Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.
Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.
Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.
Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.
"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman dari Dalam
Tiga hari berlalu sejak pesta itu.
Tiga hari Leonardo mengurungku lebih ketat dari sebelumnya.
Pintu kamar dikunci dari luar saat dia pergi. Jendela dipasang teralis besi tambahan. Bahkan kamar mandi sekarang ada kamera kecil di sudut langit-langit.
Aku benar-benar jadi tawanan.
Dan Leonardo... dia berubah. Lebih paranoid. Lebih posesif. Lebih gila.
Setiap malam dia memelukku dengan sangat erat sampai aku hampir tidak bisa bernapas. Berbisik kata-kata obsesif di telingaku sambil tangannya meraba tubuhku dengan cara yang membuatku ingin muntah.
Tapi pagi ini berbeda.
Leonardo bangun lebih awal. Bergegas mandi dan berganti baju dengan cepat.
"Ada masalah besar," ucapnya sambil mengenakan jas hitamnya. "Aku harus ke markas Milan hari ini. Mungkin dua hari tidak pulang."
Dua hari tanpa dia.
Seharusnya aku lega. Tapi entah kenapa aku malah lebih takut.
"Andrey akan jaga kau," lanjutnya sambil memeriksa pistol di lacinya. "Marco juga akan ada di vila. Jangan coba apa-apa. Mengerti?"
Aku mengangguk.
Leonardo mendekat. Mencium keningku dengan lembut tapi matanya tetap dingin.
"Aku serius, Nadira," bisiknya. "Kalau kau coba kabur saat aku tidak ada, konsekuensinya akan sangat buruk. Bukan cuma untukmu. Tapi untuk semua orang yang kau sayangi."
Ancaman yang sama. Selalu ancaman.
Lalu dia pergi.
Meninggalkanku sendirian di kamar yang terkunci dari luar.
Aku mendengar suara mobilnya pergi. Lalu hening.
Hening yang mencekam.
Sementara itu, di markas RED ASHES di Milan, Leonardo duduk di ruang rapat besar bersama beberapa petinggi organisasinya.
Marco berdiri di sampingnya. Andrey di sudut dengan laptop terbuka.
"Laporan terakhir dari divisi Eropa Timur," ucap salah satu petinggi dengan aksen Jerman. "Ada pergerakan mencurigakan dari Bratva."
Bratva. Mafia Rusia.
Leonardo mengerutkan kening. "Pergerakan seperti apa?"
"Mereka membeli senjata dalam jumlah besar. Merekrut anak buah baru. Dan yang paling mencurigakan... Damian Volkov terlihat beberapa kali bertemu dengan Don Kozlov dan Don Petrov."
Marco bersiul pelan. "Mereka lagi bentuk aliansi baru?"
"Sepertinya begitu," jawab petinggi itu. "Dan target mereka kemungkinan besar adalah kita. RED ASHES."
Leonardo mengepalkan tangannya di atas meja. "Damian sialan itu."
Andrey mengetik cepat di laptopnya. Lalu menunjukkan layar pada Leonardo.
Di layar ada foto Damian Volkov sedang berbicara dengan beberapa orang di sebuah gudang.
"Foto ini diambil kemarin malam," jelas Andrey lewat tablet yang ada suara robotik nya. "Di distrik industri Sankt Petersburg."
Leonardo memperbesar foto. Di belakang Damian ada tumpukan kotak-kotak besar.
"Apa isi kotak itu?" tanya Leonardo.
Andrey mengetik lagi. Menampilkan dokumen pengiriman yang berhasil dia hack.
"Senjata otomatis. Peluncur roket. Dan bahan peledak," jawab suara robot dari tablet. "Cukup untuk perang kecil."
"Sial," umpat Marco. "Mereka serius mau lawan kita."
Leonardo berdiri. Berjalan ke jendela besar yang menghadap kota Milan.
"Damian tidak bodoh," ucapnya dengan nada dingin. "Dia tahu kekuatan RED ASHES. Dia tahu serangan frontal akan gagal. Jadi dia pasti punya rencana lain."
Dia berbalik menatap Andrey.
"Lacak semua pergerakan Damian," perintahnya. "Siapa yang dia temui. Kemana dia pergi. Apa yang dia beli. Aku mau tahu semuanya."
Andrey mengangguk dan langsung mengetik dengan cepat.
Marco melangkah maju. "Don, apa kita perlu kirim pasukan ke Rusia? Habisi mereka sebelum mereka siap?"
Leonardo menggeleng. "Terlalu riskan. Kita tidak tahu berapa kuat aliansi mereka sekarang. Kita perlu informasi lebih dulu."
Dia menatap semua yang ada di ruangan.
"Perkuat keamanan di semua markas," perintahnya. "Gandakan penjagaan di gudang senjata. Dan yang paling penting..."
Dia berhenti sejenak.
"Vila di Lugano harus dijaga ekstra ketat," lanjutnya dengan nada yang lebih gelap. "Nadira tidak boleh sampai tersentuh. Kalau Damian cukup berani untuk ancam aku lewat dia di pesta kemarin, dia mungkin cukup bodoh untuk coba culik dia."
Marco mengangguk. "Aku sudah tempatkan sepuluh orang terbaik di sekitar vila. Dua di gerbang. Empat patroli keliling. Empat di dalam rumah."
"Tidak cukup," ucap Leonardo. "Gandakan lagi. Dan pastikan mereka semua punya komunikasi langsung dengan Andrey. Aku mau tahu setiap pergerakan mencurigakan dalam radius satu kilometer dari vila itu."
"Siap, Don."
Sementara itu, di sebuah gudang tua di pinggiran Sankt Petersburg, Damian Volkov duduk di kursi kulit sambil menyeruput vodka.
Di hadapannya berdiri lima orang. Semua berpakaian hitam. Wajah keras. Mata tajam.
"Jadi," ucap Damian sambil meletakkan gelasnya. "Kalian sudah paham rencana nya?"
Salah satu dari mereka, pria botak dengan bekas luka di dahi, melangkah maju.
"Kami akan menyusup ke vila Valerio di Lugano," ucapnya dengan aksen Rusia kental. "Ambil target. Bawa dia keluar tanpa ketahuan."
"Dan kalau ketahuan?" tanya Damian sambil tersenyum tipis.
"Bunuh siapapun yang menghalangi," jawab pria itu tanpa ragu. "Kecuali target. Dia harus hidup."
Damian mengangguk puas. "Bagus. Tapi ingat, ini bukan penculikan biasa. Target adalah istri Leonardo Valerio. Dia dijaga ketat. Ada Andrey Dominic yang punya sistem keamanan canggih. Ada Marco Valerio yang brutal seperti binatang. Dan belasan pengawal terlatih."
Dia berdiri. Berjalan mengelilingi kelima orang itu.
"Kalian harus masuk tanpa terdeteksi," lanjutnya. "Kalian punya dua hari saat Leonardo di Milan. Itu jendela kesempatan kalian. Setelah dia balik, keamanan akan berlipat ganda."
Pria botak itu mengangguk. "Kami sudah pelajari layout vila. Sudah identifikasi titik buta kamera. Sudah siapkan rute keluar. Kami bisa masuk dan keluar dalam waktu dua puluh menit."
"Bagaimana dengan sistem alarm?" tanya Damian.
"Kami punya jammer untuk sinyal elektronik," jawab yang lain, pria kurus dengan mata sipit. "Dan kami punya inside man yang bisa matikan sistem dari dalam untuk lima menit. Cukup untuk kami masuk."
Damian tersenyum lebar. "Inside man? Siapa?"
"Salah satu pelayan baru yang baru diterima dua minggu lalu," jawab pria kurus itu. "Kami sudah tanam dia sejak sebulan yang lalu. Dia punya akses ke ruang kontrol."
"Sempurna," ucap Damian sambil kembali ke kursinya. "Kalau kalian berhasil bawa Nyonya Valerio kesini, aku akan bayar masing-masing kalian dua juta dolar. Tapi kalau gagal..."
Dia menatap mereka dengan tatapan dingin.
"Jangan harap bisa kembali hidup-hidup. Leonardo akan bunuh kalian dengan cara yang sangat lambat. Dan aku... aku tidak akan bantu kalian."
Kelima orang itu tidak bergeming. Sudah terbiasa dengan ancaman.
"Kapan kami berangkat?" tanya pria botak.
"Besok malam," jawab Damian. "Persiapkan semua yang kalian butuhkan. Ini akan jadi operasi paling berbahaya dalam hidup kalian. Tapi kalau berhasil, kita akan punya senjata paling ampuh untuk hancurkan Leonardo Valerio."
Dia mengangkat gelasnya.
"Za uspekh," ucapnya dalam bahasa Rusia. Untuk kesuksesan.
Kelima orang itu mengangkat gelas mereka dan menenggak vodka dalam satu tegukan.
Keesokan malamnya, di vila Lugano, aku duduk sendirian di perpustakaan.
Andrey mengizinkanku keluar kamar untuk beberapa jam. Tapi dengan pengawasan ketat. Ada dua pengawal berdiri di pintu perpustakaan. Kamera di setiap sudut ruangan.
Aku mencoba membaca buku tapi tidak bisa fokus. Pikiranku terus melayang ke Damian Volkov.
Tawarannya.
Bantuannya.
Apa dia serius? Atau cuma jebakan?
Tapi bagian kecil dariku... bagian kecil yang masih punya harapan walau tipis... ingin percaya.
Ingin percaya bahwa mungkin ada jalan keluar.
Tiba-tiba lampu berkedip.
Sekali. Dua kali.
Lalu mati total.
Gelap.
Gelap gulita.
Aku tersentak berdiri. Jantung langsung berdegup kencang.
"Hei!" teriak salah satu pengawal dari pintu. "Apa yang terjadi?!"
Suara langkah kaki berlarian di luar. Suara teriakan. Suara...
DOOORR!
Tembakan.
Oh Tuhan.
DOOORR! DOOORR!
Tembakan lagi. Lebih banyak.
Lalu suara benda berat jatuh.
Aku berlari ke sudut ruangan. Bersembunyi di balik rak buku besar sambil menutup mulut dengan tangan.
Pintu perpustakaan dibuka dengan kasar.
Cahaya senter menyorot ke dalam.
"Target harus di sini," ucap suara dengan aksen asing. Rusia.
Langkah kaki masuk. Dua orang. Tiga.
Aku menahan napas. Tubuh gemetar tidak terkendali.
"Cari dia," perintah suara itu. "Cepat. Kita punya tiga menit sebelum backup datang."
Mereka mulai mencari. Membalikkan meja. Membuka lemari.
Semakin dekat ke tempatku bersembunyi.
Aku menutup mata. Berdoa dalam hati.
Kumohon. Kumohon jangan temukan aku.
Tapi doa tidak cukup.
Cahaya senter menyorot ke wajahku.
"Ketemu," ucap pria itu sambil tersenyum.
Pria botak dengan bekas luka di dahi.
Dia mengulurkan tangannya. "Ikut kami, Nyonya Valerio. Kami tidak akan sakiti kau. Kami hanya mau bawa kau ke tempat yang lebih aman."
"JANGAN SENTUH AKU!" aku berteriak sambil mundur lebih jauh ke sudut.
Pria itu melangkah maju. "Kami tidak punya waktu untuk diskusi. Maaf untuk ini."
Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Kain putih.
Kloroform.
Aku mencoba lari tapi dia lebih cepat. Meraih lenganku dan menutup mulut dan hidungku dengan kain itu.
Bau menyengat langsung masuk. Kepalaku langsung pusing.
Aku memberontak. Mencoba melepaskan diri. Tapi kekuatanku tidak sebanding.
Pandanganku mulai kabur. Tubuh melemah.
Dan yang terakhir kudengar sebelum semuanya gelap adalah suara tembakan lagi dari luar.
Dan suara teriakan Andrey yang bisu tapi entah bagaimana tetap mengancam.
Lalu semuanya hitam.
Gelap total.
Dan saat aku sadar lagi, aku sudah tidak di perpustakaan.
Aku di dalam van yang bergerak cepat.
Tangan terikat. Mulut dibungkam.
Dan di sampingku duduk pria botak itu sambil tersenyum puas.
"Selamat datang di kebebasanmu, Nyonya Valerio," ucapnya dengan nada sinis. "Atau mungkin... selamat datang di penjara yang baru."
Dan aku tahu.
Ini bukan penyelamatan.
Ini penculikan.
Dan entah ini akan jadi lebih baik atau lebih buruk dari Leonardo.
Tapi yang pasti...
Perang sudah dimulai.
Dan aku ada di tengah-tengahnya.
Sebagai sandera.
Sebagai senjata.
Sebagai alat untuk menghancurkan monster yang mengaku mencintaiku.