NovelToon NovelToon
Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: BURONAN

Malam itu, Nivalen berubah menjadi sarang lebah yang terusik.

Dari kejauhan, Aldric dan Elara bisa mendengar suara alarm—lonceng perunggu di menara istana dipukul berulang-ulang, memanggil seluruh penjaga untuk siaga. Kilatan obor mulai bermunculan di sepanjang tembok kota, menyebar ke segala arah seperti kunang-kunang raksasa.

Mereka berlari tanpa henti.

Elara tersandung beberapa kali—gaun putihnya yang indah kini robek dan kotor, sepatunya hampir lepas. Aldric menggenggam tangannya erat, membantunya bangkit setiap kali jatuh, memaksanya terus bergerak.

"Sebentar... sebentar lagi..." bisiknya, napas terengah.

Kota bawah—daerah kumuh di pinggiran Nivalen—masih jauh. Tapi mereka tidak punya pilihan. Istana sudah tidak aman, jalan utama pasti dijaga, dan rumah Mira adalah satu-satunya tempat berlindung.

Mereka melewati lorong-lorong belakang yang gelap, melompati pagar-pagar rendah, menyelinap di antara tumpukan sampah. Aldric memimpin dengan naluri—ingatan masa kecilnya tentang rute-rute rahasia mulai kembali.

Dari belakang, teriakan mulai terdengar.

"Di sana! Ada dua bayangan!"

"Kejar!"

Aldric menggerutu. Mereka sudah terlihat. Ia menarik Elara lebih cepat—terlalu cepat. Elara menjerit pelan saat kakinya terkilir.

"Aku... aku tidak bisa..." isaknya.

Aldric berhenti. Ia melihat sekeliling—gang buntu, tumpukan peti kayu, dan selokan kecil yang mengalirkan air kotor ke sungai di bawah kota.

Tanpa pikir panjang, ia membuka tutup selokan itu.

"Masuk."

"Apa? Itu—"

"MASUK!"

Elara menurut. Ia merangkak masuk ke lubang gelap yang bau. Aldric mengikutinya, menarik tutup selokan kembali ke tempatnya tepat saat bayangan-bayangan pengejar muncul di ujung gang.

Mereka diam di dalam selokan—gelap, pengap, bau menyengat. Tubuh Elara gemetar di sampingnya. Aldric memeluknya erat, menutup mulutnya sendiri agar napas tidak terdengar.

Langkah kaki di atas. Suara-suara.

"Ke mana mereka?"

"Entah. Mungkin lari ke arah sungai."

"Cari! Perintah Raja Darius—hidup atau mati, hadiahnya dua kali lipat!"

Raja Darius. Gelar baru untuk kakak tirinya. Aldric mengepalkan tangan.

Langkah kaki menjauh. Setelah beberapa menit, semuanya sunyi.

"Kita harus keluar," bisik Aldric. "Bau ini bisa membuat kita pingsan."

Mereka merangkak keluar, tubuh penuh lumpur dan kotoran. Elara terbatuk-batuk, tapi ia masih kuat. Aldric membantunya berdiri.

"Kau bisa jalan?"

"Aku... aku coba."

Dengan kaki terkilir, Elara berjalan pincang. Aldric menopangnya, hampir menggendong. Mereka melanjutkan perjalanan—lebih lambat, lebih hati-hati.

Fajar mulai menyingsing saat mereka tiba di rumah Mira.

Gubuk reyot itu tampak seperti oase di tengah gurun kotor. Aldric mengetuk pintu dengan kode—tiga cepat, dua lambat.

Pintu terbuka. Mira berdiri di sana, wajahnya pucat cemas. Begitu melihat kondisi mereka, ia langsung menarik keduanya masuk, menutup pintu rapat.

"Dewa-dewa..." bisiknya, matanya membelalak melihat Elara. "Nyonya Elara? Kau—kau selamat?"

Elara mengangguk lemah. Mira segera membantunya duduk di kursi, mengambil kain basah untuk membersihkan wajahnya.

"Aldric..." Suara serak dari sudut ruangan.

Sir Kaelan mencoba bangkit dari dipannya. Matanya berkaca-kaca melihat Elara—wanita yang dulu ia kenal sebagai menantu raja, kini compang-camping dan terluka.

"Kau berhasil," bisiknya. "Kau menyelamatkannya."

Aldric berjalan mendekat, berlutut di samping gurunya. "Dengan bantuanmu, Kan."

Sir Kaelan tersenyum—lemah, tapi tulus. Lalu matanya beralih ke Elara. "Nona... maafkan aku. Aku gagal melindungi suamimu malam itu."

Elara menggeleng, air mata mengalir. "Bukan salahmu, Sir Kaelan. Kita semua korban."

Mira sibuk membersihkan luka-luka Aldric—luka tusuk, luka cakar, luka bakar. Beberapa sudah mulai menutup berkat regenerasinya, tapi beberapa masih menganga.

"Kau butuh istirahat," katanya. "Dan makanan. Kalian berdua."

Tapi istirahat tidak datang.

Dari luar, suara gaduh mulai terdengar—derap kaki puluhan orang, teriakan perintah, gonggongan anjing pelacak.

Mira berlari ke jendela, mengintip lewat celah tirai. Wajahnya berubah pucat.

"Mereka mulai menyisir kota bawah," bisiknya. "Anjing pelacak. Mereka akan menemukan kita."

Aldric bangkit, meskipun tubuhnya terasa berat. "Kita harus pergi."

"Ke mana?" Suara baru—lemah, kecil—datang dari balik tirai pembatas.

Sera keluar dengan Ren di gendongannya. Wajahnya lelah, tapi matanya waspada. "Kau kembali," katanya pada Aldric. "Dan kau bawa..."

"Ini Elara." Aldric memperkenalkan. "Sera dan Ren—mereka juga korban dunia bawah."

Elara dan Sera saling pandang. Dua wanita dengan nasib berbeda, tapi sama-sama terluka oleh kekejaman dunia.

Ren meronta, turun dari gendongan ibunya. Anak kecil itu berlari ke arah Aldric, memeluk kakinya.

"Om!" serunya. "Om pergi lama! Ren kangen!"

Aldric tertegun. Ia menunduk, menatap anak kecil yang memeluknya erat. Lalu perlahan, ia mengulurkan tangan, mengusap rambut Ren.

"Aku kembali," katanya lirih. "Maaf... membuatmu cemas."

Elara menyaksikan adegan itu dengan mata berkaca-kaca. Siapa pria ini? Pangeran yang dulu ia kenal, yang sekarang memeluk anak orang asing dengan lembut.

Dari luar, suara anjing semakin dekat.

Mira berbisik panik, "Mereka akan sampai dalam hitungan menit."

Sir Kaelan mencoba duduk, meskipun kesakitan. "Ada terowongan di bawah lantai dapur. Bekas tempat persembunyian penyelundup. Kalian bisa—"

"Kau tidak bisa ikut, Kan." Aldric memotong. "Lukamu—"

"Aku tahu." Sir Kaelan tersenyum pasrah. "Aku hanya akan memberatkan. Tapi kalian harus selamat. Bawa mereka."

"Aku tidak akan meninggalkanmu."

"Aldric." Suara Sir Kaelan keras—nada komando yang dulu selalu membuat Aldric menurut. "Dengarkan aku. Kau harus hidup. Kau harus menjaga mereka. Aku sudah tua, lukaku parah. Ini jalan terbaik."

Aldric ingin membantah, tapi Mira meraih lengannya.

"Dia benar," katanya. "Aku akan tinggal bersamanya. Menjaga, merawat. Kalian harus pergi."

Elara bangkit, menghampiri Aldric. "Mereka benar. Tapi... kita akan kembali, kan? Suatu hari?"

Aldric menatap Sir Kaelan, lalu Mira, lalu Sera dan Ren. Beban di pundaknya terasa berat—begitu berat.

Tapi ia mengangguk. "Aku janji. Akan kembali."

Sir Kaelan tersenyum. "Bagus. Sekarang pergi, sebelum terlambat."

Mira membuka papan lantai di dapur, memperlihatkan lubang gelap dengan tangga kayu. "Terowongan ini menuju sungai bawah tanah. Ikuti arus, kalian akan sampai di luar kota. Aku sudah siapkan perbekalan di dalam—makanan, air, pakaian kering."

Aldric menatap Mira. "Terima kasih untuk semuanya."

"Jangan berterima kasih." Mira memeluknya singkat. "Bawa mereka selamat. Itu ucapan terima kasih terbaik."

Sera turun lebih dulu dengan Ren. Elara menyusul, meskipun kakinya sakit. Aldric terakhir—ia berhenti sejenak di tepi lubang, menatap Sir Kaelan.

"Kan... aku akan membanggakanmu."

Sir Kaelan tersenyum—senyum terakhir yang akan Aldric ingat selamanya. "Kau sudah membanggakanku, Nak. Sekarang pergi."

Aldric turun ke dalam gelap.

Mereka merangkak di terowongan sempit selama berjam-jam. Gelap, lembab, bau lumpur. Ren menangis beberapa kali, tapi Sera berhasil menenangkannya. Elara berjalan pincang di belakang Aldric, tidak pernah mengeluh.

Akhirnya, cahaya mulai terlihat di ujung.

Sungai bawah tanah—aliran deras yang menuju ke luar kota. Di tepian, Mira sudah menyiapkan perahu kecil—hanya cukup untuk empat orang.

"Kau bisa bawa perahu?" tanya Aldric pada Sera.

"Aku bisa." Sera mengangguk. "Aku anak nelayan."

Mereka naik ke perahu. Aldric mendayung dengan dayung kayu seadanya, Sera membantu mengarahkan. Arus membawa mereka cepat—melewati kegelapan, melewati bebatuan, melewati riam-riam kecil.

Ren tertidur di pangkuan ibunya. Elara duduk diam, menatap Aldric dengan pandangan tak terucap.

Akhirnya, setelah berjam-jam, mereka keluar dari gua. Langit terbuka di atas—sore hari, matahari mulai condong ke barat. Hutan lebat di sekeliling, sungai berkelok tenang.

Mereka selamat. Untuk sementara.

Perahu mendarat di tepian berpasir. Mereka turun, kaki menginjak tanah padat. Elara terhuyung, hampir jatuh—Aldric menangkapnya.

"Kau harus istirahat," katanya. "Kakimu—"

"Aku baik-baik saja." Tapi napasnya tersengal, wajahnya pucat.

Sera mengamati sekeliling. "Kita perlu tempat berlindung sebelum malam. Hutan ini penuh binatang buas."

Aldric mengangguk. Ia menatap Elara, lalu Sera, lalu Ren. Empat orang—dua dewasa, satu anak, satu terluka. Beban besar.

Tapi ia tidak sendiri lagi.

"Ayo," katanya. "Kita cari tempat aman."

Mereka berjalan masuk ke hutan, meninggalkan sungai di belakang. Di kejauhan, suara anjing pelacak masih terdengar—tapi semakin lama semakin samar.

Untuk saat ini, kita aman.

Di istana Nivalen, Darius mengamuk.

Ia membanting vas bunga, merobek tirai, meneriaki para pelayan yang tidak bersalah. Wajahnya bengkak—bekas pukulan Aldric—tapi bukan fisik yang membuatnya marah. Tapi harga diri. Harga dirinya diinjak-injak.

"KALIAN SEMUA BODOH!" raungnya. "DUA ORANG—SEORANG WANITA DAN SETENGAH IBLIS—KALIAN TIDAK BISA MENANGKAP MEREKA?"

Para komandan penjaga berlutut, gemetar. Tidak ada yang berani menjawab.

Dari bayang-bayang, dua sosok berjubah hitam melangkah maju—dua anggota Shadow Council yang selamat. Yang satu angkat bicara, suaranya dingin.

"Kau terlalu emosional, Darius. Itu kelemahan."

"KELEMAHAN?" Darius menatap mereka dengan mata merah. "Istriku—calon istriku—diculik di depan mataku! Adikku—yang seharusnya mati—hidup dan mempermalukanku!"

"Dia akan mati. Cepat atau lambat."

"Bagaimana? Kalian lihat sendiri kekuatannya! Dia membunuh dua orang kalian!"

"Dia beruntung. Lain kali, kita akan lebih siap." Sosok itu melangkah mendekat. "Tapi untuk sekarang, tingkatkan hadiahnya. Sebarkan kabar ke seluruh kerajaan—barang siapa menangkap Aldric Veynheart hidup atau mati, akan mendapat sepuluh ribu koin emas dan gelar bangsawan."

Darius terdiam. Sepuluh ribu koin—jumlah yang tak terbayangkan. Seluruh kerajaan akan memburunya.

"Dan untuk Elara..." Sosok itu tersenyum di balik topeng. "Katakan bahwa ia juga buronan. Bahwa ia berkhianat pada kerajaan. Dengan begitu, tidak ada tempat baginya bersembunyi. Semua pintu akan tertutup."

Darius perlahan tersenyum—senyum kejam, penuh dendam.

"Bagus. Lakukan itu."

Di luar jendela, matahari mulai terbenam. Malam kedua pengejaran akan segera dimulai.

Dan di hutan lebat di luar kota, empat buronan bersiap menghadapi malam yang panjang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!