NovelToon NovelToon
Menikah Dengan SEPUPU

Menikah Dengan SEPUPU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Payang

Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.

Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.

Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.

Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Ke Rumah Mertua.

"Mas Har, ke-kepalaku... kepalaku pusing... " keluh Soraya memegangi kepalanya, satu tangan lainnya lagi menggapai- gapai ke arah suaminya dengan pandangannya yang mulai berkunang-kunang.

Tak menggubris panggilan isterinya, Harry membawa tas kerjanya meninggalkan motornya hendak menuju pintu rumah.

"Mbak Raya... " Pandji sigap menangkap tubuh Soraya yang tiba-tiba lunglai.

"Sadar, Mbak... Mbak Raya!" seru Pandji sambil mengguncang-guncangkan tubuh isteri kakak iparnya itu.

Harry cepat berbalik badan.

Pertahanannya yang sedari tadi acuh dan pura-pura tidak perduli langsung runtuh melihat ibu dari anak-anaknya itu tidak sadarkan diri di pangkuan Pandji.

"Raya! Kamu kenapa, Sayang?" Harry menepuk-nepuk pipi isterinya, tergambar jelas kecemasan di wajahnya mendapatkan kondisinya seperti itu.

"Kita bawa mbak Raya ke klinik terdekat, Mas... " Pandji spontan memberi ide.

Dalam kepanikannya, tanpa fikir panjang Harry langsung mengiyakan, mengambil alih tubuh Soraya dari pangkuan Pandji dan menggendongnya menuju mobil adik sepupunya yang terparkir di depan pagar rumah.

Di warung budhe War, Wilda dan beberapa ibu-ibu yang masih berbelanja di sana menatap penuh tanya melihat mobil Pandji yang melaju kencang melintas di depan mereka.

***

Pandji menyimpan ponselnya, baru saja selesai menelpon Melitha untuk memberi kabar bila dirinya dan Harry berada di klinik agar adik sepupunya itu tidak cemas mencari.

"Pandji, Mas mau bicara sama kamu," Harry datang mendekat, mendudukan dirinya tepat di sebelah Pandji.

"Iya, Mas," Pandji bergerak hingga setengah putaran hingga tubuhnya menghadap Harry. "Bicara saja..."

"Terima kasih ya sudah mau repot-repot menolong Mas membawa Mbakmu kemari... " dibalik wajah lelahnya yang menyimpan banyak beban hidup, Harry berusaha tetap tersenyum.

Pandji balas tersenyum.

"Sama-sama, Mas. Malah Mas Harry dan Melitha lah yang selama ini sering aku repotkan dan banyak membantuku, selalu ada di saat ibu sakit," ungkap Pandji, mengingat dirinya yang jarang bisa pulang.

"Bisa aja kamu, Dji... " Harry terkekeh pelan mendengar Pandji membalikan omongan. Ia menatap pada pintu dimana Soraya sedang ditangani oleh dokter di dalam sana.

"Kita ini keluarga, Bibi sudah seperti Ibu bagiku dan Melitha, jadi tak perlu berfikir seperti itu," imbuhnya.

Di sebelahnya, Pandji ikut memandangi daun pintu di hadapan mereka yang masih tertutup rapat.

"Dji... " Suara Pandji kembali mengudara di tengah keheningan.

"Iya, ada apa, Mas?" keduanya saling bertemu pandang saat Pandji menoleh pada kakak sepupunya itu.

"Sejujurnya, Mas nggak enak minta bantuan lagi sama kamu... Tapi disaat mendesak seperti ini, selain kamu Mas nggak punya orang yang bisa diminta bantuan?" bola mata Harry bergerak gelisah, merasa ragu, juga malu.

"Katakan saja, Mas... Tak perlu sungkan, aku akan berusaha bantu semampuku. Bukankah kata Mas tadi kita ini keluarga?"

Harry terdiam sejenak, kembali menimbang niatnya, namun ia tidak menemukan jalan lain selain meminta bantuan pada adik sepupunya itu.

"Mas butuh bantuanmu untuk mendahulukan membayar tagihan klinik Mbakmu, Soraya." Walau dengan susah payah, dan mengesampingkan rasa malunya, akhirnya kalimat permohonan itu terlontar juga dari mulut Harry.

"Siap, Mas," Pandji langsung menyanggupi. "Jangan cemaskan itu, yang penting mbak Raya sehat kembali."

Mendengarnya, Harry yang tadinya sempat cemas memikirkan bagaimana caranya membayar tagihan disaat dompetnya kering langsung bernapas lega.

"Terima kasih banyak, Dji... Mas lega sekali," langsung memeluk Pandji saking senangnya.

Klek.

Harry cepat melepaskan pelukannya begitu mendengar suara pintu terbuka. Seorang dokter keluar menatap dirinya, lalu beralih pada Pandji.

"Suami ibu Raya," tanya dokter itu.

"Saya suaminya, Dok!" Harry langsung bangkit, lalu mendekati sang dokter. "Bagaimana kondisi isteri saya, Dok?" tanyanya cemas.

Dokter itu tersenyum.

"Tidak perlu cemas, Pak... Isteri Bapak baik-baik saja, justru saya mau menyampaikan kabar bahagia, isteri Bapak tengah mengandung delapan minggu buah cinta kalian."

Di tempatnya berdiri, Harry membeku mendengarnya.

"Selamat ya, Pak... " tambah sang dokter lagi, berfikir reaksi suami pasien didepannya sebagai wujud kebahagiaan.

"Saya pamit dulu, masih ada pasien lagi yang harus saya tangani. Ibu Soraya sudah boleh dibawa pulang."

"Iya, terima kasih ya, Dok." Pandji cepat menjawab, mewakili kakaknya yang tidak kunjung menyahut.

"Mas Har, aku juga mengucapkan selamat atas kehamilan mbak Soraya untuk anak ke tiganya," Pandji kembali berucap setelah dokter meninggalkan mereka.

"Mas, mas Harry... " Pandji memanggil, merasa bingung bercampur cemas melihat Harry masih mematung dengan pandangannya yang kosong.

"Mas, mas Harry kenapa?" Pandji yang bertambah cemas mengguncang tubuh kakak sepupunya itu.

"I-iya, ada apa?" Harry mengerjap, baru tersadar, balik menatap bingung pada Pandji.

"Mas Harry sakit?" Pandji masih merasa cemas.

"Sa-sakit? Nggak kok, Mas sehat. Memang kenapa nanya begitu?" heran Harry.

Pandji menghela nafas. Sebagai seorang TNI, yang telah dibekali ilmu pisikologi, melihat kondisi Harry, ia dapat menyimpulkan bila kakak sepupunya itu baru saja mengalami guncangan dalam jiwanya.

"Kita lihat mbak Raya dulu di dalam, Mas..." ajaknya.

"Jangan, biar Mas aja," raut Harry berubah dingin. "Tolong kamu selesaikan dulu administrasinya di depan, kita langsung pulang setelahnya."

Belum sempat Pandji menjawab, Harry sudah berlalu masuk lalu menutup rapat pintu di belakangnya. Melihat itu, Pandji semakin yakin akan kesimpulannya.

Tidak membuang waktu, Pandji segera menuju bagian administrasi yang kebetulan tidak antri. Setelah menyebutkan nama Soraya, petugas administrasi menyebutkan nilai yang harus dibayarkan.

Pandji mengeluarkan kartu debitnya dan menyerahkannya pada petugas untuk diproses pembayarannya.

Sreet... Sreet...

"Ini, Pak," petugas administrasi itu mengembalikan kartu debit Pandji beserta kertas yang mencantum total tagihan.

"Terima kasih," Pandji tersenyum setelah menerimanya.

"Sama-sama, Pak. Semoga isteri Bapak dan janinnya selalu sehat ya..." petugas itu balas tersenyum ramah.

"Maaf, Bu... Ibu Soraya itu kakak ipar saya," Pandji meralat ucapan si petugas, sontak raut petugas itu berubah tak enak atas kesalahan ucapannya.

"Oh, maaf... Maaf, ya pak... Saya benar-benar tidak tahu."

"Tidak mengapa, Bu..." Pandji tersenyum maklum. " Saya permisi," pamitnya.

"I-iya, pak. Sekali lagi, saya benar-benar minta maaf," ucap petugas itu lagi, masih merasa tak enak, sambil melihat Pandji berlalu pergi.

Begitu sampai diparkiran, Harry dan Soraya sudah lebih dulu ada disana, satu sama lain terlihat tidak saling bicara.

"Maaf Mas, Mbak, saya kelamaan," dalam keherannya Pandji cepat menekan remot kontaknya. Bagaimana tidak, jarak dari ruang penanganan Soraya lumayan jauh, dan dirinya juga tidak lama saat melakukan pembayaran tadi. Mungkinkah kakak sepupunya itu punya sayap da membawa isterinya itu terbang sehingga bisa sampai lebih dulu, batinnya.

"Biarkan Mas yang nyetir," Harry menadahkan tangannya meminta kunci kontak dengan raut datar tanpa emosi.

Pandji yang masih diliputi keheranan tak banyak tanya, langsung memberikan kunci mobilnya pada Harry, menatap punggung kakak sepupunya itu yang masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi, sementara pun tak banyak bicara, langsung masuk ke kabin belakang dan duduk di sana.

"Ayo, Dji," panggil Harry yang sudah menghidupkan mesin. "Duduk di sebelah Mas, aja."

Pandji langsung masuk. Mobil berjalan perlahan meninggalkan klinik.

"Mas Harry tidak lupa jalan pulang kan?" tanyanya, melihat jalur yang ditempuh tidak menuju alamat pulang.

"Kita ke rumah mertuanya Mas dulu," sahut Harry tanpa menoleh, nada suaranya masih datar, tapi hatinya berkecamuk.

Bersambung✍️

1
Teteh Lia
habis sudah kesabaran babang Harry
Teteh Lia
Oh ya ampuun... kejam sekali dirimu, masa suami suruh tidur di lantai.
sari. trg
atur dulu anakmu Bu
sari. trg
waduh! siapa tuh bapaknya?
Zenun
harusnya tanya dulu mengapa Hary bisa bicara gitu, ada bukti apa
Dewi Payang: Harusnya begitu memang.....
total 1 replies
🟢≛⃝⃕|ℙ$Fahira𝓛𝓲𝓷𝓰𝓧𝓲☕︎⃝❥
waduhhh... ternyata oh ternyata Raya berani sekali ya melakukan itu... ishhh ishhh ishhh...
Dewi Payang: Baiklah....😁😍
total 7 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
is is is ternyata jalang teriak jalang oy
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩: is is is... kok mirip elok ya🤭
total 2 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
masih aja loh si ibu. gmn klo si harry yg selingkuh?! pasti kln nge reog
Dewi Payang: klo anak sendiri dimaklumi, kko menantu gak boleh salah🤭
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
woaahhhh ortunya juga mau2 aja menampung
Dewi Payang: Wkwk😂😂 padahal maksud mengadu pengen ortu jadi penengah kalu bisa dibelain ya kak🙈🙈🙈🙈
total 6 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
dasar jalang. msh aja playing victim. ga tau malu. mau pake uangnya tapi ga mau melayani suami. kapan kau kapok
Dewi Payang: ini bukan hanya terjadi di dunia pernovelan saja, di dunia nyata pun ada, dan keluarganya gak menegur, miris
total 1 replies
Risa dan Yayang
Soraya Harry tahu kamu mengandung bukan darah dagingnya
Suamiku Paling Sempurna
Jangan jangan Harry mau menceraikan Soraya makanya datang ke rumah mertuanya
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Bikin pesanan dengan anak yang di kandung Soraya
Risa Istri Cantik
Apa sebenarnya Soraya hamil anak Harry tapi Harry menduga Soraya hamil dengan pria lain, karena Soraya ngga mau sama pria pemalas sedangkan Harry pria rajin kerja
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Soraya kamu hamil anak siapa kalau sama Panji ngga mungkin dong Pandji pria baik baik
neng ade
kualat tuh sama suami dan adik ipar mu itu ..
Dewi Payang: Mukai menuai karma kak....
total 1 replies
Teteh Lia
Rumit bener ya ini.
Melitha udah mumet. Rumah tangga mamas na malah jauh lebih rumit.
Dewi Payang: Sama² mengalami ujian hiduo kak😭
total 1 replies
Teteh Lia
Mamas pandji na terlalu mempesonah. jadi ya gitu... banyak yang meleleh liat na. 🤭
Dewi Payang: Jadi apa kak, jangan bikin daku penasaran🤭
total 3 replies
Teteh Lia
Soraya lagi mengandung. semoga kali ini dia bisa sedikit ngerem mulut kasar na ya. bumil kan harus hati2 dalam berucap
Dewi Payang: Harusnya gitu kak, kalo gak kasian menurun ke anaknya😂
total 1 replies
Yayang Suami Risa
Celo atau kakak iparnya Soraya yang menghamili Soraya
Dewi Payang: Kalo dua pria, tamatlah riwayat Soraya, dua²nya pemalas😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!