Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 01
PERNIKAHAN DIBALUT DUKA RAHASIA
Birmingham, Inggris
Sebuah kediaman yang damai dan tenang, sebuah mansion degan keramik putih dan tertulis jelas di gerbang <
Asap rokok mengepul di udara tanpa memperdulikan keberadaan beberapa orang yang lebih tua. “Ssshhh... Aku suka dengan pernikahan ini! Dan kau sangat beruntung karena akulah yang menikahi putri kalian!” ucap seorang pria berjas dan berkemeja rapi, rambut hitam kecokelatan yang juga rapi.
Seorang wanita cantik dengan gelungan rapi, pakaian elegan yang hanya duduk diam menundukkan pandangannya.
“Terima kasih atas kerjasama ini Tuan Holloway. Kami tidak akan melupakan jasamu dan kami berharap bisnis kita semakin berkembang.” Ujar seorang pria tua yang duduk di sofa depan bersama sang istri— panggil saja mereka sepasang Tuan dan Nyonya Taylor yang baru saja menyelesaikan pernikahan putrinya, Elizabeth Taylor (26th) malam itu.
Mendengar pujian, pria bernama Luis Holloway (32th) menyeringai puas, memadamkan rokoknya dan menoleh ke Elizabeth yang nampak diam saja, karena memang pernikahan tidak selalu menjadi prioritas utamanya, tapi keluarganya membutuhkan dukungan kerjasama antar bisnis dengan Holloway. Alias, pernikahan bisnis.
“Aku yakin dia wanita yang penurut dan sangat menyenangkan!” ucap Luis yang hanya didengar oleh Elizabeth, atau yang kerap dipanggil Eliza.
“Tolong jaga dia baik-baik. Dia putri pertama kami, dan dia gadis yang sangat sopan, aku yakin Anda dan keluarga Anda akan menyukainya! Tolong cintai dia sesuai kesepakatan kita.” kata Victoria Taylor, ibu dari Eliza.
Luis menatapnya lekat, benar-benar serius. “Jangan khawatir, aku akan mencintainya dan memperlakukannya selembut sutera!”
Sontak Elizabeth menoleh, menatap Luis yang seolah ucapannya benar-benar meyakinkan dan akan membuat siapapun terlena dalam perkataan manis itu. Eliza kembali menunduk dan tersenyum tipis seolah dia mencoba menerimanya perlahan menjadi suaminya.
“Kakak Eliza terlihat sangat menyukai pria itu!” ucap gadis kecil berusia 9 tahun yang nampak mengintip dari kejauhan bersama saudarinya yang berusia 13 tahun. Ya, keduanya adalah anak ke 2 dan 3 dari Taylor.
Luis beranjak dari duduknya dan seketika membuat yang lain ikut berdiri. Dua pria bertubuh kekar bersiap siaga selalu di belakang Luis. Pria itu mengulurkan tangannya ke hadapan istrinya, Elizabeth.
“Kita harus pergi, ada rumah indah yang menunggu mu, sayang!” ucap lembut pria itu tersenyum miring.
Elizabeth menerima uluran tangan itu, hingga Luis mencium punggung tangan Eliza dan membuat kedua orang tua Elizabeth yakin akan kerjasama bisnis dan jalinan hubungan kekeluargaan tersebut.
“Aku akan merindukan kalian!” ucap Elizabeth pelan dan lembut kepada kedua orang tuanya yang tersenyum tipis. Hingga ibunya mendekat dan berbisik. “Tetap sopan dan lembut demi kehormatan keluarga.”
Itu seperti moto keluarga Taylor ataupun keluarga konglomerat lainnya yang selalu menjaga image mereka. Elizabeth hanya diam, seolah dia menyimpan semua itu sejak kecil dan tak bisa bebas berbuat apapun keinginannya.
Wanita tua itu mencium pipi Eliza sebelum akhirnya mereka berpisah.
Luis berjalan menggandeng tangan istrinya keluar hingga masuk ke mobil mewahnya. Ia membiarkan Eliza masuk lebih dulu, lalu berbalik ke arah pintu mobil lainnya sembari menatap ke kedua anak buahnya yang sedari tadi mengikutinya.
Pria tampan berkulit putih itu mengangguk kecil nan datar, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.
Elizabeth melihat lewat pantulan spion, ketika dua anak buah suaminya tidak ikut serta, melainkan masuk ke dalam rumahnya lagi. Tentu saja Eliza berkernyit heran namun tetap tenang. “Penjagamu tidak ikut kembali?” tanya Eliza dengan lembut dan menoleh ke Luis yang nampak bersandar tenang namun tajam.
“Ada urusan yang mereka lupakan, jangan khawatir, mereka akan kembali dengan selamat!” kata Luis tersenyum menyentuh tangan Eliza dan menciumnya.
Elizabeth kembali melihat ke sepion saat mobil mulai melewati gerbang Mansion Taylor, saat itulah suara mengerikan terdengar jelas.
DARRR!! DARRR!! DARRR!!
Sebuah tembakan bertubi-tubi berlangsung saat itu juga. Semua yang ada di mansion Taylor tewas tak tersisa, termasuk Ayah, ibu dan kedua saudari Elizabeth yang ditembak dengan tragis di kepala mereka. Bahkan para pelayan di sana juga dihabisi tanpa ampun dan tanpa banyak bicara.
“Fu... Fuck him— ”
DARRR!!
Satu tembakan terakhir di kepala Samuel Taylor, ayah Elizabeth yang akhirnya benar-benar tewas, namun disisi lain dia juga sudah menekan tombol surat elektroniknya.
Kediaman itu nampak sunyi dan hening, berbau asap serta amis darah. Kedua anak buah Luis keluar dengan santai saat mereka juga menghabisi para penjaga di luar mansion Taylor.
Sementara di perjalanan, Luis dan Elizabeth masih saling bergandengan dan saling berdiam diri. Hingga sebuah dering telepon terdengar di tab mobil.
“Angkat.” Pinta Luis kepada sopirnya yang langsung menekan tombol terima panggilan.
[“Tuan, negosiasi nya berjalan lancar.”] kata anak buah Luis dari mansion Taylor.
Luis menyeringai kecil, sementara Elizabeth hanya mendengarkan dan terdiam saat dia juga mendengar percakapan tersebut yang cukup jelas.
[“Good job! (kerja bagus)!”] kata Luis yang kembali bersandar saat panggilan sudah berakhir.
“Apa ini soal kerjasama bisnis Taylor dan Holloway?” tanya Eliza.
Luis kembali mencium tangan wanita itu yang masih dia genggam. “Ya! Tentu saja.” Jawabnya yang kembali menatap lurus.
“Aku harap bisnis ini berjalan lancar.”
Luis menoleh, menatap istrinya. “Sangat lancar dan menguntungkan!” balasnya sehingga ia memperhatikan istrinya yang benar-benar memiliki paras cantik dan hampir dikatakan sempurna.
Namun Elizabeth sedikit membosankan karena dia terlahir anggun bukan wanita nakal yang akan tahu soal urusan ranjang yang panas.
Mobil melaju mulus di jalanan Birmingham yang basah oleh sisa hujan malam.
Lampu-lampu kota berkilau di kaca jendela, menciptakan pantulan cahaya keemasan yang menari di wajah Elizabeth. Ia duduk tenang di samping Luis, punggungnya tegak, tangannya terlipat rapi di pangkuan—seperti yang selalu diajarkan ibunya.
Luis memperhatikan itu.
Ketegangan yang tak terlihat, kepatuhan yang sempurna.
“Lelah?” tanyanya santai, seolah mereka baru saja meninggalkan sebuah pesta kecil, bukan rumah yang kini telah berubah menjadi kuburan massal.
“Sedikit,” jawab Elizabeth jujur, suaranya lembut. “Hari ini panjang.”
Luis terkekeh pelan. “Kau akan terbiasa.”
Kalimat itu terdengar biasa.
Tapi cara Luis mengucapkannya—pelan, pasti—membuat Elizabeth merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Seperti pintu yang tertutup perlahan, tanpa suara, namun terkunci rapat.
Mobil berbelok ke jalan utama. Sopir tetap diam, matanya lurus ke depan, seolah tidak ada yang baru saja terjadi beberapa menit lalu. Elizabeth memandangi pantulan wajahnya di kaca jendela: riasan sempurna, senyum tipis, mata yang tenang.
Ia terlihat… baik-baik saja.
Luis mengulurkan tangan dan meraih jemarinya lagi. Hangat. Meyakinkan. Terlalu tenang untuk seorang pria yang baru saja memberi perintah pembantaian.
“Kau tahu,” ucapnya ringan, “aku menghargai wanita yang tahu tempatnya.”
Elizabeth menoleh. “Maksudmu?”
Luis menatap lurus ke depan. “Wanita yang tidak bertanya terlalu banyak. Tidak mencampuri urusan yang bukan miliknya.”
Elizabeth mengangguk kecil. “Aku mengerti.”
Dan ia memang mengerti. Sejak kecil, ia diajarkan untuk mengerti bahkan sebelum diminta.
Luis tersenyum puas.
Di kejauhan, kota semakin ramai. Kehidupan berjalan seperti biasa—orang tertawa, toko-toko masih menyala, jalanan tetap sibuk. Tidak ada yang tahu bahwa keluarga Taylor baru saja dihapus dari dunia dengan satu keputusan singkat.
Elizabeth memejamkan mata sejenak. Ia tidak tahu apa-apa. Belum. Dan Luis menyukai itu.
...°°°...
Hai Guyssss!!!! Aku kembali lagi dengan cerita baru yang lebih menegangkan uyyy, semoga kalian gak bosan dengan akohh yaaaa 😁
Dan jangan khawatir, ini cerita masih dark romance yang sangat mengharukan saat seorang istri yang hanya dijadikan samsak disetiap sang suami bermental gila uyyy, tapi selalu ada superhero kann, dan penolong wanita itu adalah aku 🤭 becanda... Tapi Mr. Vale!
Udah itu aja, sebagai pembukaan, jangan lupakan jejak semangatnya yaa!!!!
LIKE ✔️
KOMEN ✔️
VOTE ✔️
RATE ⭐ 5 ✔️
FAVORIT ✔️
Dukungan kalian adalah bantuan untuk para author.
Thanks and See Ya ^•^
its too little to late Dude..
di rela menjadi samsak asal tubuhnya tdk dijamah 👏👏👏 attagirl