Mengidap Endometriosis, bagai vonis mimpi buruk bagi wanita mana pun hingga terpaksa melakukan operasi dan proses bayi tabung, namun perceraian justru harus terjadi.
Berjuang sebagai orang tua tunggal dengan kehadiran kedua buah hati yang terlahir fraternal, membuat hari-hari Irene tidak terduga hingga pertemuan tak terduga kembali terjadi dengan Hendrik, menyisakan pertanyaan yang tanpa diketahui ada bahaya mengancam di saat kebenaran mulai terungkap.
Di saat pertemuan dan genggaman tangan itu menarikmu, apa kau akan berbalik untuk bersama atau justru meninggalkan kembali?
Ikuti kisah Irene & Hendrik selanjutnya, tak lupa Xander & Xavia yang menggemaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fidia K.R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persimpangan 5
Kekacauan yang terdengar nyaring. Hentakan kaki yang berlari tak kala kesadaran diri belum terbangun sepenuhnya. Mencoba menerka akan apa yang sebenarnya sedang terjadi, bolehkah berharap lebih pada sesuatu yang belum pasti teraih?
(DHAAKK) (DHAAKK) (DHAAKK) “IRENE KAU DI DALAM?! IRENE JAWAB AKU!”
Entah siapa yang berteriak, tapi jika boleh menerka-nerka, sepertinya suara itu terdengar begitu khawatir. Sedikit demi sedikit kesadaran diri terkumpul, rengkuhan pada sebuah tali rantai yang mengikat erat, sungguh tiada daya untuk melepaskan diri darinya.
“Di-dimana aku? ... Ap-apa yang ....”
(DHAAKK) (DHAAKK) (DHAAKK) “IRENE?? APA ITU KAU??”
“He-Hendrik? ... HENDRIK! INI AKU! AKU ADA DI DA—”
Tersadar akan penampilannya saat ini, Irene bagai mendapat mimpi buruk lainnya tak kala menatap pada hanya kain renda tipis dengan seutas tali yang menutup tubuhnya. Bulu roma yang berdiri karena udara dingin yang berhembus, Irene bahkan melihat dengan jelas daerah kewanitaannya yang saat ini yang hanya berselumit kain segitiga kecil yang memalukan.
“Ti-tidak ... Hendrik tidak boleh melihatku seperti ini!” (CRANGKK) (CRAANGGK) “Kumohon ... terlepaslah!” Irene mencoba menarik kedua tangannya seraya melepaskan ikatan tali rantai yang juga mengikat kedua kakinya, hingga menimbulkan suara keras pada sisi besi ranjang.
Meringkuk, berbalik, kemudian menarik kembali sungguh membuat tenaga Irene terkuras habis tak kala perut dan punggungnya pun terdapat luka lebam yang begitu sangat membiru kehijauan. Bagai menusuk pada setiap relung di tubuhnya, Irene hanya dapat menutupi tubuhnya sebatas kemampuan yang bisa ia lakukan.
(BRRAAKKK) Pintu yang akhirnya terbuka secara paksa.
Derap langkah Hendrik yang lebih cepat dari yang lain, begitu terkejut menatap Irene terbaring dan terikat pada sebuah ranjang dengan hiasan dekorasi aneh di sekitarnya. Menatap tubuh Irene yang terbuka dengan semua luka lebam ditubuhnya, Hendrik segera melepas kemeja yang dikenakannya dengan langsung menutupi tubuh Irene agar tidak ada yang melihatnya.
“Maafkan aku datang terlambat,” ucap Hendrik berbisik sembari membalut, menutupi tubuh Irene dengan kemeja miliknya.
Suara gaduh dan teriakan pun begitu terdengar nyaring tak kala FBI dengan Kapten Jacob yang memimpin misi penyelamatan berakhir memuaskan tak kala kelima pria bertopeng berhasil ditangkap dan kedua kembar yang kini sudah berada dipelukan Bastian dan Giselle.
Ikatan rantai yang mengikat Irene pun terlepas dengan Hendrik yang langsung memeluk erat dan memberikan kecupan tanpa ragu. Tatapan Irene terlihat begitu kosong bagai tak bernyawa namun seketika tersadar tak kala teriakan Xander dan Xavia terdengar begitu memilukan hatinya.
“Kalian tidak apa-apa?” tanya Irene begitu lirih menahan isak tangisnya pada kedua kembar yang mengangguk dan menangis semakin keras dipelukan Irene.
“Maafkan Mommy ...,” lirih Irene yang akhirnya ikut menangis bersama Xander dan Xavia.
Tersadar pada tangan Xander dan juga Xavia yang tiba-tiba menggenggam tangan Hendrik, tanpa ragu Hendrik memeluk mereka yang dapat dengan mudah terangkul karena tubuhnya yang tinggi dan jauh lebih besar. Mengecup kening Xander dan Xavia, Hendrik benar-benar bagai terikat pada kedua kembar hingga tidak dapat lagi melepaskan dirinya.
Menunggu beberapa saat hingga keadaan sedikit membaik, Giselle membantu Irene berganti pakaian dengan Hendrik, Bastian, dan kedua kembar yang menunggu di dalam mobil seraya berbincang dengan Kapten Jacob penuh keseriusan.
“Hendrik, kau tenanglah aku tahu yang ada dipikiranmu saat ini. Aku pastikan membuat mereka membuka mulut dan menangkap Mr. JK untuk kuserahkan padamu,” ucap Jacob tersenyum menyeringai dengan menepuk pundak Hendrik.
“Kemana dia pergi? Kenapa kita selalu terlambat menangkapnya?!” balas Hendrik begitu serius.
“Kelompok Luckert memang tidak bisa dianggap mudah, kau pun tahu itu. Untuk saat ini fokus saja pada anakmu, terlebih istrimu,” balas Jacob seraya menatap pada Giselle yang membantu Irene berjalan karena kakinya yang ikut terkilir dan sedikit bengkak.
Dengan sigap Hendrik menghampiri dan menggendong Irene layaknya seorang ratu dan membawanya masuk ke dalam mobil bersama Xander dan Xavia. Memastikan ketiganya aman, Hendrik duduk dibangku kemudi untuk berkendara secepat mungkin meninggalkan lokasi kejadian.
Sepanjang perjalanan Irene hanya membisu memeluk kedua buah hatinya dengan jarak pandangnya yang kosong. Lagi-lagi terlihat bagai tak bernyawa, kondisi Irene saat ini benar-benar membuat Hendrik hilang akal akan emosi yang memuncak tak terbendung.
“Aku ... tidak ingin memeriksakan diri ke rumah sakit. Jika ... kau bersedia, bisakah membawaku kembali pulang ke rumah?” pinta Irene menatap sendu dari balik kaca spion tengah mobil.
Tanpa berkata Hendrik memutar arah mobilnya dan menghubungi Bastian untuk mengambil barang-barang Irene dan kedua kembar yang masih berada di resort penginapan. Berkendara secepat mungkin, Hendrik justru membawa Irene kembali ke apartmentnya.
“Aku membawa kalian kemari karena khawatir pada kondisi nenek Emma jika tahu kejadian hari ini. Beliau baru keluar dari rumah sakit bukan?” ucap Hendrik seraya meminta pendapat Irene.
“Kau benar, aku tidak terpikir kesana,” balas Irene sayu, sembari menundukkan kepalanya.
“Aku akan menghubungi Collin selepas ini, sekarang kita masuk dulu ke dalam dan beristirahatlah dengan tenang. Aku pastikan kalian akan baik-baik saja,” Hendrik tersenyum lembut menatap Irene dengan Xander dan Xavia yang menganggukkan kepala seraya setuju dengannya.
Kedatangan Bastian dan juga Giselle dari belakang pun turut membantu Hendrik tak kala mereka masing-masing menggendong Xander dan Xavia dengan Hendrik yang kembali memanggul Irene melihat kondisi kakinya yang semakin terlihat membengkak.
Masuk ke dalam apartment dan langsung beristirahat, Irene meminta bantuan Giselle untuk membantunya membersihkan diri di saat Xander dan Xavia sudah terlelap tertidur bersama Hendrik yang menemaninya.
“Ren, luka lebammu semakin melebar ... kakimu juga semakin membengkak, kau yakin tidak mau memeriksakan diri ke rumah sakit?” tanya Giselle sembari membantu Irene membasuh sabun dan shampo yang menempel.
“Sel ... apa menurutmu, mereka ... melakukan itu padaku di saat aku tidak sadarkan diri? Apa ... aku begitu kotor sekarang?” tanya Irene yang tiba-tiba menitikkan air matanya.
“Meski itu terjadi kau tidak kotor! Irene, lihat kau, kau wanita terhebat yang pernah ku kenal. Tidak ada sedikit pun yang cacat darimu ... kau luar biasa dengan semua hal yang menimpamu,” balas Giselle sembari terus membasuh busa ditubuh Irene.
“Kau tidak lihat? Tubuhku penuh luka lebam bahkan aku hampir tidak dapat bergerak. Secara tidak langsung aku berada di apartment milik keluarga Kessler ... apa kau tidak merasa di sini bukanlah tempatku? Tidak seharusnya aku di sini,” Irene menghapus air matanya, menatap Giselle yang terlihat kebingungan untuk membalas perkataannya.
Memilih untuk diam, Giselle bergerak secepat mungkin melihat kondisi Irene yang semakin terlihat lemas. Dengan terbalut hanya sebuah jubah mandi (bathrobe), Giselle kembali memanggil Hendrik untuk menggendong Irene agar dapat berbaring di atas tempat tidur.
“Aku akan membantu merapikan barang-barang bawaan Irene dan kedua kembar dulu sebelum pulang,” ucap Giselle seraya bermaksud meninggalkan Hendrik dan Irene untuk berbincang.
“Aku sudah menghubungi Collin barusan, karena sudah malam dan tidak mungkin meninggalkan nenek Emma seorang diri dengan Colie, dia berkata akan kemari besok hari,” ucap Hendrik seraya terlihat sibuk membuka bungkus obat dan alat kompres.
“Te-terima kasih,” balas Irene merasa canggung.
Hendrik berdiri dan kembali membuka pintu untuk keluar serta terdengar beberapa kali memanggil nama Giselle namun tidak ada jawaban darinya. Hendrik kembali masuk ke dalam kamar dan kembali terduduk di samping Irene seraya menatapnya lembut.
“Luka lebammu harus di obati jika tidak ingin bertambah parah, Giselle ternyata sudah pulang diantarkan oleh Bastian,” ucap Hendrik dengan terus menatap pada Irene.
“Ke-kemarikan saja obatnya ... biar aku sendiri yang mengoles—”
“Bangun dan duduklah, baru aku akan memberikan obat ini padamu,” perintah Hendrik tegas.
Menatap pada Hendrik yang terlihat begitu serius, Irene kembali menggerakkan tubuhnya untuk menyamping dan terduduk seperti yang diperintahkan Hendrik. Namun apalah daya dengan luka lebam pada bagian perut dan punggungnya, sungguh bagai tertusuk pisau tajam, Irene seketika kehilangan tenaganya dengan kembali terbaring begitu tak berdaya.
“Masih berkata bisa sendiri? Untuk mengangkat tangan saja susah, kenapa kau begitu keras kepala? Apa kau pikir aku akan menyerangmu?!” lanjut Hendrik berucap kesal.
“Bu-bukan itu ... hanya saja aku merasa tidak nyaman berada di sini, terlebih ... berduaan denganmu,” balas Irene dengan sedikit tertunduk malu tertutup bantal.
Melihat sikap Irene, Hendrik seketika bangun dari tempat duduknya dan berjalan memutar beberapa kali dengan mencoba mengatur nafasnya. Irene yang menatap begitu kebingunan, sungguh tidak mengerti akan Hendrik yang mencoba menahan dirinya saat ini.
Mencoba meraih obat yang berada di sampingnya, tanpa sadar Irene hampir terjatuh hingga membuat Hendrik melakukan gerakan refleks dengan langsung memeluk Irene yang kala ini hanya memakai dalaman wanita dibalik bathrobe yang ia kenakan dan hampir terbuka sepenuhnya.
Hendrik menatap bagai terpesona pada lekukan yang sudah lama tidak ia lihat, hingga tanpa sadar wajah Irene begitu memerah menahan malu di saat dirinya terlihat pasrah sedikit pun tidak bisa melakukan perlawanan karena tubuhnya merasa begitu kesakitan.
Satu anak domba, dua anak domba, tiga anak domba, empat anak domba ... gumam Hendrik dalam hati dan pikirannya mencoba untuk menahan diri dan mengalihkan pikiran, di saat kedua tangannya merapikan bathrobe Irene dan memperbaiki kembali posisi tidurnya.
“Te-terima kasih ... maaf,” ucap Irene dengan begitu malunya, namun meringis terlihat begitu menahan sakit pada tubuhnya.
“Kenapa kau tidak ingin aku membawamu untuk memeriksakan diri ke rumah sakit?”
“Karena aku tidak mau berhutang budi lebih banyak lagi padamu. Kau begitu sangat membantuku beberapa hari ini bahkan kejadian hari ini pun kau me—”
“Tidak bisakah kita memulai semua dari awal?”
“Aa-apa yang ....”
“Aku bilang, aku ingin memulai denganmu dari awal. Meski Xander dan Xavia bukan anakku, kau bisa melihat kesungguhan niat hatiku jika mau memberikan kesempatan itu. Jadi Irene, bagaimana menurutmu?”
Perkataan yang entah seharusnya terucap sejak kapan. Keadaan yang juga sudah jauh sangat berbeda seiring berjalannya waktu. Setiap kejadian yang terjadi akan kenangan indah atau buruk, jika kau memberikan pertanyaan itu, haruskah menolak atau menerima kembali?