Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 PERLINDUNGAN ZARVAN
#
Zarvan bereaksi cepat. Dia menarik Mahira dan Raesha mundur—menjauh dari Isabelle dan gerombolan pria bertopeng itu.
"LARI!" teriaknya.
Tapi pria-pria bertopeng itu bergerak lebih cepat. Mengepung mereka dari segala arah. Matanya kosong—seperti boneka yang dikendalikan.
"Kalian tidak akan ke mana-mana," kata Isabelle sambil berjalan pelan mendekat. Setiap langkahnya membuat tanah di bawahnya retak. "Permainan sudah selesai, Mahira. Sekarang waktunya kamu menyerah."
"Aku tidak akan pernah menyerah!" Mahira mengangkat tasbihnya—tasbih itu bercahaya terang.
Cahaya putih menyilaukan memenuhi area reruntuhan. Pria-pria bertopeng itu mundur—merintih kesakitan. Tapi Isabelle hanya tersenyum.
"Tasbih kecilmu itu tidak akan cukup, sayangku."
Dia mengangkat tangannya—dan angin bertiup kencang. Mahira terpental ke belakang. Punggungnya membentur batu. Rasa sakit menusuk.
"MAHIRA!" Zarvan berlari menghampiri—menangkap tubuh Mahira sebelum jatuh ke tanah.
"Aku tidak apa-apa—" Mahira mencoba bangkit tapi kepalanya pusing.
"Kamu tidak baik-baik saja!" Zarvan memeluknya erat. Matanya menatap Isabelle dengan kebencian. "Kalau kamu berani sentuh dia lagi—"
"Kamu akan apa?" Isabelle tertawa. "Kamu hanya manusia biasa, Zarvan. Tidak punya kekuatan. Tidak punya apa-apa kecuali ingatan masa lalu yang menyedihkan."
"Aku punya sesuatu yang kamu tidak punya," balas Zarvan. "Aku punya cinta. Cinta yang tulus. Bukan obsesi seperti Khalil. Bukan kesetiaan buta sepertimu pada Danial. Tapi cinta yang rela berkorban. Dan cinta itu—" suaranya bergetar, "—cinta itu lebih kuat dari kekuatan apapun yang kamu punya."
Isabelle berhenti tertawa.
"Cinta?" bisiknya dengan nada mengejek. "Cinta membuatmu lemah. Membuatmu mudah dimanipulasi. Dan—" dia menatap Khaerul yang masih terikat, "—membuatmu rela mati untuk orang yang kamu sayang."
Zarvan menatap Khaerul. Lalu menatap Mahira. Dan membuat keputusan.
"Raesha," katanya cepat tanpa melepaskan Mahira, "bawa Mahira pergi dari sini. Sekarang."
"Apa? Tidak!" Mahira mencoba melepaskan diri. "Aku tidak akan meninggalkanmu—"
"Dengar aku!" Zarvan membalikkan tubuh Mahira—memaksanya menatap matanya. Mata yang penuh determinasi. Dan ketakutan. "Kalau kamu di sini—kalau kamu jadi sandera—mereka menang. Kamu harus pergi. Harus selamat. Untuk ritual nanti. Untuk memutuskan kutukan ini."
"Tapi kamu—"
"Aku akan baik-baik saja." Zarvan tersenyum—senyum yang tidak sampai ke matanya. "Aku janji."
Sebelum Mahira bisa protes lagi, Zarvan mendorongnya ke arah Raesha. "PERGI! SEKARANG!"
Raesha menarik tangan Mahira dengan paksa. Berlari menuju celah di antara reruntuhan yang belum dikepung.
"ZARVAN!" Mahira berteriak—air mata mulai jatuh.
Tapi Zarvan tidak menoleh. Dia berdiri menghadap Isabelle dan pria-pria bertopeng itu—tubuhnya menghalangi jalan menuju Mahira dan Raesha.
"Kalian mau siapa?" tanyanya dengan suara tenang. "Mau aku? Silakan. Tapi biarkan mereka pergi."
Isabelle menatapnya lama. Lalu mengangguk pada pria-pria bertopeng itu.
Mereka menyerang.
***
Mahira dan Raesha berlari keluar dari reruntuhan—napas tersengal, air mata bercucuran. Di belakang mereka terdengar suara teriakan. Suara Zarvan.
"Kita harus kembali!" Mahira mencoba berbalik tapi Raesha menahannya.
"Kalau kita kembali, pengorbanan Zarvan sia-sia!" Raesha berteriak—suaranya juga bergetar menahan tangis. "Dia ingin kamu selamat, Mahira! Jangan buat keputusannya jadi percuma!"
Mobil Zarvan terparkir tidak jauh dari reruntuhan. Raesha langsung masuk ke kursi pengemudi—tangannya gemetar saat menyalakan mesin.
"Kita ke mana?" tanyanya sambil mengemudi cepat keluar dari area itu.
"Ke—" Mahira tidak bisa berpikir. Otaknya kosong. Yang ada hanya bayangan Zarvan berdiri sendirian menghadapi musuh. "Ke safehouse. Yang kemarin."
"Tapi tempat itu sudah tidak aman—"
"Aku tidak peduli!" Mahira membentak—lalu menutup wajahnya dengan tangan. "Maafkan aku. Aku hanya—aku tidak tahu harus ke mana."
Raesha mengemudi dalam diam. Matanya sesekali melirik Mahira yang menangis dalam diam.
Ponsel Mahira berdering. Nomor tidak dikenal.
Dengan tangan gemetar, dia mengangkat.
"Halo?"
"Mahira." Suara Zarvan—serak, kesakitan, tapi hidup. "Dengar aku—"
"ZARVAN! Kamu di mana? Apa yang—"
"Tidak ada waktu. Dengar." Napasnya tersengal. "Mereka—mereka tidak bunuh aku. Mereka mau aku jadi umpan. Untuk—" suara gemuruh di latar belakang, "—untuk paksa kamu datang ke lokasi yang mereka tentukan. Untuk ritual gelap mereka."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Jangan datang." Suaranya tegas meskipun terdengar lemah. "Apapun yang terjadi—apapun yang mereka ancam—jangan datang. Aku—aku rela mati daripada—"
Suara berubah. Jadi suara Isabelle.
"Mahira sayang," katanya dengan nada mengejek, "kamu dengar pacarmu? Dia sangat berani. Sangat heroik. Tapi—" suara tamparan keras, Zarvan merintih, "—keberanian itu tidak akan bertahan lama. Dua hari lagi. Tanggal lima belas Februari. Tengah malam. Di reruntuhan yang sama. Datang sendirian atau—" suara Zarvan berteriak kesakitan, "—atau aku akan buat dia mati perlahan. Sangat perlahan."
Sambungan terputus.
Mahira menatap ponselnya dengan tangan gemetar. Lalu dia berteriak—berteriak sampai suaranya serak, sampai dadanya sakit, sampai tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan selain isak tangis.
Raesha menepi. Memeluk adiknya erat-erat.
"Kita akan selamatkan dia," bisik Raesha. "Kita akan selamatkan mereka berdua. Aku janji."
***
Safehouse apartemen terasa dingin dan kosong. Mahira duduk di sofa—menatap kosong ke depan. Sudah dua jam sejak telepon itu tapi dia belum bergerak. Belum bicara. Hanya duduk dengan air mata yang terus mengalir.
Raesha menelepon Ustadz Hariz. Menelepon Papa. Menelepon siapapun yang bisa membantu.
Pintu apartemen terbuka. Ustadz Hariz masuk dengan wajah serius. Di belakangnya, Papa dan Mama.
"Mahira—" Mama langsung berlutut di depan putrinya. Memeluknya. "Sayangku—"
"Aku harus selamatkan dia, Ma," bisik Mahira dengan suara serak. "Aku harus—tapi aku tidak tahu caranya. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan."
"Kamu tidak sendirian," kata Ustadz Hariz sambil duduk di kursi terdekat. "Kita punya dua hari untuk siapkan strategi. Dua hari untuk kumpulkan pusaka yang tersisa. Dan dua hari untuk—"
"Untuk apa?" Mahira menatapnya dengan mata merah. "Untuk berharap mereka tidak bunuh Zarvan sebelum aku sampai di sana? Untuk berharap ini bukan jebakan yang akan bunuh kita semua?"
"Untuk percaya pada takdir," jawab Ustadz Hariz tenang. "Zarvan tidak akan mati. Tidak sekarang. Karena dia bagian dari ritual. Bagian dari cara memutuskan kutukan. Isabelle tahu itu. Makanya dia menawan—bukan membunuh."
Mahira ingin percaya. Ingin berharap. Tapi ketakutan terlalu besar.
"Bagaimana kalau—bagaimana kalau aku datang dan—"
"Maka aku akan ada di sampingmu." Papa duduk di samping Mahira. Menggenggam tangannya. "Aku tidak akan biarkan kamu hadapi ini sendirian. Tidak lagi."
"Kami semua akan ada," tambah Raesha. "Keluarga. Ustadz Hariz. Dan—" dia menatap ponselnya, "—tim keamanan yang Papa sewa. Belasan orang. Profesional. Siap bertindak."
"Tapi Isabelle bilang aku harus datang sendirian—"
"Dan kamu akan datang sendirian," potong Ustadz Hariz. "Tapi kami akan ada di sekitar. Tersembunyi. Menunggu momen yang tepat untuk bertindak."
Mahira menutup matanya. Menarik napas panjang.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Kita lakukan ini. Tapi ada satu syarat."
"Apa?"
"Kita selamatkan Zarvan dan Khaerul. Keduanya. Tidak ada yang tertinggal. Tidak ada yang—" suaranya bergetar, "—tidak ada yang mati."
Mereka semua mengangguk.
***
Malam itu, Mahira tidak bisa tidur. Dia berdiri di balkon apartemen—menatap langit Jakarta yang penuh polusi cahaya. Bintang-bintang tidak terlihat. Hanya kegelapan dengan lampu-lampu kota.
Pintu balkon terbuka. Raesha keluar dengan membawa dua cangkir teh hangat.
"Tidak bisa tidur?" tanyanya sambil menyerahkan satu cangkir pada Mahira.
"Tidak bisa." Mahira menerima cangkir itu—membiarkan hangatnya mengalir ke tangannya yang dingin. "Setiap kali aku tutup mata, aku melihat—aku melihat Zarvan. Mendengar teriakannya. Dan—"
"Dan kamu merasa bersalah," Raesha menyelesaikan.
Mahira mengangguk. Air mata kembali jatuh.
"Ini salahku, Kak. Dia di sana karena aku. Karena dia mencoba lindungi aku. Kalau saja aku—kalau saja aku lebih kuat—"
"Jangan," potong Raesha tegas. "Jangan salahkan dirimu. Zarvan buat keputusan itu karena dia mencintaimu. Karena dia tahu kamu penting untuk ritual nanti. Ini bukan salahmu. Ini salah Isabelle. Salah Damian. Salah sistem kutukan sialan yang mengikat kalian semua."
Mahira tertawa pahit. "Tapi tetap saja—aku merasa tidak berguna. Aku hanya bisa lari. Sementara dia—"
"Dia melakukan apa yang harus dilakukan." Raesha memeluk Mahira dari samping. "Dan sekarang kamu harus melakukan apa yang harus kamu lakukan. Bertahan. Bersiap. Dan dua hari lagi—dua hari lagi kamu selamatkan dia. Dan kalian akhiri semua ini."
Mahira bersandar ke kakaknya. Merasakan kehangatan yang sedikit menenangkan ketakutannya.
"Aku harap dia tahu," bisik Mahira, "aku harap Zarvan tahu—aku juga mencintainya. Sangat mencintainya."
"Dia tahu," jawab Raesha lembut. "Percaya deh. Dia tahu."
***
Pagi harinya, Mahira terbangun dengan tubuh pegal. Dia tertidur di sofa—hanya dua jam tidur yang dipenuhi mimpi buruk.
Ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal lagi.
Jantungnya berdegup keras saat mengangkat.
"Halo?"
"Mahira." Suara Zarvan—kali ini lebih lemah. Lebih kesakitan.
"Zarvan—" Mahira langsung bangun. "Kamu—kamu baik-baik saja?"
"Aku—" suaranya terputus-putus, "—aku masih hidup. Itu yang penting."
"Jangan bicara. Hemat tenagamu. Dua hari lagi aku akan—"
"Mahira, dengar." Zarvan memotong—suaranya tiba-tiba tegas meskipun lemah. "Ada yang harus aku katakan. Sebelum—sebelum terlambat."
"Jangan bicara seperti itu—"
"Dengar!" Suaranya meninggi—lalu batuk. "Aku—aku mencintaimu. Tidak hanya sebagai reinkarnasi Dzarwan yang mencintai Aisyara. Tapi aku—Zarvan—mencintai kamu—Mahira. Dengan segala kekuranganmu. Dengan segala ketakutanmu. Aku mencintai cara kamu tertawa. Cara kamu serius saat bekerja. Cara kamu peduli pada orang lain bahkan saat kamu sendiri ketakutan."
Mahira menangis—tidak bisa menahan lagi.
"Aku juga mencintaimu," bisiknya. "Aku mencintaimu sampai dadaku sakit. Sampai aku tidak bisa bayangkan hidup tanpamu."
"Maka bertahanlah," kata Zarvan. Suaranya makin lemah. "Bertahan untuk kita. Untuk masa depan yang kita—yang kita seharusnya miliki tiga ratus tahun lalu. Masa depan yang kali ini—kali ini kita tidak akan sia-siakan."
"Aku janji," Mahira berkata dengan suara bergetar. "Aku janji akan selamatkan kamu. Dan kita—kita akan bersama. Selamanya."
"Selamanya," ulang Zarvan—dan ada senyum di suaranya meskipun dia kesakitan.
Sambungan terputas.
Mahira memeluk ponselnya—menangis sampai tidak ada lagi air mata yang keluar.
Raesha duduk di sampingnya. Tidak bicara. Hanya memeluk. Membiarkan Mahira menangis sampai puas.
Dan saat Mahira akhirnya berhenti—saat matanya sudah tidak bisa mengeluarkan air mata lagi—dia menatap kakaknya dengan tatapan yang berbeda.
Tatapan yang penuh determinasi.
"Aku akan selamatkan dia," katanya dengan suara rendah tapi tegas. "Apapun yang terjadi. Bahkan kalau aku harus tukar nyawaku—aku akan selamatkan dia."
"Kita akan selamatkan dia," koreksi Raesha. "Bersama."
***
**BERSAMBUNG