"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.
"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.
"Baiklah, kalian jaga pintu depan."
Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.
Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.
Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.
Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.
"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."
UPDATE SETIAP HARI!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Di Balik Jeruji
"Jika tahu menjadi selingkuhanmu akan berakhir di penjara, aku tak akan pernah mau." Ucap Dara.
"Tidak ada yang memaksamu Dara, bukankah kamu yang menggodaku duluan? Lantas kalau aku pun tergoda, itu salahmu sendiri yang murahan. Sudah tahu aku pria beristri, tapi kamu rela membuka selang kanganmu yang ternyata tak bersegel."
Saat ini kebetulan ada sosialiasi di penjara, jadi Dara dan Agung bisa bertemu dan berbicara. Karena setelah sidang vonis Hakim, sel mereka berdua sudah terpisah.
Perut Dara terlihat semakin besar, karena kandungannya sudah 7 bulan. Dan itu baru diketahui Agung, jika ucapan Ibu Arumi benar. Dara telah membohonginya dengan telak.
"Ternyata kamu memang Jalang, Dara. Kamu sengaja menjebakku padahal kamu sudah hamil entah dengan siapa. Dan sialnya aku membuang berlian berharga seperti Dira demi memungut kerikil berlumut sepertimu." Ucap Agung.
"Hahaha... Itu karena kamu goblok, kamu tidak bisa tahu orang hamil atau tidak asal sodok. Udah gini, kamu nyalahin aku?"
Suara Dara dan Agung terdengar lantang membuat keduanya dapat teguran.
"Jangan berisik apalagi bicara tentang masalah pribadi di tempat umum. Di mana rasa malu kalian?" Tegur petugas lapas dengan tegas.
Dara hanya menunduk, bukan malu seperti yang seharusnya dia lakukan. Tapi menatap perutnya besarnya sendiri. Bayi yang entah milik siapa.
"Seharusnya, saat aku masih mempertahankanmu. Kamu bisa bermanfaat untuk kehidupanku. Aku pikir kamu adalah kunci kesuksesanku menjerat pria kaya raya. Ternyata justru kamu adalah beban, dan aku pastikan akan melenyapkanmu." Dara tersenyum miring dengan rencananya.
"Beruntung aku belum menikahi Dara, bisa gila kalau harus seumur hidup berurusan dengannya." Gumam Agung.
Hari hari yang dilalui Dara dab Agung di penjara memprihatinkan. Pasalnya banyak orang tidak menyukainya. Bukan karena mereka lebih baik, justru karena mereka masuk penjara karena kasus yang lebih terhormat. Bukan maling duit, apalagi karena urusan selang kangan yang menjijikkan.
Dara dikucilkan di sel tahanannya, tak jauh berbeda dengan Agung.
Apalagi di tempat Dara ditahan, rata-rata mereka dipenjara karena membela harga dirinya yang dihancurkan. Sedangkan Dara dengan tidak tahu malunya memamerkan bahwa dirinya adalah seorang pelakor yang hamil tanpa tahu siapa si penanam benih.
Bahkan karena penyakitnya, Dara sering masturbasi di pojokan sel tahanan. Membuat para penghuni lainnya mual.
Tapi hari ini ada yang aneh, Dara lama sekali di kamar mandi sejak bangun tidur.
"Lama sekali sih dia ngapain."
"WOI... GANTIAN WOI... BRAK... BRAK..."
Bener-benar tidak terdengar suara.
"Apa dia mencoba bunuh diri?"
"Panggil petugas cepat! Kondisi darurat."
Setelah petugas lapas datang, pintu kamar mandi dibuka dengan paksa.
Terlihat jika Dara sedang pingsan, dengan bayi yang sudah mati. Darah menggenang di lantai toilet.
Heboh
Apalagi setelah Agung diberi tahu kondisi Dara yang kritis.
"Biarkan saja, itu bukan urusanku." Jawaban Agung diluar prediksi BMKG.
Yang sedang terjadi adalah, Dara sengaja menggugurkan bayinya sendiri dengan memasukkan tangannya lewat lubang inti.
Niatnya hanya ingin melenyapkan janinnya, tapi justru sekarang Dara kritis. Pendarahan hebat yang terjadi penyebabnya. Dan infeksi karena plasenta yang ditarik paksa tanpa perhitungan medis.
Bodoh... Lebih tepatnya Dara bagaikan tidak punya otak di kepalanya. Dia pikir dengan menghilangkan nyawa bayi tak berdosa bisa membuat hidupnya terlepas dari beban dosa.
Justru sekarang dosanya berkali lipat, dan kemungkinan hukuman yang Dara terima akan bertambah di penjara. Pembunuhan, meskipun darah dagingnya sendiri termasuk dalam pasal pelanggaran hukum.
Agung menatap miris pada selingkuhannya. Cantik, tidak? Sexy pun tidak. Lantas apa alasan terbesarnya bisa tega mengkhianati Dira yang sempurna. Kebodohan yang percuma untuk disesali.
Karena stok darah untuk Dara habis, sedangkan jarak antara klinik lapas dengan PMI cukup jauh membuat Dara tidak bisa menunggu.
Ya, Dara telah meninggal dunia. Bersama dengan bayi yang digugurkannya. Membuat Agung tertegun untuk beberapa detik, ya... hanya terkejut sebentar. Setelah itu Agung justru bersyukur, karena cikal bakal masalahnya lenyap.
Sementara itu di sel yang lain, Ambar tengah terbaring lemas. Dia dinyatakan hamil oleh Dokter setelah satu minggu tidak bertenaga. Mual muntah parah di pagi hari, membuat Ambar kehabisan cairan. Dehidrasi di dalam sel penjara. Hamil muda tanpa seorang suami, dan di saat umurnya masih belum saatnya menjadi seorang Ibu.
"Aku tidak mau hamil..." Teriaknya lirih sambil memukul-pukuli perutnya.
"Berisik! Kalau gak mau hamil jangan ngang kang jadi cewek. Bego kok dipelihara." Ucap temannya.
"Bener banget, padahal katanya dia kuliah gratis ada yang bayari. Tapi justru malah sibuk goyang dombret di atas paha pria. Mending kalau cakep, ini tuwir."
Hahaha...
"Seleranya rendahan sih Dia. Goblok dipelihara." Ucap teman lainnya.
"Dan lebih parahnya lagi, dia sebenarnya ditaksir anaknya yang cowok. Eh malah... Kecantolnya sama Bapaknya. Siwer gak sih mata Dia..."
Hujatan demi hujatan Ambar terima. Tidak ada yang simpati melihat keadaannya yang pucat dan kusut bagaikan kertas bungkus nasi uduk.
Karma memang nyata, itulah yang sering disebut hukum tabur tuai. Dan keluarga Agung menerima semuanya, kecuali Arimbi yang berfikir cerdas.
Entah kemana perempuan itu berada. Yang jelas sudah sejak kepergiannya, Arimbi tidak pernah menghubungi keluarganya. Membuat Ibu Arumi semakin murka, karena hidupnya berantakan sejak Dira menggugat cerai Angga dan meninggalkannya.
Sementara itu, nasib Ibu Arumi setelah ditinggal oleh anak-anaknya menjadi semakin menyedihkan dan memprihatinkan.
Hanya mengandalkan uang penjualan perhiasan milik Dara untuk kebutuhan hidup. Belum lagi Ibu Arumi harus membayar angsuran rumah jika tetap ingin tinggal di rumah itu. Padahal kebiasaan hidup mewah membuat Ibu Arumi malas untuk bekerja.
"Bagaimana ini, uangku tinggal segini. Aku gak menyangka bisa hidup enak dan mewah hanya sebentar. Dan semua itu karena Dira, menantu sialan yang gak memberikan harta gono gini sepeser pun. Justru, dia ambil semua yang pernah dia berikan pada keluargaku. Dasar pelit, pantas saja kalau dia mandul." Omel Ibu Arumi.
Sepertinya sifat buruk Ibu Arumi sudah mendarah daging bagaikan kerak yang sangat sulit untuk dihilangkan. Sudah jelas anaknya yang bersalah, tapi tetap melempar kesalahan pada Dira yang seharusnya menjadi korban. Padahal umur sudah setengah abad lebih, bukannya makin tua bisa mengerti hitam dan putih kehidupan. Tapi bagi Ibu Arumi sama.
Sementara itu di kota yang berada jauh di seberang lautan. Arimbi sedang sibuk melayani pembeli. Uang 50 juta dari Dira. Arimbi pergunakan untuk ongkos ke Kalimantan, dan membuka warung nasi kecil-kecilan di rumah kontrakannya. Meskipun pendapatannya tidak banyak, tapi berkah uang halal membuat hidup Arimbi lebih tenang dan bahagia.
padahal sedang suka sukanya baca kisah si mbim 😂
mbim panggilan yg manis menurutku 😂
biarkan semua berjalan sebagai bagian dari alur yang memang harus dijalani
jangan menghindar atu menjauh, rasakan setiap rasa yang datang, marah kecewa kesal sakit hati sebagian bagian dari alur
sulit memang tapi justru itu membuat kita nyaman karena kita jujur .✌️💪
Dalam budaya Indonesia, konsep pulang seringkali dikaitkan dengan kampung halaman, keluarga, dan akar identitas. Pulang bukan sekadar aktivitas berpindah tempat, tetapi juga mengandung makna filosofis yang dalam. Pulang bisa berarti kembali pada nilai, kembali pada Tuhan, kembali pada diri sendiri, atau bahkan kembali pada tujuan hidup yang sejati.
Pulang memiliki makna universal, tetapi setiap individu menginterpretasikannya dengan cara yang berbeda. Ada yang memaknai pulang sebagai sebuah perasaan lega setelah perjalanan panjang, ada yang melihatnya sebagai jalan kembali ke akar budaya, dan ada pula yang menganggapnya sebagai pertemuan kembali dengan diri yang hilang. Makna pulang selalu melekat dengan rasa aman, damai, dan penerimaan...😊👍💪