NovelToon NovelToon
Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romansa Fantasi / Cinta Terlarang / Obsesi / Perperangan / Dark Romance
Popularitas:833
Nilai: 5
Nama Author: HOPEN

Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masalah Hidup

Aku segera menyadari satu hal yang benar-benar menyebalkan: Cloudet bukan hanya beban, dia adalah magnet masalah yang keras kepala.

Dalam waktu yang terlalu singkat bagi standar pertumbuhan manusia—mungkin karena desakan insting bertahan hidup yang liar—tubuh kecilnya yang rapuh itu mulai menolak untuk sekadar merangkak. Dia mulai berdiri. Kakinya yang mungil gemetar hebat seperti ranting kering ditiup badai, langkahnya tidak seimbang, dan sering kali dia berakhir mencium lantai obsidian yang keras. Tapi tekadnya? Tekadnya sangat kuat.

Dan yang paling buruk dari semua perkembangan itu? Dia mulai mengikutiku ke mana-mana.

Langkahnya kecil, terseret, dan berisik.

Tap. Tap. Tap. Bunyi telapak kaki mungil di atas batu dingin itu bergema di sepanjang lorong istana, menghancurkan kesunyian yang biasanya aku nikmati.

Aku sengaja berjalan keluar kamar dengan langkah lebar. Aku ingin dia tahu bahwa kecepatanku bukan untuk makhluk seukurannya.

Tap. Tap. Tap.

Aku menoleh dengan tatapan tajam. Di sana, beberapa meter di belakangku, Cloudet sudah duduk di lantai. Dia terjatuh lagi. Tapi dia tidak menangis. Dia hanya diam, duduk rapi dengan kedua tangan menumpu di lantai, menatapku dengan mata kuning bulat yang jernih, seolah-olah dia sedang menunggu instruksi selanjutnya.

"...Jangan ikut," kataku datar, memberi peringatan yang cukup jelas bagi siapa pun yang memiliki akal sehat dan pikiran

Ia tidak menjawab. Dia hanya berkedip, memiringkan kepalanya sedikit hingga rambut hitam halusnya jatuh menutupi satu matanya. Aku mendengus, berbalik, dan melangkah lagi dengan sengaja lebih cepat.

Tap. Tap. Tap.

Aku berhenti mendadak dan menoleh lebih cepat dari sebelumnya. Sesuai dugaan, dia kembali terjatuh. Kali ini posisinya sedikit lebih berantakan, tapi wajahnya tetap polos tanpa rasa bersalah. Dia seolah mengabaikan gravitasi yang terus menjatuhkannya demi mengejar bayanganku.

Aku mendecak keras. "Aku bilang tidak usah ikut! Kau hanya akan melukai dirimu sendiri."

Dia terdiam sebentar, lalu dengan tenaga yang entah datang dari mana, dia mendorong tubuhnya untuk berdiri lagi. Wajahnya serius, seolah mengikuti jalanku adalah tugas suci yang diberikan langsung oleh penguasa neraka terdalam. Aku membuang muka dan mempercepat langkah, kali ini benar-benar menjauh.

Beberapa detik kemudian, suara tangis itu muncul.

"Whii—"

Rengekan kecil, tipis, dan penuh keputusasaan. Itu bukan suara kesakitan fisik, tapi suara ketakutan karena ditinggalkan. Aku berhenti. Sialan. Aku memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, merasakan udara belerang memenuhi paru-paruku.

Aku menoleh. Cloudet berdiri terpaku di tengah lorong yang luas dan gelap. Sosoknya terlihat begitu kecil, hampir tenggelam oleh bayangan pilar-pilar raksasa. Kakinya gemetar hebat, matanya mulai berkaca-kaca, dan bibir bawahnya bergetar. Dia tidak berani melangkah lebih jauh karena kakinya sudah mencapai batas, tapi dia jelas menolak untuk menyerah pada jarak di antara kami.

"Kenapa kau selalu mengikutiku?" gumamku kesal, lebih kepada diriku sendiri. "Disini bukan tempat aman bagi siapa pun, apalagi untukmu."

Dia tidak mengerti sepatah kata pun. Namun dia mengerti satu hal yang paling mendasar: aku sedang menjauh, dan dunianya yang baru saja lahir terasa akan runtuh jika aku benar-benar hilang dari pandangannya.

Rengekannya makin jelas. Tangannya terangkat sedikit ke udara, jemari mungilnya bergerak seolah ingin meraih ujung jubahku yang sudah jauh di depan. Aku berbalik sepenuhnya. Menatapnya lama dari kejauhan, mencoba mencari alasan untuk tetap pergi dan membiarkannya belajar secara keras.

Tapi aku gagal.

Aku berjalan kembali ke arahnya—sampai berdiri tepat di depannya. Dia langsung terdiam, menelan sisa rengekannya. Aku berlutut hingga sejajar dengannya. "Dengarkan," kataku dengan nada suara yang lebih rendah dan berat. "Kau tidak boleh mengikutiku ke mana-mana. Ini tempat yang berbahaya. Ini bukan tempat untuk bermain-main—"

Aku terhenti. Kalimat ancamanku tersangkut di tenggorokan.

Tiba-tiba, dia maju satu langkah dan memeluk kakiku. Kedua tangan mungilnya melingkar erat di betisku, kepalanya menempel di sana seolah aku adalah satu-satunya tiang pancang yang menahan dunianya agar tidak hancur.

Aku membeku. Sensasi hangat dari tubuh kecilnya menembus kain celanaku.

“Sial."

Aku mencoba berdiri tegak, menyeretnya beberapa langkah tanpa sengaja karena dia menolak untuk lepas. Dia tetap di sana, mencengkeram kain celanaku sekuat tenaga.

"Lepas," kataku, berusaha terdengar otoriter.

Dia menggeleng kecil. Sebuah rengekan penolakan keluar dari tenggorokannya. Aku mendengus frustrasi, mengacak rambutku sendiri.

"Kau benar-benar keras kepala. Siapa yang mengajarimu sifat ini? Ayah?!”

Dia tidak tahu arti kata-kataku, tapi dia tahu caranya bertahan hidup. Akhirnya, aku menyerah. Aku membungkuk dan mengangkatnya, membiarkannya menggantung sebentar di lenganku sebelum aku memposisikannya di pinggangku. Tubuh kecilnya langsung tenang. Napasnya yang tadi memburu kini menjadi teratur, seolah inilah posisi yang memang ia incar sejak awal.

Aku menatap wajahnya yang kini berjarak hanya beberapa senti dari wajahku. Jengkel. "Mulai sekarang," kataku pelan, setengah mengancam tapi suaraku mengkhianatiku dengan nada yang terlalu lembut, "kau tidak boleh menangis setiap kali aku melangkah. Jika kau mau ikut, kau harus diam."

Cloudet menatapku dalam-dalam, lalu—dengan sangat tipis—dia tersenyum. Sebuah senyuman kemenangan yang kecil dan menyebalkan.

Aku mendengus dan memalingkan muka.

"Jangan tersenyum seperti itu. Aku tidak setuju dengan ini."

Namun, saat aku mulai melangkah lagi menyusuri tangga istana, aku menyadari sesuatu yang memalukan. Langkah kakiku melambat. Aku, Calix, yang biasanya berjalan seperti badai yang tak terhentikan, kini menyesuaikan kecepatanku dengan ritme napas seorang anak kecil yang baru belajar berjalan.

Udara di aula bawah terasa berbeda saat kami turun. Dingin, kaku, dan penuh dengan aura yang menekan. Aku baru menyadari betapa mencoloknya kami ketika aku melihat sosok yang berdiri di dekat perapian besar.

Calona.

Dia berdiri di sana dengan postur yang begitu tegak, dibalut pakaian hitam yang elegan namun mematikan. Matanya yang tajam seperti belati tidak tertuju padaku, melainkan pada makhluk kecil yang kini berdiri di belakang kakiku setelah aku menurunkannya di anak tangga terakhir.

Cloudet sempat hampir tersandung, tapi dia menahan dirinya. Dia menoleh ke arahku sejenak, memastikan aku masih ada di sisinya, sebelum kembali berdiri dengan tegak. Dia merasakan aura tidak bersahabat itu.

Calona tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang bagi siapa pun di neraka ini berarti satu hal: bahaya.

"Menarik," katanya datar, suaranya menggema di aula yang sunyi. "Kau membiarkan makhluk itu berkeliaran bebas sekarang? Di istana ini?"

Aku tidak menjawab. Aku hanya berdiri diam, membiarkan auraku sendiri menyeimbangkan tekanan di ruangan itu. Cloudet bersembunyi setengah di belakang betisku, jemari kecilnya mencengkeram kain celanaku dengan gemetar. Naluri hellhound-nya bekerja lebih baik dari yang kuduga; dia tahu siapa predator di ruangan ini.

Calona melangkah maju satu langkah. Langkahnya anggun, namun setiap dentumannya seolah menekan lantai batu.

"Seharusnya aib sepertinya ikut mati bersama gundik itu."

Kata-katanya jatuh dengan begitu tenang. Tanpa emosi. Seolah dia hanya sedang membicarakan cuaca atau urusan sepele lainnya. Namun, kata-kata itu seperti api yang menyambar bensin di dalam dadaku.

Dunia di sekitarku bergetar. Cloudet menegang hebat. Meski dia tidak mengerti arti kata-katanya, dia menangkap kebencian murni yang menguar dari suara Calona. Dia mencengkeram kain celanaku lebih erat hingga buku jarinya memutih.

Aku merasakan sesuatu bangkit dari dasar jiwaku. Panas. Berat. Gelap. Aku melangkah setengah langkah ke depan, menempatkan diriku sebagai tameng yang menutup Cloudet sepenuhnya dari pandangan Calona.

"Jangan," kataku.

Suaraku tidak keras, tapi rendah dan membawa getaran yang membuat api di pilar-pilar aula berderit ketakutan.

Calona mengangkat satu alisnya, tampak terhibur. "Jangan apa, Calix?"

"Jangan bicara tentang dia," ulangku, setiap kata kutekankan dengan niat membunuh yang tertahan. "Dengan nada itu. Di hadapanku."

Dia menatapku lama, mencari celah di mataku, lalu tertawa kecil yang terdengar sangat mengejek. "Kau melindungi makhluk itu sekarang? Seekor campuran yang lemah? Kau benar-benar sudah melunak."

Aku tidak bergeser satu milimeter pun. "Dia anak Jover," katanya dingin

"Dan darahnya tercemar," sahut Calona cepat.

"Dia adikku!."

Keheningan jatuh seketika. Kata-kata itu menggantung di udara seperti vonis. Itu adalah pengakuan yang tidak pernah aku bayangkan akan keluar dari mulutku sendiri. Calona menyipitkan mata, rahangnya mengencang.

"Kau mulai melupakan posisimu, Calix. Kau adalah hellhound, bukan penjaga aib."

"Mungkin," jawabku datar, mataku mengunci matanya tanpa ragu. "Atau mungkin aku baru saja mengingat posisiku sebagai kakak."

Cloudet menarik ujung pakaianku pelan. Sebuah rengekan kecil yang sangat halus lolos dari bibirnya. Aku menunduk sedikit, tanpa sedikit pun memalingkan wajah atau kewaspadaanku dari Calona.

"Diamlah,” gumamku pelan padanya. "Aku di sini. Tidak ada yang akan menyentuhmu."

Anak itu langsung tenang. Gemetarnya mereda seolah kata-kataku adalah mantra pelindung paling kuat di seluruh neraka.

Calona memperhatikan interaksi itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu selain rasa jijik di matanya. Ada perhitungan. Ada kewaspadaan baru.

"Berhati-hatilah, Calix," katanya akhirnya sambil berbalik pergi, jubah hitamnya berkibar tajam. "Kasih sayang di neraka selalu berakhir buruk. Kau hanya memberinya alasan untuk menjadi sasaran empuk bagi musuh-musuhmu."

Dia pergi, meninggalkan aroma dingin dan sisa-sisa energi yang tidak menyenangkan. Aku berdiri diam selama beberapa detik, memastikan kehadirannya benar-benar menghilang dari aula.

Lalu, aku berlutut.

Cloudet menatapku dengan mata kuning besarnya yang penuh kebingungan. Dia mengulurkan tangan, menyentuh lenganku pelan, seolah ingin memastikan bahwa aku tidak akan meledak atau menghilang.

Aku menghela napas panjang, membuang sisa ketegangan dari bahuku. "...Jangan dengarkan apa pun darinya," kataku, meski aku tahu dia belum mampu memproses nasehat itu.

Ia menatapku lama, seolah sedang membaca kejujuran di mataku. Lalu, dengan gerakan yang hampir lucu, dia mengangguk kecil. Dia melepaskan cengkeramannya pada celanaku, berdiri dengan kaki yang masih agak goyah, dan kembali bersiap untuk mengikuti langkahku.

Aku mendengus pelan, berdiri tegak kembali.

"Sial. Kau benar-benar membuatku repot, bocah."

Bersambung.

1
Im_Uras
🤭🤭
Im_Uras
😍
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
lucu itu.. namanya juga masih masa pertumbuhan🤭🙏
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
wah.. pasti cakep banget
j_ryuka
namanya juga anak-anak
Tulisan_nic
ikut aku aja cloudet
Tulisan_nic
unyu banget,🫣
chrisytells
Kalau nggak keras, bukan kepala namanya 🤭😄
chrisytells
Udah otot kawat, tulang besi dari sononya nih si Cloudet
chrisytells
Gimana rasanya tuh, ditempelin? 🤣
Panda%Sya🐼
Benar kamu harus tumbuh jadi kuat
Diem Lu Move On Ege!
Cloudet masih masa pertumbuhan dan bimbingan orang dewasa, dan seusia dia lagi Lucu-lucunya
Vanillastrawberry
kasian nggak tau wajah ibunya 😥
Mentariz
siapp ntar kamu akan jatuh hati padanya😁
Mentariz
Kekuatannya emang gak main-main yaa 😂
Mentariz
Wuuiihh pasti cantik banget nih cloudet😄
j_ryuka
nyebelin tapi lucu
chrisytells
Iseng banget sih🤣
chrisytells
Udah nakutin, body shaming lagi😄
chrisytells
Nggak kebayang gimana karakternya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!