COVER FROM PINTEREST
.
.
Dinda tidak mengingat apa yang terjadi pada dirinya, dia hanya mengingat bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan dan tak hanya itu, dia masih mengingat jelas ketika pria yang dia cintai itu merenggut masa depannya. Namun dengan tatapan mata pria itu, Dinda bisa memastikan bahwa ada jutaan rahasia yang tidak dia ingat. Termasuk tentang bayi perempuan yang baru dia lahirkan. Bayi itu..., sangat mirip dengannya dan pria brengsek itu.
"Dia anak kita yang ke dua, Dinda," ucapnya dan mulai dari situ Dinda merasa semakin gila karena tidak bisa mengingat apapun.
Bagaimana dia bisa mempunyai anak ke dua sedangkan anak ke satu pun dia tidak mengingat siapa namanya.
PERHATIAN!
Cerita ini memiliki alur maju-mundur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzieraHill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
PERHATIAN!! Cerita ini memiliki alur maju-mundur
Dinda POV
Fika tersenyum dengan mata yang sangat aku rindukan. Dia terus bercerita mengingat-ingat tentang dulu betapa populernya aku. Betapa aku tak ingin si Mika itu terus mengejarku. Lalu senyumannya pudar dengan sedemikian rupa dengan air mata yang tiba-tiba keluar dari matanya.
“Hei ada apa?” tanyaku padanya sangat heran. Dia menangis dan menggenggam tanganku sangat erat. Kepalanya dia tundukkan di atas punggung tanganku dan aku bisa merasakan air matanya yang jatuh ke atas kulitku.
“Aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Bagaimana bisa kau seperti ini. Kau sangat membuatku memikirkanmu,” layaknya Daniel, dia mengatakan itu padaku. Aku tahu Fika sangat tulus menyayangiku. Kalau tidak mana mungkin dia masih di sini denganku. Masih setia menjadi sahabatku bahkan saat aku seperti ini dia menangis mengataka kalau dia tidak ingin kehilanganku.
“Jangan pernah melakukan ini pada orang lain lagi. Aku mohon!. Semuanya sangat akan terpukul jika kau pergi,” tak terasa air mataku runtuh juga.
“Aku juga tidak ingin meninggalkan siapapun di dalam hidupku. Aku ingin semuanya baik-baik saja, tapi ternyata aku sendiri tak bisa mengingat apapun. Menyedihkan sekali.” Ungkapku lalu Fika menyeka air mataku dengan perlahan. Dia mencium tanganku dengan genggaman tangannya yang sangat erat.
“Aku ada di sini. Daniel ada di sini. Semuanya akan ada di sini sampai kau sembuh,”
.....................................
Seperti biasanya mata kuliahku selalu berhasil selesai di atas jam 3 sore. Aku yang menjadi mahasiswa aktif hanya di pelajaran tidak mengikuti apapun kegiatan lainnya di luar semua kemampuanku yaitu hanya belajar . Aku tidak tertarik dalam berorganisasi. Bagiku itu sama saja terikat. Aku tidak bebas dan aku hanya ingin memperketat nilaiku kemudian lulus menjadi Mahasiswa terbaik di jurusanku.
Bagaimana?, tentu saja aku memiliki cita-cita yang besar. Aku ingin seperti Ayah. Mempunyai bisnis di luar kota maupun luar negeri. Bolak-balik ke tempat yang membuatku asing namun nyaman sekaligus takjub dengan semua fenomena yang aku bisa lihat dengan mata kepalaku sendiri, ya.... dunia ini sangat lebar dengan segala keindahannya, karena itu aku ingin melihatnya.
Laki-laki itu membuntutiku kemanapun aku pergi. Aku berbisik dengan Fika, sementara Mika si laki-laki keras kepala itu terus meneliti kami hingga aku menjauhkan bibirku dari telinga Fika.
"Hah masa sih. Kau akan menikah? Kenapa kau baru mengatakan itu padaku," ungkap Fika berhasil merubah air di wajah Mika. Acting Fika memang tidak bisa diragukan. Dia sahabatku yang paling bisa menempatkan keadaanku di saat tidak nyaman seperti ini.
"Maaf tapi pernikahanku sangat rahasia. Aku tidak akan mengundang tamu yang tidak PENTING ke acaraku," ungkapku menekan kata 'penting' itu ke arah Mika yang masih meniliti kami dengan jarak yang bisa aku lihat.
Ayolah, Mika kau sudah menjadi sampah di hidupku. Kenapa tidak ada hentinya ingin mengejarku sih!. Aku saja sudah sangat muak melihat wajahnya. Sekalipun aku diberi uang 100 juta dengannya agar kembali lagi. Aku tidak akan sudi mengambilnya hanya untuk menjual harga diriku yang sudah dimuntahkan kemudian ingin dia jilat lagi.
"Ya aku tahu. Kau memang yang paling berbeda Dinda, tapi apa aku akan kau undang di acara pernikahanmu itu?" tanya Fika membuatku sadar kalau sedari tadi aku sudah membuat tema sendiri dibisikkan dusta itu. Aku meminta Fika agar Mika terkejut dengan kata-kata yang sedang aku bisikkan padanya, tapi... ah double sial. Kenapa aku baru sadar kalau Fika berbicara tentang pernikahan. Gila! Fika Gila! Ini sama saja membunuhku.
" Oh ya tentu. Kau kan sahabatku," dan bodohnya aku malah meneruskan drama ini. BODOH!.
Kulihat Mika sudah pergi menjauh. Fika dan aku pun menghela nafas berbarengan.
“Sungguh kenapa begitu keras kepala sekali sih pria itu!” Gerutu Fika dan aku hanya mampu mengangkat bahuku sendiri, karena aku pun tidak tahu.
“Oh ya bagaimana?. Apa yang ingin kau ceritakan padaku?” tanya Fika, karena kemarin aku sudah berjanji ingin bercerita tentang Daniel.
Aku pun menghela nafasku sejenak meremas tanganku dan memang ada sesuatu yang aku sangat resahkan. “Ada apa?. Apa ada sesuatu yang terjadi?. Apa laki-laki itu tak memperbolehkanku main ke rumahmu?” tanya Fika dan aku menggelengkan kepalaku.
“Bukan tentang itu.”
“Lalu?” tanyanya lagi sangat penasaran dan aku pun mendekatkan bibirku ke arah telinganya.
Dua menit terlewat, Fika nampak terkejut dan dia mulai menarik tanganku. “Kau gila! Mana mungkin bisa terjadi!”
***
Jangan lupa komennya :(
TOP epribadeeeeehhhh ...👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍