Masih duduk di bangku SMA tapi sudah dijodohkan, apa jadinya?
Thea, gadis yang mencintai kebebasan tanpa kekangan harus dijodohkan dengan Sagara yang selalu taat pada aturan dan prinsip hidupnya. Keduanya setuju untuk menikah, namun mereka mempunyai aturan masing-masing. Keduanya akan hidup satu atap tanpa ikut campur urusan masing-masing dan juga cinta. Namun, karena kesalahpahaman, hubungan mereka memburuk. Thea mengira Sagara hanya mengincar harta keluarganya, sementara Sagara mengira Thea lah dalang dibalik kematian adik kandungnya. Lalu, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?
"Sudah Lima tahun, kita berpisah atau hidup kamu akan Aku buat lebih menderita!"
Thea menyunggingkan seulas senyuman. "Mana mungkin aku melepaskan kamu begitu saja, kamu adalah peliharaan keluargaku!"
"Brengsek! bahkan harta yang kamu miliki nggak bisa beli hati Sagara! kamu terlalu angkuh dan sombong! Sagara, nggak cocok hidup sama kamu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan_Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Bajingan
Kring..
Kring..
(Suara ponsel berbunyi)
Ponsel menunjukkan panggilan masuk dari Mama.
Thea meraih ponsel milik Sagara, berniat ingin menjawab teleponnya. Namun, beberapa detik kemudian sambungan telponnya mati.
"Tante Maia terus telpon Sagara, ada apa?" gumamnya.
Thea melirik pintu WC yang masih terkunci dari dalam sana. Sebenarnya Thea sangat penasaran dengan pesan yang baru saja masuk. Gadis kecil itu kembali meraih ponsel milik Sagara, kemudian menarik panel atas hingga beberapa pesan bisa dia lihat.
Di dalam pesan-pesan yang masuk, ada beberapa pesan yang membuat Thea sangat penasaran, yaitu tentang Ayumi yang sepertinya sangat mengenal dirinya, padahal Thea sama sekali tidak mengenal siapa Ayumi. Apa karena Sagara sering menceritakan tentangnya dan hubungan mereka kepada Ayumi? Tapi, apa hak Sagara sehingga dia lancang memberitahukan apa yang seharusnya tidak boleh diberitahukan kepada orang lain tentang Thea.
Thea mengepalkan lengannya dengan kuat. "Lancang banget nih, cowok! Dia pikir dia siapa berani-beraninya bilang Gue manja sama cewek lain! Brengsek!" gumamnya.
Beberapa detik kemudian ponsel miliknya berdering.
(Tante Maia)
Thea menatap layar ponsel miliknya saat ibu mertuanya menelpon. Saat ini sebenarnya Thea tidak ingin diganggu oleh siapapun apalagi yang bersangkutan dengan Sagara. Namun, melihat pesan-pesan dari Tante Maia di ponsel Sagara yang terlihat sangat panik membuat Thea sedikit penasaran. Dengan enggan, akhirnya Thea pun terpaksa mengangkat telpon itu.
"Iya, ada apa ya Tante?"
"Sayang, apa Sagara saat ini ada di samping kamu?"
Thea menatap pintu WC yang masih tertutup rapat.
"Sagara masih ada di kamar mandi, Tante. Ada apa?" tanya Thea dari balik telepon.
"Apa bisa kita ketemu sekarang? ada hal penting yang harus Tante bilang sama kamu."
Ucapan Tante Maia terdengar sangat serius dan panik.
"Boleh Tante, tapi Thea harus ke air dulu. Kita ketemu jam 19.00 wib di cafe Rainbow, gimana Tante?"
"Tante setuju, kalau bisa Sagara harus ikut!"
"Iya Tante, Thea usahakan Sagara ikut."
"Baik sayang, terima kasih, sampai ketemu nanti."
Sambungan telpon pun terputus.
Thea kembali mengerutkan keningnya sambil berpikir keras, apa yang sedang terjadi? Kenapa Tante Maia mau bertemu dadakan padahal tadi dia masih baik-baik saja. Apa ada sesuatu yang terjadi setelah akad tadi? Dan kenapa nadanya terdengar panik?
Ceklek.
Beberapa saat kemudian Sagara keluar dari dalam kamar mandi. Thea yang masih terdiam sontak terkejut saat melihat dada Sagara yang terbuka lebar tanpa busana dan hanya menggunakan handuk setengah badannya.
"Aaaah! Kenapa Lo nggak pake baju?" sentak Thea.
Sagara terdiam sambil melirik tubuhnya sendiri.
Pemuda itu tersenyum tipis sambil mendekat ke arah koper miliknya.
"Aku lupa bawa baju ganti," sahutnya dengan santai.
Thea berdecak. "Kenapa nggak teriak minta Gue ambilin aja? Sengaja ya mau liatin dada Lo ke Gue? Lo mau caper kan!" tudingnya.
Sagara yang tidak terima dituduh sembarangan, hendak membela dirinya sendiri. Namun, dia sadar saat ini sedang berhadapan dengan gadis kecil manja yang taunya hanya bermain bebas.
Sagara menghela nafasnya. "Aku salah, maaf!" ucapnya sambil membawa beberapa pakaian dari dalam koper miliknya.
Beberapa detik kemudian Sagara kembali menggunakan pakaiannya dengan rapi.
"Kamu boleh buka mata, aku udah selesai."
Perlahan-lahan Thea kembali membuka matanya. Suasana seperti ini tidak boleh terus berlanjut. Gadis itu hampir jantungan setiap harinya saat melihat tingkah konyol dari lelaki kolot ini. Bukannya senang, justru Thea merasa jijik jika harus terus menerus satu kamar dengan Sagara.
"Gue mau kita pisah kamar!" ucap Thea.
Sagara yang sedang merapikan beberapa pakaian miliknya mendadak berhenti, lalu menoleh ke arah sang istri.
"Kenapa?"
Thea mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum sinis. "Kenapa Lo bilang? Setiap saat Gue hampir jantungan gara-gara tingkah Lo yang nyeleneh itu! Lo masih tanya kenapa?" sahut Thea dengan nada emosi.
Sagara terdiam sambil mengerutkan keningnya. "Emang saya kenapa?" jawabnya dengan enteng.
Kali ini Thea benar-benar hilang kesabaran saat menghadapi pria kolot tidak tahu diri ini.
Thea berkacak pinggang, lalu mendekat ke arah Sagara. "Pokoknya kita harus pisah kamar karena.."
Kriing ..
Ucapannya belum selesai, karena ponsel Sagara kembali berdering. Dengan cepat Sagara meraih ponsel miliknya, sambil menatap layarnya yang menampilkan nama seseorang.
(Ayumi)
Dengan wajah tegang, Sagara menjauh dari tempat Thea untuk mengangkat telpon dari kekasihnya itu.
Thea berdecih. "Cih, menurut Papa dia cowok bener? Punya selingkuhan gitu dianggap bener!" gumamnya sambil melipat kedua tangannya.
Dari sebrang sana, Sagara terlihat sangat panik setelah menerima telepon dari Ayumi itu. Lalu dengan cepat Sagara menutup panggilan telponnya.
"Aku ada urusan, aku harus pergi! Kamu tidur duluan aja," ucapnya dengan wajah datar.
Thea mengerutkan keningnya, penasaran dengan apa yang terjadi.
"Ada apa? Kenapa Lo keliatan panik?" tanya Thea.
Sagara menoleh ke arah Thea. "Nggak ada apa-apa, masalah kerjaan penting!" kilahnya.
Mendengar jawaban yang tidak memuaskan, membuat Thea merasa jijik kepada laki-laki dihadapannya ini.
Thea menyunggingkan sebelah bibirnya. "Nyokap Lo tadi telpon, katanya dia mau ketemu sama Lo!"
"Kapan dia telpon?"
"Tadi, saat Lo di kamar mandi!" sahut Thea.
Sagara mendekat ke arah Thea sambil mencengkram lengannya dengan kuat.
"Kamu lihat ponsel saya tanpa persetujuan dari saya?" ucap Sagara dengan tatapan garang.
Melihat sikap Sagara yang begitu kasar, membuat Thea merasa ngeri. Ada apa dengan pria ini?
"Lepasin Gue anjing! Lo nyakitin Gue!" sentak Thea yang mencoba melepaskan cengkeramannya dari Sagara.
Sagara menatap wajah Thea dengan tatapan kesal. Namun, dia kembali sadar saat ini bukan waktu yang tepat untuk memberi Thea pelajaran.
"Aku nggak suka ada yang otak-atik ponsel milik saya! Jadi, pastikan kamu tidak menyentuhnya sama sekali!" tegas Sagara sambil melepaskan cengkeramannya.
Thea yang merasa aneh sekaligus takut dengan sikap Sagara langsung menjauh menjaga jarak dari suaminya itu.
Sadar dengan sikap Thea yang terlihat ketakutan, Sagara hendak mendekat untuk meminta maaf. Namun, segera Thea hentikan.
"Maafkan saya, saya cuma.."
"Stop! Menjauh dari Gue atau Gue teriak!" ancam Thea.
Sagara langsung menghentikan langkahnya, tak ingin mencari keributan dihari pertamanya.
Pemuda itu langsung mengambil kunci mobil miliknya. "Aku pergi dulu, maaf untuk tadi!"
Sagara langsung pergi begitu saja meninggalkan Thea sendirian dengan tangannya yang masih terasa nyeri akibat cengkeramannya yang begitu kuat.
"Ada apa sama cowok itu?" gumam Thea.
Melihat sikap kasar Sagara kepadanya barusan, mengingatkan Thea kepada Davin mantannya yang sangat posesif dan juga kasar. Tatapan Sagara dan tingkahnya barusan sangat mirip dengan Davin yang selalu memperlakukannya dengan kasar saat Thea tak menurutinya. Apa mungkin Thea kembali mendapatkan pasangan yang menyeramkan? Setelah dia berhasil putus dengan pria bajingan yang menakutkan, apa kini dia kembali harus menjalani hubungan menakutkan bersama pria bajingan lainnya?
"Apa yang harus Gue lakuin sekarang?"