Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.
Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.
Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANGIS BAYI RAKSASA
Aroma antiseptik yang tajam memenuhi ruang tengah kediaman Syaputra. Adam duduk bertelanjang dada di atas sofa kulit, sementara Aurel sibuk dengan kotak P3K di sampingnya. Luka tembak di bahu Adam tidak terlalu dalam, hanya meninggalkan jejak merah yang diseka kapas alkohol. Namun, setiap kali kapas itu menyentuh kulit, rahang Adam mengeras.
"Pelan-pelan, Adel. Itu kulit manusia, bukan aspal proyek," keluh Adam sambil meringis kecil.
Aurel justru menekan kapas itu sedikit lebih keras, matanya melotot tajam meski berkaca-kaca. "Oh, sekarang baru bisa mengeluh sakit? Tadi saat menghadapi pistol di pabrik itu, kau merasa seperti pahlawan super, kan? Tidak ingat punya istri yang hampir mati berdiri karena ketakutan?"
Adam menatap wajah istrinya yang sedang cemberut namun penuh perhatian. "Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan, Sayang."
"Berhenti memanggilku 'Sayang' untuk menyuapku agar tidak marah," balas Aurel, meski semburat merah di pipinya tidak bisa disembunyikan. Ia mulai melilitkan perban putih ke bahu Adam dengan gerakan yang kini jauh lebih lembut. "Kau hampir membuatku menjadi janda sebelum kita benar-benar merayakan bulan madu kita, Adam."
Adam terkekeh, lalu dengan tangan yang tidak terluka, ia menarik pinggang Aurel hingga wanita itu terduduk tepat di pangkuannya. "Kalau begitu, mari kita rayakan sekarang saja. Luka ini adalah tanda bahwa aku berhasil melindungi hartaku yang paling berharga."
Aurel terpaku, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Adam. "Adam, ada Mama di kamar sebelah..." bisiknya malu-malu.
"Mama sudah tidur, Adel. Dan satu lagi, perbannya terlalu kencang," goda Adam sambil mendekatkan wajahnya, bersiap mencuri sebuah kecupan.
Aurel mendorong dada Adam, "Iikh... Lebih baik kamu istirahat sekarang!" katanya seraya Ia bangkit dari pangkuan Adam. Adam mendengus, namun tak dihiraukan oleh Aurel.
Keesokan harinya, sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden kamar, menerangi wajah Adam yang tampak tenang dalam tidurnya. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama ketika sebuah tangan lembut mulai memainkan ujung hidungnya.
"Bangun, Pak CEO. Hari ini jadwalmu sangat padat," bisik Aurel tepat di telinga Adam.
Adam mengerang pelan, lalu dengan gerakan cepat menarik Aurel ke dalam dekapannya hingga wanita itu terpekik kecil. "Padat dengan apa? Seingatku, hari ini aku hanya punya jadwal mencintaimu sepanjang hari."
Aurel tertawa renyah, mencoba melepaskan diri dari pelukan posesif suaminya. "Jangan merayu. Mama sudah sibuk di dapur sejak subuh. Hari ini ada syukuran kecil untuk keberhasilan proyekmu dan... perubahan drastis asisten magang kita yang paling berisik."
Adam tersenyum, membayangkan Ansel yang kini lebih sering memegang sapu dan berkas daripada gelas alkohol. "Baiklah, aku bangun. Tapi bayar dulu dengan satu ciuman di sini," Adam menunjuk pipinya.
Aurel menggeleng geli, namun tetap mendaratkan sebuah kecupan hangat yang lama. "Nah, sekarang mandi. Kau bau jahe," godanya sebelum melesat keluar kamar.
Perayaan yang Hangat
Suasana ruang makan rumah Syaputra berubah meriah. Berbagai hidangan khas Surabaya dan Jakarta tertata rapi di atas meja. Asnita tampak sumringah, wajah yang dulunya kusam karena duka kini bercahaya kembali. Di sudut ruangan, Ansel sedang sibuk membantu menata piring, meski beberapa kali hampir menjatuhkannya karena terlalu bersemangat.
"Adam, duduklah di sini, Nak," panggil Asnita saat melihat Adam turun dengan pakaian santai. "Mama benar-benar tidak tahu bagaimana cara berterima kasih. Kau bukan hanya menyelamatkan perusahaan, tapi kau memberikan Mama 'Ansel' yang dulu lagi."
Adam duduk di samping Aurel, menggenggam tangan istrinya di bawah meja. "Semua ini berkat doa Mama juga. Ansel hanya butuh sedikit motivasi... dan mungkin sedikit ancaman kerja paksa," canda Adam yang disambut tawa oleh semua orang.
Ansel muncul sambil membawa nampan berisi kerupuk. "Hei, aku dengar itu! Tapi tidak apa-apa. Menjadi asisten Adam jauh lebih seru daripada jadi pengangguran kaya. Setidaknya sekarang aku tahu bedanya semen tipe satu dan semen buat bikin candi."
Syukuran itu berlangsung penuh kehangatan. Tidak ada pembicaraan soal Denis, tidak ada soal hutang. Hanya ada tawa keluarga yang selama sepuluh tahun ini menghilang dari rumah tersebut.
Setelah makan siang selesai, Asnita berdeham, memberikan kode pada Aurel dan Adam. Ia mengeluarkan dua buah amplop besar dari sakunya.
"Karena semuanya sudah stabil, Mama ingin kalian pergi. Bulan madu yang tertunda," ujar Asnita sambil menyerahkan tiket pesawat menuju Maldives. "Kalian butuh waktu berdua tanpa gangguan pekerjaan... atau gangguan adikmu."
Mata Aurel berbinar. "Ma, tapi bagaimana dengan kantor?"
"Itulah gunanya Ansel," sambung Asnita sambil menatap putranya yang sedang asyik mengunyah rendang. "Ansel, mulai minggu depan, kau yang bertanggung jawab menjaga FB Build, AA Cosmetic, dan memantau A-Games bersama Rian. Ini ujian terakhirmu sebelum kau resmi jadi direktur operasional."
UHUK!
Ansel tersedak. Ia menyambar gelas air putih lalu menatap ibunya dengan mata membelalak. "Apa? Aku ditinggal sendirian menjaga tiga perusahaan raksasa? Ma, aku baru tahu cara pakai mesin fotokopi minggu lalu!"
"Kau pasti bisa, Ansel. Adam sudah menyiapkan semua panduannya," sahut Aurel semangat.
Tiba-tiba, wajah Ansel berubah. Bibirnya mulai bergetar, dan sedetik kemudian, pecahlah tangis "bayi" raksasa itu. Ia menjatuhkan diri ke lantai, memeluk kaki Adam dengan dramatis seperti anak kecil yang ditinggal ibunya ke pasar.
"HUWAAAA! Adam! Jangan tinggalkan aku! Aku mau ikut ke Maldives! Aku bisa jadi pembawa handuk kalian! Aku bisa jadi orang yang kipas-kipas kalau kalian kepanasan di pantai!" raung Ansel tanpa air mata.
Adam menahan tawa, mencoba melepaskan kakinya dari pelukan Ansel. "Tidak boleh, Ansel. Kau harus kerja. Mana ada orang bulan madu bawa adik ipar yang beratnya hampir satu kuintal begini?"
"Aku janji tidak akan mengintip! Aku akan pakai penutup mata seharian! Aku cuma mau ikut naik pesawat!" Ansel semakin kencang menangis palsunya "gerong-gerong", membuat Aurel harus menutup telinganya karena malu.
"Ansel, berhenti malu-malu-in!" tegur Aurel sambil menarik kerah baju adiknya. "Kau sudah hampir tiga puluh tahun, menangis seperti anak TK!"
Malam harinya, Adam dan Aurel mulai berkemas. Suasana di kamar jauh lebih santai. Adam memperhatikan Aurel yang sedang sibuk memilih gaun pantai. Ia mendekat, memeluk istrinya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Aurel.
"Jadi, tidak ada Ansel di Maldives nanti?" tanya Adam dengan nada menggoda.
Aurel berbalik, melingkarkan tangannya di leher Adam. "Tidak ada. Hanya aku, kau, dan suara ombak. Apa kau senang?"
"Sangat senang. Akhirnya aku tidak perlu mendengar suaranya yang cempreng setiap kali aku ingin menciummu," Adam mencuri satu kecupan di bibir Aurel.
Aurel tertawa, lalu menatap Adam dengan tatapan dalam. "Terima kasih, Adam. Terima kasih sudah mengembalikan kebahagiaan di rumah ini. Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan seindah ini setelah menikah dengan 'anak muda' sepertimu."
Adam mengangkat tubuh Aurel, mendudukkannya di atas koper yang baru saja ditutup. "Umur mungkin beda sepuluh tahun, tapi cintaku padamu sepuluh kali lipat lebih besar dari pria mana pun. Bersiaplah, Nyonya Ashraf. Di Maldives nanti, aku tidak akan membiarkanmu keluar kamar dengan mudah."
Aurel merona merah, menyembunyikan wajahnya di dada Adam. Di luar kamar, sayup-sayup masih terdengar suara Ansel yang sedang curhat pada kucing peliharaan mereka tentang nasibnya yang ditinggal bulan madu, menambah bumbu komedi di tengah malam yang romantis itu.
____
Mana nih yang selalu minta Update, tapi kok nggak pernah komen sih? Komen dong biar Ramanda semakin semangat updatenya. Apa lagi kalau dikasih Like-Vote dan hadiah pasti Ramanda akan Update 3 kali dalam sehari.