Penting untuk dibaca calon reader sebagai gambaran : Bahwa novel fiksi ini dilatar belakangi kasus kriminal berat. jadi kandungan di dalam nya berisi 40% konflik tegang, 30% romantis dan 30% komedi. Jadi mohon bijak untuk menanggapi. salam sehat selalu dari Author
Hai, Kamu. Ya Kamu yang pernah tersakiti, dicampakkan, dikhianati, didzolimi, dan dibuang seperti barang tanpa arti.
Jangan takut, kamu tidak sendirian.
Aku juga merasakan hal yang sama.
Kamu sedih? Sama, akupun sedih.
Kamu kecewa? Terlebih lagi aku.
Kamu dendam? Apalagi aku.
Kita berhadapan dengan musuh yang sama walaupun dengan jalan cerita yang berbeda.
Aku butuh kasusmu dan kamu butuh perlindunganku. Untuk menghadapinya lebih baik kita bersatu.
(with Love, Ferdian)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novianti Maura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Dengan kecepatan di level rendah, Ferdian melajukan mobilnya membelah jalan raya yang sangat padat dengan laju kendaraan tersendat.
Diliriknya Lusi yang sedang terpekur menatapi ponsel di genggaman. Ferdian pun tersenyum sekilas.
Cantik, pujinya dalam hati.
Rambut hitam lurus Lusi tergerai di bahu membingkai wajah gadis itu yang masih tampak segar merona walaupun hari sudah menjelang senja.
Lusi menggigit bibir bawahnya dan tetap berkonsentrasi pada apa yang dia baca pada layar ponselnya.
Ferdian kembali menoleh pada gadis itu. “Kebiasaan banget sih gigit-gigit bibir, bikin gemes aja,” gumamnya pelan. sebenarnya untuk dirinya sendiri namun sepertinya Lusi mendengar walaupun tak jelas.
“Apa, mas?” tanya Lusi.
“Nggak. Gemes aja liat jalanan macet begini,” dusta Ferdian. Jelas saja dia malu jika Lusi tahu apa yang dia pikirkan sebenarnya.
“Hmm, Lusi. Kita makan diluar aja yuk. Aku udah keburu laper,” ajak Ferdian kemudian.
Perutnya memang terasa sudah meronta-ronta sejak keluar dari kantornya tadi. Lusi pun mengangguk setuju.
“Kamu mau makan dimana?” tanya Ferdian lagi.
“Dimana aja Mas, asal berdua___.” Lusi spontan membekap bibirnya sendiri.
Namun Ferdian kadung mendengar ucapannya yang polos. Lalu tertawa. Wajah Lusi pun kian merona karena malu.
“Ya udah, kita ke restoran seafood aja yuk. Kamu gak alergi seafood, kan?” tanya Ferdian lagi memutarkan arah mobil memasuki parkiran sebuah pusat perbelanjaan yang sangat megah.
“Gak sih, Mas, aku alergi cuma sama orang jelek,” canda Lusi menyungging senyum jenaka.
Ferdian kembali tertawa geli. Lucu juga ini anak, pikirnya.
Tak lama, tiba di depan lobi, Ferdian meminta bantuan Valley Parking untuk memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah disediakan secara khusus.
Keduanya memasuki kawasan perniagaan yang terbilang megah itu menuju restoran seafood yang biasa Ferdian kunjungi.
Lusi mengikuti langkahnya dari belakang. Ferdian menoleh dan langsung meraih tangan Lusi kemudian menggandengnya erat.
“Jangan jauh-jauh, ntar di culik orang,” seloroh Ferdian sambil melingkarkan tangan Lusi pada lengannya.
Lusi hanya tersenyum kecil. Seketika hatinya berdegub kencang mendapat perlakukan manis itu. Begitupun yang dirasakan Ferdian. Jantungnya berdebar-debar ketika Lusi merapatkan bahu pada lengannya.
“Selamat sore. Selamat datang, Pak. Untuk berapa orang?” Seorang resepsionis restorant menyambut mereka ramah ketika keduanya sudah sampai di depan pintu masuk sebuah restorant seafood yang berinterior sangat elegant.
“Berdua aja. Pilihkan tempat yang privasi ya,” pinta Ferdian.
“Baik, mari saya antar,” ucap resepsionis itu mempersilahkan. Keduanya mengikuti dari belakang.
“Silahkan, Pak.” Resepsionis itu menunjuk sebuah meja di sudut ruangan dengan sofanya yang unik berbentuk setengah lingkaran.
"Silahkan, ini menunya.” Resepsionis itu memberikan dua buah album menu pada Ferdian dan Lusi. Sejenak keduanya membacanya lalu memilih beberapa menu yang disuka.
“Baik, ditunggu kurang lebih sepuluh menit ya Pak, permisi.” Resepsionis itu berlalu setelah mencatat menu yang dipesan.
Lusi mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mewah itu. Bola matanya berbinar kagum memperhatikan setiap ornamen cantik di beberapa bagiannya.
Ferdian menatap wajah Lusi yang tampak menggemaskan baginya. Ferdian suka sekali memperhatikan bulu mata lusi yang lentik membingkai bola matanya yang bening.
Lusi sadar Ferdian tengah menatapnya. Dia menunduk dan pura-pura membuka layar ponselnya.
“Apa sih liat-liat?” Lusi salah tingkah dalam tunduknya.
Ferdian tersenyum manis sambil menggigit bibirnya gemas karena melihat Lusi yang tampak kikuk duduk di sisinya.
“Kamu cantik,” ucap Ferdian berbisik di telinga Lusi.
Gadis itu mencium aroma pepermint yang menyegarkan dari nafas Ferdian.
Duh, suka sekali wanginya, bisik bathin Lusi menggelitik hati.
“Malu. Orang-orang ngeliatin kita, Mas.” Lusi mendorong manja dada Ferdian yang menempel di bahunya.
Ferdian menoleh ke arah kanan kirinya. Tampak ada beberapa wanita di meja lain tengah tersenyum-senyum memandang ke arahnya sambil berbisik-bisik.
“Biarin aja. Mereka iri kayaknya,” sahut Ferdian santai lalu membetulkan posisi duduknya.
Tak lama hidangan mereka pun datang diantar oleh dua orang pelayan.
Sejenak Ferdian memejamkan matanya dan membaca doa sebelum makan kemudian menyantap makanannya dengan santai. Begitupun dengan Lusi yang mulai menyantap makanannya dengan khusuk.
“Gimana? Enak?” tanya Ferdian menoleh pada Lusi yang tampak menikmati hidangannya.
Jempolnya mengusap lembut sudut bibir Lusi, menghapus sisa saus yang menempel.
Lusi mengangguk. “Enak banget. Mas sering ke sini?” tanya Lusi.
Jemarinya sibuk mengambil daging Lobster dari pinggan besar di hadapannya.
“Kadang-kadang sih, kalo lagi bosen masakan Mbak Ira,” jawab Ferdian lalu meneguk air mineralnya sesaat.
“ Hai, Ferdian....”
Tiba-tiba seseorang bersuara bariton muncul di hadapan mereka. Tentu saja mengganggu acara makan keduanya.
Spontan Ferdian menoleh ke asal suara.
Degh...
Jantung Ferdian seolah terhenti sesaat kala mendapati seorang pria yang sangat dia kenal berdiri di hadapannya dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Ivan. Pria yang dua tahun lalu dia pergoki sedang bergumul panas di ranjang hotel bersama Amanda, mantan calon istrinya.
Pria yang telah menghancurkan rencana masa depannya bersama wanita yang dulu dicintainya. Dan kini pria itu berdiri tepat dihadapannya.
“Apa kabar, Fer?”
Tanpa meminta ijin laki laki itu duduk di tempat yang sama. Tangannya terulur untuk berjabatan dengan Ferdian, namun Ferdian enggan untuk membalas. Dia hanya menatap tajam dengan sorot mata penuh kebencian.
Lusi yang berada di antara mereka merasa bingung melihat sikap Ferdian yang begitu datar dan dingin menanggapi sapaan pria yang menempatkan diri di hadapan mereka.
“Hai, ini siapamu, Fer? Pacar baru? Boleh kenalan?” Ivan beralih pandangannya pada Lusi seraya menyodorkan tangannya pada gadis itu.
Spontan Ferdian menarik tangan Lusi yang berada di atas meja menghindari bersentuhan dengan Ivan.
“Mau apa?” tanya Ferdian datar menatap Ivan dengan sinis.
“Ya, cuma mau menyapa aja. Gak boleh?” jawab Ivan santai.
“Gak boleh!” ketus nada bicara Ferdian dengan raut wajah yang menegang.
“Sebenernya aku udah lama mau ketemu kau, Fer. Mau bicara sesuatu,” suara Ivan terdengar memelas.
“Gak ada lagi yang harus dibicarakan.”
“Aku minta maaf atas kesalahanku dulu," ucap Ivan lagi.
Ferdian hanya bergeming tak menanggapi. Tangannya di bawah meja sangat kuat menggenggam jemari Lusi. Gadis itu meringis pelan merasakan sedikit sakit karena remasan tangan kokoh itu.
“Itu gak penting lagi buat aku,” kata Ferdian datar.
“Tapi penting untukku, Fer. Sejak kejadian itu hidupku jadi gak nyaman. Aku menanggung rasa bersalah sama kamu selama dua tahun ini.”
“Ya itu deritamu lah," sahut Ferdian angkuh.
“Aku gak ada perasaan apa-apa pada Amanda. Malam itu cuma kekhilafan aja karena Amanda menggodaku. Kau tau kan aku punya pacar saat itu, jadi aku sama sekali ga ada perasaan apapun pada Amanda dan aku gak mungkin merebut Amanda dari kamu,” Ivan menjelaskan pelan dan lugas.
“Kau dan Amanda sama-sama brengsek. Sudah punya pasangan tapi masih tergoda untuk tidur dengan yang lain,” ketus nada suara Ferdian seraya mendelik kesal.
“Iya itu salah aku, aku minta maaf." Lirih suara Ivan terdengar.
Ferdian mengangkat tangannya memanggil pelayan yang berdiri di sudut ruangan, memberi kode minta dibawakan bill tagihan. Pelayan itu mengangguk mengerti. Tak lama bergegas menghampirinya.
Ferdian meletakkan beberapa lembar uang ratusan ribu di dalam bill-nya lalu meraih tangan Lusi kembali dan beranjak dari duduknya.
“Fer, I am so sorry,” ucap Ivan memelas lagi. Suaranya sangat lirih memohon pada Ferdian.
“Tolong, kau jangan ganggu aku lagi. Aku sudah melupakan semuanya. Dan sekarang aku sudah bahagia dengan Istriku ini,” ucap Ferdian tiba-tiba dan membuat Ivan melongo mendengarnya.
“Istri?” seru Ivan kaget. Mengalihkan pandangannya pada Lusi yang sedari tadi diam tak bersuara.
“Iya, aku sudah menikah. Ini liat,” ucap Ferdian meyakinkannya seraya menunjukan cincin kawin yang melingkar di jari manisnya
“Ayo, Sayang. Kita pulang.” Ferdian menarik tangan Lusi berlalu dari hadapan Ivan yang masih terbengong mendengar perkataan Ferdian barusan.
Ivan menatap nanar punggung pasangan itu sampai menghilang keluar dari pintu restoran.
“Sialan, aku udah memelas-melas minta maaf merendahkan harga diri, ternyata dia udah kawin sama cewek lain. Selama ini aku kirain dia patah hati dan frustasi karena gak jadi nikah sama Amanda gara-gara aku. Dasar laki-laki buaya. Untung aja aku gak doyan sama laki-laki,“ gerutu ivan kesal menghardik dirinya sendiri. Kecele.
PLEASE LIKE, VOTE, 5 RATE, KRITIK DAN SARAN DI KOLOM KOMENTAR YAH SAY.
HAPPY READING...
tokohnya ga ada yg tegas slalu menggantung
reynard aja yg tegas
ISTRI : MAESAROH
jauh amat thooor, suami gaul abis istri kampungan banget😅😅😅😅😅😅