Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.
Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.
Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.
Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.
Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.
Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.
“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”
Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part Tiga Puluh Lima
Hari senin pagi ... Ia bersiap seperti biasanya. Berangkat lebih pagi. Begitu sampai kantor, ia langsung menuju tempat makan seperti biasanya. Tempat makan ekslusif bersama Axel.
Pelan, ia membuka pintu itu lalu melangkah masuk kedalam. Seperti biasa ada Axel di sana. Duduk tenang menunggunya. Dan bahkan menatapnya sejak ia pertama masuk. Mikhasa tersenyum kali ini, tidak menampakkan wajah yang kesal. Karena biar bagaimanapun, Nyonya besar Mercier membantunya keluar dari satu masalah, seratus juta itu.
Di sisi lain, Axel terdiam menatap senyum itu, meskipun mungkin tidak sepenuhnya tulus. Senyum itu sungguh mengobati rindunya pada Liora.
"Selamat pagi, Axel," sapa Mikhasa dengan ceria.
Axel mengangguk tanpa menjawab. Semalam ia bermimpi bertemu Liora dan pagi ini Mikhasa tersenyum padanya. Dia merasa bahagia.
Mikhasa duduk di kursi seberang Axel. "Aku bikin kamu nunggu lama ya? Umm, besok nggak lagi deh. Besok aku bakal berangkat lebih pagi," ucap Mikhasa merasa bersalah. Dia bahkan sedikit menunduk karena merasa canggung dan tidak nyaman dengan tatapan Axel padanya. Pandangan mata yang entah kenapa terasa begitu dalam dan menyayat dalam waktu yang sama.
Mikhasa merasa sangat aneh dengan situasi ini, dan... kenapa tuan muda ini tidak usil seperti biasanya. Tidak ada senyum nyebelin, atau sapaan sarkas yang membuat paginya penuh dengan ujian kesabaran.
Mikhasa mengangkat wajah lagi menatap wajah Axel. Dan mata mereka langsung bertemu. Saling menatap dalam diam.
Axel tidak berkata apapun, ia hanya menatap Mikhasa dengan tenang dan dalam. Menyelami keheningan mata itu, merasakan perasaan bahagia yang aneh. Ya, sangat aneh menurutnya karena melihat Mikhasa tersenyum padanya saja, rasanya ia memiliki perasaan bahagia yang sejak lama hilang darinya. Apakah ini karena ia seolah bertemu dengan Liora lagi ataukah karena Mikhasa itu sendiri.
"Huf, hari yang sangat aneh," ujar Mikhasa memecah keheningan diantara mereka. Ia mengalihkan pandangan dan mengambil sarapannya. "Padahal hari ini sangat cerah, tapi kenapa aneh. Atau mungkin akan ada gebrakan luar biasa setelah keanehan ini." Lanjutnya dengan keheranan oleh sikap Axel.
Ia segera mengambil sarapan menyantap makanannya tanpa basa basi. Terserah jika Axel mau menatapnya sampai pingsan, yang penting dia kenyang.
Setelah beberapa saat, Mikhasa teringat, jika dirinya adalah refleksi dari seorang Liora. Jadi mungkin Axel sedang merindukan kekasihnya saat ini. Karena rindu pada orang yang telah tiada adalah luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Mikhasa menyesap minumannya. Lalu menatap Axel.
"Mau kusuapi?" tanyanya tiba-tiba, menawarkan diri. Tawaran ringan yang menyembunyikan niat yang sesungguhnya. Anggap ini adalah sebuah ucapan terima kasih diam-diam atas seratus juta yang dilunasi ibunya.
“Mau,” jawab Axel ringan.
Mikhasa mengambil sendok lain, menyendokkan makanan, lalu membawanya ke arah Axel.
Axel menatap sendok di tangan Mikhasa, “Apa kau sadar jika ini bisa jadi kebiasaan yang berbahaya?” tanyanya.
Mikhasa mengerutkan kening. “Kenapa?”
“Karena setelah ini, aku mungkin akan mengharapkannya lagi," jawab Axel. Ia membuka mulut dan menerima suapan itu.
“Selagi aku bisa, aku nggak keberatan,” jawab Mikhasa santai. 'Pengasuh memang harus menyuapi asuhannya, kan.' batinnya.
Mikhasa menarik kembali sendoknya, lalu menyendok untuk dirinya sendiri.
“Keputusan yang bagus, Sweetheart,” ujar Axel ringan.
“Lagipula ini cuma sarapan,” sahut Mikhasa. “Nggak bakal bikin kamu ketergantungan suapan dariku.”
Ia kembali menyuapi Axel. Pria itu menerimanya tanpa protes.
“Bagaimana kalau aku sungguh ketergantungan?” tanya Axel setelah mengunyah.
Mikhasa menyuapinya lagi.
“Asal gajinya cocok, tunjangan cocok, aku nggak keberatan, Tuan Muda," jawabnya tenang dan realistis. Ia kembali makan untuk dirinya sendiri.
Axel menjawab dengan tenang penuh kesungguhan. “Kalau begitu, bagaimana kalau kau menikah denganku, Mikha.”
Sendok Mikhasa berhenti di atas piring. Bibirnya terhenti mengunyah. Matanya bahkan berhenti berkedip beberapa saat. Perlahan, ia membawa pandang pada Axel.
Axel tersenyum, dia tidak bercanda dengan ucapannya. “Kuberikan seluruh duniaku di pelukanmu, Mikha."
Mikhasa terdiam. Bola matanya bergerak pelan, lalu ia mengalihkan pandangan. Ia kembali mengunyah, menyesap minumannya.
“Bagaimana aku harus merespons ini,” katanya akhirnya, datar tapi gugup. “Kamu lucu sekali.” Ia tertawa kecil, terdengar dipaksakan.
“Yang penting kau tidak menolaknya,” sahut Axel tenang.
“Tapi aku juga tidak menerimanya," sahut Mikhasa. "tidak ada orang yang baru kenal lalu menikah, Axel,” tegasnya. “Pacaran bertahun-tahun saja bisa berakhir dengan pengkhianatan. Apalagi yang baru kenal. Itu terdengar seperti lelucon paling menyedihkan.”
“Denganku, kau tidak akan berakhir menyedihkan, Mikha,” jawab Axel mantap. “Aku akan menjagamu dengan baik.”
Mikhasa terdiam. Tatapannya tetap terpaut pada wajah Axel. 'Menjagaku… atau menjaga wajah yang mirip Liora ini? Aku ada di sisimu karena pekerjaan, karena upah. Bukan untuk tinggal selamanya.'
“Kenapa kau ingin menjaga seorang gadis yang bahkan baru kau kenal beberapa bulan ini?” tanya Mikhasa pelan.
“Karena…” Kalimat Axel menggantung. Ia sendiri tak tahu bagaimana harus melanjutkannya. Dia tidak menemukan alasannya, belum.
Mikhasa terkekeh kecil, lebih seperti menertawakan dirinya sendiri. Ia yakin Axel tak akan pernah mengatakan alasan sebenarnya. 'Karena wajah yang mirip dengan masa lalu.'
“Kamu memang tidak punya alasan apa pun, kan?” kata Mikhasa. Kalimat itu ditutupnya dengan senyum lebar, seolah obrolan barusan adalah sesuatu yang pantas ditertawakan.
Mikhasa lalu mengulurkan tangannya, membuka telapak di depan Axel. “Vitamin,” katanya singkat.
Axel menunduk, menatap tangan Mikhasa. Terlintas sesaat di benaknya, jika ia menggenggam tangan ini sekarang, apakah Mikhasa akan marah? Atau justru menatapnya dengan benci, bahkan takut?
Pada akhirnya, Axel hanya meletakkan sebuah botol hitam kecil di telapak tangan Mikhasa.
Mikhasa mengeluarkan satu kapsul lalu memberikannya pada Axel. Pria itu menerima dengan mulutnya seperti biasa, tanpa komentar.
Mikhasa menatapnya, dalam hati ia berkata, 'Jikapun suatu hari nanti aku menikah, kupastikan itu bukan denganmu, Axel. Karena aku tidak mau menjadi bayangan. Aku tidak mau hidup dengan seseorang yang melihatku hanya karena memiliki wajah yang mirip dengan masa lalunya. Meskipun hidupku tidak sempurna tapi aku ingin dicintai karena diriku sendiri bukan karena orang lain.'
Mikhasa mengulurkan botol kecil itu kembali pada Axel.
"Bawa saja." Kata Axel singkat.
Mikhasa mengerutkan kening, bingung sekaligus terkejut. "Kenapa?"
"Aku minum itu setiap hari, jadi pastikan kau bertemu denganku setiap hari," kata Axel datar. Tanpa menunggu respons, ia berdiri, meraih jasnya, lalu melangkah menuju pintu keluar.
Mikhasa tersentak. Ia buru-buru menyusul, memasukkan botol hitam itu ke dalam tasnya dengan hati-hati. Karena apa pun alasannya, isi botol itu berkaitan dengan nyawa Axel.
Dan tanpa ia sadari ... ia baru saja menerima alasan Axel untuk tetap berada di hidupnya, setiap hari.
ciee..yg udh mulai suka sama Axel,mulai senyum senyum walaupun kesel