NovelToon NovelToon
SLEEP WITH MY UNCLE

SLEEP WITH MY UNCLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta Terlarang / Dark Romance / Romansa
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.

Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 SWMU

Kotak kayu itu masih tergeletak di atas lantai marmer, aromanya yang amis memenuhi udara yang biasanya berbau lavender dan lilin aromatik mahal. Nadia mundur selangkah, napasnya tersengal. Bi Inah sudah lari ke arah dapur, mungkin untuk memuntahkan isi perutnya atau sekadar bersembunyi.

Dunia Nadia terasa berputar. Kain sutra biru pucat itu—ia sangat mengenalnya. Itu adalah bagian dari gaun yang dipakai Maya, sekretaris pribadi sekaligus wanita yang sempat dirumorkan menjadi simpanan Bramantya, sebelum ia menghilang tanpa jejak enam bulan lalu.

"Nyonya? Nyonya tidak apa-apa?" Suara bariton yang tenang namun menuntut itu datang dari arah pintu gerbang.

Adrian berdiri di sana. Ia melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu yang sempurna, namun matanya langsung tertuju pada kotak di bawah kaki Nadia. Ekspresinya berubah dalam sekejap—dari formal menjadi waspada yang akut.

"Jangan menyentuhnya, Nadia," perintah Adrian tegas. Ia mendekat, berjongkok di depan kotak itu tanpa rasa jijik sedikit pun. Ia mengambil sapu tangan dari saku jasnya dan mengangkat catatan kecil yang ada di dalamnya.

"Yudhistira," bisik Nadia dengan bibir bergetar. "Dia mengirim pesan padaku tadi pagi. Dia bilang dia tahu soal brankas itu. Dan sekarang ini..."

Adrian berdiri, wajahnya mengeras seperti batu karang. "Tadi pagi? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku saat kita bicara di telepon?"

"Aku baru saja akan memberitahumu! Aku tidak tahu harus percaya pada siapa, Adrian!" Nadia meledak, rasa takutnya berubah menjadi amarah yang defensif. "Yudhistira bilang kau tidak setulus yang kukira. Dan sekarang dia mengirimkan potongan baju Maya yang berdarah. Apa yang sedang terjadi sebenarnya?"

Adrian menarik napas panjang, mencoba menenangkan situasi. Ia mendekat dan memegang kedua bahu Nadia. "Dengarkan aku. Yudhistira sedang terjepit. Dia baru keluar dari penjara dengan jaminan yang mencurigakan. Dia ingin memecah belah kita karena dia tahu hanya kita berdua yang punya akses langsung untuk menghancurkan Bramantya dari dalam. Dia menggunakan Maya untuk memancing emosimu."

"Tapi bagaimana jika Maya masih hidup? Bagaimana jika dia disiksa di suatu tempat sementara kita hanya duduk di sini merencanakan kudeta bisnis?"

"Nadia, lihat aku," mata Adrian mengunci tatapan Nadia. "Darah ini... ini bisa saja darah hewan. Dia ingin kau panik. Dia ingin kau lari ke pelabuhan malam ini sendirian dan jatuh ke dalam jebakannya."

Nadia tersentak. "Bagaimana kau tahu soal pelabuhan? Aku belum memberitahumu isi pesan itu."

Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Adrian tidak melepaskan pegangannya, namun cengkeramannya terasa sedikit lebih erat. Sebuah senyum tipis yang sulit diartikan muncul di sudut bibirnya.

"Karena aku mengenal Yudhistira lebih baik daripada kau mengenalnya, Nadia. Gudang tua di pelabuhan adalah tempat persembunyian favoritnya sejak kami masih remaja. Itu bukan tebakan yang sulit."

Nadia menarik diri, melepaskan tangan Adrian dari bahunya. Ia merasakan kecurigaan yang dikirimkan Yudhistira mulai berakar di kepalanya. "Kau selalu punya jawaban untuk segalanya, bukan?"

"Itu sebabnya aku masih bertahan hidup di keluarga ini, Nadia. Sekarang, masuklah ke dalam. Cuci tanganmu. Aku akan membereskan 'hadiah' ini sebelum para pelayan lain melihatnya dan melapor pada Bramantya."

Dua jam kemudian, Nadia duduk di dalam mobil mewah Adrian menuju butik ternama di pusat kota. Perjalanan itu berlangsung dalam keheningan yang menyesakkan. Nadia menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang tampak seperti jeruji besi raksasa.

"Kau memikirkan tentang tawaran Yudhistira?" Adrian memecah keheningan tanpa menoleh dari kemudi.

"Aku memikirkan tentang banyak hal," jawab Nadia pendek. "Tentang bagaimana pernikahan ini dimulai, tentang bagaimana aku berakhir di antara tiga pria yang semuanya ingin mengendalikan bidak catur yang sama."

"Kau bukan bidak, Nadia. Kau adalah Ratu. Di papan catur, Ratu adalah yang paling kuat, tapi juga yang paling diincar."

"Dan siapa Rajanya? Kau? Atau Bram?"

Adrian terkekeh, suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Raja adalah posisi yang sedang diperebutkan. Tapi ingatlah satu hal, seorang Ratu bisa memenangkan permainan tanpa membutuhkan Raja di sampingnya."

Mereka sampai di butik. Pemilik butik, seorang wanita paruh baya yang sangat anggun, menyambut mereka dengan bungkukan hormat. "Tuan Mahendra sudah memesankan gaun khusus untuk Nyonya. Silakan lewat sini."

Nadia berdiri di depan cermin besar saat para asisten mulai memakaikan gaun berwarna merah darah—persis seperti yang diinginkan Bramantya. Warna yang mencolok, warna kemenangan, atau mungkin warna peringatan.

Adrian berdiri di belakangnya, memperhatikan melalui pantulan cermin. "Bram punya selera yang... dominan."

"Dia ingin aku terlihat seperti piala," gumam Nadia sambil merapikan bagian pinggang gaunnya. "Sesuatu yang bisa dipamerkan untuk menunjukkan betapa suksesnya dia meredam pemberontakan di sekitarnya."

Tiba-tiba, seorang asisten butik mendekat membawa sebuah kotak perhiasan. "Ini juga dikirimkan oleh Tuan Bramantya, Nyonya. Katanya harus dipakai saat fitting."

Di dalam kotak itu terdapat kalung berlian dengan mata zamrud besar di tengahnya. Namun, saat Nadia mengangkat kalung itu, ia menemukan secarik kertas kecil yang terselip di balik bantalan beludru.

“Jangan percaya pada bayangan di belakangmu. Pelabuhan jam delapan. Aku punya kunci yang sesungguhnya.”

Nadia segera meremas kertas itu di telapak tangannya. Jantungnya berdegup kencang. Bagaimana mungkin Yudhistira bisa menyusupkan pesan ke dalam kiriman suaminya sendiri? Apakah Yudhistira memiliki orang dalam di lingkaran terdalam Bramantya? Ataukah ini semua hanya bagian dari permainan Bramantya untuk menguji kesetiaannya?

"Ada apa?" tanya Adrian, matanya menyipit melihat gerakan tangan Nadia yang tiba-tiba.

"Bukan apa-apa. Hanya... kalung ini terasa sangat berat di leherku," Nadia berusaha tersenyum, meski otot wajahnya terasa kaku.

"Biarkan aku membantumu," Adrian mendekat. Ia mengambil kalung itu dari tangan Nadia.

Saat Adrian melingkarkan kalung itu di lehernya, jari-jarinya yang dingin bersentuhan dengan kulit leher Nadia. Nadia bisa merasakan napas Adrian di dekat telinganya.

"Kau gemetar, Nadia," bisik Adrian. "Apa yang kau sembunyikan di tanganmu?"

Nadia membeku. "Bukan apa-apa, Adrian. Hanya sampah kertas dari kotak ini."

"Berikan padaku."

"Tidak."

Adrian memutar tubuh Nadia hingga mereka berhadapan. Di ruang ganti yang privat ini, ketegangan antara mereka mencapai puncaknya. "Nadia, jika kau mulai bermain di belakangku dengan Yudhistira, kau akan hancur. Dia tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, sementara kau punya segalanya. Dia akan menarikmu jatuh bersamanya."

"Dan apa bedanya denganmu?" tantang Nadia, suaranya naik satu oktav. "Kau ingin menggunakan aku untuk mengambil alih perusahaan. Bram ingin menggunakan aku sebagai simbol status. Yudhistira mungkin adalah satu-satunya orang yang benar-benar ingin membakar semua ini tanpa peduli soal uang!"

"Kau naif jika berpikir Yudhistira tidak menginginkan uang," Adrian mendesis. "Dia ingin balas dendam karena Bramantya merebut posisi CEO darinya. Dia ingin menghancurkan apa yang tidak bisa dia miliki."

Nadia menatap Adrian dengan tajam. "Lalu kenapa dia mengirimiku pesan soal Maya? Kenapa dia tahu soal brankas itu? Hanya ada dua kemungkinan, Adrian. Entah dia memang tahu sesuatu yang tidak kau ketahui, atau... kau yang memberitahunya."

Adrian melepaskan tangan Nadia, mundur selangkah dengan ekspresi terluka yang dibuat-buat—atau mungkin nyata, Nadia tidak bisa lagi membedakannya.

"Setelah semua yang kulakukan untuk melindungimu tadi malam... kau menuduhku bekerja sama dengan Yudhistira?"

"Di rumah ini, pengkhianatan adalah bahasa ibu kita, Adrian," ucap Nadia dingin. Ia berbalik kembali ke cermin, menatap wanita berbaju merah yang tampak asing baginya. "Aku ingin pulang. Fitting-nya sudah selesai."

Pukul tujuh malam.

Mansion Mahendra terasa seperti makam besar yang sunyi. Bramantya belum pulang, katanya ada pertemuan mendadak dengan beberapa investor dari Singapura. Adrian juga tidak terlihat sejak mereka kembali dari butik.

Nadia berdiri di kamarnya, mengenakan setelan hitam yang tertutup dan jaket kulit. Di tangannya, ia memegang kunci perak dan ponsel rahasianya.

Logikanya mengatakan bahwa pergi ke pelabuhan adalah bunuh diri. Namun, potongan kain berdarah itu terus membayang di matanya. Jika ada peluang kecil bahwa Maya masih hidup, atau jika Maya meninggalkan bukti yang bisa menghancurkan Bramantya tanpa perlu bergantung pada rencana Adrian yang ambisius, Nadia harus mengambilnya.

Ia menyelinap keluar melalui pintu pelayan di bagian belakang. Penjaga gerbang sedang sibuk berganti shift, sebuah celah waktu lima menit yang ia pelajari dari jadwal harian yang tercatat di ruang kerja Bramantya.

Nadia masuk ke dalam mobil kota kecil yang ia sewa melalui aplikasi dengan akun palsu. Ia memacu kendaraannya menuju Jakarta Utara, menjauhi kemewahan yang mencekik dan menuju kegelapan yang penuh teka-teki.

Pelabuhan di malam hari adalah labirin peti kemas dan bayangan. Suara ombak yang menghantam dermaga terdengar seperti bisikan peringatan. Nadia memarkir mobilnya agak jauh dan berjalan kaki menuju Gudang Nomor 14.

Udara di sini berbau garam, solar, dan karat.

Langkahnya bergema di atas beton yang retak. Saat ia mendekati pintu gudang yang setengah terbuka, sebuah cahaya temaram terlihat dari dalam.

"Aku tahu kau akan datang, Kakak Ipar."

Suara itu serak, jauh berbeda dari suara Yudhistira yang dulu dikenal Nadia sebagai pria flamboyan yang sombong. Nadia mendorong pintu besi itu.

Yudhistira duduk di atas peti kayu tua. Wajahnya tampak lebih kurus, dengan bekas luka baru di sepanjang rahangnya. Di bawah lampu bohlam yang berayun, ia tampak seperti hantu.

"Di mana Maya?" tanya Nadia langsung, tanpa basa-basi.

Yudhistira tertawa kecil, suara yang diakhiri dengan batuk kering. "Maya? Maya sudah damai, Nadia. Jauh lebih damai daripada kita yang masih bernapas di bawah bayang-bayang Bramantya."

Jantung Nadia mencelos. "Apa maksudmu? Potongan kain itu..."

"Itu hanya untuk memastikan kau datang. Aku butuh saksi, Nadia. Karena sebentar lagi, kau akan melihat bagaimana Adrian Mahendra yang kau puja sebagai penyelamat itu sebenarnya adalah iblis yang lebih lihai daripada Bram."

Nadia mengerutkan kening. "Apa yang kau bicarakan? Adrian membantuku mendapatkan bukti suap Bram."

"Bukti suap?" Yudhistira berdiri, melangkah mendekat ke arah cahaya. "Kau pikir kenapa Bramantya bisa begitu kuat selama sepuluh tahun terakhir? Karena Adrian yang mengatur semua skema ilegalnya. Adrian adalah otaknya, Bramantya hanya wajahnya. Dan sekarang, Adrian ingin membuang 'wajah' itu karena dia ingin menguasai semuanya sendirian."

Nadia menggelengkan kepala. "Tidak mungkin. Adrian bilang..."

"Adrian bilang apa?" suara lain terdengar dari kegelapan di belakang Nadia.

Nadia berbalik dengan cepat. Di sana, di ambang pintu gudang, berdiri Adrian. Tapi kali ini, ia tidak sendirian. Dua pria berbadan tegap dengan senjata terselip di pinggang berdiri di belakangnya.

"Adrian?" bisik Nadia, suaranya nyaris hilang.

Adrian masuk ke dalam gudang, langkah kakinya terdengar sangat tenang. Ia menatap Yudhistira dengan pandangan merendahkan. "Kau selalu bicara terlalu banyak, Yudhistira. Itu sebabnya ayah lebih memilihku untuk menjaga bisnis ini daripada kau."

"Menjaga?" Yudhistira meludah ke lantai. "Kau membunuh Maya karena dia menemukan catatan rekening pribadimu yang kau curi dari perusahaan, bukan dari Bram!"

Nadia merasa dunianya runtuh. Ia menatap Adrian, mencari bantahan, mencari tanda-tanda bahwa ini semua adalah kebohongan. Namun, Adrian hanya menghela napas pendek, seolah-olah ia sedang berurusan dengan masalah administratif yang membosankan.

"Maya adalah sebuah kesalahan kecil yang harus diperbaiki," ucap Adrian ringan. Ia menatap Nadia dengan tatapan yang kini terasa sangat predator. "Dan kau, Nadia... kau adalah kepingan terakhir. Aku membutuhkanmu untuk menanam bukti itu di brankas Bram, agar saat dia ditangkap lusa, tidak ada jejak yang mengarah padaku. Tapi kau malah memilih untuk mendengarkan pecundang ini."

Adrian memberi isyarat pada anak buahnya. "Tangkap mereka berdua. Kita akan memajukan jadwal 'kecelakaan' di pelabuhan malam ini."

Nadia mundur, tangannya meraba saku jaketnya, mencari sesuatu—apa saja—untuk membela diri. Namun, sebelum pria itu sempat menyentuhnya, suara sirine polisi meraung dari kejauhan, membelah kesunyian pelabuhan.

Adrian tertegun. Wajahnya yang tenang untuk pertama kalinya menunjukkan retakan. "Siapa yang memanggil mereka?"

Nadia tersenyum tipis, meski air mata mulai mengalir di pipinya. Ia mengangkat ponsel rahasianya. Layarnya masih menyala, menunjukkan panggilan aktif yang tersambung ke nomor darurat sejak ia pertama kali masuk ke gudang itu.

"Aku tidak pernah benar-benar percaya pada kalian berdua," bisik Nadia.

Namun, senyum Nadia hilang saat ia menyadari sesuatu. Suara sirine itu bukan hanya dari satu arah. Dan di antara suara sirine, terdengar deru mesin mobil mewah yang sangat ia kenal.

Sebuah mobil hitam legam meluncur masuk ke area pelabuhan, lampunya yang terang benderang membutakan mata semua orang di dalam gudang.

Pintu mobil terbuka. Bramantya Mahendra keluar dengan tenang, memegang cerutu yang menyala. Ia menatap ke dalam gudang dengan ekspresi seorang tuan tanah yang sedang meninjau propertinya yang rusak.

"Permainan yang menarik, bukan?" suara bariton Bramantya menggema. "Istriku yang berkhianat, adikku yang haus kuasa, dan saudaraku yang pendendam... semuanya berkumpul di satu tempat."

Bramantya melangkah maju, melewati garis lampu polisi yang mulai mengepung tempat itu. "Kalian lupa satu hal. Di rumah ini, akulah yang memegang semua kunci."

Nadia berdiri di tengah-tengah mereka, menyadari bahwa labirin ini jauh lebih dalam dan gelap dari yang ia bayangkan. Dan malam ini, pelabuhan ini bukan hanya akan menjadi peti mati bagi salah satu dari mereka, tapi mungkin bagi mereka semua.

"Jadi, Nadia," Bramantya menatap istrinya dengan tatapan yang membakar. "Siapa yang akan kau pilih untuk mati lebih dulu?"

1
Nisa Fatimah
penuh teka teki...🧐🤨💪💪
MomSaa: 🤭Biar greget
total 1 replies
Nisa Fatimah
ngeri2 sedap kak 👍🥲
MomSaa: Hihi iya🤭
total 1 replies
Nisa Fatimah
semangat kk 💪💪💪
MomSaa: Siap kak😍
total 1 replies
Nisa Fatimah
baru hadir ni kak...💪💪💪
itsmeiblova
good
Midah Zaenudien
aku binggung blum ketemu alur x
Han*_sal
seru uuuuu ini
Han*_sal
lanjut
MomSaa: Siap kak
total 1 replies
Han*_sal
wawwwww 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!