NovelToon NovelToon
DEWA PETIR EMAS

DEWA PETIR EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Slice of Life / Misteri / Cinta setelah menikah / Pusaka Ajaib / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAMPAI DI DESA HAMPSHIRE

"Yang Mulia, Anda tidak apa-apa?" tanya Von Gardo dengan nada yang sangat khawatir, sambil menyeka noda darah di pipinya dengan punggung tangan yang masih bersarung besi.

Vion menarik napas berkali-kali, berusaha mengisi paru-parunya yang terasa menyempit akibat syok. Ia menggeleng pelan meski tubuhnya masih gemetar hebat. "Tak apa... aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Anak buahmu?"

Von Gardo menoleh ke belakang, menatap para kesatrianya yang kini sedang sibuk membalut luka dua rekan mereka yang tersungkur di atas tanah yang becek.

"Mereka tidak apa-apa, Yang Mulia. Hanya luka tebas, mereka masih bisa bertahan di atas pelana."

"Kita istirahat dulu," ucap vion spontan, rasa kemanusiaannya terusik.

"Aku tidak tega melihat mereka menahan sakit seperti itu."

"Jangan, Yang Mulia. Kita tidak boleh berhenti di sini," potong Von Gardo dengan tegas namun tetap hormat.

"Lebih baik kita segera tinggalkan hutan terkutuk ini. Di depan sana, sekitar satu mil lagi, kita akan sampai di Desa Hampshire. Itu adalah desa kecil di bawah perlindungan gereja, kita bisa mencari penginapan dan tabib di sana."

Kedua mata vion melotot lebar. Ia tentu sangat terkejut—bukan karena jaraknya, tapi karena ia tidak menyangka dalam kondisi terluka parah pun, para ksatria ini masih dipaksa untuk terus bergerak.

Ia baru menyadari betapa kerasnya kehidupan di zaman ini. Namun, melihat sorot mata Von Gardo yang waspada, ia tahu bahwa menetap di hutan yang penuh mayat penyerang ini jauh lebih berbahaya.

Vion hanya bisa mengangguk pasrah. Ia kembali masuk ke dalam kereta, sementara kereta mulai bergerak lebih cepat, membelah kabut menuju desa yang dijanjikan.

Vion kembali terduduk di sudut kursi beludru kereta yang berguncang hebat. Ia menyibakkan kain tirai jendela sedikit saja, menatap barisan pepohonan gelap yang berlari melewati pandangannya. Di tengah kegelapan hutan itu, bayangan wajah seseorang dari masa lalunya muncul begitu nyata.

'Mbak leni... maaf,' batinnya pilu.

Ia teringat tetangga kontrakannya yang selalu ia ganggu dengan suara musik keras atau knalpot motor bututnya.

'Maafkan aku yang selalu berisik dan mengganggu istirahatmu. Sumpah serapahmu benar-benar terkabul sekarang. Aku sekarang hidup di hutan, di zaman antah-berantah, dan di sini... aku benar-benar terancam mati setiap detiknya.'

Rasa penyesalan itu datang bertubi-tubi, menghimpit dadanya lebih sesak daripada luka tusukan yang hampir merenggut nyawa Alaric.

Ia teringat betapa songongnya ia dulu, betapa ia tidak menghargai waktu dan orang-orang baik di sekitarnya. Keinginan untuk pulang ke Indonesia meradang hebat di dalam hatinya.

Ia ingin kembali, bukan untuk menjadi kaya, tapi untuk bersimpuh meminta maaf kepada semua orang yang telah ia lukai hatinya dengan lisan dan kelakuannya yang buruk.

Air matanya nyaris jatuh lagi, namun ia segera menarik napas panjang. Ia harus tetap hidup untuk bisa meminta maaf secara langsung.

Seorang pria bertubuh tambun dengan apron kulit yang tampak ramah menyambut kedatangan Von Gardo dan rombongannya di depan pintu penginapan kayu tersebut. S

Sesuai dengan rencana yang telah mereka susun di tengah jalan, Von Gardo menyembunyikan identitas asli Pangeran Alaric dan para ksatria lainnya.

Bahkan, mereka telah mengganti jubah kebesaran dengan mantel wol kasar milik rakyat biasa agar tidak mencolok.

Setelah kamar di lantai atas siap, Von Gardo mengantar vion menuju sebuah ruangan kecil yang berbau kayu pinus dan lilin lebah.

Ia menyuruh vion untuk segera masuk dan beristirahat demi memulihkan tenaganya.

"Tuanku," ucap Von Gardo dengan suara nyaris berbisik di ambang pintu, matanya melirik waspada ke arah lorong penginapan yang remang-remang.

"Di sini memang tampak tenang, tapi kewaspadaan tetaplah perisai terbaik kita. Jangan buka pintu untuk siapa pun selain aku."

Vion mengangguk pelan. Meski kepalanya masih pening dan hatinya masih diliputi kerinduan pada rumah aslinya, ia mulai menyadari bahwa di negeri antah-berantah ini, kesalahan kecil bisa berarti nyawa. Ia harus belajar memahami aturan main di dunia ini, sedikit demi sedikit, jika ingin bertahan hidup.

"Jika begitu, saya permisi. Kamar saya berada tepat di sebelah kamar Anda. Anda bisa berteriak memanggil saya jika terjadi sesuatu yang mencurigakan," tambah Von Gardo sebelum menutup pintu dengan rapat.

"Iya, istirahatlah yang cukup. Keselamatanku bergantung padamu," ucap Vion pelan namun tulus.

Kedua mata Von Gardo sedikit melebar. Ia menatap Vion lekat-lekat, seolah mencari sosok Pangeran Alaric yang dulu ia kenal—pria yang biasanya sombong, dingin, dan jarang mempedulikan nyawa bawahannya. Namun, pria di depannya ini sekarang bicara seolah mereka adalah rekan seperjuangan.

"Yang Mulia..." gumamnya dengan nada tak percaya.

Vion menarik napas panjang, menatap jendela yang menampilkan bayangan pepohonan tertiup angin malam.

"Von Gardo, kau akan tahu sesuatu setelah kita sampai di Portsmouth nanti. Ada banyak hal yang harus aku jelaskan."

"Hamba akan melindungi Anda sampai tetes darah penghabisan, Yang Mulia. Itu sudah menjadi sumpah suci hamba kepada takhta Kerajaan Valerius," tegas Von Gardo sambil meletakkan kepalan tangannya di d**a kiri, memberi penghormatan ksatria yang paling tinggi.

Vion tersenyum tipis.

"Ya, Pangeran Alaric akan sangat bersyukur memiliki kalian yang setia. Sekarang kembalilah ke kamarmu. Aku juga ingin tidur."

Sementara itu, di sebuah penginapan yang berbeda

Di sebuah penginapan mewah yang tersembunyi di perbatasan wilayah, seorang wanita mengangkat cangkir porselen berisi teh herbal dengan gerakan yang sangat anggun.

Ia meniup permukaannya sedikit, lalu menyesapnya perlahan sembari menatap dingin ke luar jendela. Pelayan sekaligus pengawal pribadinya segera maju untuk menerima cangkir kosong tersebut.

Wanita itu adalah Lady Genevieve; putri tertua dari keluarga Duke of Aquitaine. Namun, di balik keanggunannya, ia menyimpan dendam yang membara.

Genevieve adalah putri yang terbuang setelah ibunya dituduh berselingkuh dengan salah satu menteri utama di Kerajaan Valerius.

Demi mendapatkan kembali kepercayaan ayahnya dan memulihkan nama baik keluarganya, ia harus menyelesaikan sebuah misi gelap: memastikan Pangeran Alaric tidak pernah kembali ke istana.

Selama belasan tahun, Genevieve mengasingkan diri, belajar seni bela diri dan strategi perang secara rahasia. Semua itu ia lakukan hanya demi satu tujuan—kembali ke istananya dan merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya.

Ia sangat membenci Lord Julian, adik tirinya yang lahir dari rahim seorang selir. Ayahnya yang sudah tua dan gila wanita itu justru memilih Julian sebagai ahli waris takhta Duchy, mengabaikan Genevieve yang jauh lebih kompeten.

"Jadi... Pangeran Alaric sudah memasuki wilayah Desa Hampshire?" tanya Genevieve dengan suara dingin yang tajam.

"Benar, Milady," jawab pengawalnya sambil membungkuk dalam.

"Mereka baru saja tiba di penginapan 'The Rusty Shield'. Pangeran tampak lemah, namun Jenderal Von Gardo menjaganya dengan sangat ketat."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!