Novel ini berdasarkan kisah nyata.
Nama tokoh, nama tempat, atau nama daerah sudah diganti demi menjaga kerahasiaan identitas asli.
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, laku tirakat tertentu, profesi tertentu, atau latar daerah tertentu dengan para pembaca semua, mohon dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"PANGGIL AKU DENGAN NAMA YANG KAMU INGINKAN"
Aku yang merasa kesal, berubah menjadi merasa sedikit takut. Melihat seorang kakek tua yang aneh. Aku segera menaiki sepeda dan bergegas pulang ke rumah.
Ketika aku sampai di rumah bapak sedang mengobrol dengan Mas Padi, suami dari Bu Inah. Mereka mengobrol di halaman sambil terlihat ceria. Mungkin menikmati waktu yang agak lengang hari ini.
Aku mengucap salam dan mencium tangan Bapak kemudian tangan Mas Padi. Dan segera aku masuk ke dalam rumah untuk masak sarapan buat bapak.
Ketika aku mulai menyiapkan alat masak, menyiapkan bahan masakan yang sudah kubeli di pasar tadi, aku mendengar suara yang lembut di belakangku.
"Hati-hati ya Nis..."
Aku yang sedang memotong terong seketika terdiam sejenak, dan segera menoleh perlahan ke belakang. Karena aku sudah tau suara siapa itu. Dan benar saja, suara itu berasal dari sosok perewanganku.
"Hati-hati dari apa maksudmu?" tanyaku.
Sosok perewanganku yang sedang duduk di kursi pojok dapur, tersenyum, lalu berkata, "Dari mereka yang mencium wangi darahmu..."
"Bukannya kamu akan melindungiku?" tanyaku lagi padanya.
"Aku belum bisa melindungimu dari mereka, karena tirakatmu belum sempurna." jawabnya.
"Aku memang sudah bisa menemanimu, tapi aku belum bisa melindungimu. Kekuatanku akan semakin bertambah seiring tirakatmu yang semakin sempurna kelak." tambahnya menjelaskan.
"Tapi... Aku mau tau, apakah kamu ini nyata? Atau cuma khayalanku aja?" tanyaku yang memang sedikit masih agak ragu dengan semua yang aku alami sejak awal sosok itu muncul.
"Aku ada hanya untukmu Nisa." jawabnya singkat.
Apa bapak juga bisa lihat kamu?" tanyaku lagi.
Sosok perewanganku itu tak menjawab. Justru ia hanya menatapku dengan tajam dan dengan kedua bibir yang tersenyum tipis. Dan aku menatapnya sejenak.
"Namamu siapa?" aku bertanya itu karena ingin tahu, dan mungkin menurutku akan lebih luwes jika aku tahu namanya.
"Panggil saja aku dengan nama yang kamu inginkan Nisa..."
Sosok itu perlahan menghilang dari pandanganku ketika bapak datang ke dapur. Dan bapak bertanya, "Mau masak apa Nis? Kamu belanja apa tadi?"
"Eh, bapak, em... Nisa tadi belanja sayuran, ada bayam, jagung, terong, sama sambelan aja. Aku mau masak terong balado buat sarapan bapak." jawabku yang agak sedikit kaget bapak datang ke dapur.
Aku lalu memalingkan padanganku, kembali memotong terong kecil-kecil. Dan bapak juga menaruh gelas kopinya yang sudah habis. Lalu bapak berjalan meninggalkanku di dapur.
Aku menoleh lagi ke belakang, dan sosok itu sudah tak ada di sana.
Selama aku menyiapkan bahan masakan, sampai masakan itu selesai dan siap disajikan buat bapak, aku terus mencoba memahami semua yang aku alami. Dari awal mula kejadian di pondok ustadz Furqon saat mengajar ngaji sore itu, semua cerita bapak tentang sosok perewangan ibu, tentang mimpi bertemu almarhum kakek, tentang tirakat yang mulai hari ini aku jalankan, sampai ke sosok perewangan yang mulai menemaniku. Bahkan sampai kejadian ketika aku pulang dari pasar pagi tadi.
Aku berpikir apakah ini yang namanya pengalaman mata batin yang mulai terbuka?
Apa memang seperti ini rasanya jika bisa melihat bangsa lelembut?
Sungguh, aku baru pertama kali mengalami semua ini seumur hidupku, dan aku baru bisa memahami sedikit demi sedikit tentang "kemampuan lain" yang dimiliki oleh almarhumah ibuku.
Tapi, kenapa bapak baru cerita dan bimbing aku sekarang? Kenapa tidak dari dulu? Dan kenapa ibu juga ketika masih hidup tak menjelaskan padaku tentang semua ini?