Viera menikah dengan Damian selama bertahun-tahun dalam pernikahan yang terlihat sempurna. Hingga suatu hari, ia tahu suaminya berselingkuh.
Lebih kejam lagi, kehamilan yang ia perjuangkan lewat bayi tabung bukan berasal dari suaminya. Sp*rma itu milik Lucca, suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Damian.
Dalam kehancuran, Viera tidak memilih menangis... ia memilih berdiri tanpa goyah.
Ketika cinta baru datang tanpa paksaan, dan pembalasan berjalan tanpa teriakan... siapa yang benar-benar menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 12.
Ruang sidang itu dingin.
Bukan karena pendingin udara, melainkan karena cara setiap orang duduk dengan punggung tegak dan wajah tertutup. Tidak ada simpati di sana. Hanya posisi, kepentingan, dan siapa yang terlihat lebih siap untuk menang.
Viera duduk di kursi penggugat dengan postur tenang. Gaun sederhana berwarna abu muda membalut tubuhnya yang kini mulai menunjukkan perubahan. Ia tidak berdandan berlebihan, tidak pula mencoba tampak lemah. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi.
Damian meliriknya sekilas—dan merasa puas. Viera tampak rapuh, sendirian tanpa sandaran yang jelas.
Sementara Calista duduk di deretan belakang, kaki bersilang anggun, bibirnya membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Ia mengenakan setelan gelap yang mahal, aura percaya diri menyelubungi setiap geraknya.
Sidang ini seharusnya menjadi formalitas, sebuah langkah awal menuju kemenangan mutlak.
Hakim masuk, lalu palu diketuk.
Sidang dimulai.
Pengacara Damian berdiri lebih dulu.
“Yang Mulia,” ucapnya lantang, “Klien kami mengajukan gugatan pembatalan pernikahan atas dasar penipuan. Kehamilan yang diklaim penggugat tidak memiliki keterkaitan biologis dengan klien kami. Hal ini terbukti dari rekam medis serta periode perpisahan yang tidak dibantah.”
Sang pengacara menyerahkan dokumen. Lengkap dan meyakinkan. Damian duduk semakin tegap, merasa akan menang.
Tatapan hakim beralih ke Viera. “Pihak tergugat?”
Pengacara Viera berdiri, seorang pria paruh baya dengan suara tenang dan ekspresi yang sulit ditebak.
“Kami tidak menyangkal adanya kehamilan,” katanya. “Namun, kami menolak klaim penipuan secara mutlak. Dan kami meminta sidang ini tidak terburu-buru menyimpulkan niat atau kesalahan klien kami.”
Hakim mengangguk, tapi ekspresinya netral. Belum ada yang berubah, sidang dilanjutkan. Namun, secara kasat mata… Damian unggul.
Ketika hakim menunda sidang awal dengan catatan bahwa gugatan pembatalan memiliki dasar hukum yang cukup untuk dipertimbangkan, Damian nyaris tersenyum.
Calista akhirnya tersenyum penuh.
“Lihat?” bisiknya pelan saat Damian berjalan melewatinya. “Aku bilang juga apa.”
Damian mengangguk puas. Ia tidak tahu, itu adalah satu-satunya momen ia akan merasa menang.
Viera keluar dari ruang sidang tanpa tergesa. Langkahnya stabil, matanya lurus ke depan. Tidak ada air mata setetes pun, tak ada kemarahan terbuka. Namun di dalam dirinya, sesuatu telah bergeser. Ini bukan lagi soal diselamatkan, tapi soal mengambil kembali kendali.
Ia duduk di mobil, menutup pintu perlahan. Ponselnya bergetar, satu pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan.
Nomor Tidak Dikenal: [Sidang berjalan sesuai prediksi mereka, sekarang giliranmu.]
Viera tidak terkejut, ia sudah menduga. Tangannya bergerak cepat membalas.
Viera: [Aku siap.]
Beberapa detik kemudian, satu file masuk.
Judulnya sederhana "Kronologi Akses Data & Konflik Kepentingan."
Viera membuka dokumen itu perlahan, dan tersenyum tipis. Serangan balik pertamanya tidak akan berupa teriakan atau bantahan emosional. Ia akan membiarkan fakta berbicara.
Sore itu, Calista duduk di ruang kerja rumah keluarganya dengan perasaan puas. Ia menuang anggur ke gelas kristal, menyesapnya perlahan.
“Sidang awal selalu menentukan persepsi,” katanya pada asistennya. “Dan persepsi adalah segalanya.”
Namun ketenangannya terganggu oleh ketukan pintu yang terlalu cepat.
“Masuk,” katanya, sedikit tidak suka.
Pelayan masuk, dan diikuti oleh seseorang suruhan Calista. “Nyonya Calista… ada masalah.”
Calista menghela napas kesal. “Masalah apa?”
“Tim hukum internal kami menerima permintaan klarifikasi dari pengadilan. Terkait… akses data medis dan laporan keuangan Tuan Damian.”
Calista mengerutkan kening. “Itu prosedural.”
“Bukan hanya itu.” Pria suruhannya itu menelan ludah. “Nama Nyonya tercantum sebagai pihak yang memberi rekomendasi langsung.”
Gelas di tangan Calista berhenti bergerak.
“Apa maksudmu?”
“Ada jejak email, Bu. Rantai komunikasi yang… terlalu jelas.”
Calista merasakan sesuatu yang tidak ia sukai... ketidakpastian.
“Siapa yang membocorkan?” tanyanya tajam.
“Kami belum tahu.”
Calista berdiri, anggurnya tak lagi tersentuh.
“Cari tahu sekarang juga!” Perintahnya dingin.
Malam turun perlahan.
Di sebuah ruang privat restoran hotel bintang lima, Lucca duduk sendirian. Jas hitamnya terbuka, dasinya longgar. Ia menatap layar tablet dengan ekspresi tak terbaca.
Di layar itu, transkrip sidang. Dokumen hukum, nama Viera berulang kali muncul. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak turun tangan terlalu cepat, untuk membiarkan Viera berdiri dengan kekuatannya sendiri.
Namun hari ini… ada sesuatu yang berubah. Calista mulai bergerak ceroboh. Dan Damian terlalu bodoh untuk menyadari sedang dipakai.
Lucca menghela napas pelan, ia menekan satu nomor. “Jalankan fase satu.”
Suara di seberang sana mengiyakan.
Lucca mematikan sambungan, lalu menatap kosong ke luar jendela.
Maaf, Viera. Aku masih belum bisa muncul sebagai David… tapi aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu. Batinnya.
Dua hari setelah sidang awal, suasana berbalik tanpa suara. Pengacara Damian menerima surat resmi dari pengadilan—permintaan tambahan bukti dan klarifikasi atas dugaan konflik kepentingan pihak ketiga dalam penyusunan gugatan.
Damian membaca surat itu berulang kali.
“Apa maksudnya konflik kepentingan?” tanyanya pada Calista, nada suaranya mulai tegang.
Calista menahan emosi. “Itu hanya taktik.”
“Tapi kenapa namamu disebut?”
Pertanyaan itu menggantung.
Calista tersenyum kaku. “Aku hanya membantu secara strategis.”
Damian menatap Calista penuh selidik kali ini. Tiba-tiba saja, keraguan menyelinap dalam hatinya.
Sementara itu Viera duduk di ruang kerja pengacaranya, menandatangani dokumen tambahan.
“Ini serangan balik pertama,” kata pengacaranya. “Kita tidak menyerang pribadi, kita serang prosesnya.”
Viera mengangguk. “Biarkan mereka terlihat kotor tanpa aku menyentuhnya, dan setelah ini?”
Pengacaranya menatapnya dengan hormat. “Setelah ini… mereka akan mulai panik.”
Malam itu, Viera kembali ke apartemennya. Ia berdiri di depan jendela, memandangi kota yang sama namun kini terasa berbeda.
Ia tahu, dia tidak lagi sendirian.
Ponselnya bergetar.
Nomor Tidak Dikenal: [Langkahmu sudah tepat, jangan berhenti.]
Viera mengetik satu kalimat.
Viera: [Siapa pun kamu… terima kasih.]
Tidak ada balasan.
Di apartemen yang berada di gedung yang sama dengan Viera—Lucca menatap layar ponselnya. Bibirnya terangkat samar, garis tipis yang memuat sesal yang tak sempat diucapkan, sekaligus harapan yang masih ia pertahankan.
“Suatu hari, aku akan mengatakan segalanya padamu.“