⚠️⚠️ NO PLAGIAT!!
UPDATE SETIAP HARI KAMIS & MINGGU JAM 21.00 WIB
Hari-hari bahagia Silvia mendadak hancur begitu saja karena dirinya yang tiba-tiba mengandung anak dari pacarnya.
Di tengah-tengah reputasi buruknya itu, apakah Silvia dapat bertahan?
Yuk pantauin terus ceritanya! 😉
-----
Cerita ini dibuat berdasarkan imajinasi author semata. Jangan lupa untuk like, comment, dan vote ceritanya ya para readers yang budiman..
-----
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Revina Willy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Suka Kamu
*POV Farel
"Eh? Sudah jam berapa ini?"
Kulihat, waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam. Ternyata sudah jam segini? Kalau bermain game, memang aku terkadang jadi suka lupa waktu.
Aku sudah terbiasa sendirian di tengah kesunyian malam. Tapi kali ini berbeda. Kini ada seseorang yang sangat istimewa yang menemaniku di dekatku.
Meski dia sudah tidak sadar lagi sih. Kalau begini, tidak ada bedanya juga dengan sendirian.
"Duh Sil.. Lu kok bisa ketiduran di sini sih?"
Kulihat Silvi yang tengah tertidur pulas di atas sofa. Salah satu tangannya tampak menggantung ke bawah dan hampir menyentuh lantai.
"Besok harus sekolah, gue juga harus tidur."
Aku melangkah mendekat ke arah sofa tempat Silvi berada. Aku langsung saja duduk di lantai dengan wajahku yang menghadap tepat di depan wajahnya.
Nafasnya terdengar lembut. Meski sedang tidur, kecantikannya tidak berkurang sedikit pun. Tanpa sadar aku tersenyum. Aku juga tidak paham kenapa hal sekecil ini bisa membuatku tersenyum.
"Hah.. Gue harus gimana Sil? Gue lagi bingung banget. Gue juga ga mungkin bisa cerita sama lu."
Aku tersenyum tipis. Hatiku terasa mengganjal. Rasa sedih dan bimbang bercampur menjadi satu.
Sejak beberapa bulan yang lalu, ayah berniat untuk menjodohkanku dengan putri keluarga Valrose. Perjodohan politik seperti ini sudah sangat lumrah terjadi antar keluarga.
Bahkan, ayah dan ibu juga bisa bersama karena pernikahan politik. Aku sudah muak mendengar perintah ayah yang terus menerus menyuruhku untuk bertunangan.
Aku tidak mau melakukan hal seperti itu. Aku hanya akan menjalin hubungan dengan orang yang aku cintai.
Selama ini, ayah sudah cukup banyak mengatur kehidupanku hanya karena diriku adalah satu-satunya penerus. Dan kini aku menolak perintah ayah untuk pertama kalinya.
Aku bersyukur karena ayah masih mau menuruti kemauanku meski tidak sepenuhnya. Ayah akan membiarkanku untuk memilih pasanganku sendiri. Namun itu hanya berlaku dalam waktu 3 tahun ini saja.
Jika sampai lulus SMA aku belum juga menemukan orangnya, mau tidak mau aku harus menuruti kemauan ayah untuk dijodohkan.
Tapi bagaimana? Orang yang kuinginkan adalah orang yang tidak akan pernah bisa kugapai. Orang yang sangat kusukai dan juga cinta pertamaku. Aku tidak mau bersama orang lain selain dirinya.
"Hah.. Seandainya lu tau Sil, kalau gue suka sama lu."
Aku menatap wajahnya yang terlelap. Di lubuk hatiku, aku sangat berharap dirinya mendengar perkataanku barusan.
"Haha gue pengecut ya? Padahal gue udah suka sama lu dari dulu. Tapi gue malah ga berani ungkapin ke elu."
Kusentuh pipinya yang lembut itu. Meski awalnya sempat ragu, aku memberanikan diriku untuk tetap melakukan itu. Karena aku tidak tau kapan lagi aku bisa mendapatkan kesempatan seperti ini.
"Aku sayang banget sama kamu Silvia.. Sahabatku."
Ah sial! Rasanya aku ingin sekali meneteskan air mata. Namun seorang laki-laki harus tetap tegar di kondisi apa pun bukan?
Seandainya Silvi tau pacarnya itu orang yang seperti apa. Jujur saja aku sangat ingin memberitahunya. Tapi aku tidak bisa karena aku yakin Silvi akan sedih jika mengetahuinya.
Aku tau kamu sangat menyanyangi pacarmu Silvi. Aku tidak mau melihatmu terluka. Satu-satunya cara yang bisa aku lakukan untukmu sekarang adalah dengan melindungimu diam-diam dari belakang.
Aku akan pastikan si brengs#k itu tidak akan membuatmu terluka.
Silvi, aku memang menginginkanmu. Tapi aku tidak mau memilikimu karena paksaan. Aku tak mau membuatmu merasa terkekang.
Apa pun pilihanmu, meskipun aku hanya bisa melihatmu dari jauh, selama kamu bahagia, aku sudah cukup dengan hal itu.
"Sil.. Bangun! Jangan tidur di sini dong! Kalau lu takut gue temenin deh ke kamar."
Aku berusaha untuk membangunkan Silvi dengan mengguncang pelan bahunya. Cukup lama aku harus melakukan itu hanya untuk membuatnya bangun.
Sejak kecil aku sudah sangat mengenal Silvi. Ketika tidur, dia ini tidak ada bedanya dengan orang mati. Kalau seperti ini terus, bisa berbahaya jika ada orang yang berniat jahat datang saat dia sedang tidur.
"Sil.. Silvi bangun woi!!"
"Emm? Apaan..?"
Akhirnya Silvi menyahuti ucapanku juga. Aku jadi lega. Rencanaku jika Silvi tidak bangun-bangun juga, aku berniat akan tidur di kamar lain.
"Apaan? Bangun! Jangan molor di sini! Balik sono ke kamar lu!" Kataku.
"Ah males gue." Balasnya.
"Ck ayo cepetan pindah, atau gue gendong nih!" Gertakku.
Sebenarnya itu hanya gertakan saja. Aku tak mungkin benar-benar melakukannya. Apalagi jika tanpa izin darinya.
"Ya gendong aja deh. Gue males banget." Katanya.
"Hah? Serius? Lu ngelindur?" Tanyaku heran.
"Ya udah kalau gitu gue ga mau pindah dari sini." Balas Silvi.
Maaf Silvi, kamu membuatku tak punya pilihan lain. Aku bisa saja membiarkanmu tidur di sini. Tapi kita sudah bukan anak kecil lagi.
Kita berdua bisa sama-sama terkena masalah jika ibu dan ayah sampai tau kalau kita tidur di kamar yang sama.
Aku mengamati Silvi cukup lama sebelum benar-benar menggendongnya.
"Hm.. kuat gak ya?" Tanyaku pada diriku sendiri.
Aku berniat untuk menggendongnya di depan. Tapi aku tak yakin aku bisa melakukannya. Ah lakukan saja! Kita tidak akan tau sebelum mencoba bukan?
Aku pelan-pelan mengangkatnya. Syukurlah aku kuat mengangkatnya. Sebelumnya aku tak yakin dengan diriku sendiri.
Dengan langkah perlahan, aku berjalan menuju pintu kamar lalu berjalan menyusuri lorong yang panjang ini menuju kamar tamu Silvi.
"Lu berat banget Sil! Gue saranin lu coba diet deh!"
"?!"
Aku langsung mengatupkan mulutku sesaat menyadari apa yang baru saja aku katakan.
Aku bersyukur karena Silvi masih tertidur. Kalau tidak, sepertinya aku akan mati muda. Dan keluarga Alerian akan kehilangan satu-satunya penerus mereka.
Ceklek
"Eh? Ga di kunci? Kebiasaan nih anak!"
Kubuka pintu kamar tamu Silvi yang tidak dikunci, lalu dengan perlahan kubaringkan tubuh Silvi ke atas tempat tidur. Aku tidak ingin membuatnya terbangun.
Sepertinya saat dia berbicara denganku tadi, aku yakin dirinya itu belum sepenuhnya sadar dari tidurnya. Dia tidak mungkin membiarkan orang lain menyentuh tubuhnya seperti tadi.
Semoga saja dia tidak ingat kejadian saat ini. Kalau tidak aku bisa habis di tangannya besok.
*****
Farel