Di SMA Bhakti Nusantara, dua nama selalu jadi pembicaraan—Reina dan Kenzo. Reina adalah ketua OSIS yang disiplin, teliti, dan selalu mengutamakan aturan. Sedangkan Kenzo adalah kapten tim sepak bola sekolah yang populer, tapi sering mengabaikan peraturan dan membuat masalah.
Mereka saling membenci sejak awal tahun ajaran, ketika Kenzo sengaja merusak dekorasi acara pembukaan yang sudah Reina susun dengan teliti. Sejak itu, setiap pertemuan mereka selalu berujung pada argumen dan perselisihan. Reina menganggap Kenzo sombong dan tidak bertanggung jawab, sementara Kenzo menyebut Reina pelit dan terlalu serius.
Namun, takdir membawa mereka bersama ketika sekolah mengadakan program "Pasangan Tugas" untuk lomba ilmiah tingkat nasional. Mereka terpaksa bekerja sama, dan perlahan-lahan menemukan sisi lain satu sama lain. Reina melihat bahwa Kenzo sebenarnya memiliki hati yang baik dan selalu siap membantu teman, sedangkan Kenzo menyadari bahwa ketegasan Reina datang dari rasa peduli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian Digital dan Kejar-kejaran Maut
Balapan Maut: Kenzo harus melakukan aksi mengemudi nekat di jalanan malam untuk menghindari pengejar yang ingin merebut flashdisk merah tersebut. Sementara itu, Reina harus memutuskan: Haruskah ia langsung mengunggah bukti itu ke internet, atau menyimpannya untuk persidangan?
Ban mobil berdecit tajam saat Kenzo membanting setir ke arah gang sempit di kawasan pemukiman padat. Cahaya lampu dari mobil hitam di belakang mereka menyapu spion, berkali-kali mencoba memojokkan mobil operasional yang dikemudikan Kenzo. Di dalam kabin, bau asap dari baju mereka bercampur dengan aroma kepanikan yang menyesakkan.
Jalanan Kota – Pukul 23.15 WIB
"Ken! Mereka semakin dekat!" teriak Reina sembari memeluk laptopnya kuat-kuat. Guncangan keras terjadi saat mobil pengejar kembali menabrak bumper belakang mereka.
Kenzo menggeram, tangannya mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih. "Pegang laptopnya tetap stabil, Rein! Jangan biarkan koneksinya terputus! Apa kamu bisa upload filenya sekarang?"
Reina mencoba mengetik di atas pangkuannya yang bergoyang hebat. "Sinyalnya buruk, Ken! File audio ini terlalu besar untuk dikirim lewat email dalam kondisi begini. Aku butuh waktu setidaknya tiga menit untuk upload ke cloud atau live streaming!"
"Aku bakal kasih kamu tiga menit," desis Kenzo. Ia melihat sebuah area konstruksi di depan. Tanpa ragu, Kenzo memacu mobil masuk ke area jalan yang masih berupa tanah dan kerikil. Debu mengepul hebat, menghalangi pandangan pengejar di belakang.
Pertaruhan di Balik Layar
Reina menatap bilah kemajuan (progress bar) di layar laptopnya. 15%... 22%... Rasanya waktu berjalan melambat secara menyiksa. Di belakang mereka, mobil hitam itu berhasil menembus debu dan kini berada tepat di samping mereka, mencoba mendorong Kenzo ke arah deretan beton pembatas jalan.
"Dua menit lagi, Ken!" suara Reina serak.
"Jangan lihat ke belakang! Fokus ke layarmu!" Kenzo sengaja menginjak rem mendadak, membuat mobil pengejar melesat melampaui mereka, lalu ia membanting setir berputar balik 180 derajat—sebuah manuver gila yang membuat lutut kirinya berdenyut kesakitan luar biasa.
Reina terlempar ke arah pintu, namun ia tetap mendekap laptopnya. 65%... 80%...
"Satu menit lagi!"
Tiba-tiba, jalan di depan mereka buntu. Sebuah gerbang proyek yang terkunci rapat menutup akses keluar. Mobil pengejar tadi sudah berbalik arah dan kini memblokade satu-satunya jalan keluar mereka. Dua orang pria berbadan besar turun dari mobil hitam itu, salah satunya memegang tongkat besi.
Konfrontasi di Ujung Jalan
Kenzo mematikan mesin. Suasana mendadak sunyi, hanya terdengar suara napas mereka yang memburu dan detak jantung yang liar.
"Selesai," bisik Reina. Tangannya gemetar saat melihat tulisan Upload Complete dan Video Published di layar. "Aku sudah kirim ke server anonim dan menautkannya ke semua akun media sosial pengawas pendidikan dan jurnalis independen yang aku kenal."
Kenzo membuka pintu mobil, melangkah keluar dengan sisa-sisa kekuatannya. Ia berdiri di depan kap mobil, menghalangi pandangan pria-pria itu ke arah Reina. "Kalian terlambat," ujar Kenzo dengan senyum miring yang penuh ejekan. "Kebenarannya sudah terbang ke seluruh dunia."
Salah satu pria itu meludah ke tanah. "Ambil laptopnya. Hancurkan mereka berdua."
Tepat saat pria itu mengangkat tongkat besinya, puluhan sorot lampu mendadak muncul dari arah gerbang proyek. Suara sirine polisi bukan lagi sayup-sayup, melainkan menggelegar memenuhi area tersebut. Ternyata, Aris tidak hanya membantu mereka lari; ia telah menghubungi pihak berwajib menggunakan ponsel rahasia miliknya dan membagikan lokasi GPS mobil ibunya.
Ibu Aris dan Pak Baskoro mungkin mengira mereka bisa membakar bukti fisik, namun mereka meremehkan kekuatan jejak digital yang dibuat oleh Reina. Malam itu, video percakapan mereka menjadi viral di seluruh platform nasional dengan tagar #SaveGarudaHigh.
Namun, saat polisi sedang memborgol para pengejar, Kenzo jatuh berlutut. Perban di lututnya kini basah oleh darah yang merembes hebat akibat manuver mengemudi tadi.
Reina berlari memeluknya. "Ken! Bertahanlah! Ambulans sudah di sini!"
"Kita... kita menang, kan?" tanya Kenzo, suaranya mulai melemah.
Reina mengangguk kuat-kuat sambil menangis. "Kita menang, Ken. Sekolah kita aman."
Tapi kemenangan itu terasa pahit saat Reina melihat seorang pria asing dengan setelan jas hitam berdiri di kejauhan, mengamati mereka melalui teropong. Pria itu bukan orang suruhan Ibu Aris, melainkan perwakilan dari Dewan Yayasan Pusat yang selama ini lebih misterius.
"Lapor," ucap pria itu ke dalam alat komunikasinya. "Target telah berhasil mengamankan bukti. Proyek 'Pembersihan' tahap satu gagal. Aktifkan rencana cadangan: Operasi Pertukaran Pelajar."
Sekolah memang tidak jadi digusur, tapi sebagai hukuman atas "kegaduhan" yang terjadi, Yayasan Pusat memutuskan untuk memisahkan Reina dan Kenzo melalui program pertukaran pelajar paksa ke luar kota. Bisakah hubungan mereka bertahan dari jarak jauh?