Season1
Dita merupakan gadis cantik yang selalu di kucilkan keluarga nya, di saat pesta ulang tahun saudari tirinya bernama Sheila menjebaknya dengan mencampurkan obat perangsang di minuman Dita.
Nathan, seorang Ceo tampan yang banyak di kagumi oleh kaum hawa. Nathan yang menderita mysophobia yang alergi jika di dekati oleh wanita maupun di sentuh.
Sahabat nya bernama Daniel prihatin akan phobia Nathan hingga nekat memberi obat dan menyewa seorang pemuas nafsu.
Season ke 2
Menceritakan kehidupan dan perjalanan cinta dari twins L. Al yang gila dengan pekerjaan dan juga perfeksionis, sementara El kebalikan dari itu.
Lea, adik dari twins L yang sangat manja dengan IQ standar. Dia sangat mengagumi wajah pria yang berparas tampan, hingga banyak pria yang salah paham dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Nathan mengepalkan tangan dan mengeraskan rahangnya, dia memanggil para pelayan.
"Pelayan.... pelayan, " Nathan meninggikan suaranya hingga membuat para pelayan berbondong-bondong menuju asal suara.
Sekitar lima orang pelayan yang menunduk ketakutan dengan raut wajah dingin, Nathan berjalan menghampiri para pelayan melihat wajah mereka satu persatu.
"Kalian tau apa kesalahan kalian saat ini? " tatapan Nathan kian menusuk membuat aura di kamar itu kian mencekam. Hingga para pelayan menahan nafas karena takut dengan wajah intimidasi milik tuannya.
"Ti.... tidak tuan, " pelayan itu menjawab dengan badan yang gemetaran.
"Tidak?? "
"Maaf tuan, sekarang kami tau kesalahan yang membuat kami lalai, " jawab cepat dari salah satu pelayan.
Nathan membalikkan badan menatap tajam wajah pelayan yang membuka suara, " coba katakan. "
"Maaf tuan, kami melihat seisi kamar yang sangat berantakan. "
"Kenapa kalian tidak membersihkan dengan benar." Nathan meninggikan suaranya.
"Maaf tuan, kamu sudah membersihkannya tadi. "
"Bersih kan sekarang juga dalam waktu lima menit, CEPAT!! " suara Nathan yang menggema membuat para pelayan kocar-kacir membersihkan kamar itu secepat kilat.
Twins L mengelilingi mansion yang seperti istana, bahkan ukurannya lebih besar dari istana presiden. Langkah kecil mereka menuntun ke ruangan khusus penyimpanan cemilan dan juga minuman dingin.
Al dan El menatap kagum dengan ruangan itu, hingga meneterkan air liurnya.
"Apa ini surga? " Al menatap rak yang berjejer rapi berguna untuk penyimpanan cemilan.
Tanpa babibu, El dan Al berlari mengambil cemilan yang mereka sukai, bahkan di sana juga ada beberapa cup besar es krim varian coklat.
"Aku rasanya tidak ingin pulang, " El mengambil semua cemilan dan memasukkan ke dalam keranjang.
"Akupun begitu, kehidupan surga yang benar nyata. "
Mereka memakan cemilan hingga perut kecil itu tidak bisa menampung cemilan lagi. Ruangan yang semula rapi sekarang sangat berantakan, sampah berserakan di mana-mana. Serasa cukup kenyang, mereka kembali berpetualang menjelajahi mansion, walaupun banyak pelayan yang berlalu lalang di istana itu, mereka tidak bisa melihat twins L.
Sekarang mereka masuk ke ruangan olahraga, fasilitas nya sangat lengkap dan juga canggih, membuat mereka menjadi penasaran. satu persatu mereka mencoba bagaimana alat nya bekerja, twins L sangat puas dengan kesibukan mereka. Hingga melupakan Dita yang sudah mencari keberadaan mereka.
Naina yang di sibukkan dengan tugas dari kampusnya, membuat dia tidak bisa berkutat dari layar laptop, di temani beberapa cemilan dan juga minuman dingin. Cemilan itu habis membuat Naina menghela nafas dengan kasar.
Naina mengambil cemilannya sendiri tanpa bantuan dari para pelayan, Novi telah mengajarkan kedua anaknya untuk tidak bergantung pada para pelayan.
Di saat membuka pintu tempat penyimpanan cemilan membuatnya menatap dengan mengangakan mulutnya, bukan karena takjub melainkan terkejut melihat ruangan yang sangat berantakan.
"Apa yang terjadi, kenapa para pelayan tidak membersihkan ruangan ini, " batinnya yang membekap mulutnya sendiri.
"Pelayan....pelayan," teriak Naina.
Para pelayan yang mendengar suara dari nona mereka segera menghampiri asal suara, "iya nona, ada apa? "
"Kenapa ruangan ini tidak kalian bersihkan? " ketus Naina menatap para pelayan dengan kesal.
"kami baru saja membersihkan ruangan ini, nona! " jawab salah satu pelayan yang menundukkan kepala.
"Jangan berbohong, kalian saja yang pemalas. Aku tidak mau tau, cepat bereskan semua kekacauan ini, " Naina bertolak pinggang menatap satu persatu para pelayan dengan mata yang melotot.
"Baik nona, " mereka membersihkan dengan cepat, Naina kehilangan nafsunya untuk mengemil. Berjalan dengan wajah yang kesal seraya menghentakkan kaki, Nathan yang melihat nya menjadi penasaran, mendekati sang adik dan menanyainya.
"Apa yang terjadi? kenapa wajahmu sangat kusut? "
"Ish diam lah, aku sedang kesal sekarang, " Naina mengerucutkan bibir dan menggembungkan pipi nya yang terlihat sangat lucu.
"Cepat katakan ada apa, " ucap Nathan.
"Aku ingin mengambil beberapa cemilan di ruangan penyimpanan. Saat aku masuk, aku di suguhi oleh pemandangan yang sangat berantakan. "
" Ada apa pelayan hari ini, mereka bahkan tidak membersihkan kamarku. "
"Benarkah?"
"Hem, mereka mengakui jika sudah membersihkannya, " ujar Nathan yang memasukkan jarinya ke dalam saku celana.
"Entahlah, minggir!! jangan halangi jalan ku, " Nathan menepi dan menatap punggung sang adik yang mulai menghilang.
"Apa yang terjadi di rumah ini? "
Nathan pergi menuju ruang kerja yang tak jauh dari ruang pelatihan tembaknya. Walaupun dia tidak ke kantor, tapi tetap saja pekerjaan itu tetap mengejarnya. Menatap layar laptop dan menyelesaikan beberapa berkas, dia memijat pelipisnya untuk mengurangi kepala yang sedikit pusing.
Nathan mengambil ponsel yang tak jauh darinya, memainkan ponsel itu untuk menelfon seseorang. Siapa lagi jika bukan Daniel, tapi sayang, panggilan itu tidak di angkat oleh sang sahabat.
"Daniel sialan, berani sekali dia mengacuhkan telfonku, lihat saja nanti, bagaimana aku akan menghukum mu, " gumamnya dan melempar ponsel mahalnya.
Nathan kembali mengerjakan beberapa berkas dan menandatangani nya, membuat nya sedikit stres.
Twins L yang lelah bermain, mulai menelusuri beberapa ruangan. Saat ini mereka telah sampai di ruangan pelatihan tempat Nathan menembak.
"Tempat ini sangat luar biasa Al. "
"Benar, semua yang kita butuhkan ada di sini. "
"Eh, ruangan ini sangat unik, ayo masek ke dalam. Kita lihat apa isi dari ruangan unik ini, " usul El menatap sang kakak dengan tersenyum jahil.
"Jika kita ingin tau, jalan satu-satunya ialah melihat ke dalam, " Al membalas senyuman jahil.
Pemandangan luar biasa, terdapat berbagai senjata api yang terpajang di dinding, twins L mengamati satu persatu pistol dan memegangnya.
"Ini ruang senjata, " ucap mereka bersamaan.
Al tertarik dengan pistol berjenis SIG Sauer P226,
di kembangkan dan diproduksi pada 1983 oleh perusahaan senjata Jerman - Swiss, SIG Sauer, SIG P226.
Sementara El lebih tertarik dengan pistol berjenis Desert Eagle Mark XIX yang terkenal karena daya tembaknya. Versi terkini dari Desert Eagle, Mark XIX, adalah yang dianggap paling mematikan karena menembakkan peluru .50 Action Express (.50AE), salah satu peluru terbesar dan paling mematikan dalam sejarah senjata genggam.
Mereka memakai atribut pelindung dan mencoba senjata itu dengan membidik ke papan bidikan, berusaha memfokuskan bidikan dan kosentrasi yang penuh.
Dor.... Dor
Suara tembakan yang berasal dari senjata api berjenis Desert Eagle, senjata api pistol buatan israel memiliki daya tembak yang luar biasa, menghasilkan suara tembakan yang amat keras membuat Nathan yang tak jauh dari ruangan itu mendengarnya.
Melangkahkan kaki menuju ruang pelatihan tembaknya, dengan langkah yang tergesa-gesa. Nathan melihat pintu itu sedikit terbuka, dia mengintip dari balik pintu dan melihat bocah 5 tahun yang mahir menggunakan senjata api kesayangannya.
"Siapa mereka, bagaimana mereka bisa masuk kesini dengan sistem keamanan yang di jaga ketat. Bahkan mereka menggunakan pistol kesayangan ku dengan sangat ahli, " batinnya.