadi dengan nada rendah namun jelas.
Kakek Harsa tidak langsung menoleh. Ia menghela napas panjang, sebuah gerakan yang menunjukkan bahwa kabar itu sudah ia prediksi sebelumnya.
"Pastikan dia tetap pada tempatnya, Hadi. Pantau setiap pergerakannya dari bandara hingga ke tempatnya menginap. Jangan sampai kepulangannya mengganggu rumah tangga antara Aksara dan Aylin."
Suara Kakek Harsa terdengar dingin, jauh dari kesan kakek yang ramah dan penuh tawa yang ia tunjukkan di depan Aylin. Di ruangan ini, ia adalah sang kepala keluarga Danendra yang tidak mentoleransi kegagalan.
"Baik, Tuan. Saya akan segera mengerahkan tim untuk mengawasinya secara ketat," balas Hadi patuh.
Kakek Harsa akhirnya memutar kursinya, menatap asisten kepercayaannya itu dengan tatapan tajam. "Lalu, di mana anak nakal itu sekarang?"
Hadi tidak perlu mengecek ponselnya untuk menjawab. Ia sudah hafal di luar kepala kebiasaan majikan mudanya.
"Seperti biasa, Tuan. Tuan Aksara sedang berada di club bersama Arvano dan lingkaran pertemanannya."
Kakek Harsa mengangguk pelan, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja. Dalam pikirannya, Arvano dan Emilia adalah dua variabel berbahaya yang harus segera disingkirkan dari hidup Aksara. Baginya, Arvano adalah racun yang menyesatkan cucunya, sementara Emilia adalah luka lama yang bisa merusak skenario masa depan yang sedang ia bangun bersama Aylin.
"Terima kasih atas laporannya, Hadi. Sekarang pergilah, hari sudah semakin larut. Kasihan anak dan istrimu jika kamu terlalu sering lembur hanya untuk mengurusi drama keluarga ini," kata Kakek Harsa dengan nada yang sedikit melunak.
"Baik, Tuan. Terima kasih atas pengertiannya," ucap Hadi tulus. Ia membungkuk hormat sebelum melangkah keluar dengan tenang.
Hadi bukan sekadar asisten bagi Harsa. Ia adalah anak asuh yang dirawat dan disekolahkan oleh Harsa hingga meraih gelar sarjana. Bagi Hadi, Harsa adalah penyelamat hidupnya, itulah sebabnya ia memberikan kesetiaan mutlak. Ia adalah mata dan telinga Harsa di dunia luar—pria yang memastikan bahwa setiap rahasia tetap terkubur dan setiap rencana berjalan tanpa cela.
Setelah pintu tertutup rapat, Kakek Harsa kembali menatap kegelapan di luar sana. Matanya memicing, memikirkan langkah selanjutnya.
"Aksara... Kakek sudah memberikanmu banyak kelonggaran," gumam Harsa lirih pada kesunyian ruangan. "Tapi jika Emilia atau Arvano berani merusak pernikahan ini, maka aku sendiri yang akan menghancurkan mereka sebelum kamu sempat menoleh."
Di atas meja, sebuah foto pernikahan Aksara dan Aylin tergeletak. Kakek Harsa menatap wajah Aylin sejenak, satu-satunya bidak catur yang menurutnya memiliki hati paling tulus di antara semua kepalsuan ini.
Harsa tahu, bahwa Aylin menerima pernikahan ini karena untuk biaya pengobatan Rosalind. Gadis yang tulus, yang rela melakukan segalanya untuk Ibunya.
"Selamat berjuang, Aylin. Kakek ada di pihakmu," bisiknya pelan sebelum mematikan lampu meja, menenggelamkan ruangan itu dalam kegelapan yang penuh rahasia.
*
*
Pukul sebelas malam. Lorong apartemen yang mewah itu terasa sunyi dan dingin, hanya langkah kaki Aksara yang terdengar berat saat ia harus memapah tubuh Arvano yang sudah mabuk berat. Bau alkohol menyeruak tajam, membuat Aksara berkali-kali mengembuskan napas panjang menahan sabar.
"Diamlah, Vano. Bisa tidak kamu tenang sebentar?" gerutu Aksara kesal. Ia mempererat rangkulannya pada bahu Arvano yang terus meracau tidak jelas dengan tawa yang terdengar menyedihkan.
"Aksara milikku... dia kekasihku. Tidak ada yang boleh mengambilnya... Hahaha!" racau Arvano dengan kesadaran yang sudah hampir hilang. Kata-katanya menggema di lorong sepi itu, membuat Aksara merasa waswas jika ada tetangga yang mendengar.
Begitu berhasil masuk ke dalam unit Arvano, Aksara segera menghempaskan tubuh pria itu ke sofa. Ia berdiri tegak, merapikan kemejanya yang berantakan karena ulah Arvano tadi, lalu menatapnya dengan tatapan dingin yang tak terbaca.
"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Arvano setengah sadar, matanya mencoba fokus menatap punggung Aksara yang sudah berbalik menuju pintu.
"Pulang," jawab Aksara singkat tanpa menoleh sedikit pun.
"Ini rumahmu, Sa! Kamu mau pulang ke mana lagi?" seru Arvano, namun Aksara tidak memedulikannya.
Pintu unit itu tertutup dengan suara debuman pelan, meninggalkan Arvano sendirian. Rasa amarah meledak di dada Arvano. Dengan gerakan kasar, ia membanting meja kaca di depannya hingga pecah berhamburan.
"Awas saja... aku akan merebutnya darimu, Aylin. Aksara hanya milikku, selamanya!" desis Arvano dengan mata merah yang penuh kebencian.
Hanya butuh beberapa langkah bagi Aksara untuk sampai ke depan unit apartemennya sendiri, karena unit mereka memang sengaja diletakkan berdekatan. Aksara berdiri sejenak di depan pintu, mengatur napasnya yang terasa sesak. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum menekan kode akses masuk.
Begitu pintu terbuka, keheningan menyambutnya. Namun, pandangan Aksara langsung jatuh pada sosok yang meringkuk di sofa ruang tengah. Aylin tertidur dengan posisi yang tidak nyaman, sebuah buku yang tadinya ia baca jatuh tergeletak di lantai—seolah gadis itu baru saja menyerah pada rasa kantuknya demi menunggu kepulangan sang suami.
"Apa kamu... menungguku?" bisik Aksara lirih. Suaranya yang dingin mendadak melembut, berubah menjadi nada yang penuh dengan rasa bersalah.
Aksara berjalan mendekat lalu berjongkok di samping sofa. Ia menatap wajah Aylin yang tampak damai saat tertidur—begitu berbeda dengan wajah ketusnya saat terjaga. Tanpa sadar, tangan Aksara terulur, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik itu.
Ada dorongan aneh yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Perlahan, Aksara memajukan wajahnya dan mengecup kening Aylin dengan sangat lembut dan lama. Sebuah kecupan yang tidak didasari oleh kontrak, melainkan oleh getaran hati yang selama ini coba ia sangkal.
Aksara mengangkat tubuh Aylin dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah gadis itu adalah porselen retak yang mudah hancur jika ia salah memegang. Ia membawa Aylin menuju kamar utama. Setelah Aksara masuk dan pintu tertutup pelan, sosok Rosalind muncul dari balik pintu kamarnya yang lain.
Rosalind berdiri mematung, menatap pintu kamar anak dan menantunya yang baru saja tertutup rapat. Ada senyum tipis di bibirnya, namun matanya memancarkan kekhawatiran yang mendalam. Sebagai seorang ibu, instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.
"Semoga saja, itu hanya ketakutanku saja," gumam Rosalind sangat pelan, nyaris seperti bisikan angin.
Pikirannya melayang pada masa lalunya yang kelam. Pengalaman pahit dikhianati oleh laki-laki yang paling ia percayai telah meninggalkan luka permanen, membuatnya selalu waspada terhadap kebahagiaan yang datang terlalu tiba-tiba. Rasa trauma itu tanpa sadar membuatnya selalu berpikir negatif, meski ia sangat ingin memercayai menantunya itu.
Bersambung ...
😄😄
🤣
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣