NovelToon NovelToon
Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / CEO / Hamil di luar nikah / Ibu susu / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.

Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.

Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perlahan

Kita lihat saja nanti, apa yang akan mereka temukan.

Ancaman itu tidak diteriakkan, tetapi bisikannya yang beracun merayap di sepanjang lantai marmer, memanjat dinding, dan mencekik sisa-sisa oksigen di dalam ruangan.

Pintu depan tertutup dengan bunyi klik yang pelan namun pasti, memeteraikan keheningan yang pekat. Aroma lili yang tajam dari parfum Madam Estrel tertinggal seperti hantu, sebuah pengingat akan kehadiran dingin yang baru saja mencemari rumah itu.

Queenora berdiri terpaku, merasa telanjang di bawah tatapan Darian dan Nyonya Adreine. Kata-kata Estrel,wadah sementara, sumber yang dipertanyakan, orang asing.

Semua itu berputar-putar di kepalanya seperti sekawanan burung pemakan bangkai. Ia merasa kotor, seolah ancaman untuk mengorek masa lalunya telah berhasil menumpahkan kembali lumpur yang susah payah ia coba bersihkan.

Adreine menghela napas panjang, suara yang sarat dengan kelelahan dan kesedihan.

“Estel tidak pernah berubah,” gumamnya lebih pada dirinya sendiri.

Darian tidak mengatakan apa-apa. Wajahnya kembali menjadi topeng granit yang tak terbaca, tetapi Queenora bisa melihat urat di pelipisnya yang berdenyut-denyut, satu-satunya pengkhianatan atas amarah yang terkunci rapat di dalam dirinya. Pria itu menatap Queenora sejenak, tatapannya aneh, bukan lagi penghakiman, melainkan semacam kalkulasi dingin.

Seolah Queenora kini bukan hanya seorang staf, melainkan sebuah masalah rumit yang harus ia selesaikan.

Tanpa sepatah kata pun, Darian berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya, langkahnya berat dan penuh tujuan.

“Queenora,” panggil Adreine lembut, suaranya menarik Queenora dari pusaran pikirannya.

“Jangan masukkan ke dalam hati. Mulut Estrel lebih tajam dari belati, tapi hatinya rapuh seperti kaca.”

Queenora hanya bisa memberikan senyum tipis yang gemetar. Tangan Quuenora terulur mengambil Elios yang masih terlelap dalam dekap sang nenek

“Saya ... Saya akan menidurkannya… saya akan kembali ke kamar Tuan Muda Elios, Nyonya.”

Quuenora berjalan sedikit cepat, butuh pelarian. Ia butuh pengingat mengapa ia menelan semua penghinaan ini.

Berjalan menyusuri koridor yang terasa mencekam, Queenora masuk ke dalam kamar bayi yang tenang.

Elios masih tertidur pulas ia baringkan perlahan ke boksnya, napasnya teratur, bibir mungilnya bergerak-gerak seolah sedang bermimpi. Dunia kecil ini adalah bentengnya. Di sini, ia bukan ‘sumber yang dipertanyakan’, ia adalah sumber kehidupan.

Dengan hati-hati, Queenora mengangkat tubuh hangat itu lagi dari boksnya, memeluknya erat ke dadanya. Aroma bedak bayi dan susu yang manis adalah penawar dari racun Estrel.

Wanita itu memutuskan untuk duduk di kursi goyang, menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Elios, menghirup aroma kepolosan itu dalam-dalam. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, membasahi selimut bayi itu.

“Maafkan aku, Sayang,” bisiknya serak.

“Maaf kalau kehadiranku membawa masalah untukmu.”

Elios menggeliat dalam tidurnya, seolah merasakan kegundahan Queenora. Matanya yang biru kelam perlahan terbuka, menatap wajah Queenora dengan tatapan bingung khas bayi.

Queenora tersenyum di antara isak tangisnya, mengusap pipi gembil itu dengan punggung jarinya.

“Hei, jagoan kecil, apa aku menganggu tidurmu?” sapanya lembut. Ia mulai membuat suara-suara konyol, sebuah permainan kecil yang biasa ia lakukan. Ia menempelkan bibirnya ke perut Elios dan meniup pelan, menciptakan suara getaran yang aneh.

“Brrrr… brrrr…”

Elios mengerjap. Wajahnya yang semula datar kini berkerut, bibirnya tertarik ke samping.

Queenora melakukannya lagi, kali ini sedikit lebih keras, menambahkan suara lucu di akhir.

“Brrrr… pffft!”

Dan kemudian, keajaiban itu terjadi.

Sebuah suara baru memenuhi ruangan itu. Bukan rengekan, bukan tangisan. Itu adalah suara tawa. Tawa pertama Elios.

Suaranya seperti denting lonceng kristal yang pecah di tengah keheningan, murni, tanpa beban, dan begitu menular. Gelembung-gelembung tawa itu keluar dari mulut mungilnya, membuat seluruh tubuhnya bergetar geli.

Hati Queenora serasa meledak. Ia lupa pada Estrel, lupa pada ancaman, lupa pada lukanya sendiri. Ia tertawa bersama Elios, air matanya kini adalah air mata kebahagiaan. Ia terus meniup perut bayi itu, dan setiap kali Elios tertawa lebih keras, suara surgawi itu mengisi setiap sudut ruangan, mengusir semua bayangan gelap.

“Ya Tuhan, kamu tertawa, Sayang! Kamu tertawa!” seru Queenora, menciumi pipi Elios berkali-kali.

Quuenora tidak sadar bahwa ia tidak sendirian.

Di ambang pintu yang sedikit terbuka, Darian berdiri membeku. Ia mungkin datang untuk mengatakan sesuatu, untuk memberi perintah baru, tetapi ia berhenti saat mendengar suara itu. Suara tawa putranya. Suara yang belum pernah ia dengar seumur hidup Elios yang singkat.

Darian melihat pemandangan di hadapannya: Queenora, dengan wajah basah oleh air mata tetapi bersinar karena sukacita, dan putranya, Elios, yang tertawa terbahak-bahak dalam pelukan wanita itu.

Ada gelembung kebahagiaan yang tak terlihat di sekitar mereka, sebuah dunia intim yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun, termasuk dirinya.

Darian menatap putranya. Ia melihat kehidupan di mata itu, bukan hanya sekadar eksistensi. Ia melihat kebahagiaan murni yang tidak bisa dibeli dengan kontrak, tidak bisa diperintahkan, dan jelas tidak bisa diberikan oleh neneknya yang posesif atau ayahnya yang berjarak.

Kebahagiaan itu hanya datang dari satu sumber, wanita yang baru saja dihina habis-habisan di ruang tamunya.

Sesuatu yang keras dan beku di dalam dada Darian retak. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Queenora sebagai fungsi biologis atau sebagai masalah. Ia melihatnya sebagai… keharusan.

***

Satu minggu berlalu dalam ketegangan yang aneh. Seperti yang dijanjikan, Madam Estrel datang setiap hari. Kunjungannya singkat, tajam, dan penuh pengawasan.

Ia akan mengambil Elios, memeriksanya dari ujung kepala sampai ujung kaki seolah mencari cacat, melontarkan komentar sinis pada Queenora, lalu pergi.

Namun, sesuatu telah berubah. Darian selalu ada di rumah saat Estrel datang. Ia akan berdiri diam di sudut ruangan, menjadi pengamat yang mengintimidasi, memastikan Estrel tidak melewati batas. Sikapnya pada Queenora pun melunak, meski hanya sedikit. Ia tidak lagi membentak. Kadang, Queenora menangkap basah Darian sedang menatapnya dan Elios bermain, ekspresinya tak terbaca, tetapi tidak lagi sedingin es.

Malam itu, saat Queenora hendak membawa nampan makannya kembali ke kamar, tapi Adreine menghentikannya.

“Makan di sini, Nak. Bersama kami,” katanya dengan nada yang tidak menerima penolakan.

Queenora melirik Darian yang sudah duduk di meja makan besar yang bisa menampung dua belas orang. Pria itu hanya menatap piringnya, tetapi tidak membantah.

Dengan ragu, Queenora duduk di kursi yang paling jauh dari Darian, merasa seperti penyusup di negaranya sendiri.

Keheningan di antara mereka begitu tebal hingga bisa dipotong dengan pisau. Hanya ada suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen.

“Jadi… bagaimana harimu, Darian?” Adreine mencoba memecah kebekuan.

“Seperti biasa, Ma,” jawab Darian singkat.

Adreine menghela nafas, jawaban apa yang ia harapkan dari anaknya yang dingin itu. Iya pun mengalihkan pandangannya ke Queenora, gadis yang sedang berusaha menelan makanannya ditengah kegugupan.

“Queenora, Elios tadi siang sangat aktif, ya? Bi Asih cerita dia tidak mau tidur,” lanjut Adreine, mencoba menarik Queenora ke dalam percakapan.

“Iya, Nyonya. Sepertinya dia sedang senang sekali,” jawab Queenora pelan.

Darian mendongak, matanya bertemu dengan mata Queenora sejenak sebelum ia kembali menunduk.

“Dia… sudah tertawa lagi?” tanyanya, suaranya nyaris tak terdengar.

Jantung Queenora berdebar.

“Sudah, Tuan. Setiap kali saya mengajaknya bermain, dia selalu tertawa.”

Keheningan kembali turun, tetapi kali ini terasa berbeda. Tidak lagi canggung, melainkan penuh dengan hal-hal yang tak terucapkan.

Adreine menatap Queenora dengan sorot mata yang penuh pengertian. Ia tahu gadis itu masih hidup dalam bayang-bayang ancaman Estrel.

Di bawah meja, tangan Nyonya Adreine yang hangat dan keriput mencari tangan Queenora yang dingin. Ia menggenggamnya dengan erat.

“Jangan khawatirkan apa pun,” bisik Adreine, cukup keras untuk didengar Darian.

“Estrel tidak akan bisa menyentuhmu selama aku di sini. Aku tidak akan membiarkannya.”

Kata-kata itu adalah balsam yang menenangkan jiwa Queenora yang gelisah. Ia balas meremas tangan Nyonya Adreine, mengucapkan terima kasih tanpa suara. Ia mengangkat kepalanya, merasa sedikit lebih berani, dan matanya bertemu dengan tatapan Darian.

Pria itu menatapnya lurus, intensi dalam matanya membuat Queenora menahan napas.

Topeng bekunya sedikit retak, menampakkan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang rumit. Ia meletakkan garpunya dengan pelan, suaranya yang bariton memecah keheningan dengan sebuah perintah yang terdengar seperti permohonan.

“Besok, aku mau kau membantuku.”

Queenora mengerjap, bingung.

“Membantu apa, Tuan?”

Darian menelan ludah, tatapannya tidak goyah, seolah kata-kata berikutnya adalah sebuah jembatan yang rapuh di atas jurang yang dalam.

“Di gudang. Ada barang-barang peninggalan Luna yang harus dibereskan.”

1
Nar Sih
biarkan darian membatu mu queen ,kasih semagatt sja dan doa kan smoga mslh mu cpt selesai
Nar Sih
jujur sja queen ,biar semua terungkap
Nar Sih
darian mulai jatuh cinta dgn mu queen
Harmanto
miskin dialog terlalu banyak menceritakan suasana hayalan
Sumarni Ukkas
sangat bagus..
Realrf: makasih kak
total 1 replies
Harmanto
ceritanya terlalu banyak fariasi hayalan yg sangaaat pamjang jarang sekali dialog yg menghidupkam cerita. sering tidak kubaca fariasi2 itu
Realrf: baik kaka trimakasih masukannya
total 1 replies
Harmanto
Nora diberi makan apa untuk memproduksi asi tdk diceritakan, diberi sandang apa. dia dianggap mahluk bukan manusia yg punya rasa emosi
Harmanto
ceritanya membingungkan apa iya tadinya menawarkan berapa uang kau minta. dia tdk butuh uang .kok dia malah membelenggu dg seribu atran yg robot
Nar Sih
seperti nya darian udh mulai suka dng mu queen
Indah MB
di tunggu selalu bab selanjutnya 😍
Realrf
ma aciwww 😘
Indah MB
bacanya kayak makan permen nano nano ... manis asam asin rame rasanya .... selalu penasaran
Indah MB
lanjut ya thor... jgn berenti sampai di sini
Indah MB
atau jangan jangan , si Luna yg g pernah melahirkan, dan anaknya queenora yg diambil menggantikan anak luna yg meninggal... bisa aja kan?
Nar Sih
jgn ,,foto yg dilihat queenora adalah poto org di msa lalunya
Indah MB: mungkin foto org yg melecehkannya.. kan dia hamil
total 1 replies
Nar Sih
semagatt ya queenora💪
Realrf
hasek 💃💃💃💃
Nar Sih
kak thor sbr nya aku msih bingung dgn cerita queenora yg tiba,,keguguran trus msa lalu nya siapa ayah dri byi nya
Realrf: 🤭🤭🤭 pelan pelan ya ... pelan kita buka siapa dan mengapa
total 1 replies
Nar Sih
sabarr queenora yaa,hti mu yg bersih dan niat mu yg tulus demi nyawa seorang byi yg hampir dehidrasi smoga kebaikan mu dpt blsn bahagia
Indah MB
tajam tajam kata katamu.... seram seram perbuatanmu, tak tahan mata dan telinga .....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!