NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN PAPA

SUAMI PILIHAN PAPA

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Rahmania Hasan

Naura adalah putri semata wayang pak Malik, memiliki paras yang cantik, dia tumbuh tampa merasakan kasih sayang seorang ibu. Pak Malik yang khawatir dengan hidup putrinya kelak ketika dia sudah tiada lagi dunia ini, meminta teman lamanya ketika mereka menuntut ilmu di pesantren dulu.
Pilihannya jatuh pada sosok pria sederhana, namanya Hasan. Pria itu sebenarnya tidak pendiam tapi dunia mereka yang berbeda membuat mereka tidak mudah untuk saling dekat.
Perasaan itu mulai tumbuh diantara keduanya tapi tidak ada yang berani memulai. Sampai akhirnya Naura tak bisa lagi menahan perasaannya, dia mencoba mengambil inisiatif dan terus berupaya memberikan signal - signal cinta. Namun Hasan yang ragu dan takut salah mengartikan isyarat itu justru menghindar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

CAPTER 19

HADIAH PERNIKAHAN DARI PAPA JIM

“Gimana Mba nggak kesulitan jalannya?.” tanya Hasan dengan khawatir.

“Bisalah...nggak usah sok perhatian fokus aja sama gebetan kamu!.” Jawab Naura.

“Ok tungguin kabar selanjutnya ya soal aku sama dia.” Ucap Hasan dan meninggalkan Naura diatas.

Setelah selesai sarapan pagi bersama dengan istri dan mertuanya Hasan langsung pamit untuk berangkat ke kampus. Hendak menyalakan mesin sepeda motornya, telepon genggam Hasan berbunyi sepertinya itu adalah notifikasi chat.

Merasa bersalah karena terus mengabaikan chat dari Yunita dia pun akhirnya membalasnya. Niatnya sebenarnya

adalah untuk meluruskan kembali masalah yang dia mulai sendiri. Dengan meyakinkan dirinya dia mengajak ketemuan sekitar jam tiga sore. Dengan senang hati Yunita langsung menerima ajakan Hasan.

Sementara itu Naura yang tidak pergi ke butik hari ini memilih menghabiskan waktunya dikamar, tangannya mengambil buku yang dia sembunyikan dibawah bantal dan dengan tiduran dia melanjutkan kembali bacaannya.

Bab berikutnya yang dia baca adalah mengenai pernikahan dan setidakanya kurang lebih ada dua puluh pasal mengenai bab itu.

“Waww... bikin penasaran aja!.” Guman Naura bersemangat untuk membacanya lebih.

Dengan sangat serius dia membaca baris demi baris tulisan, sambil terus berguman karena tidak menyangka ada hal-hal yang baru dia dapat dari buku itu.

“Ohhh...ada do’anya juga.” Mulutnya berguman dan mencoba menghafalnya.

Naura turun dari kasur dan mengambil notebook dan pulpen untuk menyalin do’a itu untuk dihafalkan. Namun tiba-tiba mulutnya terasa kering, meski enggan untuk turun dia tetap turun kebawah untuk mengambil air.

Naura melihat Papanya duduk santai sendiri didepan televisi, dia pun menghampirinya dan bergabung dengan sang Papa.

 “Na nanti sore Papa Jim datang!.” Pak Malik memberitahu.

“Beneran Pa?.” Meyakinkan.

“Iya...papa tadi udah minta bik Siti nyiapin kamar buat papa Jim.”

“Kok Papa nggak ngasih tahu Nana sebelumnya?.” tanya Naura.

“Lho katanya Nana papa Jim udah nelfon sendiri ke Nana!.” Bela pak Malik.

Naura tidak bisa berdebat lagi karena kenyataannya dia pernah bicara demikian pada papanya. Dengan kesal dia menyalahkan dirinya sendiri yang tidak berfikir panjang.

“Habis ini bik Siti akan belanja buat makan malam nanti...Nana ajak Andy kesini ya!.”

“Apa Pa?!."

“Ajak Andy kesini buat makan malam." Mengulanginya.

“Papa ini gimana sih kacau semuanya!.” Protes Naura yang kesal dengan papanya.

“Jangan dilanjutin kelakuan konyolmu ini....” Perintah pak Malik.

“Papa!."

Pak Malik tidak bersuara lagi dia memilih meninggalkan putrinya yang masih duduk di kursi dan berjalan ke ruang kerjanya. Dari belakang bik Siti muncul dan menyapa Naura yang nampak termenung sendiri.

“Non nggak ke butik hari ini?.” Suara bik Siti mengagetkan Naura.

“Nggak bik emang kenapa?.” Balik bertanya.

“Mau ikut bibik nggak Non belanja buat nanti malam.” Ajak bik Siti.

“Aku ikut Bik...tunggu bentar aku ganti baju dulu ya!." Ucap Naura dan langsung berlari ke atas untuk mengganti pakaian.

Hanya beberapa menit dia turun dengan tampilan berbeda dari yang sebelumnya, meski hanya menerapkan polesan make up tipis namun dia tetap terlihat cantik dan natural.

“Ayo...naik mobilku aja bik nggak usah sama pak Said.” Ajak Naura.

“Yakin Non?!.”

“Iya Bik... Bibik mau beli apa nanti aku belikan!.”

“Bener Non?!.” Meyakinkan diri.

“Iya... Bibik mau beli baju, sandal, atau bedak tinggal ngomong aja.”

“Makasih lho Non.” Bik Siti terharu.

Keduanya dengan semangat berjalan keluar rumah dan menuju mobil warna kuning yang tengah terparkir digarasi. Detik berikutnya mobil itu melaju dijalanan dengan kecepatan normal menuju salah satu mall yang memiliki pusat perbelanjaan terbesar dan terlengkap dikota itu.

------

Ditempat lain

Yunita dengan sabar menunggu kedatangan Hasan disebuah kafetarian depan salon kecantikannya yang baru dibuka dua bulan lalu. Jarinya terus mengetik untuk mengirim chat pada Hasan namun satu pun belum dibalasnya.

“Apa mungkin masih dijalan.” Guman Yunita didalam hati.

Penantiannya berbuah hasil, terlihat Hasan sedang berjalan kearahnya dengan senyum lembut menghiasai wajahnya. Yunita berbunga-bunga dibuatnya, dia pun membalas senyuman itu dan melambaikan tangannya.

“Kejam banget sih chatku kok nggak ada yang dibalas!.” Serunya dengan berlagak pasang muka kesal.

“Maaf Mba saya belum buka hp.” Jawab Hasan sopan.

“Duhhh...sibuk banget pak dosen ini.” Godanya.

Hasan tidak menjawab, dia menarik kursi untuk duduk. Hasan mengambil posisi berhadapan dengan Yunita.

“Mas!.” Panggil Yunita pada salah satu pelayan.

Pelayan itu segera datang dengan membawa buku menu, setelah memilih makanan yang hendak dipesan oleh dirinya dan Hasan, Yunita menyerahkannya kembali.

Sambil menunggu makanan datang mereka sibuk mengobrol dengan santai dan terlihat sedikit akrab. Yunita tidak henti-hentinya memuji dan menggoda Hasan, namun pria itu menanggapi ala kadarnya dan tidak mencoba mengambil peluang untuk mengeluarkan ekornya.

“Mba nya sudah lama kenal sama Naura?.” tanya Hasan.

“Naura itu teman SMP ku Mas..tapi kita beda kelas jadi nggak terlalu akrab.” Terang Yunita.

“Ohhh....”

“Tapi kalau sama Andy aku sekelas jadi itu yang bikin aku kenal sama dia...kenapa Mas?.” tanya balik.

“Nggak cuma pengen tahu aja.”

“Kok nggak nanyain aku...nggak pengen tahu aku lebih lagi, padahal aku penasaran Mas ini kayak gimana sih orangnya?!.” goda Yunita dengan berani.

Hasan tersenyum dan tidak merespon godaan Yunita yang dilancarkan kepadanya. Baginya Yunita adalah tipe wanita yang aktiv dan cukup berani, jelas itu bukan tipenya. Karena sebenarnya tipenya adalah istrinya sendiri, keras tapi tidak berani.

Dilain sisi mall itu Naura dan bik  Siti baru sampai, keduanya penuh semangat memasuki mall dan langsung menuju super market sebelum melihat-lihat yang lain setelahnya.

“Bik jangan lupa bikin puding orange ya!.” Mengingatkan.

“Ohh...kalo itu nggak bakal lupa bibik Non, menu wajibnya pak Jimmy.” Jawab bik Siti.

Setelah semua kebutuhan terlengkapi dan melakukan pembayaran dikasir, mereka berdua berjalan-jalan disekitar untuk melihat-lihat barang lainnya. Naura yang sudah berjanji akan membelikan bik Siti pakaian, sandal dan bedak, menuntun tangan bik Siti kesalah satu toko busana wanita.

Dengan suka cita bik Siti memilih-milih baju yang cocok dan pas ditubuhnya, sementara bik Siti sibuk memilih pakaian Naura berjalan menuju rak sandal yang tersusun rapi.

Naura yang tahu ukuran kaki bik Siti tidak perlu menanyakan lagi padanya, matanya terus mengamati deretan model sandal. Matanya tertuju pada sandal berwarna coklat yang simpel tapi manis. Dengan segera tangannya mengamankan sandal itu dan memberikannya pada pelayan toko untuk dibuatkan nota.

Puas berbelanja ditoko itu mereka berdua  segera keluar untuk melanjutnya shoppingday mereka selanjutnya. Namun langkah kaki Naura terhenti ketika melihat Hasan tengah duduk berdua dengan seorang wanita yang dia kenal, wanita itu tak lain adalah Yunita. Bik Siti juga mengikuti tatapan mata Naura, dia terkejut melihat Hasan disana dengan seorang wanita.

“Non itu....” Tidak melanjutkan perkataannya.

“Iya Bik itu menantu kesayangan Papaku...beraninya dia menantangku!." Ucap Naura dengan nada penuh emosi.

“Jangan langsung menebak Non...siapa tahu mereka cuma berteman...den Hasan kayaknya bukan tipe laki-laki kayak gitu.” Mencoba menenangkan.

“Bibik jangan ikutan Papa bela dia...cewek itu temanku bik, jadi dia benar-benar melanjutkan ucapannya!.”

Bik Siti yang bingung dengan penjelasan Naura memilih diam tidak berkomentar, tangannya memegang tangan Naura dan mengajaknya untuk segera balik agar tidak semakin terpancing emosi.

“Ayo Non balik!.” Ajak bik Siti.

“Ayo Bik males aku lihat mereka!.” Lalu menghilang dari tempat itu.

Hasan yang tidak mengerti kalau Naura berada disana dan juga melihatnya dengan santai masih mengobrol dengan Yunita sambil menikamati makanan yang mereka pesan sebelumnya.

“Akhir pekan sibuk pa?.” tanya Yunita

“Nggak ada mba paling dirumah aja."

“Gimana kalo aku ajak kamu keluar?!.”

“Terimakasih Mba tapi maaf....” Terhenti.

“Ayolah aku nggak suka sama penolakan!.” Desak Yunita memotong omongan Hasan.

“Sebelumnya maaf banget...sebenarnya saya sudah menikah.” Jawab Hasan.

Yunita bagai disambar petir ketika mendengar ucapan Hasan, pria yang dia kira masih lajang dan bersikap hangat padanya adalah milik orang. Namun dia berusaha bersikap normal dan tetap ramah.

“Lohhh...aku pikir masih kosongan." Mencoba bersikap tenang.

“Iya Mba....”

“Siapakah wanita beruntung itu?!." Penasaran.

“Sebenarnya saya suaminya Naura....”

“Apa Naura temanku tapi kenapa kemarin?!.” terkaget sehingga tidak mampu melanjutkan perkataannnya.

“Saya minta maaf Mba sama sikap saya...Naura masih belum siap untuk mengungkapkan ke publik jadi saya memilih berbohong.”

“Ohhh...kayak cerita drama korea aja.” Menyembunyikan kemarahan.

“Sekali lagi saya minta maaf Mba...saya nggak berniat.”

“Tenang...tapi kita masih bisa berteman kan?.” memasang muka manis.

Tapi dalam hati sebenarnya Yunita menyusun rencana untuk membalas rasa sakit hatinya pada Naura.  Dia memang tidak terlalu menyukai Naura sedari sekolah, itu disebabkan karena Naura cukup populer disekolahnya. Termasuk murid laki-laki yang dia kejar terus mengabaikannya dan fokus untuk menarik perhatian Naura. Tapi tidak ada satupun yang bisa meluluhkan hatinya, dia tetap menjadi tuan putri berhati dingin.

Lega karena telah meluruskan masalah yang dia buat, Hasan segera pamit. Begitu Hasan menjauh wajahnya langsung berubah seketika, senyum yang dia pasang menghilang bak ditelan bumi.

-----

Kediaman pak Malik.

Naura yang sebelumnya cerah kini berubah menjadi mendung, niatnya yang ingin membantu bik Siti menyiapkan makan malam untuk papa Jim tercinta tidak terlaksana. Dia lebih memilih mengurung diri dikamar dan bahkan tidak turun untuk menyambut kedatangan papa Jimnya meski bik Siti sudah memberitahunya.

Pak Malik kembali mengkhawatirkan putrinya, dia bahkan bertanya pada bik Siti tapi tetap tidak menemukan jawaban atas apa yang membuat anaknya marah, bik Siti lebih memilih bungkam untuk kebaikan semuanya. Hanya satu hal yang dia yakini yaitu semua kemarahan itu berkaitan dengan Hasan. Hanyalah dia alasan marahnya Naura belakangan ini dan juga intensitas kemarahannya sangat sering.

“Lohhh Nana mana Kak?.” tanya pak Jimmy yang tidak mendapati Naura.

“Dia lagi dikamarnya....” Jawab pak Malik tidak bersemangat.

“Tumben...biasanya dia langsung lari?." terheran.

“Entahlah....”

“Ada apa Kak?.” tanya pak Jimmy mulai cemas.

“Aku nggak tahu harus mulai dari mana ceritanya....”

“Ya uda aku mau nemui dia.” Dan segera naik keatas.

Dengan pelan pak Jimmy memutar gagang pintu dan memasuki kamar Naura, dia mendapati putri kecilnya tengah meringkuk diatas kasur. tak sabar dia pun langsung berhambur kearahnya.

“Kok nggak turun Sayang?.” suara pak Jimmy mengagetkan Naura.

“Papa Jim!.”

“Mentang-mentang udah punya tambatan hati...papa Jim langsung dilupain." Goda pak Jimmy.

“Papa Jim....” Memeluknya dengan erat dan langsung menjatuhkan air mata.

Pak Jimmy yang bisa merasakah sesuatu sedang terjadi dihati putrinya, dengan penuh kasih sayang membelai lembut rambut Naura. Mencoba menenangkan ketegangan dan meredam air matanya.

“Coba cerita sama papa Sayang.” Pinta pak Jimmy mencoba meringankan.

“Aku benci sama orang itu papa Jim....” Sambil terisak.

“Orang itu siapa?.”

“Itu...mantu kesayangan Papa.”

“Jangan gitu dong Sayang...kalau ada masalah harus dibicarakan.”

“Aku nggak mau bicara sama dia.”

“Kalau kamu nggak mau bicara sama dia terus gimana masalahnya bisa selesai!.” Mencoba menasehati.

“Papa Jim dia udah nyakitin aku!.”

“Nyakitin gimana Sayang?.” tanya pak Jimmy.

“Dia sengaja ketemuan sama cewek diluar tadi sore!.”

“Ohh jadi itu masalahnya...jangan cengeng kayak gini dong, hadapi dengan berani dan elegan, cari tahu kebenarannya dulu lalu baru mengambil sikap.”

“Hatinya Nana sakit....”

“Tunjukkan sakit hatimu itu dengan anggun."

“Caranya?!.”

“Hadapi dengan tenang supaya bisa berfikir lebih jernih, jika benar adanya buatlah dia mengakuinya, taklukkan dirinya agar tidak berpindah hati dan tidak mau kehilanganmu.”

Naura tidak bersuara lagi dia hanya membenamkan kepalanya dipelukan pak Jimmy. Sementara itu pak Jimmy terus membelai rambutnya sampai suara isak tangisnya tidak terdengar lagi.

Hasan yang sudah tiba dirumah langsung naik keatas untuk membersihkan diri sebelum turun kembali menemui

mertuanya dan menyambut kedatangan pak Jimmy. Begitu mendapati pintu kamar terbuka Hasan sedikit bertanya-tanya, dia mempercepat langkah kakinya sebelum akhirnya mendapati seseorang sedang memeluk tubuh istrinya dengan hangat.

Mengetahui ada seseorang yang masuk kamar pak Jimmy langsung mengarahkan pandangannya pada sosok tersebut.

“Maaf saya tidak diberitahu kalau papa Jim ada dikamar." Suara pelan.

Sambil mengecup lembut kepala Naura pak Jimmy pamit untuk turun dan juga meminta keduanya untuk segera bergabung ke bawah.

“Sayang papa turun dulu ya...papa tunggu dibawah.” Ucap pak Jimmy.

Naura hanya mengangguk lalu membelakangi suaminya, Hasan yang mendapat isyarat akan sikap aneh istrinya mencoba memastikan.

“Ada apa Mba?.” tanya Hasan.

Namun Naura tidak menjawabnya, dia lebih memilih mengabaikannya dan berjalan ke kamar mandi. dan tak lama setelahnya dia keluar dan langsung menuju ruang pakaian, dan masih tetap mengabaikan Hasan. Setelah selesai berdandan dia turun kebawah. Hasan yang tidak tahu kesalah pahaman apa lagi terus bertanya-tanya didalam hatinya. Dengan pikiran yang masih melanglang buana Hasan turun dan langsung bergabung dengan mereka.

“Hai semuanya...malam om?.” suara seorang laki-laki yang tidak asing mengagetkan telinga Hasan.

Dia langsung menoleh ke sumber suara dan mendapati Andy berjalan kearah mereka dengan senyum kelewat cerah. Berharap Hasan akan terkaget dengan kehadirannya yang tiba-tiba disana. Namun hayalan itu segera pupus karena Hasan mematahkannya.

“Lohh yang ditunggu-tunggu sudah datang....mari duduk sebelah sini." Ucapnya sambil berdiri menyambut kedatangan Andy.

Andy merengut ketika hendak duduk disamping Hasan. Dan Hasan memberikan senyum kemenangan pada Andy.

“Sial....” Gumannya dihati.

“Kok nggak langsung kesini boy?." tanya pak Malik.

“Keasyikan bareng sama temen om jadi lupa.” Jawab Andy sambil cengengesan.

“kalau gitu ayo makan malam bareng...itu sudah siap dari tadi."

Dimeja makan pembicaraan didominasi oleh pak Malik dan pak Jimmy yang lain nyaris hanya menjadi pendengar terutama Naura yang hampir membeku. Tiba-tiba pak Jimmy mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya dan menyerahkannya ke Hasan.

“Maaf yang pas kemarin papa nggak sempet ngasih hadiah.” Ucap pak Jimmy.

“Ini apa Pa?!.” tanya Hasan dengan canggung.

“Itu tiket ke jepang...papa pilihnya paket perjalanan honeymoon!.” Jawab pak Jimmy.

“Honeymoon?!." Hasan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.

“Iya itu hadiah dari papa.”

“Kenapa pilihannya Jepang Pa?." tanya Andy memotong.

“Tentu karena Jepang itu salah satu tempat yang romantis dan juga banyak mitos romantis seputar pasangan disana.” Menjelaskan.

“Beneran Pa contohnya?.” Andy masih terus menimpali.

“Iya salah satunya pasangan yang datang ke kuil Yaegaki dan melempar koin yang sudah dibungkus sama plaktik ke kolam cermin, kalo koinnya cepat tenggelam artinya harapannya akan segera terwujud bergitu juga dengan cintanya!."

“kalau nggak?." Memotong pembicaraan dengan semangat.

“Itu artinya masih ada rintangan yang harus dilalui dan juga ada lonceng panggilan cinta!.”

“Panggilan cinta!.” Andy berseru

“Pasangan yang membunyikan lonceng panggilan cinta dan menatap luas ke lautan konon cintanya akan berhasil dan juga siapa yang naik bianglala dan waktu berada diatas tepat ditengah berciuman cintanya akan kekal dan tidak terpisahkan."

“Masak sih Pa?” Andy tidak percaya.

“Ada lagi...ini yang paling populer dan sering dijadikan adegan romantis difilm-film...,” kembali terpotong.

“Apa itu Pa?.” tanya Andy.

“Kok kamu yang semangat?!." akhirnya Naura bersuara.

“Siapa tahu besok atau lusa aku punya cewek.” Sambil tertawa.

“Lanjut Pa!.” Ucap Andy kembali

“Ini soal bunga sakura...katanya pasangan yang berciuman dibawah sakura yang lagi mekar cintanya akan abadi dan tidak terpisahkan kecuali oleh maut.”

“Apa Papa dulu berciuman dibawah sakura yang lagi mekar?!." pertanyaan konyol Andy  mengundang kegaduhan.

“Dasar anak gila lhu!.” Ujar Naura sambil menarik telinga Andy.

Hasan dan pak Malik ikut tertawa dibuatnya tapi lain halnya dengan pak Jimmy, dengan bangganya dia menjawab pertanyaan konyol putranya.

“Iya tentu...papa menyukai hal-hal yang romantis.” Sambil tersenyum lebar dan mengingat kembali kenangan bersama mendiang istri tercintanya.

“Wawww...Papa sama Om emang duda sejati, salut aku!.” Seru Andy

Pak Malik dan pak Jimmy langsung tertawa mendapat pujian seperti itu, tidak cukup dengan itu kekonyolan Andy masih berlanjut. Dia bangkit dari duduknya dan berlari ke dapur lalu kembali lagi dengan menggenggam beras ditangannya. Dia juga memberikan sebagian beras itu pada Hasan.

“Buat apa ini?.” tanya Hasan yang bingung.

“Ayo kitar lempar beras ini untuk mengusir hal-hal negatif.” Jawabnya sambil menarik tangan Hasan dan berlari kecil kearah pintu.

“Ayo lempar!.” Perintah Andy.

Hasan yang masih tidak mengerti hanya bisa mengikutinya, melemparkan beras itu keluar sambil mengikuti

ucapan Andy.

“Keburukan mejauhlah dan kebaikan datanglah bersama kami." Ucap keduanya.

“Untuk apa sih ini?." tanya Hasan.

“Biar nggak ketularan jadi duda dengan cepat kayak papa sam om!.” Bisiknya supaya tidak terdengar oleh yang lainnya.

Hasan terkaget mendengar perkataan itu dan dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan berucap,

“Semoga hamba dijauhkan dari nasib seperti itu."

Andy yang ingin pergi juga ke jepang melihat sakura mekar terus merengek untuk ikut bersama dengan Naura dan Hasan. Tentu hal itu ditentang oleh paman dan ayahnya. Begitu juga Naura yang menganggap itu adaah ide gila.

“Cari dulu istri baru ajak kesana...maunya kok gangguin orang.” Celoteh Naura.

“Ayolah aku nggak bakal jadi nyamuk....” Pintanya memohon.

“Emang benar nggak jadi nyamuk tapi jadi benalu...nempel terus!." Ujar Naura.

Ucapan Naura tak pelak mebuat pak Malik dan pak Jimmy tertawa lepas sementara Hasan hanya tersenyum sambil

menggelengkan kepalanya.

DO’A SEBELUM

BERHUBUNGAN BADAN

“ALLAHUMMA JANNIBNAS SYAITHAAN WA JANNIBIS SYAITHAANA MAA RAZAQ TANAA”

1
F2h 29
Lumayan
Bungatiem
aku baca udah ke 4x. tapi pas cerita nya udah mulai melintir ga karuan aku ga lanjutin lagi.
Triwoel Andari
Hasan ngasih mahar ke Naura d episod ke brapa yah.. apa aku yg kelewatan ngebaca nya atau gimana yah...???
Hani P Hani
soweet jadi penggen jadi naura😍😍😍
Hani P Hani
ahirnya mereka bersatu semoga ini menjadi awal yang baik
Hani P Hani
alhamdulilah
Myra Azmoro
Si naura kelewatan ,, Hadeeww episode ini banyak mengadung bawang bikin hati sesak
Yuni
i
나의 햇살
gimana cowok suka sama kamu, orang kamu aja calon pelakor karena kalah saing sama Naura
Jusmiati
enaknya Naura, masak suaminya terus yg berjuang, kalau sy jadi Hasan, sdh sy tinggalin tuh nauranya, cari wanita yg lebih berfikir dewasa....😔😔😔
Yeni Rubianti
berbagi ilmu
Linda Erma
Busyetttt dch nih novel bikin begadang,dtambah nangis lagi gue bacanya 😭😭😭
Linda Erma
Busyetttt dch nih novel bikin begadang,dtambah nangis lagi gue bacanya 😭😭😭
Linda Erma
Bagus bgt critanya,dr tadi bikin mewek mulu 😭😭😭
Linda Erma
Critanya bikin aku mewek bgt 😭😭😭
Linda Erma
Sedih bgt ya 😭😭😭
Linda Erma
Yahhh aku nangis,Naura harusnya bersyukur punya suami yg sabar kyk hasan
Muda MACMUDAH
bagus thor cm sayang kurang lengkap klo g ada ilham jg
Muda MACMUDAH
yg cewek kurang cantik kak soalnya yg cowok tampan abis🤭
Heny Purwati
naura knp egomu tinggi...sampai" tak menyakini ketulusan suami sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!