Kisah seorang gadis bernama Adelia Maheswari yang kehilangan tunangannya dihari pernikahannya, dan mengharuskan dia menikahi lelaki arogan, dingin dan kaku dihari itu juga.
Apakah aku bisa jatuh cinta dengan lelaki kasar, dingin dan arogan seperti dia. Lelaki yang telah merenggut kebahagiaanku?
Ikuti kisah mengharukan mereka ya, di lengkapi dengan kisah komedi, cinta manis, cemburu dan perasaan terharu membuat kalian baper, meleleh dan senyum - senyum sendiri.
IG: dewimutiawitular922
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Mutia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Itu Membuatku Takut
Jangan Lupa Like And Komentnya. Vote-nya juga ya.
🌹SELAMAT MEMBACA🌹
Pukul 10:00 malam.
Reqy keluar dari perusahaannya bersama dengan Pak Osmar. Ketika Reqy di luar, Pak Osmar langsung membuka pintu mobil untuknya. Reqy masuk ke dalam mobil dengan ekspresi datarnya itu.
Pak Osmar kemudian menyuruh bawahannya yang membawa mobilnya tadi untuk pergi. Ia kemudian masuk ke dalam dan mengendarai mobilnya kembali pulang ke Rumah Keluarga Abraham.
Pukul 10:30 malam.
Mobil yang di kendarai Pak Osmar sampai di depan pintu pagar Mansion Abraham. Seperti biasa ia membunyikan klakson mobilnya dan secara otomatis pintu pagar yang terlihat mewah itu terbuka lebar. Pak Osmar melajukan mobilnya dan menghentikan mobilnya tepat di depan rumah besar bergaya barat itu.
Pak Osmar turun dari mobilnya dan langsung membuka pintu mobil untuk Tuan Mudanya.
“Silahkan tuan.”
Reqy turun dari mobil tanpa menanggapi ucapan Pak Osmar. Ia masuk ke dalam rumahnya diikuti Pak Osmar di belakangnya.
Di dalam sudah ada beberapa pelayan perempuan yang berjejer dan membungkuk hormat untuk menyambut tuannya.
Reqy berhenti tepat di tengah – tengah para pelayannya itu.
“Di mana nyonya kalian?” Tanya Reqy dengan wajah datarnya.
“Nyonya ada di kamarnya Tuan Muda. Nyonya tidak pernah keluar kamar, kami beberapa kali mengajak nyonya turun makan malam tapi nyonya bilang tidak lapar. Kami tidak berani memaksa nyonya, tuan.” Jelas salah satu pelayan yang berdiri di sampingnya.
“Kalau kalian tidak bisa membujuknya di kemudian hari. Kalian semua langsung ku pecat.” Tegasnya.
Para pelayannya itu langsung menunduk ketakutan mendengar ancaman Reqy.
“Kalian dengar.” Teriaknya.
“Iya tuan.” Secara bersamaan.
Reqy kemudian melangkahkan kakinya menuju lift rumahnya. Ia masuk ke dalam sana bersama Pak Osmar.
Ketika sampai di lantai 3, mereka berdua keluar dari lift. Di depan lift sudah ada satu pelayan yang menyambut tuannya.
“Selamat malam Tuan Muda.” Sapanya sambil membungkuk hormat.
Reqy berhenti di depan liftnya dan melihat ke arah Pak Osmar.
“Paman istirahatlah.”
“Baik Tuan Muda.”
Pak Osmar pun kembali masuk ke dalam lift menuju lantai bawah dimana kamarnya berada sedangkan Reqy berjalan menuju kamarnya di dampingi pelayannya tadi.
Reqy memegang gagang pintunya dan mencoba membuka pintunya.
“Pintunya di kunci.” Gumamnya.
Ia lalu melihat ke arah pelayan yang berdiri menunduk di sampingnya.
“Ambilkan kunci cadangan sana.” Perintahnya.
“Baik tuan.”
Pelayannya tadi pergi mengambil kunci yang Reqy minta sedangkan Adelia yang tengah berbaring di kasur, langsung bangun saat mendengar pintu kamarnya yang berusaha di buka Reqy. Ia turun dari tempat tidurnya dan berjalan menghampiri pintu kamarnya.
Kreek....kreek....
Adelia mendengar suara di luar pintu. Ia langsung meraih Vas Bunga yang ada di meja panjang dekat dinding kamarnya tepatnya di dekat pintu kamarnya.
Ia menyembunyikan Vas Bunganya di belakang punggungnya sambil melihat gagang pintunya yang terus bergerak. Wajahnya terlihat takut melihat pintunya yang akan di buka Reqy.
Ketika pintu kamarnya sudah terbuka, Reqy langsung masuk ke dalam sana. Ia kaget melihat Adelia berjalan mundur ke belakang dengan wajahnya yang terlihat waspada.
Ia kemudian melihat penampilan Adelia yang memakai piyama warna merah gelap dengan model celana pendek dan baju pendek.
Adelia menunduk tak ingin menatap Reqy yang terus melihatnya itu. Reqy hanya bisa menghela nafasnya dengan pelan melihat tingkah Adelia yang seperti itu.
Reqy kemudian berjalan menuju Ruang Gantinya sedangkan Adelia yang sudah melihat Reqy masuk langsung mengusap dadanya sambil menghela nafasnya dengan panjang.
“Orang itu membuatku takut.” Dalam hati Adelia.
Ia duduk di sofa yang ada di samping tempat tidurnya. Jaraknya cukup jauh dari tempat tidurnya itu. Di sana ia duduk sambil memegang Vas Bunganya tadi tepat di sampingnya.
Ia memejamkan matanya di sana sambil mengingat Rian, kekasihnya.
“Kak Rian. Aku merindukanmu. Kenapa kamu meninggalkan aku di hari pernikahan kita. Kenapa. Kamu membuatku menikah dengan orang yang menakutkan itu. Aku takut. Melihat wajahnya saja aku takut?” Dalam hati Adelia yang kembali sedih mengingat kejadian di hari pernikahannya.
Bagaimana Adelia tidak takut melihat suaminya sendiri. Reqy hanya bisa memasang wajah dingin pada semua orang bahkan senyum saja tidak pernah ia lakukan. Apalagi Adelia tidak pernah bertemu dengan orang berwajah dingin seperti Reqy. Melihat wajah serius pamannya saja membuat ia takut apalagi kalau melihat wajah dingin Reqy yang setiap hari ia tunjukkan itu. Selama Adelia hidup, ia selalu di limpahkan kasih sayang dari keluarga dan terutama Rian yang menjadi pacarnya selama empat tahun. Bagaimana ia bisa menghadapi Reqy yang sikapnya memang seperti itu.
Reqy yang habis mengganti bajunya dengan baju mandi, langsung keluar dari kamar gantinya. Ia berjalan menuju kamar mandinya tanpa menengok ke arah Adelia yang tengah duduk di sofa. Ia masuk ke dalam kamar mandinya dan berendam air panas di sana.
Itu pertama kalinya ia melakukan semuanya, memasukkan air di Bathupnya. Biasanya yang melakukan itu adalah pelayannya sendiri tapi karena ada Adelia, pelayan tak berani masuk ke dalam. Mereka takut pada Adelia karena mereka tahu kalau Adelia adalah nyonya baru mereka yang tak boleh mereka ganggu.
Jika tak ada perintah darinya maka pelayan tidak akan masuk. Rumah Besar Keluarga Abraham itu sudah menjadi hak dari nyonya barunya.
Sedangkan Reqy tak ingin menyuruh Adelia untuk menyiapkan air panas untuknya. Ia tak ingin membuat Adelia merasa tak nyaman di hari pertamanya di rumah itu.
Setelah air panasnya penuh, ia terus melihat Bathupnya dengan wajahnya yang terlihat bingung.
“Sial....bagaimana caranya membuat airnya wangi seperti yang di lakukan pelayan – pelayan itu.” Gumamnya dengan kesal.
Ia kemudian meraih minyak esensial yang ada di pinggir Bathupnya. Ia menuangkan semua minyak esensialnya di sana.
“Brengsek, kenapa jadi seperti ini. Bagaimana caranya membuat airnya berbusa?” Gumamnya dengan wajahnya yang tak suka.
Ia kemudian melempar botol minyak esensialnya dengan keras membuat Adelia yang berada di luar langsung terkejut. Ia melihat ke arah kamar mandi lalu kembali menunduk takut mendengar suaranya tadi.
Reqy yang berada di kamar mandinya tadi, hanya mandi menggunakan air shower yang ia nyalakan. Rencana berendamnya gagal karena tak sesuai yang selama ini pelayannya lakukan.
Reqy memang sejak dulu tak pernah menyentuh semua itu. Semuanya di lakukan oleh pelayan rumahnya. Bahkan melihatnya saja tidak pernah.
Selesai mandi, Reqy keluar dari kamar mandinya dengan memakai baju mandi putih di tubuhnya. Ia mengusap – usap rambutnya dengan handuk kecil sambil menatap Adelia yang duduk tertidur di sofa. Posisi tangannya ia letakkan di pelipisnya dan bertumpu di sofa. Ia tertidur di sana sambil berusaha menahan kepalanya yang terus mengangguk – ngangguk karena mengantuk.
Bersambung.
baru novel ini yang ceritanya tidak bikin saya pusing.... tQ Thor berhasil membuat saya sedih, menangis, halu, dan berakhir bahagia... salam dari Aceh 😘😘
tp semakin kesana semakin gregetan Juga Alur Ceritanya N akhir cerita sdh mulai mengandung bawang 😄😂 tp tatap seru ceritanya n endingnya bahagia juga ❤️😍👍👍