NovelToon NovelToon
Sugar Daddy Kere

Sugar Daddy Kere

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.

​Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.

​Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.

Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Sugar Daddy KR

Ayu menahan senyum tipis yang ingin sekali ia tunjukkan, membiarkan Lingga menatap kekesalannya. Ia mengambil map tebal di sudut meja.

​"Tentu, Tuan," jawab Ayu dengan nada profesional yang sempurna. Ia mengambil jeda sebentar, seolah sedang memilah data.

"Hanya saja, proposal Pak Santoso sudah saya selesaikan tadi malam, sebelum Anda mendarat. Saya asumsikan Anda ingin melihat revisi cepatnya, bukan?"

​Lingga tercekat. Matanya kembali menatap Ayu, kaget dan marah. Ayu telah mengantisipasi pekerjaannya, bekerja jauh di depan jadwal yang bahkan belum ia sampaikan. Ini bukan hanya efisiensi; ini adalah pernyataan bahwa hidup Ayu berjalan sempurna tanpanya.

​Ayu menyerahkan map itu, memastikan jari-jarinya nyaris tidak menyentuh tangan Lingga. "Saya bekerja tanpa tunjangan dan gaji, Tuan. Tapi itu tidak berarti kualitas saya menurun. Justru sebaliknya. Saya pastikan Anda tidak akan pernah menemukan celah untuk mempertanyakan integritas saya, atau pekerjaan saya."

​Lingga menerima map itu, cengkeramannya mengeras. Ayu baru saja memukulnya dengan profesionalisme tanpa cela, mengingatkannya bahwa keputusan pemotongan gaji itu konyol, dan bahwa ia—Lingga—adalah satu-satunya yang rugi karena permainannya sendiri.

***

Tujuh hari berlalu sejak ciuman yang dicuri di perpustakaan. Tiga hari penuh dengan keheningan yang paling berat, diselingi oleh instruksi kerja yang tajam dan profesional. Janji Lingga untuk menjaga 'Jarak Profesional' ditepati dengan kejam. Ia bahkan jarang menoleh ke meja Ayu, berbicara hanya melalui memo tertulis yang diserahkan oleh Ken.

Ayu bekerja 12 jam sehari, tanpa digaji, dengan ponsel yang kini terasa seperti bom waktu terpasang di sakunya. Secara finansial, ia terluka parah. Secara emosional, ia lumpuh.

Lingga Mahardika duduk di kantornya, menatap tumpukan berkas tanpa bisa memproses satu pun kata. Pikirannya terus kembali ke momen di perpustakaan, pada tekstur bibir Ayu yang lembut.

Ironi itu seperti pisau. Dia telah menjalin hubungan dengan Aleya selama hampir dua tahun—seorang wanita yang secara sosial setara dan diharapkan menjadi pasangannya. Namun, dia tidak pernah mencium Aleya.

Lingga selalu menjaga jarak, takut pada kedekatan yang menuntut kontrol, dan takut bahwa keintiman akan mengungkapkan kelemahan aslinya.

Tetapi Ayu? Seorang gadis 18 tahun, asisten bergaji nol, yang seharusnya ia intimidasi. Lingga tidak hanya menciumnya, tetapi ia ketagihan.

Rasanya seperti esensi dari kepolosan itu sendiri, batin Lingga, tangannya mencengkeram pena hingga buku-buku jarinya memutih. Itu bukan ciuman yang dipelajari; itu adalah ciuman yang tulus, bahkan di tengah keterkejutan.

Lingga menyadari bahwa dia merindukan sensasi melanggar batas yang ia ciptakan sendiri. Ciuman itu adalah satu-satunya tindakan di mana ia benar-benar kehilangan kendali, dan justru itu yang terasa paling nyata dalam tahun-tahun yang ia jalani dengan kepalsuan.

"Aku gila," bisik Lingga pada dirinya sendiri. Dia harus mengakhiri fantasi ini. Ciuman itu harus menjadi denda yang ia bayar dengan gajinya.

Ayu, di seberang meja, sama berantakannya. Ia mencoba fokus pada anggaran resor Bali.

100% gajiku hilang. Gaji satu bulan!

Namun, setiap kali ia mengingat kerugian finansial itu, ia juga mengingat sensasi bibir Lingga—perpaduan manis dari cokelat panas dan bau maskulin yang dingin.

Ayu tidak pernah berpacaran. Keterpakuan fisiknya selama ini terbatas pada pelukan keluarga. Ciuman Lingga adalah hal yang benar-benar baru, dan itu mengganggu. Ia tahu ini adalah pelecehan, pelanggaran. Ia harusnya marah.

Tapi, ia juga ketagihan.

Aku adalah profesional, aku adalah siswi

yang cerdas. Aku tidak boleh memikirkan ciuman bosku.

Ayu mencoba menekan sensasi itu. Namun, setiap kali Lingga bergerak di mejanya, setiap kali Lingga berbicara dengan nada rendah, Ayu merasakan denyutan di perutnya. Lingga, di balik jas dan kekuasaannya, adalah pria yang memiliki kekuatan fisik dan kemarahan terpendam yang terasa... menggoda.

Lingga adalah candu yang harus ia hindari, tetapi ia terikat pada pria itu selama enam bulan ke depan.

Tepat saat ketegangan menjadi tidak tertahankan, Lingga memecah keheningan yang mencekik itu.

"Ayu. Kau akan ikut denganku ke Bali," perintah Lingga, tanpa menoleh.

Ayu mengangkat kepalanya. "Bali? Untuk urusan apa, Tuan?"

"Proyek resor kita," jawab Lingga. "Ada masalah dengan izin lingkungan yang tidak bisa diselesaikan melalui telepon. Kita harus bertemu dengan Gubernur dan perwakilan adat di sana. Kita berangkat besok pagi."

Perjalanan dinas. Berdua. Jauh dari penthouse yang terkontrol, jauh dari Ken (meskipun Ken pasti akan menyertai, ia tidak akan bisa menjaga jarak seefektif di kantor).

Ini adalah ujian terberat bagi janji 'Jarak Profesional' yang baru saja ia beli dengan gajinya.

"Saya akan memberitahu tuan Ken untuk menyiapkan semua akomodasi dan dokumen perjalanan," kata Ayu, berusaha keras menjaga suaranya tetap datar.

"Tidak perlu," potong Lingga. "Ken akan mengurus logistik, tapi aku sudah memesan akomodasi. Kau akan tinggal di vila yang sama denganku."

Ayu tersentak. "Satu vila, Tuan? Tapi..."

"Jarak vila ke lokasi pertemuan sangat jauh. Kita tidak punya waktu untuk bolak-balik. Akan lebih efisien jika kita di tempat yang sama. Kau akan mendapatkan kamar terpisah di vila utama. Ini efisiensi, bukan kencan," tegas Lingga, seolah sedang membaca pikiran Ayu.

Lingga, meskipun berjanji menjaga jarak, secara sadar menciptakan situasi yang paling intim untuk mereka. Lingga ingin menguji apakah ia bisa mempertahankan kendalinya, atau apakah candu ciuman itu akan menang.

Ia akhirnya menoleh, menatap Ayu. Lingga melihat kepanikan di mata Ayu, tetapi ia juga melihat gairah muda yang samar-samar.

"Ingat janji kita, Ayu," kata Lingga, suaranya sangat rendah. "Aku tidak akan melanggar protokol lagi. Kau pun jangan. Sekarang, siapkan semua berkas yang akan kita bawa. Dan jangan bawa jeans belel-mu."

Ayu mengangguk kaku. Ia tahu, perjalanan ke Bali ini bukan lagi tentang izin lingkungan atau resor. Ini adalah arena baru untuk permainan berbahaya di antara mereka.

***

Malam itu, suasana di Penthouse Lingga terasa jauh lebih tegang daripada di ruang kerjanya. Setelah seharian penuh berlomba dalam permainan profesional yang dingin, mereka kini terjebak di ruang tamu mewah yang luas itu.

Ayu sedang merapikan beberapa piring kotor di dapur, sementara Lingga berdiri di balkon, menikmati coklat panas dan pemandangan kota. Mereka tidak bicara. Setiap langkah Ayu, setiap denting piring, terasa seperti ledakan kecil di tengah keheningan yang mencekik.

Lingga masuk kembali ke ruang tamu. Ia berjalan menuju kulkas, melewati Ayu.

"Aku akan minum air," katanya datar, suaranya terdengar canggung, seolah ia harus menjelaskan setiap tindakannya.

"Silakan, Tuan," jawab Ayu, tanpa menoleh. Ia memaksakan dirinya fokus mencuci piring, menyembunyikan kenyataan bahwa detak jantungnya kembali tidak karuan karena kedekatan Lingga.

Lingga membuka kulkas, tetapi pandangannya tidak sengaja jatuh pada punggung Ayu. Ia melihat bahu Ayu yang tegak, punggung lurus yang membuktikan keteguhan hatinya. Gadis ini benar-benar tidak akan menyerah sedikit pun, pikirnya kesal.

Ia menutup kulkas. "Kau... tidak perlu mencuci piring itu. Ada petugas kebersihan yang akan datang besok pagi," kata Lingga, suaranya lebih lembut dari yang ia niatkan.

Ayu akhirnya mematikan keran, menoleh. Wajahnya netral, tetapi ada semacam kelelahan yang nyata di matanya—kelelahan karena berpura-pura baik-baik saja sepanjang hari.

"Saya hanya mencoba membersihkan kekacauan yang ada, Tuan. Kebiasaan," jawab Ayu, suaranya perlahan memudar di akhir kalimat, nadanya ambigu.

Lingga tahu Ayu tidak hanya bicara tentang piring. Ayu bicara tentang kekacauan di antara mereka.

Jantung Lingga berdenyut keras. Ia menatap Ayu, niat untuk memaksakan jarak profesional mereka runtuh. Rasa dingin profesionalisme itu kini terasa menyakitkan.

"Kenapa kau selalu harus membuat semuanya jadi begitu sulit, Ayu?" bisik Lingga, kata-kata itu keluar tanpa ia sadari. Suara itu bukan lagi nada perintah CEO, melainkan keluhan tulus seorang pria.

Ayu menatapnya, matanya membalas rasa sakitnya. "Karena Anda selalu meminta hal yang mustahil, Tuan. Anda meminta saya untuk tidak peduli, saat Anda berdiri begitu dekat."

***

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
pasti ayu merinding dengar kalimat itu....
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
ciiynn 2
uuuww menggoda~😖
ciiynn 2
duhhh berani bgt
ciiynn 2
duhhhhh😷
ciiynn 2
tersenyum tipis? dia tidak tersenyum tapi hatinya yang tersenyum😏
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
ciiynn 2
haha🤣🤣🤣
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh jamu guncang jagad....weleh welehhh itu bisa bikin remukkk kasur dong bun🤭🤭🤭🤭
novi a.r
good novel, good job thor, cemungut
Bhebz: makasih banyak kk
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
semua cuma omong kosong... lambat laun nty saling jatuh cinta... gak mau pisahhhhg
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
😀😀😀😀
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sabar ay....
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ahhhhh gak guna menggerutu...
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ea harus pahit..
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
bukan pengawal/peramal ayu dia pelawak 😃😀🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
setipis apakah senyuman itu... apa setipis tisu basah / kering bun.....???
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....
HanaShui🌺
gak yakin Yu🤣
HanaShui🌺
debaran jantung ni yeee
Daniaaa
waduh nyesel 🤣
Daniaaa
awal yang keren Thor
Sofiaa
seruuuu thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!