Dentang waktu yang terus berputar, menyisakan kesunyian di gelap malam. Deru nafas yang memburu buatnya lupa akan kelamnya dunia.
Sunyi bukan sepi yang melanda, luka bukan duka yang datang. Un All Neat Each Time !
...
Derap langkah kaki di sudut kasino.
"Hei bung!, serahkan dia padaku, i'm sure you quiet". Sarkasnya
"Oh,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maulidiyahdiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Jas Merah
Benar apa kata Bumi, kalau ternyata indah tak selamanya indah.
“Kamu cukup hebat bisa melawan petinju kelas atas seperti dia”. Ucap Si Jas merah diiringi tepuk tangan. Aku menatapnya nyalang sembari menyugar rambutku yang telah basah oleh darah dan keringat. Kepalaku juga terasa nyeri, penglihatan pun sudah kian memburam. Tidak, tidak akan mampu jika aku bertarung lagi.
“Benarkah!”. Aku menimpalinya sembari beranjak berdiri, dan kusentuh pelipisku. “Darah”. Batinku sedikit terkejut. Pria jas merah itu memasukkan kedua tangannya ke saku celananya seraya berjalan mendekat kepadaku, aku diam tak berkutik melihatnya sebab dari cara pandangnya tampaknya ia berpengalaman.
“Kamu cerdas tapi sayang...”. Pria Si Jas Merah itu menggantungkan ucapannya sebelum akhirnya ia memutariku.
“..You are not my partner”. Lanjutnya diiringi pistol AR-73 berwarna silver menempel didahiku. Spontan aku terkekeh, meski jantungku sudah berdegup tak karuan, jangan tanyakan aku lelah atau tidak, justru ini terlampau seru.
“what if i become your partner”. Ucapku dengan suara yang sudah serak akibat dahaga yang menyerang, sontak Si Jas Merah tertawa lepas. “Seriously”. Gumamnya yang terdengar olehku.
‘BUGH’
Kutendang pria jas merah itu tepat di area sensitifnya, kemudian aku berlari, naasnya tidak ada tempat lagi bagiku, aku panik namun berusaha untuk tenang melihat Si Jas Merah yang masih mengejarku, aku mengambil tabung kebakaran dan melemparnya ke arahnya.
Tanpa ada unsur kesengajaan aku memasuki laboratorium disana, kusapu pandangan ke seluruh sudut, ada satu benda yang cukup menarik perhatianku. “Night Shade Flowers”. Batinku, kuambil semua bunga Night Shade disana, dan lagi-lagi aku berlari menyelinap ke ruangan lain, kini aku berada di ruang Dewan Perencanaan Masa Depan. Satu kata yang pantas untuk ruangan itu, yakni sepi, tak ada satu orang pun disana, hanya menyisakan setelan jas American Style.
***
Aku melangkah melewati lorong-lorong sunyi di dalam gedung putih keluarga Walter, lima menit kemudian aku sudah sampai di lobby gedung tersebut. Seluruh pasang mata menatapku heran, tapi entahlah heran atau dendam atau apapun aku tidak peduli, mungkin pikir mereka aku sedikit gila, karena aku mengenakan setelan jas di ruangan tadi dengan darah yang masih tampak segar.
“Stop!”. Sentak suara anak kecil dari belakangku, spontan aku berhenti dari langkahku dan memutar tubuh seratus delapan puluh derajat. Tampak seorang gadis kecil dengan surai pirang yang dikuncir dua.
“Dia menggemaskan dengan mata emeraldnya”. Batinku, aku menatapnya secara intens, aku menimang mungkin ia berumur lima tahun.
“Siapa kamu?”. Gadis kecil itu bertanya dengan tatapan nyalang kepadaku. “Ouh, siapa yang mengajarinya menatap seperti itu?, dasar bocah”. Batinku kesal.
“Ouh, aku karyawan disini”. Tiba-tiba gadis kecil itu menangis kencang, sial, aku panik tak karuan, bagaimana cara menenangkannya, mataku mengerling menatap sekeliling lobby, aih, disini seolah-olah aku akan menculik anak kecil.
“Hey, don’t cry kids”. Aku beralih jongkok menyamakan dengan tinggi gadis kecil itu, kemudian aku memeluknya.
‘DOR’
Aku terperanjat bukan main, sontak aku mengurai pelukanku dari gadis kecil itu, untung saja pelurunya tidak mengenai kami. Entah peluru itu melesat dimana, aku bersiap mengeluarkan pistol yang kudapatkan tadi.
“Esvalun come here with me”. Suara yang menggema disana sangat tidak asing di telingaku.
“Don't want to, you evil psychopath”. Tiba-tiba gadis kecil tersebut menimpali.
“Esvalun”. Batinku, apa mungkin itu nama gadis kecil ini, tak berselang lama tampak dari kejauhan Si Jas Merah mendekat.
“Kakak, kakak tolong aku, dia jahat”. Dia semakin terisak seraya menunjuk Si Jas Merah yang kian mendekat.
“Esvalun kamu adalah anakku, ayo kenbali kepada ayah, kakak itu jahat”. Ucap Si Jas Merah seraya merentangkan tangannya, gadis kecil tersebut yang kuketahui namanya Esvalun tengah mengusap air matanya kasar.
“Dieter Walter you are not my father...”. Esvalun menggantungkan ucapannya, aku hanya bisa menyimak. “Dia ternyata Dieter Walter”. Monologku.
“Esval...”. Belum usai Dieter melontarkan apa yang akan dia katakan, dengan cepat Esvalun menyekat perkataannya.
“You are a pedophile”. Lanjut Esvalun, aku membulatkan mata tak percaya.
“Bajingan!”. Aku jelas marah, bisa-bisanyaia melakukan tindakan tidak bermoral semacam itu, inilah kenyataan yang sangat dari angan-angan.
Kemudian aku menggendong Esvalun serta membawanya berlari keluar dari gedung tersebut, jelas Dieter juga marah, ia mengejarku dan Esvalun. “Sorry”. Gumam Esvalun yang terdengar jelas di telingaku, aku hanya tersenyum. Lagi-lagi aku melakukan aksi tembak-menembak, gila, aku sudah bertarung berapa kali hari ini, lama aku berusaha membunuh Dieter dengan menembaknya dari jauh, .
kemudian Dieter berlari sangat kencang sembari membuang pistolnya di sembarang tempat.
“Sial, pelurunya habis”. Pikirku panik.
Dieter mengeluarkan pisau, melihatnya mampu membuatku menghela nafas pasrah, kerap kali ada suatu hal mengapa harus pisau yang digunakan?. Dieter mengarahkan pisau kepada Esvalun.
“Shit”. Umpatku seraya menangkap tangan Dieter yang memegang pisau, hampir saja pisau itu mengenai jantung Esvalun. Karena rasa geram yang sudah memuncak aku membanting tubuh Dieter dengan satu tangan sebab satu tangan lain masih menggendong Esvalun.
“Wow, perfect”. Celetuk esvalun tiba-tiba diiringi tepuk tangan, aku menatap heran Esvalun, ia hanya cengengesan menatapku. Dasar bocah.
“Bangsat”. Umpat Dieter.
‘BUGH’
“Kamu tidak pantas untuk tetap hidup”. Aku menyumpal mulut Dieter dengan Bunga Night Shade yang kudapat dari laboratoriumnya.
“Selamat menikmati”. Tekanku.
***
Aku terdiam menatap Esvalun yang tengah menyantap makanan di restaurant terbesar di Kota Munchen, dalam diam itu aku teringat akan pembicaraanku dengan Dieter di saat terakhirnya.
“Jaga dia baik-baik”. Bisik Dieter, aku melongo masih tak percaya bahwa aku mendengar Dieter mengucapkan perkataan seperti itu, berarti ada orang dibalik Dieter, siapakah itu?.
Saat Dieter sudah terlentang tak berdaya, ia mengatakan sesuatu dengan sisa tenaganya.
“Three, three, seven, four, five”. Ucapnya tiba-tiba, aku masih tak faham dengan maksudnya mengatakan lima digit angka itu, aku juga masih was-was, takut ini hanya akal-akalnnya saja.
“Kamu tidak cukup jika mencari di aku”. Imbuhnya, aku terkekeh sebab sesuai dugaanku bahwa ada orang dibalik Dieter.
“I want you to kill me”. Itu adalah perkataan terakhir yang diucapkan Dieter sebelum aku menyumpal mulutnya dengan Bunga Night Shade. Nyatanya dunia itu jahat pada makhluk-makhluk yang sukar untuk menyudahi keburukannya, kalau dunia bisa sekejam itu lalu bagaimana dengan orangnya?.
“Kakak”. Mendengar esvalun memanggilku buyar sudah lamunanku.
“Apa kakak bisa membantuku bertemu orang tuaku?”. Mendengar pertanyaannya saja mampu membuat seolah pita suaraku putus.
“Please.., kakak”. Mohonnya dengan puppy eyes, sial, dia anak yang lucu, apalagi wajahnya dominan Ukraina.
Lama aku tidak menjawab, aku bingung harus bagaimana, sejujurnya besok aku akan melakukan penerbangan menuju Jakarta pada pukul enam pagi waktu Jerman.
“Esval!!”. Suara teriakan yang entah darimana, kedua netraku mengerling mencari sosok yang mencari Esvalun.
Siapa Esvalun sebenarnya?, apa aku bisa mencari sesuatu darinya?.