lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 20
Pagi itu, mobil mereka melintasi gerbang Sektor Tujuh untuk terakhir kalinya sebagai pemimpin. Tidak ada spanduk pelepasan, hanya lambaian tangan dari Pak RT dan aroma kopi yang mulai menyerbak dari kios-kios kecil di sepanjang jalan. Saat mencapai perbatasan kota, Mira merasakan beban di pundaknya benar-benar luruh, digantikan oleh rasa kantuk yang menyenangkan—sebuah kemewahan yang jarang ia miliki selama bertahun-tahun.
Sesampainya di bukit Bogor, suasana jauh lebih sunyi. Hanya ada suara angin yang menyisir pucuk-pucuk pohon kopi dan gonggongan anjing penjaga kebun yang menyambut mereka. Namun, saat Mira melangkah masuk ke teras rumah kayu, ia menemukan sebuah kotak kayu kecil yang tergeletak di depan pintu.
"Lagi?" tanya Romano sambil mengernyitkan dahi. Ia sudah bersiap untuk kemungkinan adanya ancaman baru.
Mira membuka kotak itu. Di dalamnya tidak ada dokumen atau ancaman, melainkan sebuah jurnal tua milik ayahnya yang selama ini ia kira telah hilang saat penggeledahan gudang Nusantara. Di halaman pertamanya, terdapat catatan kecil yang ditulis dengan tangan yang gemetar:
“Untuk Mira. Sektor Tujuh hanyalah awal. Di halaman terakhir, aku menuliskan koordinat tempat ibumu sebenarnya ingin kita hari tua nanti. Bukan di Bogor, tapi di pesisir Timur, di mana air laut dan daratan bertemu tanpa sekat korporasi.”
Mira membalik halaman jurnal itu hingga ke bagian paling belakang. Di sana terdapat sketsa sebuah mercusuar tua dan sebidang tanah pesisir yang luas.
"Ayah ingin kita terus bergerak?" gumam Mira, menatap Romano.
Romano mengambil jurnal itu, mempelajarinya sejenak, lalu tersenyum tipis. "Kurasa ini bukan perintah untuk bekerja lagi, Mira. Ini adalah undangan untuk benar-benar menghilang. Di sana, tidak ada sinyal satelit, tidak ada bursa saham, dan tidak ada yang mengenal nama Kusuma atau Rahayu."
Mira menatap kebun kopinya yang mulai berbuah, lalu menatap jalan setapak yang menuju ke arah Timur. Ia menyadari bahwa hidupnya selama ini adalah tentang membangun benteng untuk melindungi orang lain. Kini, untuk pertama kalinya, ia memiliki kesempatan untuk membangun ruang hanya untuk dirinya sendiri dan pria yang telah menemaninya melewati neraka.
"Kita akan mengurus panen ini dulu," kata Mira mantap. "Setelah itu, kita serahkan kunci kebun ini pada koperasi Sektor Tujuh sebagai tempat peristirahatan warga. Dan kita... kita akan mencari mercusuar itu."
Romano merangkul bahu Mira, mereka berdiri bersama menghadap lembah yang mulai berkabut. "Ke pesisir?"
"Ke pesisir," jawab Mira.
Beberapa bulan kemudian, sebuah jip tua yang sarat dengan perlengkapan berkebun dan buku-buku terlihat melaju perlahan meninggalkan perbukitan Bogor, menuju ke arah di mana matahari terbit. Di Sektor Tujuh, nama mereka mulai menjadi legenda yang diceritakan di kedai-kedai kopi, namun sosok aslinya telah menyatu dengan debu jalanan dan asinnya udara laut.
Mereka telah menyelesaikan bab tentang kekuasaan, dan kini mereka mulai menulis bab tentang ketenangan. Kali ini, tidak ada satu orang pun di dunia yang memegang naskahnya, kecuali mereka berdua.
Pesisir Timur menyambut mereka dengan suara ombak yang menderu, jauh dari hiruk-pikuk Jakarta yang penuh dengan intrik baja. Mercusuar tua itu berdiri tegak di atas tebing karang, cat putihnya sudah mengelupas dimakan garam dan waktu, namun fondasinya masih sekokoh karang di bawahnya.
Mira melangkah turun dari jip, kakinya langsung tenggelam di pasir putih yang lembut. Ia menghirup udara dalam-dalam; tidak ada bau knalpot, tidak ada bau limbah kimia. Hanya aroma laut yang murni dan tajam.
"Tempat ini... tidak ada dalam peta digital," ucap Romano, berjalan di sampingnya sambil membawa tas berisi perbekalan. Ia memeriksa ponselnya; sinyal benar-benar mati. Sesuatu yang bagi mantan CEO biasanya berarti bencana, kini terasa seperti kemerdekaan.
Mereka menaiki tangga spiral mercusuar yang berderit. Di puncaknya, mereka menemukan sebuah ruangan melingkar dengan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke samudera lepas. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kayu tua dengan sebuah teleskop kuningan dan sebuah botol kaca berisi surat.
Mira membuka botol itu. Isinya adalah tulisan tangan ibunya, Rahayu, namun dengan nada yang jauh lebih lembut daripada dokumen proyek yang pernah ia temukan.
“Mira, jika kau sampai di sini, artinya kau sudah lelah menjadi pahlawan. Mercusuar ini tidak dibangun untuk mengawasi musuh, tapi untuk menuntun mereka yang tersesat kembali ke diri sendiri. Laut di depanmu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dimiliki atau dimodifikasi oleh manusia. Hiduplah di sini, bukan sebagai Alpha, tapi sebagai ombak.”
Mira tersenyum kecil, matanya berkaca-kaca. Ia menoleh ke arah Romano yang sedang mencoba menyalakan lampu mercusuar yang sudah lama padam.
"Kau tahu, Romano," kata Mira pelan. "Semua orang di Sektor Tujuh berpikir kita sedang merencanakan sesuatu yang besar dari sini. Mereka pikir kita sedang membangun kekuatan baru untuk menjaga mereka."
Romano berhasil memutar tuas lama, dan perlahan, cahaya kuning redup mulai menyinari lensa raksasa mercusuar itu. Ia berdiri di samping Mira, menatap garis cakrawala yang tak berujung.
"Biarkan mereka berpikir begitu," sahut Romano. "Ketakutan musuh kita adalah perlindungan bagi mereka. Selama dunia mengira sang ratu dan rajanya masih mengawasi dari suatu tempat di Timur, tidak akan ada yang berani menyentuh Sektor Tujuh."
Mira menyandarkan kepalanya di bahu Romano. Cahaya mercusuar itu mulai berputar, menyapu permukaan laut dalam ritme yang teratur.
Di bawah, di kaki tebing, terdapat sebuah pondok kecil dengan kebun sayur yang mulai tumbuh subur di tanah pesisir yang menantang. Tidak ada lagi rencana pengembangan, tidak ada lagi sabotase korporat. Di sini, musuh mereka hanyalah badai musiman dan pasang surut air laut—hal-hal yang jauh lebih jujur untuk dihadapi.
"Apa kau menyesal, Romano? Kehilangan segalanya untuk berakhir di mercusuar tua di antah berantah?"
Romano mengeratkan rangkulannya, mengecup kening Mira dengan lembut. "Aku tidak kehilangan segalanya, Mira. Aku hanya membuang sampah untuk mendapatkan ruang bagi hal yang paling berharga."
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, cahaya mercusuar itu tidak hanya berfungsi sebagai navigasi bagi kapal-kapal di tengah laut, tapi sebagai tanda bahwa di sebuah sudut dunia yang tersembunyi, dua jiwa yang pernah hancur telah benar-benar menemukan kedamaian.
Kehidupan di mercusuar ternyata memiliki ritmenya sendiri. Bukan lagi tentang detik jam dinding yang mengejar tenggat waktu, melainkan tentang pasang surut yang menentukan kapan Mira bisa mencari kerang di sela karang, atau kapan Romano harus memperkuat ikatan atap pondok mereka sebelum badai musiman datang.
Suatu sore, saat Mira sedang membersihkan lensa kristal mercusuar, ia melihat sebuah perahu kayu kecil mendekat ke dermaga batu alami di bawah tebing. Tidak ada mesin, hanya seorang nelayan tua yang mendayung dengan tenang.
Mira turun untuk menyambutnya. Nelayan itu tidak membawa pesan ancaman atau dokumen hukum. Ia hanya menyerahkan sebuah keranjang anyaman berisi ikan segar dan sebuah radio panggil tua yang sudah dimodifikasi.
"Ada seseorang di frekuensi 7.5 yang terus memanggil setiap malam Jumat," ujar nelayan itu dalam bahasa lokal yang kental. "Dia tidak menyebut nama, hanya kode: Anggrek Hitam. Dia bilang, jika saya bertemu dengan penjaga mercusuar, tolong beritahukan frekuensi ini."
Mira tertegun. Anggrek Hitam adalah nama sandi yang hanya diketahui oleh ibunya dan satu orang kepercayaan di masa lalu: Hasan. Namun Hasan sudah lama tiada.
Malam itu, dengan rasa penasaran yang kembali terusik, Mira dan Romano duduk di depan radio panggil tersebut. Suara statis memenuhi ruangan sebelum akhirnya sebuah suara parau, jauh, dan penuh gangguan muncul.
"Alpha... apakah kau mendengar? Ini bukan Hasan. Ini adalah sisa-sisa dari mereka yang kau bebaskan."
Mira melirik Romano. Romano mencoba menstabilkan sinyalnya. "Siapa ini?"
"Kami adalah tim peneliti independen yang kau tinggalkan di bawah Sektor Tujuh. Kami menemukan sesuatu di lapisan tanah yang lebih dalam, Mira. Di bawah mata air itu... ada struktur yang bukan buatan manusia. Sesuatu yang dicari ayah Romano dan ibumu selama ini, namun mereka tidak pernah mencapainya karena mereka terlalu fokus pada genetika."
Mira merasakan getaran dingin di punggungnya. "Tutup radionya, Romano. Kita sudah selesai dengan urusan bawah tanah."
"Tunggu!" suara di radio itu mendesak. "Kami tidak ingin membangkitkan proyek lama. Kami hanya ingin memberitahumu bahwa struktur itu mulai bereaksi terhadap 'penawar' yang kau sebar. Air di Sektor Tujuh... air itu mulai berubah. Warga tidak menjadi sakit, tapi mereka mulai... mengingat. Ingatan kolektif tentang sejarah yang bahkan tidak pernah mereka alami."
Romano menatap Mira, tangannya masih di atas tombol pemutus arus. "Ini bisa jadi jebakan, atau ini bisa jadi efek samping yang tidak terduga dari penularan genetik."
Mira berjalan menuju jendela, menatap hamparan laut yang hitam pekat. Ia teringat kata-kata terakhir ibunya tentang "menuntun mereka yang tersesat". Apakah ibunya tahu tentang struktur ini? Apakah Sektor Tujuh dibangun di sana karena alasan yang jauh lebih purba daripada sekadar penggusuran tanah?
"Jangan jawab mereka," ucap Mira akhirnya. "Jika air itu membuat mereka mengingat, biarkan mereka mengingat sejarah mereka sendiri. Kita tidak akan kembali menjadi pengawas."
"Tapi jika ingatan itu berbahaya, Mira?" Romano bertanya pelan.
"Maka mereka harus belajar mengatasinya sebagai manusia bebas, bukan sebagai subjek eksperimen kita," Mira mematikan lampu mercusuar, membiarkan ruangan itu tenggelam dalam kegelapan yang tenang. "Dunia tidak butuh dewa untuk menyelamatkan mereka dari ingatan mereka sendiri."
Mira menyadari bahwa meskipun ia ingin menghilang, benang merah antara dirinya dan Sektor Tujuh tidak akan pernah benar-benar putus. Namun, ia memilih untuk menjadi saksi bisu, seorang penjaga di kejauhan yang tidak lagi mencampuri takdir.
Di kejauhan, laut tetap menderu, menyimpan rahasia-rahasia yang lebih dalam dari yang bisa digali oleh keserakahan manusia. Mira memejamkan mata, membiarkan suara ombak menghapus sisa-sisa suara dari radio tadi, memilih kedamaian di atas rasa ingin tahu yang mematikan.