NovelToon NovelToon
Cinta Di Tengah Perang Abadi

Cinta Di Tengah Perang Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Kultivasi Modern / Perperangan / Sci-Fi / Action / Cinta Murni
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.

Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Gua Bintang

Suara gesekan batu asahan pada bilah Bailong-Jian yang retak menjadi satu-satunya irama yang memecah kesunyian di dalam gua. Li Wei duduk bersila di dekat mulut gua, punggungnya tegak meski zirah pelindungnya sudah hancur di beberapa bagian. Ia menatap kegelapan Hutan Nadir, tempat lautan bayangan hitam tampak menelan sisa-sisa cahaya fajar yang belum kunjung tiba. Pedang di tangannya tidak lagi bersinar perak sempurna; retakan keunguan itu berdenyut redup, seolah-olah senjata itu sendiri sedang bernapas dalam kepedihan pasca-sinkronisasi paksa dengan petir di angkasa.

"Masih mengasahnya?" Suara itu terdengar parau dan sangat lemah.

Li Wei tidak menoleh. "Pedang ini butuh fokus. Sarafnya masih bergetar akibat lonjakan energi sebelumnya. Jika aku membiarkannya mendingin dalam kondisi bengkok, ia tidak akan pernah pulih."

Chen Xi mencoba bangkit dari tandu logamnya, namun rintihan kecil lolos dari bibirnya saat rasa sakit dari kakinya yang baru saja disambung paksa menjalar hingga ke pangkal paha. Ia kembali jatuh terduduk, menyandarkan kepalanya pada dinding batu gua yang dingin.

"Istirahatlah, Chen Xi. Tulangmu baru saja menyatu. Jangan bertingkah seolah kau masih memimpin batalion di garis depan," ujar Li Wei tanpa menghentikan gerakannya.

"Aku benci merasa tidak berguna seperti ini," gumam Chen Xi. Ia menengadah, menatap langit-langit gua. Matanya yang biasanya tajam dan penuh perhitungan kini tampak sedikit sayu akibat demam. "Lihat itu... kristal kuarsanya. Mereka memantulkan cahaya dari luar dengan pola yang sangat spesifik. Indah sekali."

Li Wei akhirnya berhenti mengasah. Ia menatap langit-langit gua, lalu mengerutkan kening. "Indah? Mungkin bagi warga sipil. Bagiku, pola itu terlalu simetris untuk sebuah formasi alami. Sudut pantulannya diatur untuk menciptakan zona buta bagi pemindai termal dari luar. Ini bukan sekadar gua. Ini adalah selimut elektromagnetik."

"Kau selalu bisa merusak momen romantis dengan analisis taktis, ya?" Chen Xi terkekeh getir, lalu terbatuk kecil.

"Aku dibayar oleh Kekaisaran untuk menjadi senjata, bukan penyair," balas Li Wei datar. Ia bangkit, mendekati api kecil yang bersumber dari baterai sisa pesawat, lalu menusuk umbi hutan yang sedang dibakar dengan sebilah pisau kecil. "Makanlah. Xiao Hu menemukannya di dekat akar pohon merambat tadi. Ini akan membantu menurunkan demammu."

"Xiao Hu mana?"

"Dia tertidur di sudut sana. Kelelahan setelah membantuku menyeretmu menembus hutan kabel," Li Wei menyerahkan potongan umbi panas yang sudah ditiupnya perlahan.

Chen Xi menerima umbi itu. Uap panasnya menyentuh wajahnya yang pucat. "Kenapa kau melakukan semua ini, Li Wei? Kau bisa saja meninggalkanku di reruntuhan pesawat. Logikanya, membawa perwira Naga Laut yang cacat hanya akan memperlambat pelarianmu dari kejaran Jenderal Zhao Kun."

"Aku sudah membunuh sahabatku sendiri, Han, di pipa induk bawah kota karena perintah sistem," suara Li Wei merendah, getaran emosinya tertahan di tenggorokan. "Jika aku meninggalkanmu sekarang hanya karena 'logika', maka tidak ada bedanya aku dengan mesin-mesin yang diprogram Kekaisaran. Aku ingin tahu rasanya mengambil keputusan sebagai manusia, bukan sebagai alat."

Chen Xi terdiam, mengunyah umbi itu perlahan. Rasa manis alami bercampur sedikit aroma belerang memenuhi indranya. "Manusia... istilah yang asing bagi kita. Di Konfederasi, sejak kecil aku diajarkan bahwa perasaan adalah residu biologis yang harus dibuang. Aku ingat saat pertama kali aku direkrut. Mereka tidak bertanya namaku, mereka hanya bertanya seberapa cepat otakku bisa memproses enkripsi data."

"Mereka memperlakukanmu seperti prosesor sejak awal?"

"Lebih buruk. Aku adalah aset investasi. Jika aku gagal dalam satu simulasi taktis, mereka akan mengurangi jatah nutrisiku. Jadi, aku belajar untuk menjadi yang paling cerdik, yang paling licik. Aku menyingkirkan semua orang yang menghalangi jalanku karena aku takut... aku takut kembali ke pasar gelap sebagai gelandangan tanpa nama."

Li Wei duduk di sampingnya, menjaga jarak namun tetap cukup dekat agar Chen Xi bisa merasakan kehangatan api. "Kita berdua hanyalah dua sisi dari koin yang sama yang dilemparkan ke dalam api perang. Kau melarikan diri dari kemiskinan, aku melarikan diri dari kehancuran nama klan keluargaku."

"Tapi sekarang koin itu sudah penyok, Li Wei," Chen Xi bersandar perlahan pada bahu Li Wei. Ia merasakan zirah pria itu yang keras dan dingin, namun ada stabilitas di sana yang tidak pernah ia temukan pada siapa pun. "Dunia menganggap kita sudah mati di Kawah Nadir. Apakah kau merasa bebas?"

Li Wei menarik napas dalam, merasakan aroma tanah basah gua yang menenangkan. "Bebas? Mungkin. Tapi kebebasan ini terasa sangat berat. Rasanya seperti berjalan di atas tali tipis di atas jurang. Satu langkah salah, dan kita akan jatuh kembali ke tangan mereka."

"Setidaknya di sini... bintang-bintangnya tidak palsu," gumam Chen Xi, matanya mulai berat. "Maksudku... meskipun ini proyeksi kuarsa, rasanya lebih nyata daripada lampu-lampu neon di Megacity."

"Tidurlah. Aku akan berjaga."

"Janji kau tidak akan pergi saat aku terbangun?"

Li Wei menatap wajah Chen Xi yang berada tepat di samping bahunya. Ada kerentanan yang begitu murni di sana, sebuah rahasia yang tidak akan pernah ditunjukkan oleh sang Strategis Naga Laut kepada dunia luar.

"Aku tidak punya tempat lain untuk pergi, Chen Xi."

Namun, kedamaian itu hanya bertahan sekejap. Dari kegelapan di luar gua, sebuah lolongan panjang memecah keheningan malam. Bukan hanya satu, tapi bersahut-sahutan dari berbagai penjuru, menciptakan gema yang mengerikan di dinding batu.

Li Wei segera berdiri, menggenggam Bailong-Jian dengan erat. Matanya menajam, sirkuit Neuro-Sync-nya berdenyut waspada. "Mereka kembali. Dan kali ini jumlahnya lebih banyak."

"Serigala mutasi itu?" Chen Xi mencoba meraih senjatanya, Yan-Zuo, yang tergeletak di dekat tandu.

"Jangan bergerak. Simpan energimu," perintah Li Wei. "Xiao Hu! Bangun! Ambil posisi di belakang kristal kuarsa pusat!"

Xiao Hu tersentak bangun, matanya membelalak ketakutan mendengar lolongan yang semakin mendekat. "K-kak... mereka ada di mulut gua!"

Li Wei melihat sepasang demi sepasang mata merah mulai bermunculan di kegelapan pintu masuk. Geraman rendah mereka beresonansi dengan lantai gua. Kawanan predator itu tampaknya sudah belajar dari pertemuan sebelumnya; mereka tidak langsung menerjang, melainkan mengepung, mencari celah di antara dinding api baterai yang mulai meredup.

"Aku akan menggunakan Opsi Ketiga," desis Li Wei pada dirinya sendiri. Ia menoleh ke arah tumpukan baterai sisa dan sirkuit pesawat yang ia kumpulkan. "Xiao Hu, saat aku memberi aba-aba, hubungkan kabel tembaga ini ke inti kristal di dinding gua!"

"Tapi itu bisa memicu ledakan frekuensi, Kak!" teriak Xiao Hu.

"Lebih baik ledakan frekuensi daripada menjadi santapan mereka. Lakukan sekarang!"

Xiao Hu merangkak dengan cepat menuju dinding gua, jemarinya yang lincah menyambar ujung kabel tembaga yang menjuntai. Di mulut gua, kawanan serigala mutasi mulai kehilangan kesabaran. Pemimpin kawanan, seekor jantan dengan lempengan keratin yang menutupi separuh wajahnya, melompat melewati barisan api baterai yang mulai mengecil.

"Sekarang, Xiao Hu!" teriak Li Wei.

Detik saat Xiao Hu menyentuhkan ujung kabel ke urat kristal kuarsa, sebuah denyut energi berwarna biru elektrik merambat melalui dinding gua. Li Wei tidak menebaskan pedangnya ke arah serigala, melainkan menghantamkan hulu Bailong-Jian ke lantai gua yang basah, menciptakan jalur konduksi.

Zzap!

Gelombang frekuensi tinggi meledak dalam radius melingkar. Serigala-serigala itu melolong kesakitan, bukan karena luka fisik, melainkan karena sistem sensorik organik-mekanis mereka dihantam oleh distorsi elektromagnetik masif. Mereka terpental mundur, bergulingan di atas tanah hutan sambil mengais-ngais kepala mereka yang berdenging.

Li Wei terengah, merasakan sirkuit di lengan zirahnya memercikkan bunga api. "Jangan berhenti, Xiao Hu! Alirkan sisa dayanya ke arah perimeter!"

"Sudah habis, Kak! Baterainya kosong!" Xiao Hu berteriak sambil menunjukkan sel energi yang kini menghitam.

Namun, gertakan itu cukup. Kawanan predator yang kebingungan itu memilih untuk mundur ke dalam kegelapan rimba, menyadari bahwa mangsa di dalam gua ini memiliki "sengatan" yang tidak bisa mereka lawan dengan taring semata. Suasana kembali hening, menyisakan bau ozon yang tajam dan sisa asap dari kabel yang terbakar.

Li Wei jatuh terduduk, pedangnya berdenting pelan saat menyentuh batu. Napasnya berat, setiap sel di tubuhnya terasa seperti ditusuk jarum akibat Neural Overclock yang dipaksakan dalam kondisi tubuh yang belum pulih.

"Kau gila," bisik Chen Xi, yang sejak tadi menahan napas sambil menggenggam Yan-Zuo. "Kau menggunakan gua ini sebagai resonator. Jika hitunganmu salah sedikit saja, sarafmu bisa terpanggang bersama serigala-serigala itu."

"Tapi hitunganku benar, bukan?" Li Wei menyeka darah yang mengalir dari hidungnya. Ia menatap Chen Xi dengan senyum tipis yang tampak sangat asing di wajah kaku seorang algojo. "Seorang strategis Naga Laut seharusnya menghargai hasil akhir daripada proses yang berisiko."

Chen Xi terdiam, menatap Li Wei dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau benar-benar sudah berubah, Li Wei. Kau bukan lagi pedang patuh milik Zhao Kun."

"Kita semua berubah di hutan ini, Chen Xi," Li Wei bangkit perlahan, mendekati Chen Xi dan duduk kembali di sampingnya. "Bagaimana kakimu?"

"Terasa hangat. Mungkin efek dari gelombang listrik tadi, atau mungkin karena aku merasa lebih aman sekarang," Chen Xi menyandarkan kembali kepalanya, kali ini dengan lebih mantap di bahu Li Wei. "Li Wei... tentang masa laluku yang kuceritakan tadi. Jangan pernah ceritakan pada Xiao Hu. Aku ingin dia tetap melihatku sebagai komandan yang kuat, bukan gadis yang takut lapar."

"Rahasiamu aman bersamaku," jawab Li Wei pelan.

Keheningan malam kembali menyelimuti mereka, namun kali ini terasa lebih hangat. Di langit-langit gua, kristal kuarsa mulai meredup seiring dengan cahaya fajar yang mulai menyusup dari sela-sela rimbunnya pohon di luar.

Tiba-tiba, perangkat komunikasi di pergelangan tangan Chen Xi yang sudah retak mengeluarkan suara statis yang aneh. Bukan suara radio standar, melainkan sebuah pola sonar yang berirama, seperti detak jantung mesin yang sangat jauh.

"Apa itu?" Xiao Hu mendekat, matanya berbinar melihat pola gelombang di layar kecil yang retak itu. "Itu... itu kode frekuensi Void Sovereign, Kak!"

Chen Xi segera menegakkan tubuhnya, mengabaikan rasa sakit di kakinya. "Mustahil. Faksi ketiga itu seharusnya sudah punah setelah pembersihan besar-besaran sepuluh tahun lalu."

"Sinyalnya berasal dari arah utara, melintasi Lembah Putih," Xiao Hu menunjuk ke arah peta holografis yang bergetar tidak stabil. "Ini bukan sinyal darurat. Ini adalah undangan."

Li Wei menatap layar itu, lalu menatap ke luar gua. Kabut tebal mulai turun menutupi lembah, mengubah hutan hijau menjadi lautan putih yang sunyi dan misterius.

"Jika ini jebakan Zhao Kun, kita akan mati," gumam Chen Xi.

"Dan jika ini adalah jalan menuju kebebasan yang sebenarnya?" Li Wei berdiri, menyarungkan Bailong-Jian yang kini terasa lebih tenang. "Kita tidak bisa tinggal di sini selamanya. Hutan ini akan terus mengirimkan predator sampai kita tidak punya tenaga lagi untuk melawan."

"Jadi, kita akan menuju ke sana? Ke jantung Lembah Putih?" tanya Xiao Hu dengan nada campuran antara takut dan semangat.

Li Wei mengangguk. Ia menatap Chen Xi, mengulurkan tangannya untuk membantu wanita itu berdiri. "Siapkan tandumu, Chen Xi. Momen tenang terakhir kita sudah berakhir. Sekarang, kita harus mengejar hantu di tengah kabut."

Chen Xi menyambut tangan Li Wei, membiarkan dirinya ditarik berdiri. Meskipun kakinya masih goyah, ia merasa ada kekuatan baru yang mengalir dalam dirinya—bukan dari sirkuit teknologi, melainkan dari kepercayaan yang baru saja tumbuh di gua ini.

"Ayo berangkat," ujar Chen Xi tegas. "Mari kita lihat apakah Void benar-benar memiliki jawaban atas semua kekacauan ini."

Fajar akhirnya pecah, menyinari tiga sosok yang mulai melangkah keluar dari Gua Bintang, meninggalkan kehangatan api baterai menuju Lembah Putih yang dingin dan penuh teka-teki. Di kejauhan, lolongan serigala masih terdengar, namun kali ini mereka tidak lagi mengejar; mereka seolah-olah memberikan jalan bagi para pelarian yang telah melampaui batas kemanusiaan mereka sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!