Kelahirannya menciptakan badai dahsyat. Di saat yang sama, klan Erlang kalah telak. Kekalahan itu membuatnya dicap sebagai anak pembawa sial. Bukan hanya hampir menghilang dari alam langit, klan Erlang juga harus membayar pajak ke klan Liu setiap. tahunnya.
*******
Erlang Xuan, nama yang sama dengan Leluhur klan, tapi nasib mereka berbeda. Jika Leluhur terlahir dengan kekuatan tak terbatas, maka dia terlahir dengan tubuh cacat. Selama belasan tahun, ia disiksa dan direndahkan. Bahkan, karena masalah sepele, ayahnya menghukumnya.
Karena tak punya dantian dan meridian, Erlang Xuan tak bisa berkultivasi. Sampah pembawa sial, itulah julukannya. Tak ada yang tahu bahwa dibalik tubuh cacat itu tersembunyi sesuatu yang akan mengguncang alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 Kamu Anakku
Erlang Xuan melesat meninggalkan kota. Selain karena tak ingin menambah masalah, ia juga merasakan kehadiran seseorang yang sangat familiar baginya. Sayangnya, orang itu melesat dengan cepat.
"Cepat sekali, siapa dia?" tanyanya. Meski sempat mengejar orang itu, tapi dia hanya bisa melihat punggung orang itu secara sekilas.
"Sepertinya dia mirip seseorang," gumamnya.
Erlang Xuan melesat menjauhi kota. Sepanjang perjalanan, ia terus mengingat-ingat gadis yang dilihatnya dari kejauhan. Gadis itu mirip dengan seseorang yang sangat disayanginya.
"Jianxue, apakah itu kamu?" tanyanya.
Sang mentari memancarkan sinar jingga. Perlahan, tapi pasti, cahaya jingga tersebut menghilang di ufuk barat. Tepat saat langit sudah gelap, beberapa orang menghadang Erlang Xuan. Meskipun gelap, ia bisa melihat orang itu dengan jelas.
"Bocah, kalau ingin hidup, serahkan semua yang kamu punya!" Salah seorang diantara mereka mengancam.
"Oh, perampok!" Erlang Xuan menyeringai. Di kegelapan malam, ia bergerak cepat dan membunuh tiga dari empat orang yang menghadangnya.
"Kalian siapa?" tanyanya.
"Kami bandit Topeng merah," jawab bandit yang tersisa.
"Topeng merah!" Erlang Xuan mengernyit heran. Ingatannya kembali ke 10 tahun lalu, tepat saat klan Erlang membentuk sebuah organisasi rahasia.
"Apa hubungan kalian dengan organisasi naga merah?"
Orang itu bingung. Diam-diam, ia mengeluarkan giok berbentuk lingkaran berwarna merah. Sebelum giok itu dihancurkan, Erlang Xuan sudah merebutnya.
"Giok merah, klan Erlang benar-benar keterlaluan!" Erlang Xuan memadatkan elemen es dan membentuk pedang. Tanpa menunggu lama, ia langsung menghabisi orang yang di depannya.
"Awas kalian!" Ia menyebarkan kekuatan jiwanya. Tak sampai semenit, markas bandit itu sudah ditemukan. Markas mereka sangat tersembunyi, jadi, siapapun tidak akan menyadarinya.
"Persembunyian yang sangat bagus!" Erlang Xuan berhenti di bawah pohon besar. Berkat kekuatan jiwanya, ia bisa mengetahui keberadaan 3 lapis formasi mematikan dan formasi cermin ilusi.
Wuuuussss
Dengan sangat mudah, ia memasuki markas bandit itu. Formasi yang melindungi tempat itu tidak bereaksi sama sekali. Hal itu membuat para bandit yang berpesta tidak menyadari kedatangannya.
Dengan cepat, ia memasukkan sesuatu ke minuman para bandit. Beberapa saat kemudian, mereka semua tertidur di lantai. Tanpa menimbulkan suara, Erlang Xuan memeriksa setiap ruangan yang ada di markas itu.
"Penjara!" Erlang Xuan memeriksa penjara itu. Anehnya, meski penjara itu luas, hanya ada satu orang di sana, itu pun seorang wanita.
"Aneh, seharusnya penjara ini penuh," gumamnya.
Karena penasaran, ia mendekati penjara tempat seorang wanita di kurung. Penampilan wanita acak-acakan, dan wajah wanita itu membuatnya terkejut.
"Ibu!" Panggilan itu membuat wanita itu terkejut.
Wanita membuka matanya. Tatapannya tertuju pada giok yang menggantung di pinggang pemuda di luar sel. Tangisnya pecah saat melihat ukiran giok tersebut. Tentu saja hal itu membuat Erlang Xuan bingung.
"Aku tidak salah lihat, kan?" tanyanya.
"Erlang Xuan, putraku!" Wanita itu menyentuh wajahnya. Tiba-tiba saja, sesuatu yang aneh terjadi. Matanya yang buta pulih secara misterius.
"Mata itu, kamu anakku!" ucap wanita itu.
"Anakmu? Bibi tidak salah orang, kan? Setahuku ibuku ada di klan Erlang." Erlang Xuan menanggapi, tapi wanita itu menggeleng.
"Kamu anakku! Giok langit suci itu buktinya!" Ia menunjuk giok yang menggantung di pinggangnya. Karena terkejut, ia mengambil giok itu dan memperhatikannya dengan teliti.
"Kalau kamu ibuku, yang di klan itu siapa?" tanyanya. Ia masih tidak percaya dengan wanita di depannya.
"Meski 100 tahun tak bertemu, seorang ibu tidak akan pernah melupakan anaknya. Kamu anakku, giok kecil!" Wanita itu tersenyum. Dengan mudahnya, rantai yang mengikatnya dihancurkan. Bukan hanya itu, penjara yang mengurungnya juga dibuka dengan sangat mudah.
"Kamu anakku!" Wanita itu memeluk Erlang Xuan.
Dialah Li Yanran yang asli, ibu kandung Erlang Xuan. Sementara yang tinggal di klan orang lain. Bahkan sampai sekarang pun ia tidak mengerti mengapa suaminya menyekapnya.
"Kamu benar ibuku?" tanya Erlang Xuan dengan suara bergetar.
"Kenapa aku harus bohong? Kamu giok kecilku!" Wanita itu tersenyum. Ia menyentuh wajah putranya dan melepas topeng giok itu. Sekilas, semua penderitaan anaknya selama bertahun-tahun dapat dilihatnya.
"Maafkan, Ibu!" Wanita itu kembali menangis. Ia memeluk anak yang dilahirkan 19 tahun yang lalu.
"I–ibu!" Tangan Erlang Xuan bergetar. Ia membalas pelukan wanita itu dan melepas semua beban di hatinya. Ada perasaan lega di hatinya setelah mengetahui bahwa yang menyiksanya bukan ibu kandungnya.
"Selama ini, apa yang dilakukan orang-orang itu padamu?" tanya Li Yanran.
"Mereka … mereka menyiksaku. Berkali-kali, aku dihukum meski tidak melakukan kesalahan. Terakhir kali, aku dihukum di altar petir hingga mataku rusak," jelas Erlang Xuan, tentunya dengan menahan amarahnya yang tak terkendali.
"Ini untuk Ibu!" Erlang Xuan memberikan giok yang dibuatnya dua tahun yang lalu kepada ibunya. Tentu saja bukan Li Yanran yang ada di klan Erlang, melainkan ibunya yang sebenarnya.
"Siapa kau?" tanya seseorang.
Erlang Xuan tak menjawab. Ia berbalik dan mengubah orang itu menjadi patung es. Tak beberapa lama, puluhan memasuki area penjara. Semuanya memakai topeng merah dengan bentuk yang berbeda-beda.
"Kalian para bandit sialan, waktunya menghadap sang dewa kematian!"
Api dan es berputar di hadapannya. Kedua elemen yang bertolak belakang itu menyatu dan membentuk pedang besar. Pedang tersebut langsung diarahkan ke para bandit. Hal itu membuat mereka lari ketakutan.
Slasssshh
Boooommmmmm
Ledakan keras terdengar. Pedang elemen meluluhlantakkan markas para bandit. Satu serangan tersebut menghancurkan formasi yang menutupi markas tersebut.
"Siapa yang mengacau di markasku?" teriak seseorang.
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Erlang Xuan.
Pria yang merupakan pemimpin bandit terkejut. Keterkejutannya tak berlangsung lama. Erlang Xuan yang tadinya berdiri tak jauh darinya, kini melayang di belakangnya dengan tatapan yang dipenuhi niat membunuh.
"Aku sudah tahu siapa yang bersembunyi di balik topeng. Jadi, sebaiknya lepas topengmu!" Kilatan amarah muncul di mata Erlang Xuan. Sejak pria itu datang, ia sudah tahu identitas yang tersembunyi di balik topeng. Matanya yang buta sudah kembali, tapi mata jiwanya tidak akan pernah tertutup.
"Topeng ini terbuat dari bahan khusus. Tidak kusangka sampah sepertimu bisa mengetahui identitasku!" Pemimpin bandit melepas topengnya. Ia berbalik dan memperlihatkan wajahnya yang rusak.
"Bagus sekali! Bersembunyi selama hampir dua tahun di tempat ini! Kau benar-benar hebat, Tetua Agung!" Li Yanran muncul di hadapan pria itu. Dialah Tetua Agung, orang yang menjadi penyebab kekalahan klan Erlang 19 tahun yang lalu.
"Aku tidak heran kalau kau mengenalku, tapi dia—" Ucapan Tetua Agung terhenti. Ia menatap Erlang Xuan dengan tatapan penuh tanda tanya. Dua puluh tahun bersembunyi, dan wajahnya sudah rusak. Generasi muda klan Erlang tidak akan bisa mengenalinya.
"Bagaimana aku tahu itu tidak penting!" Erlang Xuan kembali memadatkan elemen api dan es. Kali ini, kedua elemen itu berubah menjadi pusaran elemen yang menembakkan jarum api dan es terus menerus.