NovelToon NovelToon
Story Of Hazel Lyra Raven

Story Of Hazel Lyra Raven

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Dark Romance / Mafia / Time Travel / Reinkarnasi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:942
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.

Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??

kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!


Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar

Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 2

Musik klasik masih mengalun. Pharma berdiri dekat Lyra, suaranya lembut, senyumnya masih sama seperti dulu. Tapi kepala Lyra penuh suara lain:

Kalau jalurnya sama, setelah ini dia bakal ketemu Veronica... dan dari sanalah neraka mulai.

Lyra melirik sekeliling, matanya waspada.

Apa dia udah kenal Veronica sekarang? Atau belum? Kalau belum... berarti aku masih bisa cegah...

Pharma mencondongkan tubuh sedikit, suaranya nyaris berbisik.

"Kamu kelihatan tegang, Lyra. Ada yang salah?"

Detik itu Lyra refleks mundur setengah langkah. "Nggak... aku cuma capek kuliah."

Pharma tersenyum tipis, tapi matanya seakan menyelidik lebih dalam. "Kalau ada yang bikin kamu resah, bilang saja. Aku bisa dengarkan."

Nada suaranya hangat, tapi Lyra tau-ini sama persis seperti awal dulu.

Paul, yang berdiri nggak jauh, langsung menatap tajam. "Jangan sok dekat, Dokter. Lyra baik-baik aja."

Pharma cuma melirik sekilas, ekspresi berubah datar, lalu balik lagi lembut saat menatap Lyra.

"Kalau begitu... aku harap kamu tetap seperti ini. Nggak perlu terbakar api yang nggak perlu."

Kata-kata itu bikin Lyra terdiam. Api? Hatiku yang terbakar setiap kali lihat kau sama Veronica, maksudnya?

Deg. Apa dia sengaja?

Lyra menggenggam gelasnya erat-erat. Aku harus cari tahu. Kali ini aku nggak boleh cuma diem pas Pharma kenal Veronica.

Malam itu, di balik keramaian pesta, Lyra berjanji dalam hati:

dia akan mengawasi setiap langkah Pharma... sebelum Veronica masuk ke dalam hidupnya lagi.

---

Beberapa minggu berlalu. Hari-hari Lyra terasa aneh: kuliah, rapat keluarga, sampai pertemuan kecil di rumah besar Raven... semua berjalan seperti deja vu.

Lyra duduk di kamarnya, tangan menopang dagu. Buku catatan kuliahnya terbuka, tapi pikirannya melayang.

Kenapa... semuanya tetep sama? Aku udah ngindar dari tabrakan dengan Pharma, tapi jalannya tetep ngarah ke dia. Papa makin deket sama Pharma, Paul makin nggak suka. Bahkan senyumannya...

Ponselnya bergetar. Notifikasi masuk.

[Pesan Baru: Grup Keluarga Raven]

"Jangan lupa malam ini ada jamuan makan bersama tamu penting." - Ratchet

Lyra mematung. Jamuan? Bukankah... ini persis kaya dulu? Malam ketika aku pertama kali lihat Pharma ngobrol akrab sama Veronica...

Deg. Dada Lyra sesak. Tangannya gemetar menggenggam ponsel.

---

Malam itu.

Meja makan panjang keluarga Raven dipenuhi hidangan mewah. Ratchet duduk di ujung meja, Paul di sisi kanan. Lyra duduk berhadapan dengan Pharma, yang malam ini tampil lebih berkelas dari biasanya, jas hitam rapi, dasi merah tua.

Suasana berjalan tenang... sampai suara ketukan heels terdengar dari pintu ruang makan.

Tok. Tok. Tok.

Lyra menoleh-dan darahnya terasa berhenti mengalir.

Seorang wanita anggun masuk. Rambut cokelat bergelombang, bibir merah, senyum memikat.

"Maaf terlambat," katanya lembut.

Ratchet berdiri menyambut. "Akhirnya kamu datang. Veronica."

Lyra terhenyak.

Jadi... walau aku udah ubah, Veronica tetap muncul. Bahkan di momen yang sama.

Pharma menoleh. Dan ketika matanya bertemu Veronica... senyum samar muncul di wajahnya.

Lyra meremas sendoknya sampai nyaris bengkok.

Tidak. Kali ini... aku nggak akan diem aja nonton kalian berdua.

--

---

Veronica duduk anggun di kursi sebelah Pharma. Senyum tipisnya seolah otomatis bikin ruangan jadi berpusat padanya.

"Dr. Raven, aku sering dengar tentang rumah sakit Bapak. Kelas dunia," katanya sambil menatap Ratchet dengan tatapan penuh pujian.

Ratchet, yang biasanya dingin, tiba-tiba tampak lebih rileks. "Kami hanya bekerja keras menjaga standar. Senang ada yang mengerti."

Lyra melirik. Gila, Papa yang biasanya ngomel bahkan sama pasien, sekarang bisa senyum ramah kayak gitu?

Veronica menoleh ke Pharma. "Dan Anda, Dokter Pharma, lulusan luar negeri, bukan? Pantas saja aura Anda beda."

Dia tersenyum lebar, jari-jarinya dengan halus merapikan dasi Pharma.

Pharma hanya menatapnya, senyumnya tipis. "Aku tidak sehebat itu. Masih belajar banyak dari Dr. Raven."

Nada suaranya kalem, tapi matanya sempat melirik Lyra sekejap-sengaja atau tidak, Lyra tidak tahu.

Paul, dari sisi meja, mendesah keras. "Astaga... dramanya dimulai lagi." Dia melirik Lyra dengan tatapan sabar, jangan bikin rusuh di meja Papa.

Tapi Lyra udah nggak bisa tahan. Sendoknya bergetar di tangan.

Di kehidupan lalu, aku diem dan pura-pura cool... lalu aku yang hancur. Tapi sekarang? Enggak. Aku nggak bakal kasih Veronica ngerebut semua spotlight.

Veronica masih nyerocos, kini tertawa kecil sambil menepuk lengan Ratchet dengan manja. "Dokter dan Polisi di satu meja. Keluarga Raven ini memang luar biasa. Rasanya... aku ingin lebih sering datang ke sini."

Lyra membeku. Senyum Veronica, sorot matanya ke Pharma, semua persis kayak racun yang pernah menelannya hidup-hidup.

Dan kali ini, Lyra memutuskan: dia harus nyerang balik, apa pun caranya.

---

---

Veronica D'Clair

Umur: 22 tahun (2 tahun lebih tua dari Lyra)

Asal-usul: Anak dari keluarga bangsawan kecil di utara, keluarga D'Clair. Keluarganya punya koneksi politik tapi kondisi ekonomi mulai merosot, jadi mereka sering "menitipkan" Veronica ke acara keluarga besar untuk mempererat hubungan.

Sifat: Anggun, pintar bersandiwara, tahu cara cari perhatian di ruangan. Punya lidah manis dan bisa membaca situasi, tapi dalam-dalamnya dia ambisius, nggak suka kalah spotlight.

Hubungan dengan keluarga Raven:

Ayah Veronica pernah partner bisnis dengan Ratchet waktu muda, jadi dia sering diundang sebagai "tamu kehormatan keluarga lama."

Ratchet anggap Veronica itu "anak baik yang berbudi, pantes kalau ada di lingkaran keluarga Raven."

Pharma? Awalnya netral, tapi karena Veronica terus mendekat dengan cara elegan, dia jadi sering jadi "target perhatian" juga.

Motivasi: Nggak munafik-Veronica tahu keluarga Raven itu power banget. Kalau bisa dapet posisi (entah lewat Ratchet sebagai mentor, atau... lewat salah satu anaknya), dia aman.

---

Scene - Meja Makan yang Tegang

Semua perhatian di meja makan memang jatuh ke Veronica. Dia bicara halus, tawa kecilnya seperti musik. Bahkan Paul, walau sinis, kadang menanggapi obrolannya.

Ratchet tampak lebih santai daripada biasanya, bahkan sesekali mengangguk puas dengan sikap Veronica.

"Jarang ada anak seusiamu yang bisa bicara dengan tenang tentang politik maupun kesehatan. Orang tuamu mendidikmu dengan baik," katanya sambil mengangkat gelas.

Veronica tersenyum sopan. "Ayah selalu bilang, jangan pernah takut berbicara di depan orang besar. Dan keluarga Raven sudah seperti panutan bagi kami sejak lama."

Pharma menghela napas kecil. "Kamu pintar memilih kata," komentarnya datar, tapi tatapannya tidak lepas dari Veronica.

Lyra duduk di sisi kursi, jari-jarinya mencengkeram rok seragamnya di bawah meja.

Semua mata, semua telinga... seakan diarahkan ke Veronica. Dan Lyra sadar-Veronica sedang "bermain di rumahnya sendiri."

---

---

Scene: Meja Makan Keluarga Raven - Malam Penuh Kepalsuan

Suasana rumah mewah milik Ratchet malam itu seperti panggung opera. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya ke dinding marmer, setiap sendok yang menyentuh piring terdengar jelas.

Di meja makan panjang, duduklah keluarga Raven:

Ratchet, sang kepala keluarga, tenang dengan aura berwibawa.

Paul, si abang polisi, duduk dengan sikap waspada meski santai.

Lyra, yang masih mencoba memahami "kenapa semua ini déjà vu."

Pharma, dokter muda, tatapannya kadang ke makanan, kadang mencuri lirikan ke Lyra.

Dan malam ini... tamu istimewa: Veronica D'Clair, gadis bangsawan yang masuk seperti bunga segar di vas kaca mahal.

Hanya saja, bagi Lyra, bunga itu beracun.

---

Veronica Menyapa Lyra

Veronica menyuapkan potongan kecil daging steak, kemudian menoleh dengan senyum yang begitu lembut-senyum yang kalau orang lain lihat, pasti langsung luluh.

"Lyra," katanya dengan nada lembut, "kau terlihat agak pucat. Apakah makanan ini terlalu berat untukmu? Aku bisa minta chef mengganti menunya, kalau kau kurang nyaman."

Semua kepala langsung menoleh ke Lyra. Ratchet bahkan mengerutkan alisnya, seolah ikut mengamati keadaan putrinya.

Lyra, yang tadi diam-diam mengaduk supnya, mendongak dengan senyum tipis.

"Oh, tenang saja, Miss D'Clair," katanya pelan, namun dengan intonasi sarkastik yang menetes halus. "Aku terbiasa kok... makan apa pun yang disiapkan di rumahku sendiri."

Paul nyaris tersedak minumannya. Pharma menahan napas kecil, menyadari nada itu. Veronica masih tersenyum, tapi matanya berkilat sesaat.

***

Ketegangan Memuncak

"Oh tentu, tentu saja," Veronica menanggapi dengan anggun, seolah tidak tersinggung. "Aku hanya khawatir... keluarga sebesar ini pasti sering sibuk, mungkin Lyra jarang sempat makan dengan baik. Aku ingin memastikan kau tetap sehat. Apalagi, kalau tidak salah, kau yang paling muda di sini, kan?"

Kalimat terakhir terdengar seperti pujian, tapi terselip merendahkan-menyudutkan Lyra jadi "adik kecil yang lemah."

Lyra tersenyum miring, tatapannya menusuk.

"Benar. Aku yang paling muda. Tapi bukan berarti aku butuh orang asing untuk mengingatkanku makan. Lagipula..." ia menatap Veronica dari ujung kaki hingga kepala dengan pandangan evaluatif. "...aku tidak terbiasa menerima perhatian berlebihan dari seseorang yang bahkan baru saja muncul di meja keluargaku."

Seketika, suasana membeku.

***

Semua Orang Bereaksi

Paul mengangkat alis, berbisik, "Ouch, burn."

Pharma menutup mulut dengan tangannya, pura-pura batuk untuk menutupi senyum tipis yang ingin muncul.

Ratchet? Wajahnya berubah serius, menatap Lyra tajam.

"Lyra." Suara ayahnya datar, tapi sarat peringatan. "Kita tidak bicara seperti itu pada tamu."

Lyra menoleh, matanya melebar sedikit. "Tapi-"

"Tidak ada tapi." Ratchet menegaskan, nadanya bagai palu. "Veronica hanya menunjukkan kepedulian. Kau seharusnya belajar menerima dengan baik."

Veronica menunduk sopan, pura-pura tersinggung namun menahan diri. "Oh, Tuan Raven, tak perlu marah. Aku yakin Lyra hanya lelah setelah hari panjang di kampus. Aku tidak tersinggung kok."

Kalimat itu seperti menusukkan jarum lebih dalam ke hati Lyra.

***

Di Posisi Tersudut

Semua mata kini mengarah ke Lyra-menilainya sebagai gadis muda yang kurang ajar pada tamu.

Lyra meremas roknya di bawah meja, menahan ledakan kata-kata lain.

Dalam kepalanya terngiang jelas memori kehidupan sebelumnya: Veronica... selalu punya cara bikin dirinya terlihat seperti "putri kecil manja" yang salah, sementara Veronica tampil sebagai "wanita anggun penyelamat suasana."

Dan malam itu, sejarah mulai terulang lagi.

***

Ballroom scene

Lampu gantung kristal menggantung di langit-langit tinggi ballroom keluarga Raven, memantulkan cahaya keemasan yang menari di dinding marmer. Musik orkestra mengalun lembut, memenuhi udara dengan harmoni yang nyaris terlalu indah untuk sebuah malam yang akan dipenuhi racun.

Lyra berdiri di dekat salah satu meja panjang yang dipenuhi hidangan penutup. Gaun biru gelapnya berkilau samar, kontras dengan rambut hitam panjang khasnya yang tergerai di bahu. Dari luar, dia tampak tenang-putri konglomerat yang terbiasa hidup dalam sorotan. Tapi di balik senyumnya yang dingin, pikirannya sudah penuh dengan lapisan-lapisan amarah dan deja vu.

Karena di seberang ruangan, berdiri Veronica D'Clair.

Dan di sisinya, Pharma.

Veronica tertawa kecil sambil menepuk ringan lengan Pharma, seolah setiap kata yang keluar dari mulut dokter muda itu adalah candaan emas. Rambut pirangnya digelung rapi, beberapa helai terlepas dengan sengaja membingkai wajahnya. Dia mencondongkan tubuh sedikit, menciptakan jarak yang terlalu intim untuk sekadar percakapan biasa.

Pharma, dia terlihat... lembut. Senyumnya melunak tiap kali Veronica bicara, matanya sesekali melirik ke arahnya. Bukan tatapan dingin profesional yang biasanya dia tunjukkan ke semua orang, tapi juga bukan tatapan yang pernah Lyra lihat terarah padanya dulu.

Jantung Lyra berdegup kencang. Di kepalanya, potongan kehidupan "sebelumnya" berkelebat-malam ketika Veronica perlahan merebut segalanya darinya, termasuk Pharma. Malam ketika setiap senyum Veronica adalah belati yang mengiris.

Dan sekarang, adegan itu terulang. Lagi.

"Lyra."

Sebuah suara memanggilnya. Paul, abangnya, menghampiri dengan setelan jas rapi polisi, wajahnya netral tapi matanya tajam mengawasi. "Kamu nggak makan dessert?"

Lyra menoleh, menahan diri agar ekspresinya tetap normal. "Nggak selera."

Padahal yang sebenarnya terjadi: manis apapun yang masuk ke lidahnya malam itu bakal terasa pahit.

Paul menatap ke arah Pharma dan Veronica yang masih sibuk di kerumunan. Dia mendengus pelan. "Si D'Clair itu... terlalu banyak gaya. Hati-hati jangan terpancing."

Lyra hanya mengangguk. Kalau saja Paul tahu, betapa dalamnya luka yang sudah ditinggalkan Veronica di kehidupannya yang lalu.

---

Musik berubah, lebih riang. Beberapa tamu mulai berdansa di tengah ballroom. Veronica, dengan keanggunan ala panggung, menoleh ke Pharma sambil tersenyum.

"Dokter, apakah Anda bisa menari?" tanyanya, suaranya lembut namun cukup nyaring untuk didengar beberapa orang di sekitar mereka.

Pharma mengangkat alis, ekspresi sejenak kembali ke dingin khasnya. "Menari bukan bidang saya."

"Tidak apa-apa," Veronica menyahut cepat, lalu menunduk sedikit, seolah tersipu. "Saya bisa memimpin."

Tawa kecil dari tamu sekitar terdengar. Dan sebelum siapa pun sempat menyela, Veronica sudah menarik tangan Pharma, membawanya ke lantai dansa.

Lyra merasakan perutnya mengencang. Tangannya mengepal di samping tubuh. Itu gerakan yang persis sama. Adegan yang dulu mengiris hatinya, ketika Veronica pertama kali menunjukkan ke semua orang bahwa dia bisa menguasai perhatian Pharma.

Musik bergulir, langkah kaki mereka sinkron. Veronica bergerak anggun, rok panjangnya berputar indah. Pharma mengikuti ritme dengan canggung tapi tetap, ada senyum samar di wajahnya-senyum yang Lyra kenal terlalu baik. Senyum yang dulu, dalam kehidupannya yang sebelumnya, membuatnya luluh.

Dari sudut ruangan, Ratchet-ayah Lyra-melihat pemandangan itu dengan ekspresi puas. "Veronica selalu tahu cara membawa diri," katanya ke salah satu kolega. "Gadis itu benar-benar punya masa depan."

Kata-kata itu menohok Lyra. Pahit.

Seakan Ratchet lebih bangga dengan gadis lain dibanding putrinya sendiri.

---

Lyra meneguk napas dalam-dalam, lalu meraih gelas sampanye di dekatnya. Cairan dingin itu menelusuri tenggorokannya, tapi tak mampu memadamkan api di dadanya.

"Kalau terus-terusan diem kayak gitu, kamu yang kalah." Suara Paul kembali terdengar di telinganya.

"Kalah dari siapa?" Lyra balik menatap, matanya menyala dingin.

Paul mengangkat bahu. "Dari dia." Pandangannya singkat ke arah Veronica. "Kamu lebih tahu."

Ya. Lyra lebih tahu.

Karena kali ini, dia punya memori kehidupan sebelumnya sebagai senjata.

Dan dalam hati, Lyra berjanji: dia tidak akan membiarkan sejarah berulang.

***

1
AEERA♤
bacaa woee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!