NovelToon NovelToon
Lentera Di Balik Luka

Lentera Di Balik Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Sambil tetap mendekap Lintang yang masih terisak, Jati merogoh ponselnya dengan satu tangan.

Matanya menatap tajam ke arah pintu, memancarkan kedinginan yang mematikan.

Ia segera menghubungi Baskara, pengacara pribadinya yang paling andal.

"Baskara, percepat proses perceraianku dengan Mila. Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, masukkan gugatan itu besok pagi. Dan satu hal lagi, pastikan dia tidak mendapatkan sepeser pun dari asetku. Gunakan semua bukti foto dan video perselingkuhannya dengan Andre. Buat dia keluar dari pernikahan ini tanpa membawa apa-apa selain pakaian yang dia kenakan," tegas Jati dengan suara rendah namun penuh penekanan.

Di seberang telepon, Baskara menjawab dengan sigap, "Baik, Pak Jati. Semua bukti sudah saya susun rapi. Dengan bukti perselingkuhan yang begitu kuat, dia tidak akan punya posisi tawar di pengadilan."

Setelah mematikan telepon, Jati mengecup puncak kepala Lintang.

"Tenanglah, Lintang. Semua akan segera selesai. Dia tidak akan pernah bisa mengusik kita lagi."

Sementara itu, di depan lobi rumah sakit, suasana jauh dari kata tenang bagi Mila.

Supir taksi yang sejak tadi mengikutinya mulai kehilangan kesabaran.

Ia turun dari mobil dan berdiri di depan pintu masuk, mencari-cari sosok wanita yang tadi berjanji hanya sebentar.

Mila keluar dari lift dengan langkah gontai dan wajah yang semrawut karena amarah dan malu setelah diusir paksa oleh pengawal Jati.

"Mbak! Bayar dulu taksinya! Sudah hampir satu jam saya menunggu, argo terus jalan!" seru supir taksi itu sambil menghadang jalan Mila.

Mila tersentak, ia merogoh tasnya dengan kasar. Wajahnya memerah saat menyadari sesuatu.

Ia tidak punya uang tunai yang cukup, dan kartu kredit yang biasanya ia gunakan sudah diblokir oleh Jati sejak tadi sore.

"Sabar, Pak! Saya cari dulu!" bentak Mila, menutupi kepanikannya.

"Cari apa lagi, Mbak? Dari tadi di taksi sudah gaya-gayaan suruh ikuti mobil mewah, sekarang bayar saja susah! Jangan sampai saya panggil satpam ya!" ancam sang supir.

Mila menelan salivanya saat melihat dirinya sendiri yang sekarang tidak bisa membayar taksi

Beberapa menit lalu ia merasa sebagai nyonya besar yang sedang melabrak pelakor, namun kini ia hanyalah seorang wanita yang bahkan tidak mampu membayar ongkos taksi di depan umum.

Mila berdiri mematung di pinggir jalan, menahan malu luar biasa karena teriakan sopir taksi yang mulai menarik perhatian orang-orang di depan lobi rumah sakit.

Dengan tangan gemetar, ia merogoh ponselnya dan menghubungi Andre.

Hanya pria itu satu-satunya harapan yang ia miliki sekarang.

"Andre, jemput aku di rumah sakit. Cepat! Aku tidak bawa uang tunai dan kartuku diblokir!" isak Mila, suaranya parau antara amarah dan putus asa.

Tak lama kemudian, mobil lama Andre berhenti di depan lobi. Andre turun dengan wajah yang tidak sesemangat biasanya.

Ia segera membayar ongkos taksi Mila, meski sempat menggerutu saat melihat angka di argo.

"Sudah kubilang, jangan cari gara-gara dulu dengan Jati," ucap Andre sambil menarik lengan Mila masuk ke mobil.

"Ayo pulang. rumahku memang kecil, tapi setidaknya kamu tidak diusir satpam di sana."

Mila hanya diam membisu sepanjang jalan, matanya menatap tajam ke luar jendela.

Hatinya penuh dengan dendam yang semakin membara.

Sementara itu, di dalam ketenangan kamar VVIP, suasana sudah jauh lebih kondusif.

Jati masih duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Lintang yang kini sudah mulai berhenti gemetar.

Ia baru saja selesai memberikan segelas air hangat untuk menenangkan wanita itu.

"Sudah lebih baik?" tanya Jati lembut, suaranya sangat kontras dengan nada bicaranya saat menghadapi Mila tadi.

Lintang mengangguk pelan, meski matanya

masih sedikit sembap.

"Maafkan saya, Mas. Gara-gara saya, hubungan Mas dengan Mbak Mila jadi semakin hancur. Saya merasa jadi orang ketiga di sini."

Jati menggeleng tegas. Ia membawa tangan Lintang ke pipinya.

"Dengar, Lintang. Hubunganku dengan dia sudah hancur jauh sebelum aku mengenalmu. Dia yang menghancurkannya sendiri dengan pengkhianatannya. Kamu bukan orang ketiga, kamu adalah orang yang menyelamatkanku dari reruntuhan itu."

Jati kemudian meraih buket bunga kecil yang tadi ia bawa dan meletakkannya di pangkuan Lintang.

"Besok, aku akan membawa pengacara ke sini. Aku ingin kamu menandatangani beberapa dokumen perlindungan hukum. Aku tidak ingin kejadian tadi terulang. Kamu harus punya status yang kuat di sampingku."

Lintang menatap bunga-bunga segar itu, lalu beralih menatap Jati.

"Mas sangat baik kepada saya. Saya berjanji, setelah kaki saya sembuh, saya akan merawat Mas Jati lebih baik lagi. Saya ingin melihat Mas berjalan tanpa rasa sakit sedikit pun."

Jati tersenyum, sebuah senyuman yang penuh harapan.

"Kita akan berjalan bersama, Lintang. Bukan hanya aku yang sembuh, tapi kita berdua akan memulai hidup baru yang lebih sehat."

Suasana di kamar yang hening itu mendadak terasa lebih elektrik.

Saat Jati mencondongkan tubuh untuk membetulkan letak bantal di belakang punggung Lintang, jarak di antara mereka terkikis habis.

Aroma minyak kayu putih yang menenangkan dari tubuh Lintang bercampur dengan parfum maskulin Jati yang elegan.

Tepat saat itu, Jati mematung. Sesuatu yang sudah sangat lama dianggapnya "mati" tiba-tiba memberikan tanda kehidupan yang mengejutkan.

Sebuah getaran hangat, seperti sengatan listrik kecil namun bertenaga, merambat di bagian tubuh bawahnya yang selama ini lumpuh.

Itu bukan sekadar refleks saraf biasa; itu adalah reaksi alami seorang pria terhadap wanita yang dicintainya.

Lintang yang berada sangat dekat bisa merasakan perubahan napas Jati yang tiba-tiba memberat.

Ia menatap wajah Jati yang tampak sedikit tegang namun matanya berkilat penuh arti.

"Ada apa, Mas? Apa ada bagian yang sakit lagi?" tanya Lintang dengan polos, tangannya secara refleks menyentuh lengan Jati yang kokoh.

Jati tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung rahasia sekaligus rasa syukur yang luar biasa.

Ia menatap Lintang dengan tatapan intens yang membuat pipi wanita itu bersemu merah.

"Bukan sakit, Lintang. Justru sebaliknya," bisik Jati, suaranya terdengar lebih dalam dan serak.

"Sesuatu yang selama ini tidur, sepertinya mulai bangun karena kehadiranmu."

Lintang terdiam sejenak, mencerna maksud perkataan Jati.

Begitu ia menyadari apa yang dimaksud Jati—bahwa pengobatannya dan kehadirannya mulai memulihkan vitalitas pria itu—Lintang menunduk malu, namun hatinya dipenuhi kelegaan yang tak terkira.

Ia mengusap punggung tangan Jati dengan lembut, seolah memberikan janji.

"Sabar ya, Mas. Tunggu saya benar-benar sembuh dan pulih. Saya janji akan mengurus Mas sepenuhnya. Tidak akan ada lagi rasa sakit, hanya ada kenyamanan."

Jati terkekeh pelan, merasa sangat beruntung. "Aku sudah menunggu bertahun-tahun, Lintang. Menunggu beberapa minggu lagi sampai kamu sehat bukanlah masalah besar bagiku. Yang terpenting sekarang adalah kamu, bukan kesembuhanku."

Di tengah kemewahan fasilitas rumah sakit itu, keduanya saling berbagi janji tanpa kata.

Bagi Jati, getaran itu adalah bukti bahwa Lintang bukan hanya penyembuh sarafnya, tapi juga pembangkit gairah hidupnya yang sempat padam.

1
tiara
sabar papa Jati demi si buah hati 🤭🤭🤭
tiara
selamat pa Jati dan Lintang atas kehamilan Lintang sehat selalu bumil
my name is pho: 🥰🥰 terima kasih kak
total 1 replies
tiara
nikmatilah hasilnya Mila, menyesal pun sudah tiada arti semua orang meninggalkanmu termasuk pacarmu
tiara
ceriitanya menarik tidak terlalu menguras emosi
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
tiara
rasain kamu Mila gatau diri sih, masih syukur dikasih uang masih aja kurang
Dessy Lisberita
bukan emas tpi logam mas kawinya
tiara
lanjuut thor
Dessy Lisberita
kenapa masih nungu unk membuang baju kotor
Dessy Lisberita
semoga normal kembali kejantanan jati
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sweat/ "dramanya pasti akan semakin intens"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Hey/ "cowok sejati emang harus berani untuk bertanggungjawab"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Scare/ "tanda-tandanya nih..."
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Cry/ "sebagai cowok kami faham seberapa sakit kamu sebenarnya Wak huhuhu"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Puke/ "udahlah hubungan kayak gini mendingan gak usah dipertahanin"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Shame/ "aku dibuat tak bisa berkata-kata"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Panic/ "buta matanya sampai gak sadar"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Angry/ "ini kembarannya Jule kah?"
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
tiara
bagus tinggalkan saja baju kotormu karena sudah tidak bisa dipakai lagi
tiara
mampir thor mulau membaca ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!