Sesion 1
Gadis itu bernama lee Renzai, dia adalah putri ketiga dari seorang jenderal di istana, tetapi dia juga seorang jenderal di masa lalu yang kejam, yang berasal dari kerajaan Ochtosk.
Karena kekejamannya, dia akhirnya berubah menjadi buih karena meminum air keramat yang berasal dari sungai kyusu, siapapun orang yang kejam dan meminumnya akan menghilang bersama derasnya air sungai.
Mampukah Sang jenderal untuk merubah takdirnya, akankah dirinya yang kejam akan berubah ketika dia terlahir kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayzani01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vol 20
Tatapan aneh terlihat di wajah kelima pria yang ada di samping tuan putri, bukan hanya Renzai yang mencurigai sikap mereka tetapi Tuan putri yang melihat keanehan pada kelima pelindungnya, sikap mereka yang seperti ini pertama kali putri saksikan, mereka biasanya sempurna dalam mengerjakan perintah-perintahnya, mereka mengerjakannya tanpa kesalahan sedikitpun.
Putri menatap kelima pelindungnya, mereka terlihat aneh ketika pertama kali melihat gadis bernama Renzai itu.
"Ayah, boleh aku pergi? aku ingin istirahat." Meskipun tidak diutarakan, pandangan mencela terlihat jelas dari mata Renzai kepada tuan putri di hadapannya, sang putri menyadari pandangan itu. Entah mengapa di bandingkan dua bersaudara dari keluarga Geem satu-satunya yang membuat putri tidak tenang dan tidak suka adalah putri bungsu dari jenderal Geem ini.
Tanpa menunggu Ayahnya berbicara, Renzai meninggalkan mereka, dia berbalik dan berjalan perlahan.
~
Penginapan Akai
Kelima Akai tengah berkumpul di penginapan, mereka seperti tertampar dari 7 tahun penantian mereka mencari sang jenderal.
"Jadi, apakah selama ini kita telah melakukan kesalahan? kita menetap di kerajaan dan melindungi orang yang salah?" ucap Otaru mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.
Hatachi menatap Rui dengan pandangan tajam dan menuduh. "Kau yakin dia adalah Jenderal kita Rui? hanya kau satu-satunya yang melihat bagaimana rupa jenderal di masa lalu." Ucap Hatachi.
"Rui memegang kepalanya, dan berkata frustasi. "Apakah aku perlu sekaget tadi ketika pertama kali melihat wajahnya, aku sangat yakin dia adalah jenderal kita." ucapnya.
"Tapi bagaimana kau bisa menjelaskan (saya) sarung pedang jenderal yang berada di musium istana? hal itu tidak bisa di pungkiri. Rui, kita perlu menyelidiki kembali, meskipun kau bilang Lee Renzai begitu mirip dengan Jenderal kita di masa lalu tetapi hal itu tidak bisa dipastikan bahwa dia adalah sang jenderal, Rui." Ucap Matsue.
"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Otaru.
Rui menatap langit-langit rumah dengan pandangan kosong.
"Kita sudah terlalu dekat dengan istana dan putri." Ucap Hatachi menghembuskan napasnya.
"Aku ingin mengatakan ini sejak dulu tapi aku menahannya, Sikap putri tidak mencerminkan perilaku jenderal kita di masa lalu, kalian tahu kan bagaimana perilaku putri di istana?" Ucap Rui bersikeras bahwa Renzai adalah orang yang selama ini mereka cari-cari. Meskipun Matsue bertahan dan masih meragukannya.
"Lebih baik kita memastikannya kembali, ini belum terlambat sama sekali, ini hanyalah permulaan, kita akan mencari tahu sekali lagi, jika memang benar Lee Renzai adalah jenderal kita di masa lalu, berarti kita harus segera meninggalkan istana secepatnya dan membuat Lee Renzai mengingat kembali mengenai masa lalunya."
~
"Renzai..Renzai." Teriak Gun Wu dari gerbang rumah, dia berlari melewati ayah Renzai yang tengah berdiskusi dengan salah satu pejabat pemerintahan dan salah satu panglima perang yang tidak lain adalah Otaru dan tutsima. Gun wu melambaikan tangannya kepada ayah Renzai dan menyapanya.
"Selamat pagi paman." Ucapnya.
"Ck ck ck, Anak itu." Ucap ayah Renzai menunjuk Gun wu yang berlari-lari sambil tersenyum kepada ayah Renzai.
"Jangan perdulikan anak itu, dia teman kecil putriku sekaligus keluarga kami, mungkin hanya dia yang dekat dengan putriku." ucap Ayah Renzai melirik kedua pria yang masih menatap tempat berlarinya gun wu yang mencari Renzai.
"Renzai yang sedang melakukan sesuatu di atas tempat duduk yang terbuat dari bambu, dia terlihat sedang menyulam dengan kesusahan sampai-sampai beberapa kali jarinya tertusuk jarum.
Sebenarnya itu sebuah kamuflase untuk menutupi apa yang tersembunyi di bawah tempat duduk itu.
Renzai berbalik dan melihat hanya Gun wu yang berlari ke arahnya.
"Kau mengagetkanku Gun wu, aku pikir yang datang bersamamu itu ayah."
"Apa yang sedang kau kerjakan Renzai." Ucap Gun wu menatap tidak percaya kain-kain yang tergeletak di samping kiri dan kanan Renzai,
"Kau menyulam?" dengan nada heran. Renzai menatap jengkel kepada Gun wu. "Kau mengganggu saja." Ucap Renzai dia lalu mengambil buku-buku yang di sembunyikan di bawah kain-kain sulamannya.
"Ini hasil sulamanmu?" tanyanya, dia melihat sulaman Renzai seperti sebuah titik yang di tusuk oleh jarum ke sembarang tempat sehingga hanya berbentuk titik atau garis panjang.
"Oh ya buku yang kau cari, aku menemukannya di pasar." Ucap Gun wu dengan wajah puas. "Aku menemukannya di penjualan buku di pasar."
Renzai terkejut. "Apa? benarkah? Lalu di mana bukunya, kau membelinya kan Gun wu?" Ucap Renzai menatap Gun wu dengan memperhatikan tubuhnya mungkin saja dia menyembunyikan buku itu di dalam bajunya.
"Aku tidak membelinya, aku tidak punya uang Renzai, karena itu aku tergesa-gesa kemari." Gun wu tersenyum tidak bersalah sambil mencomot kue yang ada di atas meja dan melahapnya.
"Kalau begitu kita harus cepat membelinya, Sebelum buku itu terjual." Ucap Renzai sambil menarik kerah baju Gun wu dan mengajaknya ke pasar.
Mereka berdua melewati tempat ayahnya yang sedang berdiskusi dengan dua orang pejabat istana. "Ren..Renzai lepaskan dulu kerah bajuku, aku ingin mengambil beberapa kue Sebelum kita ke pasar."
"Gendut, kita tidak punya waktu untuk itu, ayo cepat ! kita harus bergegas, kalau sampai buku itu terjual, kau yang akan kujual." Ancam Renzai sambil terus menarik Gun wu yang bersikeras ingin mengambil beberapa potong kue untuknya.
"Ck ck ck, anak itu." Ucap ayah Renzai melihat putrinya dari kejauhan, tetapi yang lebih aneh lagi kedua pejabat istana itu tiba-tiba saja berdiri seperti terkejut, mereka berdua mendadak berdiri seperti seorang prajurit yang bertemu dengan jenderalnya.
Ayah Renzai menatap heran tingkah kedua pejabat di depannya ini, dia mengernyitkan alisnya menatap mereka berdua yang sedang memandangi Renzai sampai dia menghilang di pintu gerbang.
~
Mereka berdua menyusuri pasar mencari buku yang di sebutkan oleh Gun wu.
"Itu di sana." Teriak Gun wu menunjuk toko buku yang sudah terlihat dari jarak begitu dekat dengan mereka. Mereka memasuki toko buku itu, di dalam toko terdapat puluhan buku yang di pajang secara teratur, Ruangannya tidak begitu luas, hingga terasa sesak dan bau tinta yang menyengat di hidung.
"Anda mencari sesuatu Nona?" tanya seorang penjual yang terlihat ramah.
"Aku mencari buku tentang Mitos dan kebenaran Kerajaan Ochtosk." Ucap Renzai kepada sang penjual.
"Ah, buku itu, sayang sekali buku itu sudah terjual beberapa jam yang lalu." Renzai lalu menatap Gun wu dengan jengkel.
"Apakah buku itu hanya satu saja?" tanyanya.
"Sayangnya buku itu hanya satu saja yang kubawa dari kota Namu."
"Siapa yang membelinya? Apakah anda mengetahuinya." Desak Renzai kepadanya.
"Sepertinya...dia seorang pria yang penting, seperti seorang pejabat istana, hm..." Penjual buku itu mengingat-ingat wajah pembelinya. "Oh ya, dia tinggi dan tampan, matanya berwarna coklat dengan rambut panjang yang diikat kebelakang, dan satu lagi dia selalu memegang kipas di tangannya." ucapnya.
ditunggu season 2 nya😁😁
Sehat selalu 🙏🙏
Semoga dikehidupan nanti mereka berubah menjadi lebih baik👍🙏
Semangat terus berkarya Outhor, Qutunggu cerita2x yg lainnya💪🙏👍
Dan apakah Jendral Geem ayah dari Renzai tidak bisa membuat anaknya kembali menjadi baik🤔? Semangat Up dan sehat selalu buat Outhor💪🙏
Semangat terus ya Thor🙏👍
Semangat selalu outhor💪🙏
Lanjut Up dan Up, semangat 💪🙏