NovelToon NovelToon
Luka Rembulan

Luka Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Keluarga / Kutukan
Popularitas:347
Nilai: 5
Nama Author: Yikkii

Chandra Baswara lahir pada malam yang indah di bawah cahaya rembulan, tetapi kebahagiaan itu retak sejak awal ketika ayahnya menolak dirinya hanya karena tanda lahir besar di wajahnya. Sejak kecil Chandra tumbuh dengan kasih sayang ibunya, namun dunia di sekitarnya tidak selalu sebaik itu. Tatapan aneh, bisikan, dan ejekan membuatnya terbiasa menyendiri dan perlahan menutup hatinya dari orang lain. Baginya, hidup sendiri terasa lebih aman daripada harus kembali merasakan penolakan. Namun semuanya mulai berubah ketika seseorang hadir tanpa memandang kekurangannya, sementara sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan keluarganya perlahan terungkap. Di tengah luka, penerimaan, dan pencarian jati diri, Chandra harus belajar memahami bahwa manusia tidak selalu sekejam yang ia bayangkan, dan bahwa nilai dirinya jauh lebih besar daripada apa yang terlihat di wajahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB X—RENCANA PART 1

Hidup Chandra terus berjalan hari demi hari, kini Chandra telah berada di awal kelas 11, kini umurnya juga mencapai tujuh belas tahun. Dia masih tak memiliki teman satu pun bahkan dia sendiri masih menutup pintu besinya kepada orang sekitarnya. Chandra sebenarnya merasa ingin menerima orang sekitarnya akan tetapi bayangan gelap dari masa lalunya selalu menjadi rantai untuk pintu besinya dengan rekat dan kuat. Meskipun pintunya belum terbuka, ia selalu mengikuti alur hidupnya dengan tulus hanya karena seseorang yang ia cintai yaitu Mandira, sang Ibu.

Seperti hari-hari biasanya Chandra dan Baskara berangkat ke sekolah bersama. Pagi itu terasa sungguh cerah seakan sang surya menunjukkan kehebatannya untuk kepada seluruh makhluk hidup, kepada manusia yang berlari-lari kecil di jalanan, burung-burung yang berkicau dan berterbangan di mana mana dan tumbuhan pun tak luput berfotosistesis seakan semua makhluk hidup di bumi menikmati kegagahan sang surya pagi itu.

Berbeda dengan Baskara yang pagi ini serasa lesu tanpa semangat. Semangatnya bertolak belakang dengan suasana pagi hari ini. Sekarang Chandra dan Baskara berada di halaman sekolah, mereka berdua melangkahkan kaki beriringan untuk menuju kelas. Namun Chandra paham ekspresi kakaknya tak seperti hari-hari biasanya.

Tak tinggal diam Chandra langsung menanyakannya “Hei…Kenapa kog mukamu kaya orang kebelet buang air besar gini.” Tanyanya dengan lirikan mata sinis.

Ekspresi baskara beralih melas dan memperlambat langkah kakinya “Mas di suruh kuliah” Jawabnya langsung ke inti namun tak dapat di pahami.

Chandra juga memperlambat langkahnya menyesuaikan langkah kakaknya.

“Terus?” Tanya Chandra.

“Mereka ngotot biar Mas kuliah ke Luar Negeri ambil beasiswa yang di tawarkan dari sekolah” Lirihnya dengan wajah yang semakin memelas.

“Terus?” Tanya Chandra lagi.

“Pertanyaanmu ga ada yang lain? Monoton banget kayak ai, bahkan lebih kompleks pertanyaan ai daripada pertanyaanmu itu” Ungkapnya dengan kedua alis yang hampir menempel.

“Mas harus bagaimana ya Chand?” Suaranya agak meninggi “Kalo mas ambil beasiswa itu, kamu bagaimana?.”

“Aku? Kalo menurutku ambil saja, keren loh dapet kesempatan kuliah di luar negeri, beasiswa lagi justru hal itu menjadi suatu kebanggaan” Tutur Chandra uyntuk menyakinkan kakaknya.

Baskara semakin memperlambat langkah kakinya dengan tatapan kosong, ia merasa hatinya hangat mendapat pujian dari adiknya, tapi maksud dari pertanyaannya tadi bukan untuk mendapatkan pujian sang adik.

Langkahnya tiba-tiba terhenti, “Kamu yakin?.”

“Iyalah kesempatan epic tak dapat datang dua kali bahkan kesempatan kaya gitu ga mungkin datang ke aku, makanya Tuhan kasih buat mas buat mewakili aku haha…” Candanya dengan tawa pendek dan kaku.

Cahaya kecil menyala di dalam hati Baskara, senyumannya kembali muncul, kemudian ia mengalungkan tangannya ke leher Chandra dan menggosok kepalanya dengan kepalan tangan “Hal itu bakal datang ke kamu tahu, cuma belum waktunya saja.”

Mereka telah memasuki ruangan kelas masing-masing, kini Baskara tak merasa bimbang lagi dengan keputusannya, hanya satu tujuan di benaknya saat ini yaitu membuat pintu besi adiknya terbuka sebelum ia berangkat ke luar negeri. Tentu ia merencanakan sesuatu.

Hari telah berlalu jam pelajaranpun telah usai, hanya anak-anak yang mengikuti kegiatan tambahan yang hanya berada di sekolah. Begitu pula dengan Baskara yang selalu menghadiri ekstrakulikuler rutinannya, bukan karena dia ketua dari ekskul tersebut namun karena memang ia menyukai kegiatannya. Dapat terlihat bahwa Baskara ialah type anak yang jika sudah menyukai hal atau kegiatan tersebut maka ia akan mendalaminya sedalam mungkin. Tujuannya hadir bukan sekedar menghadiri dan melakukan kegiatannya, Baskara memiliki tujuan lain untuk rencananya.

Setelah ekstra selesai, Baskara menghampiri ke arah Arka yang sedang mengemasi barang ke dalam tas. Arka menjadi anggota dari ekstra tersebut. Tanpa basa-basi ia langsung memulai rencananya.

“Kamu teman sekelas adikku kan?” Tanyanya dengan tegas “Yang dulu pernah minta nomornya kan?”

Arka terkejut parah, merasa tak menyangka senior yang dia kagumi selama ini menghampirinya bahkan bertanya kepadanya.

Dengan kata-kata yang terputus-putus ia menjawab “I…iya kak…ke…kenapa ya”

“Kalau ga salah namamu Arka Si Kaya kan?” Tanya Baskara lagi.

Arka mengangkat bahunya dengan muka kaget ternyata seniornya mengetahui namanya.

“Iya kak…Tapi tolong hapus julukan si kaya itu, yang kaya itu ayah saya, bukan saya sendiri.” Jawab Arka menjelaskan.

“Ah…Aku ga peduli dengan hal itu…Aku manggil kaya gitu cuma karena anak-anak yang sering membicarakan tentang kekayaanmu jadi aku cuma mengikuti alurnya saja, tapi aku bicara denganmu bukan karena hal itu, tapi tentang adikku” Ungkap Baskara sambil menggaruk kepala belakangnya walaupun tak terasa gatal.

Arka mengangguk pelan dan menelan ludah atas perkataan Baskara lalu ia bertanya “Iya kak kenapa dengan si Chandra?”

“Kamu menganggapnya sebagai apa?.”

Tangan Arka sempat terangkat, lalu berhenti di udara “Teman sekelas kak” Jawabnya ragu.

“Sebatas itu ya?.”

Arka menatap kearah bawah seakan dia bimbang atas jawabanya “Saya sendiri gak tahu kak.”

“Mengapa?”

Arka menempatkan diri duduk di tundakan ruangan sebelum menjawab dan Baskara mengikuti duduk di sebelahnya.

“Saya rasa Chandra sendiri selalu memasang jarak kepada saya. Selama kelas 10 sebelumnya saya selalu mengajaknya bicara ini itu, tapi ia jarang menjawab jika pun menjawab maka hanya sebatas sekata dua kata, saya sendiri tertarik berteman dengannya dari pada dengan anak-anak yang lain, entah mengapa seperti hal itu seakan merasakan sesuatu yang menarik dalam dirinya.”

“Semakin saya mendekatinya maka dia akan semakin pula menambah jaraknya, saya sendiri sungguh bingung mengapa dirinya bersikap seperti itu, saya paham mungkin sikapnya seperti itu karena suatu hal yang tak kuketahui.”

Baskara menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menumpuk kaki kanannya di atas kaki kiri sambil mendengarkan pernyataan Arka tentang Chandra “Jadi intinya kamu ingin berteman dengannya kan?.”

Sontak sorot mata Arka menuju kearah Baskara dengan cepat “ Sekian panjang perkataan saya mengapa kakak malah menyimpulkan seperti itu?.”

Posisi Baskara tetap sama, tanpa menghadap ke arah Arka dia menunjukkan wibawanya “Jangan terlalu formal aku merasa risi.”

“Iya kak maaf”

“Namun dari apa yang kamu katakan tadi, menurutku pribadi memang itu kesimpulannya.”

Arka diam tak menjawab, ia tak menyangkal kesimpulan dari Baskara, mungkin karena itulah perasaan sebenarnya, Arka ingin berteman dengan Chandra.

“Mengapa kamu ingin berteman dengan adikku?.”

“Menurutku Chandra itu aneh, mereka di sekolah bahkan di luar sekolah selalu memandangku sebagai anak orang kaya yang gemilang harta sampai mereka menyanjung, menjilat bahkan membenci karena iri atas kehidupanku” Ungkap Arka.

“Namun berbeda dengan Chandra, saat semua orang mencoba untuk berbicara denganku untuk menjilat ia hanya berdiam di bangkunya melihat ke jendela luar, bahkan saat pertama kali aku mengajaknya bicara ia seperti tak menghiraukanku, tapi anehnya aku tak merasa ia membenciku akan tetapi ia tak memandangku sebagai orang yang perlu dijilat seperti yang dilakukan anak-anak lain.” Lanjut Arka sambil menyatukan jari jemarinya menjadi satu.

Baskara merespon dan menggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri “Memang seperti itulah Chandra, tetapi perkataanmu tidak seratus persen benar.”

“Kenapa?”

“Aku tahu kehidupannya Chandra, hanya aku yang selalu di sampingnya sejak ia kecil aku tahu semuanya tentang dia kecuali isi kepalanya, jika memang kamu memang berniat menjadi temannya, aku akan memberi tahumu mengapa dia memberi jarak padamu” Ujar Baskara dengan nada tenang.

1
Roar22
jarang banget sih genre kayak gini, semangat-semangat aja thor/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!