Semuanya nampak baik-baik saja, dia ceria , bahagia , ramah , kuat dan tegar! Tetapi itu hanya cover nya saja, dan yang kenyataannya adalah?
Dia rapuh, cengeng dan juga sakit!
Dan semua nya berubah ketika dia sembuh dari sakit yang membuat mental nya terganggu.
Dia bukan lagi wanita ramah dan ceria, melainkan wanita cuek dengan wajah datar dan segudang frestasi dan kekayaan!
*
Zahra Khoerunisa, memilih untuk pergi dan meninggalkan cinta pertama nya daripada bertahan dengan sakit yang teramat sakit.
-Di ambil dari kisah nyata-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hnislstiwti., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
1 minggu berlalu, Doni dan sang Bapak tidak diam begitu saja meski Zahra melarang nya untuk mencari dirinya.
Doni sudah mencari nya kemana-mana, bahkan ia sampai menyuruh teman nya yang berprofesi sebagai intel.
Tetapi tetap saja nihil hasil nya, Zahra menghilang seolah seperti di telan bumi.
Bersamaan dengan itu, Wendi juga tidak berhenti mencati Zahra bahkan ia sudah melaporkannya pada polisi agar bisa membantu mencari nya.
Tetapi semua nya percuma, karena Zahra tidak di temukan sama sekali.
Hari ini, Wendi bekerja hanya setengah hari saja karena ia ada janji dengan keluarga nya untuk pergi ke Apartemen Doni untuk meluruskan semua nya.
Tepat saat Wendi sampai di Rumah, bersamaan dengan itu juga ada kurir yang mengantarkan paket untuk nya.
Wendi menerima nya dengan bingung, ia lalu membawa nya dan akan membuka nya di dalam Rumah.
"Apa itu, Kak?" tanya Fera saat melihat Wendi membawa sebuah kertas.
"Tidak tahu, Kakak juga baru akan membaca nya" jawab Wendi sambil duduk di atas sofa samping Fera.
Wendi membuka nya dengan sangat penasaran, bahkan kedua orangtua nya pun ikut merasakan penasaran.
Deg.
Deg.
"Tidak mungkin" gumam Wendi dengan tatapan yang nanar dan meletakan kertas tersebut dengan keras di atas meja.
"Ada apa, Nak?" tanya sang Ibu.
Wendi diam saja tak menjawab, ia hanya memejamkan mata nya dengan air mata yang menetes tanpa bisa di cegah.
"Perceraian, jadi Zahra sudah mengurus semua nya dan kalian sudah resmi bercerai?" ucap Ayah Beni dengan kaget.
"Zahra benar-benar melakukan semua nya dengan matang, ia bahkan sampai rela masuk ke Rumah sakit jiwa hanya demi mendapatkan perhatian kita" balas Ibu Jeni dengan lirih.
Wendi? Dia diam dengan terisak. Bukan ini yang dia mau, dia ingin bersama selamanya dengan Zahra!
"Kenapa Zahra melakukan ini padaku, Bu? Apa Zahra sangat terluka hingga ia memilih berpisah dengan ku" ucap Wendi dengan terbata.
Ayah dan Ibu nya diam, mereka bingung harus berbuat apa dan menjawab apa.
Mereka juga tidak percaya bahwa Zahra sudah merencanakan semua nya dengan matang.
"Ayo kita ke Apartemen Doni, siapa tahu mereka sudah bertemu dengan Zahra" ajak Ayah Beni dengan cepat.
Wendi mengangguk, ia menyeka air mata nya dan bangun dari duduk nya.
Lalu mereka pergi dengan cepat ke Apartemen Doni.
Laju mobil Wendi sangat cepat, ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan keluarga Istri nya tersebut.
"Apa jadi nya aku tanpa mu, sayang" batin Wendi dengan nanar.
Hingga beberapa saat mereka sampai di basement Apartemen, Wendi dan kedua orangtua nya langsung menuju ke unit Doni.
Wendi sudah sangat gelisah dan ia juga ingin segera sampai disana.
Dan tak lama kemudian mereka sampai di depan Apartemen Doni.
Ting Nong.
Ceklek.
"Pak Wendi" ucap Aeni dengan terkejut.
Lalu Aeni mempersilahkan masuk semua nya, ia memanggil Doni dan Bapak untuk menemui sang tamu.
"Pak, dimana Zahra?" tanya Wendi langsung.
"Saya tidak tahu dimana Zahra berada, dia hilang seperti di telan bumi tanpa jejak apapun" jawab Bapak Tora dengan menatap Wendi tajam.
Wendi lalu memberikan surat perceraian yang ia dapat, ia meminta penjelasan semua nya dari keluarga itu.
"Bacalah surat itu, aku dan keluargaku pun tidak tahu menahu semuanya. Bahkan kami juga baru tahu bahwa Zahra pura-pura gila hanya demi perhatian kalian" ucap Doni dengan lantang.
Ayah Beni langsung membaca surat yang di berikan oleh Doni, ia menghembuskan nafas nya dengan kasar karena memang itu murni perbuatan dari Zahra.
"Kami juga sudah mencari selama 1 minggu ini, tetapi semuanya nihil tidak ada hasil sama sekali" ucap Bapak Tora.
"Bahkan sampai Ibu ku sakit karena memikirkan Zahra yang tidak ada jejak nya sama sekali, kami hanya berharap dia akan baik-baik saja sama seperti yang ia janjikan di dalam surat itu" timpal Doni dengan sendu.
"Aku mohon, Izinkan Zahra pergi dari kehidupan kalian. Aku tahu bahwa kalian tidak terlalu perhatian pada Adikku dan kini aku mohon biarkan dia melanjutkan hidup nya agar ia bisa mencari kebahagiannya" mohon Doni dengan menatap keluarga Wendi bergantian.
"Kami juga tidak akan meminta harta gono gini atau apapun itu, kami hanya ingin Putri kami bahagia dan sehat" timpal Bapak Tora.
Wendi menggelengkan kepala, ia lalu pergi dari sana dengan semua kehancuran yang dia dapatkan.
Ayah Beni meminta maaf atas semuanya, ia akan berusaha ikut mencari Zahra meski kini dia sudah jadi mantan menantu nya.
Setelah itu, keluarga Wendi pun pergi dari sana dan menyisakan Doni serta sang Bapak.
"Dimana kamu, Nak" gumam Bapak dengan lirih.
"Sabar ya, Pak. Kita akan berusaha sampai bertemu dengan Zahra kembali. Ayo kita bersiap karena pesawat kita akan lepas landas jam 07 malam" ajak Doni dengan lembut.
Ya , malam ini mereka akan terbang ke Kota Jakarta. Doni sudah mengurus semua nya bahkan Apartemen yang ia tempati juga sudah dia jual.
Mereka berempat akan terbang dengan meninggalkan luka Zahra yang sangat sakit di Kota Malang tersebut.
Berat sebenarnya bagi mereka meninggalkan Kota itu, mereka takut bahwa Zahra akan kembali dan mencari mereka.
Tetapi mereka tidak bisa apa-apa, karena semakin mereka disana semakin mereka terluka mengingat semuanya tentang Zahra.
*
Sore hari nya, Doni dan keluarga nya langsung ke Bandara dengan di antarkan oleh orang yang membeli mobil Doni.
Sebelum masuk ke dalam pesawat, Doni melihat kebelakang lagi dan berharap akan ada Zahra disana.
Tetapi semuanya nihil, lalu ia masuk dengan sempuran dan duduk bersama dengan Bapak nya.
Hingga waktu nya mereka terbang pun tiba, mereka semua mendo'akan semoga Zahra akan baik-baik saja dan segera mungkin menemui mereka.
"Aku berharap, suatu saat nanti kita tidak bertemu lagi, Wendi" batin Doni yang memang masih membenci mantan Adik ipar nya.
Mereka menikmati perjalan tersebut dengan hening, tidak ada yang bersuara selain helaan nafas dari mereka.
**
Hingga 1 jam lebih 25 menit mereka sampai di Bandara Jakarta.
Doni membawa keluarga nya ke Rumah yang sudah di siapkan oleh kantor.
Sebelum menuju ke Rumah, Doni menyuruh sopir taxi untuk menuju ke Restoran karena mereka belum makan malam.
"Kita makan malam dulu, ya" ucap Doni.
"Iya Bang, kasihan Ibu dan Bapak pasti lapar" balas Aeni dengan tersenyum cengengesan.
"Kamu juga sama, Nak" timpal Bapak dengan terkekeh.
Aeni hanya tersenyum kecil, lalu ia menatap kembali Ibu Aminah yang sedang menatap keluar jendela.
.
.
.
ini perkataan atau sekedar kalimat cerita
pasti yg mandul itu Wendy scra pamannya kn GK BS punya ank dengan Tante mila