Judul: White Dream With You
Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Antara Kejujuran dan Jarak Aman
Kamis pagi di SMK Pamasta terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Sinar matahari yang menembus celah-celah ventilasi kelas 10 AKL 1 tampak seperti garis-garis statis yang membosankan. Di depanku, Bu Ida sedang menjelaskan prosedur pencatatan jurnal penyesuaian untuk perusahaan dagang, namun pikiranku justru tertambat pada peristiwa sore kemarin. Bayangan Vema yang mendadak kaku dan canggung saat disapa oleh teman sekelasnya terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak. Ada sebuah anomali dalam struktur sosialnya yang tidak mampu kupahami hanya dengan observasi sekilas.
Begitu bel istirahat pertama berdentang nyaring, aku tidak segera menghampiri Bagas yang sudah mengajakku ke lapangan untuk melihat latihan lay-up. Aku merogoh ponsel dari saku seragam, mencari nama Nadin di daftar kontak.
Sarendra: Nadin, bisa bertemu di kantin belakang sekarang? Ada sesuatu yang ingin kutanyakan tentang Vema. Tolong jangan beritahu dia dulu.
Hanya butuh beberapa detik hingga status typing muncul.
Nadin: Oke. Kebetulan aku sedang malas di kelas. Banyak anak laki-laki sedang main game dan berisik sekali. Aku meluncur sekarang.
Aku segera merapikan buku-bukuku. Netta, yang duduk tidak jauh dariku, sempat menoleh. Sebagai satu-satunya di antara kami berlima yang menjabat sebagai anggota OSIS, Netta selalu memiliki insting tajam.
"Mau ke mana, Dra? Tumben tidak bersama Bagas?" tanyanya sambil merapikan almamater OSIS yang tersampir di kursinya.
"Hanya ingin mencari udara segar di kantin belakang," jawabku diplomatis.
Aku melangkah cepat menuju kantin belakang yang biasanya lebih sepi dibandingkan kantin utama di dekat lapangan basket. Nadin sudah duduk di sana, di sebuah meja kayu yang catnya sudah mulai mengelupas. Di depannya tersedia sebungkus keripik singkong dan segelas es teh. Ia tampak sedang asyik dengan ponselnya, namun langsung mendongak begitu melihat bayanganku mendekat.
"Tumben sekali seorang Sarendra yang metodis ini mengajakku bertemu secara rahasia," Nadin memulai pembicaraan dengan nada gurauan khasnya. "Apa ini soal audit perasaan?"
Aku duduk di hadapannya, mengabaikan gurauannya. "Ini soal Vema, Din. Sore kemarin, saat aku mengantarnya pulang, ada teman sekelas kalian yang menyapa. Reaksi Vema sangat aneh. Dia terlihat sangat tertekan dan canggung, sangat berbeda dengan cara dia menjelaskan sistem jaringan saat pameran teknologi kemarin. Aku ingin tahu, seperti apa Vema sebenarnya di dalam kelas?"
Nadin meletakkan ponselnya, wajahnya berubah menjadi lebih serius. Ia mengambil napas panjang sebelum menjawab. "Kamu akhirnya menyadarinya ya, Dra? Vema itu... dia adalah definisi dari sebuah paradoks."
Nadin mulai bercerita dengan detail. "Di kelas, Vema adalah seorang introvert tingkat akut. Dia hampir tidak pernah memulai percakapan dengan siapa pun kecuali aku. Dia lebih suka duduk di pojok, memakai earphone meskipun tidak mendengarkan musik, hanya supaya orang lain tidak mengajaknya bicara. Dan satu hal yang paling menyedihkan adalah dia seorang people pleaser."
"Seorang people pleaser?" aku mengulangi istilah itu dengan kening berkerut.
"Iya," Nadin mengangguk. "Dia tidak bisa berkata 'tidak'. Jika ada teman sekelas laki-laki yang minta tolong dibuatkan laporan praktikum atau meminjam catatannya, dia akan memberikannya tanpa banyak tanya, meskipun dia sendiri sedang sibuk. Dia takut terjadi konflik. Dia merasa jika dia menolak, orang akan membencinya atau menganggapnya sombong karena dia perempuan paling pintar di kelas. Dia lebih memilih mengorbankan kenyamanannya sendiri demi menjaga jarak aman dari perhatian orang lain."
Aku terdiam, mencoba memproses informasi tersebut. Ini menjelaskan mengapa dia begitu ragu saat memberikan sapaan balik kemarin. Ada rasa takut salah langkah yang menghantuinya dalam setiap interaksi sosial.
"Tapi bersamaku, dia berbeda," lanjut Nadin, matanya melembut. "Vema adalah orang yang sangat hangat jika dia sudah percaya pada seseorang. Dia suka menggambar sketsa kecil di pinggir buku catatannya—biasanya gambar pemandangan atau arsitektur rumah impian. Dia sering bercerita padaku tentang hal-hal lucu yang dia lihat di jalan, atau tentang kucing liar di depan rumahnya. Dia terbuka tentang banyak hal, kecuali satu: keluarganya. Sebelum kejadian Tas Induk itu berakhir, dia tidak pernah sekali pun menyebutkan tentang ibunya atau kondisi rumahnya kepadaku."
"Jadi selama ini dia memikul beban ganda," gumamku pelan. "Beban di rumah dan beban identitas di sekolah."
"Tepat," sahut Nadin. "Di kelas TKJ yang isinya dominan laki-laki, dia merasa harus menjadi 'transparan'. Dia tidak ingin menonjol, dia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Baginya, keamanan adalah ketika dia tidak dianggap ada, namun tetap bisa memberikan manfaat bagi orang lain supaya tidak ada yang mengganggunya."
Saat kami sedang asyik mendalami karakter Vema, sebuah suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar mendekati meja kami. Aku menoleh dan sedikit tersentak. Vema berdiri di sana dengan napas sedikit terengah, wajahnya menunjukkan kebingungan sekaligus rasa ingin tahu.
"Nadin? Kenapa tiba-tiba meninggalkan aku sendirian di kelas begitu jam istirahat baru terdengar tadi?" tanyanya sambil menatap Nadin, lalu matanya beralih padaku dengan pandangan bertanya-tanya. "Dan... Sarendra? Kamu di sini juga?"
Nadin, dengan kemampuan aktingnya yang luar biasa, langsung memasang wajah santai. "Aduh, maaf, Vem! Tadi aku dipanggil mendadak oleh Pak Haris di ruang guru. Beliau minta tolong karena monitor di meja piket tiba-tiba rusak, dan kamu tahu sendiri kan, anak-anak TKJ 2 sering dianggap sebagai teknisi serba bisa oleh para guru."
"Lalu kenapa bisa bersamamu, Dra?" tanya Vema lagi, kali ini ia mengambil posisi duduk di sebelah Nadin.
Aku berdehem, mencoba menenangkan detak jantungku yang sempat melonjak. "Tadi aku sedang berjalan menuju kantin dan tidak sengaja bertemu Nadin saat dia baru selesai dari ruang guru. Karena tujuan kami searah, aku mengajaknya ke kantin bersama. Kebetulan aku ingin membeli beberapa makanan ringan."
Vema mengangguk-angguk, tampak menerima penjelasan tersebut meskipun aku melihat ada sedikit keraguan di matanya. Ia kemudian menatap tumpukan keripik di depan kami. "Begitu ya. Jadi... obrolan apa yang tadi kalian bahas sebelum aku datang? Sepertinya sangat serius sampai kalian tidak sadar aku mendekat."
Nadin dan aku terdiam sejenak. Pikiran kami berpacu mencari alasan yang paling masuk akal tanpa menyakiti perasaannya atau membongkar topik rahasia tadi. Dalam sinkronisasi yang tidak terencana, kami berdua memberikan jawaban yang hampir serupa.
"Kami membahas tentang pameran teknologi kemarin, Vem," kataku cepat. "Aku bilang pada Nadin kalau aku sangat terkesan dengan simulasi server yang kalian buat. Aku sedang bertanya pada Nadin, apakah aku bisa menerapkan logika sistem kalian itu ke dalam pengarsipan data akuntansi di masa depan."
"Iya, benar!" sambung Nadin dengan antusiasme yang dipaksakan. "Sarendra ini memang sangat ambisius. Dia ingin mencoba mengintegrasikan keamanan jaringan TKJ ke dalam sistem auditnya. Aku baru saja menjelaskan padanya betapa sulitnya konfigurasi yang kamu buat kemarin, Vem."
Vema tampak sedikit terkejut, namun senyum tulus kemudian muncul di wajahnya. "Oh, benarkah? Kalau kamu tertarik, Dra, aku bisa memberikan beberapa jurnal teknis yang aku baca kemarin. Logika pemisahan VLAN sebenarnya sangat mirip dengan pemisahan akun di buku besar, hanya saja mediumnya adalah bandwidth, bukan saldo."
Kami pun akhirnya terlibat dalam obrolan panjang tentang pengalaman pameran kemarin. Vema bercerita tentang betapa gugupnya dia saat guru penguji bertanya tentang latensi jaringan, sementara Nadin menimpali dengan keluh kesahnya menghadapi siswa dari kelas lain yang hampir menjatuhkan perangkat mereka.
Suasana berubah menjadi sangat cair. Aku memperhatikan Vema dengan seksama; di tempat sepi seperti kantin belakang ini, bersama orang-orang yang dia percayai, dia tidak lagi menjadi gadis yang kaku. Dia tertawa, dia bergerak dengan bebas, dan suaranya terdengar penuh semangat. Inilah sosok Vema yang sebenarnya—berlian yang sengaja disembunyikan di bawah tumpukan debu introversi.
Tak terasa, bel tanda jam istirahat berakhir berbunyi panjang di seluruh penjuru sekolah.
"Ah, waktu istirahat selalu terasa terlalu singkat," keluh Nadin sambil berdiri dan membereskan bungkus keripiknya.
Vema ikut berdiri. "Ayo, Nadin. Jam pelajaran berikutnya adalah praktikum di lab, kita tidak boleh terlambat."
Sebelum mereka melangkah pergi, Nadin sempat memberikan kode mata yang sangat jelas kepadaku—sebuah isyarat agar aku tetap menjaga jarak aman dan tidak terlalu mendesak Vema untuk berubah secara instan. Ia ingin aku memahami bahwa kenyamanan Vema adalah prioritas utama, dan cara terbaik untuk berada di sampingnya adalah dengan menghargai batas-batas yang telah ia bangun selama bertahun-tahun.
"Sampai jumpa nanti, Dra," ucap Vema sambil melambaikan tangan kecilnya.
"Sampai jumpa, Vem. Hati-hati di lab," jawabku.
Aku berdiri di kantin itu sejenak, memperhatikan punggung mereka berdua yang menjauh menuju gedung C. Aku kini memahami satu hal baru: mencintai atau peduli pada seseorang seperti Vema bukan berarti menariknya keluar dengan paksa ke tengah keramaian, melainkan menjadi tempat yang paling nyaman baginya untuk bersembunyi dari keramaian itu sendiri.
Aku merapikan rambutku dan melangkah kembali menuju kelas 10 AKL 1. Di otakku, aku tidak lagi menyusun strategi audit, melainkan sebuah peta jalan baru tentang bagaimana cara menjaga hati seorang gadis yang takut pada dunia, namun memiliki kecerdasan yang mampu menerangi kegelapan.
Langkah kakiku terasa lebih mantap. Aku menyadari bahwa hubungan kami bukan lagi sekadar pelarian dari misteri sekolah, melainkan sebuah komitmen untuk saling menjaga di tengah dunia remaja yang seringkali lebih kejam daripada kutukan mana pun.
ada apa dgn vema
lanjuuut...